KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan

ujungp.jpgTentunya nama Professor Koesoemadinata sudah tak asing bagi ahli geologi Indonesia. Juga bagi pemerhati kebumian nama beliau tak asing lagi. Berikut tulisan bapak geologi ini sehubungan dengan pembuangan luapan lumpur di Sidoarjo ini ke laut.

Terimakasih Pak Koesoema yg berkenan menyumbangkan tulisan untuk berbagi ilmu dan bertukar pendapat seputar bencana banjir lumpur panas yg semakin panas ini.

MASALAH PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO BRANTAS KE LAUT
KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan.
Oleh
Prof. Dr. R. Koesoemadinata
Mantan Guru Besar Ilmu Geologi ITB

Indonesia belakangan ini dirundung bencana, bencana alam maupun bencana yang dipicu oleh kelakuan manusia dalam usahanya untuk memodernisasikan negara Indonesia. Gejala bencana ini tidak ada yang sangat menarik perhatian adalah munculnya semburan lumpur panas di Sidoardjo yang boleh jadi dipicu dengan kegagalan pemboran explorasi sumur Banjar Panji oleh PT Lapindo Brantas dalam usaha pencaharian minyak dan gas bumi di daerah . Tentu hal ini dilakukan dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak dan gas bumi Indonesia yang belakangan ini melorot, demi pertumbuhan ekonomi yang sehat, selain tentunya untuk mencari keuntungan yang besar bagi para pemilik saham perusahaan tersebut.

Terlepas apakah penyebab semburan ini adalah keteledoran para ahli pemboran Lapindo Brantas atau apakah pemboran yang gagal ini adalah sekedar pemicu akan terjadinya gejala ini (mungkin nantinya Pengadilan yang bisa memutuskan), yang menarik perhatian adalah gejala semburan lumpur ini yang boleh dikatakan unik di dunia. Yang jadi masalah adalah jumlah cairan yang konon terdiri dari 70% air dan 30 zat padat yang membanjiri daerah Sidoarjo dan mengancam pemukiman serta melumpuhkan perekonomian, khususnya industri dan transportasi di daerah sekitarnya. Jika pencemaran lingkungan tidak jadi masalah penyelesaiannya sederhana saja, alirkan lumpur panas yang tokh akhirnya akan mendingin juga ke laut, ke Selat Madura, dari mana lumpur itu berasal.

Dalam mass media dikhabarkan bahwa lumpur itu mengandung zat berbahaya dan beracun, antara lain kadar Hg (air raksa) yang tinggi. Sebagai seorang ahli geologi saya heran, bagaimana lumpur yang berasal dari perut bumi bisa mengandung zat2 tersebut? Rekan saya dari Tim Independent Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) yang telah mengambil contoh lumpur langsung dari lokasi semburan memberitakan bahwa hasil analisa kimia serta analisa lainnya tidak meununjukan kehadliran Hg atau logam berat lainnya (paling tidak semuanya jauh dibawah 0.10 mg/liter). Hasil analisa mikropaleontologi menunjukkan bahwa lumpur itu mengandung fosil foraminifera (cangkang zat renik bersel satu) yang dahulu hidup di lingkungan laut yang sama dengan di Selat Madura. Sejak dahulu para ahli geologi Belanda seperti Van Bemmelen (1949) menyatakan bahwa beberapa ratus ribu bahkan lebih 1 juta tahun (zaman Pleistocene) Selat Madura itu menjorok jauh ke barat hampir sampai kota Semarang. Sungai-sungai seperti Bengawan Solo dan lain-lain bermuara di selat Madura purba ini dan mengendapkan sedimen seperti pasir dan lumpur sebagai delta pada pantainya yang berangsur-angsur terjadi pendangkalan dan daratan pun bertambah ke arah pantai Selat Madura dekat Sidoarjo. Jadi pendangkalan serta penambahan daratan ke arah selat Madura memang sudah terjadi secara alami. Bahkan konon Bengawan Solo juga dulunya mengalir ke Selat Madura yang sekarang disebut Kali Brantas, dan oleh Belanda dialihkan ke arah utara yang sekarang disebut Ujung Pangkah. Pada ujung ini terjadi suatu delta yang praktis dikatakan sebagai delta yang dipicu ulah manusia.

Jadi sebetulnya dengan mengalirkan .lumpur ke arah Selat Madura saya yakin akan terjadi proses alami dan tidak mencemari lingkungan, karena lumpur Lapindo itu material yang berasal dari endapan Selat Madura kuno, dan sekarang dikembalikan ke Selat Madura modern. Yang akan terjadi mungkin adalah percepatan dalam pendangkalan serta majunya pantai barat Selat Madura, yang tokh secara alami sedang berlangsung.

Dalam hal ini tentu yang jadi masalah adalah apakah yang disebut pencemaran lingkungan? Kalau limbah kimia atau limbah industri ataupun dari aktivitas manusia yang bersifat asing, maka saya sangat sangat setuju untuk dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang harus dicegah sekuat tenaga. Contoh-contoh seperti Chernobyl, Peledakan Pabrik Kimia di India, tumpahnya minyak dari tanker Exxon Valdez dst, itu betul-betul dapat dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang berat. Tetapi dalam hal lumpur Lapindo, kita ini menghadapi zat ataun bahan bumi (earth material) yang akan dimasukan ke dalam lingkungan yang kebetulan sama juga dengan lingkungan di mana lumpur itu terbentuk. Kekhawatiran akan rusaknya biota dsb adalah sangat berlebihan dan boleh dikatakan merupakan paranoid yang sedang melanda kita semua, khususnya para ahli lingkungan. Dari prinsip dasar ilmu geologi saja kita tahu bahwa lingkungan kita itu tidak pernah tetap, gejala-gejala alam yang lambat maupun yang bersifat mendadak, seperti erupsi gunung api dapat “mencemari” lingkungan, merusak biota bahkan menyebabkan kepunahan species bahkan sampai kategori kelaspun (Ingat punahnya Dinosaurus?). Dalam hal ini apakah suatu letusan gunung api di pantai yang menyemburkan abu serta lava pijar ke laut serta memusnahkan biota ditempat itu dapat dikatakan pencemaran lingkungan? Ini sering terjadi di Hawaii dan gunung api lainnya di Pasifik. Apakah letusan G. Merapi yang yang menghamburkan awan panas, abu dan gas yang beracun (saya yakin banyak gas H2S) serta mematikan kehidupan di daerah sekitarnya dianggap pencemaran lingkungan? Gunung-gunung api yang tidurpun seperti G. Tangkuban Perahu di utara Bandung dan banyak lagi di seluruh Indonesia, bahkan di dunia setiap harinya menghamburkan belerang murni dalam bentuk gas maupun gas H2S entah berapa ribu ton ke atmosfer. Tetapi tidak ada ahli lingkungan yang peduli serta mempermasalahkan “acid rain” yang ditimbulkan. Pada waktu G. Krakatau meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1883 seluruh biota di lereng gunung itu hancur dan memusnahkan kehidupan. Namun hanya dalam beberapa puluh tahun saja kehidupan sudah pulih kembali, karena kekenyalan (resilience) dari alam itu sendiri untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Lokasi-lokasi semburan lumpur di Jawa TimurDalam hal semburan lumpur Lapindo ini memang merupakan gejala unik. Boleh jadi saja semburan liar ini disebabkan atau dipicu oleh kelalaian pemboran pada Banjar Panji-1, namun gejalanya sendiri lebih merupakan gejala alam yang menyangkut bahan alami bukan bahan asing untuk lingkungan bumi. Banyak para ahli geologi yang menganalogikan semburan lumpur ini dengan gejala alam yang disebut “mud-volcano” yang banyak tersebar di Indonesia (khusunya di Indonesia Timur dikenal dengan istilah poton), bahkan di Jawa Timur Utara pun banyak diketemukan, seperti Bleduk Kuwu dekat Purwodadi, G. Anyar dekat Surabaya bahkan di selatan K Porong, yang di masa lalu menyemburkan lumpur tetapi sekarang sudah mati. Tentu pada waktu itu lumpur itu mengalir dengan sendirinya dan berakhir di laut dan ini merupakah gejala alamiah saja. Mungkin pada waktu itu belum ada KLH atau LSM-LSM lingkungan, bahkan manusiapun pada waktu itu belum ada untuk memprotes pencemaran lingkungan.

Dalam hal semburan lumpur di Sidoarjo, seandainya tidak ada bangunan seperti jalan, perumahan, pabrik dsb, maka secara alamiah lumpur it akhirnya akan mengalir ke laut (Selat Madura) juga. Saya yakin dalam keadaan sekarang lumpur panas ini dapat dialirkan dengan aman dalam saluran terbuka ke Selat Madura, tidak perlu dalam pipa (yang berpotensi untuk tersumbat), bahkan dialirkan lewat K. Porong, yang konon adalah juga buatan manusia. Saya kira air sungai dan air tanah di sekitar Sidoarjo itu sudah lebih tercemar oleh limbah industri daripada lumpur dari semburan yang masih murni. Water treatment yang diusulkan sebelum dialirkan ke laut adalah tidak masuk akal. Kalau memang harus dilakukan treatment, ya hasilnya tidak perlu dibuang kelaut, dijual saja ke PDAM atau perusahan air kemasan.

Jadi sebetulnya mengapa masalah sederhana malah dijadikan sulit? Mungkin terpengaruh iklan rokok tertentu. Tentu banyak orang berprasangka adanya oknum-oknum tertentu yang mencari keuntungan dalam kesempitan.

Sebagai penutup saya usulkan supaya KLH mengkaji ulang pengertian mengenai apa yang disebut pencemaran lingkungan. Sebaiknya para ilmiawan yang betul-betul mengerti mengenai proses alam seperti para ahli geologi juga dilibatkan, tetapi juga bukan para ahli geologi yang ikut hanyut dalam paranoid pencemaran lingkungan yang dewasa ini melanda masyarakat kita.

About these ads

27 Balasan ke KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan

  1. rizky mengatakan:

    apa si pengertian lumpur lapindo?

  2. adam mengatakan:

    Lumpur lapindo mengepul lagi????
    apa kata dunia?????
    sudah begini aja,,,,
    bagaimana kalo yg merasa harus bertanggung jawab ya minta maaf aja pada bangsa….
    biar lumpurnya cepat disumbat sama malaikat….
    kami hanya bisa bilang begitu…
    maaf banget…..
    blum adakah penanggulangan secara biologi????
    itu sepertinya para ahlii harus fikirkan….
    bagaimana danau lumpur bisa dijadikan tempat untuk budidaya ikan,,,,
    contohnya saja ikan lele……
    atau ikan yg biasa di tempat yg suhunya panas sekalian????
    he…maaf…..

  3. rebel mengatakan:

    itulah alam…
    alam marah karena manusianya juga marah..(look into your deep inside)
    klo kita mau berdamai dengan lusi,sepertinya kia harus berdaai dengan diri kita sendiri dulu..alam adalah alam..manusia hanya hidup dr alam..kalo gunung merapi mau meletus ya apa kita bisa stop itu..
    talk is cheap!!!!!!!!!!!!!!

  4. irene mengatakan:

    KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan.

    OM, emang ada berapa macam pengertian ttg pencemaran lingkungan?
    Ga perlu mengkaji ulang kali…tinggal google: ‘arti pencemaran lingkungan’.
    Nih saya cariin biar ga keluar duit:
    “Pollution is is the introduction of contaminants into an environment, of whatever predetermined or agreed upon proportions or frame of reference; these contaminants cause instability, disorder, harm or discomfort to the physical systems or living organisms therein.” -Merriam-Webster Definition.
    Cuman satu macem Om, arti definisi pencemaran lingkungan.

    Yg perlu dilakukan KLH itu bukan mengkaji ulang 2 frase. Itu urusannya departemen pendidikan.

    Parah…you people are a thorn in the side of human race.

  5. firstiar mengatakan:

    kepada yth ibu dari 3 putri:

    Hmm … begitu yah … kita harus menjaga kelestarian lingkungan agar dapat diwariskan kepada anak cucu kita …. yang jadi masalah …. kalau lumpur tersebut makin ganas dan ‘melahap’ manusia yang hidup di sekitarnya hingga habitat manusia sendiri diberangus oleh lumpur, masihkah ada anak cucu yang bisa menikmati kelestarian lingkungan tersebut? lha wong yang ngelahirin aja udah ilang entah kemana. saya sih setuju dengan bapak sugiarto. lingkungan yang rusak karena alam, bisa direhabilitasi kalo manusianya mau melakukanya. tapi kalau manusianya yang hilang, apa alam bisa merehabilitasi populasi manusia? toh selama ini hewan-hewan langka juga ga bisa direhab ama alam. manusia juga kan yang ujung-ujungnya turun tangan merehab mereka (walau tidak dipungkiri bahwa di sisi lain manusia juga yang mengarahkan sebagian mereka ke arah kepunahan).

  6. leony purba mengatakan:

    yth.Sdr penulis,

    Saya leony mahasiswi kimia unimed. Sesuai tugas yang diberi dosen, saya sangat butuh artikel saudara mengenai masalah pembuangan lapindo brantas kelut. untuk itu saya mohon kesediaan saudara untuk mengirimkan full text artikel saudara ke email saya. Terimakasih.

  7. Sugiarto mengatakan:

    Mother of 3 Daughters Yth. Ada dua pilihan sulit yang harus dipilih dalam kasus Lapindo atau LUSI ini, mau mengorbankan permukiman manusia atau ekosistem sungai dan pantai? Itu dulu yang harus diputuskan. Tidak bisa kita pilih kedua-duanya, itulah hidup. Oleh karena itu di dalam acara diskusi dengan Ikatan Profesional Lingkungan Hidup Indonesia (IPLHI) dengan Menteri Negara LH dan Ahli-Ahli Geologi di Hotel Bidakara pada tahun 2007, saya mengusulkan mestinya dari awal kejadian dilakukan quick Risk Assessment oleh ahli-ahli hidrologi, geologi dan lingkungan, mungkin ceriteranya akan lain. What to do? sebagai ahli lingkungan dan perairan, saya setuju dengan pandangan Prof Koesoemadinata, alirkan secepatnya LUSI tersebut ke Sungai Porong! Akibatnya memang jelas flora dan fauna Sungai Porong akan mati, ini pilihan yang lebih baik daripada yang jadi korban permukiman penduduk seperti sekarang (menjadi never ending story!), menjadi bencana kemanusiaan. Kalau nanti LUSI sdh berhenti mengalir (entah kapan?), maka ekosistem Sungai Porong bisa kita perbaiki, rehabilitasi lagi mendekati keadaan sebelum dialiri LUSI. Saya bersedia membantu untuk rehabilitasi Sungai Porong dan Selat Madura dengan expertise saya. Demikian pandangan saya. Terima kasih Sugiarto (Dr Ilmu Lingkungan, MS Ilmu Perairan).

  8. Mother of 3 Daughters mengatakan:

    Prof Kusumadinata, sebagai orang lingkungan saya kaget juga membaca tulisan seorang ahli geologi yang kurang memahami masalah lingkungan. Saya berpendapat lumpur yang keluar akibat aktivitas pengeboran LAPINDO itu memang bahan berbahaya dan beracun. Lumpur berbahaya bukan karena mengandung logam berat merkuri sebab kandungan logam beratnya kecil, karena lumpur berasal dari jauh dari dalam perut bumi dan tidak terkontaminasi limbah dari aktivitas manusia di darat, tetapi lumpur menjadi bahan berbahaya bagi lingkungan karena (1)lumpur suhunya panas, (2) memiliki kadar garam atau salinitas yang tinggi sehingga membunuh biota perairan darat yang berair tawar, dan (3) partikel lumpur yang sangat halus menimbulkan sedimentasi perairan Kali Porong sampai ke Selat Madura yang menghambat reproduksi ikan di pesisir dan tambak sehingga akan menurunkan hasil perikanan Jawa Timur dan dampak lingkungan lain akibat kekeruhan air.

    Selain itu lumpur LAPINDO juga mengandung gas metan dan H2S yang membahayakan kesehatan manusia. Sungguh malang nasib pekerja BPLS dkk serta masyarakat sekitar luapan lumpur yang harus menghirup gas beracun itu setiap hari. Luapan lumpur juga menyebabkan timbulnya beberapa titik semburanbaru di tempat lain yang mengandung gas mudah terbakar dan membahayakan jiwa masyarakat dan pengguna jalan di Jalan Raya Porong.

    Lumpur yang menggenangi industri dan permukiman tentunya juga akan melarutkan berbagai bahan berbahaya beracun di daratan yang tergenangi, sehingga lumpur LAPINDO yang bapak katakan tidak berbahaya karena merupakan lumpur purba akan membawa bahan beracun dari zaman modern ini tersebar ke mana-mana dan meracuni seluruh orang di pesisir Selat Madura yang memakan hasil lautnya.

    Kalau memang lumpur itu tidak berbahaya, adakah sukarelawan yang mau berendam di dalam kubangan lumpur LAPINDO?

    Semua pohon, tanaman di sawah dan ladang penduduk yang terendam lumpur mati kering gosong, ikan dan katak di Kali Porong mati, bahkan bulus langka keluar dari persembunyiannya di Kali Porong karena persembunyiannya menjadi pengap oleh panas dan gas beracun dari Lumpur. Sumur penduduk di Porong tercemar minyak dan mengandung gas, padahal sebelum ada luapan lumpur, air sumur masih bisa digunakan untuk mandi dan mencuci.

    Menurut saya KLH dan LSM lingkungan bukannya paranoid jika mereka khawatir lumpur akan membahayakan lingkungan, tapi kekhawatiran tersebut sangat berasalan. Datanglah ke Porong untuk melihat langsung kondisi lingkungan yang tergenang lumpur dan Kali Porong yang sudah dipenuhi lumpur.

    Sudah menjadi tugas KLH untuk melindungi lingkungan dari kerusakan agar kita dapat mewariskan lingkungan yang layak untuk dihuni anak cucu kita nantinya. Semua makhluk diciptakan untuk hidup, sehingga semua makhluk memiliki hak untuk hidup. Lumpur LAPINDO telah membunuh kehidupan biota dan sebagian masyarakat Porong dan Jawa Timur. Bayangkan jika hal tersebut terjadi di sekitar rumah kita dan kita menjadi korban luapan lumpur LAPINDO!

    Penanggulangan dan penanganan lumpur LAPINDO sangat membutuhkan kerjasama dari seluruh pihak termasuk dukungan dari ahli geologi. Segala kegiatan yang kita lakukan seharusnya tidak menimbulkan kerugian kepada orang lain dan kepada anak cucu kita nantinya.

  9. Arief mengatakan:

    Menurut saya keputusan untuk mengalirkan lumpur kelaut untuk saat ini menjadi hal yang tepat untuk dilakukan karena tidak ada tindakan pemerintah yang benar-benar berusaha menangani korban semburan lusi, jadi penderitaan lebih terlihat nyata dibandingkan dengan mengalirkan lusi kelaut yang masih belum pasti merusak lingkungan sampai menimbulkan kepunahan umat manusia disekitar lusi tersebut. Karena dengan masih hidupnya manusia disana yang masih dalam keadaan sehat jasmani, rohani, dan ekonomi maka jika lumpur yang dialirkan kelaut nantinya menimbulkan pencemaran sedikit demi sedikit akan bisa diperbaiki, insyaallah.

  10. hgdfvnckvgerign jgfrhgdmfnv jhfo;iuerthdf nv l;ihfgoiertu gho8ertfjgn liuptjkdfvn o;euterf mfvf ;o7fnvd orefjfh uyrerhinf .kdyrjfnfvbidofj eu YRWIUFHHF;i8tyrkg hroithoerihf ltioerjga/dtitjguep54tig u’opekf,efpoergirm u495uretoirt8456jmg itoirejtkfngarjghoerigrgl/dfgj04 tfdgbdfmv8fguregnvn itrgmf fgrtj tjeritug ldfguoiutvdgjd threouity5otjfjg
    jtirutyroignfgyreg
    v/lgjp[0g;lmder7-4585 683tghjkrt g iflgerkjgd
    ljfkjghofgkfgkgkjgglhodfig5oturgkjngfhifngjdfhgfngijb /riewoiprurfme90rmc,mvngnnhtytr
    Hajimemashite
    Watasi wa Tifa desu
    Doozo yorozuku
    Onegaisimasu
    Arigetai

  11. RETROT mengatakan:

    Bangsa kita udah capek dengerin berita Lapindo yang isinya cuma makin menyengsarakan rakyat dan tidak muncul tekad dan kemampuan yang berwenang untuk segera menuntaskan masalah ini. Bencana itu bermula dari kesalahan teknis manusia pelakunya kan? Atau kesalahan teknis kita yang terlanjur memilih pemimpin yang keliru? Lantas Tuhan murka dan para leluhur kita minta kepadaNya agar kita disekolahkan dengan pelajaran itu? Korban sudah banyak. Kita hanya bisa berharap agar korban tidak bertambah dan tidak makin terlantar. Bagaimana caranya kita serahkan saja kepada beliau-beliau yang pandai bicara itu. Tks.

  12. apriyanto mengatakan:

    maaf om, kalau boleh saya ingin tahu lebh banyak lagi mengenI Kasusu lingkungan yang di hadapi oleh bangsa kita ini.

  13. inyo mengatakan:

    Mbak maria, sebenarnya dongeng2 geologi termasuk LUSI sudah di dongengkan secara komplit di blok ini oleh Padhe Rovicky diblog ini, mulai detik2 keleahiran LUSI, diskusi2, sampai dengan solusinya, , cobalah cermati posting2 mulai mei 2006 – okt 2007 dan juga simak dongengan Pakdhe di http://rovicky.wordpress.com/
    posting dari Bapak Prof. Dr. R. Koesoemadinata ini hanyalah secuil dari cerita2nya PakDhe Rovicky yg mpu-nya blog ini.
    Selamat menikmati “sumbang-sih dari budi baik Pakdhe”, don’t worry…smua gratis koq!
    ga percaya?? tanya aja sendiri ke PakDhe.

  14. Maria mengatakan:

    Terimaksih bpk Koesoema! Tulisan bpk membantu saya untuk mngerti tentang kasus lusi, yang selama ini membuat saya tidak habis pikir, kok bisa lumpur2 itu keluar? Dan ternyata hanya karena kesalahan pemboran. Tapi alangkah baiknya jika bpk juga menjelaskan secara detail dimana letak kesalahan pemboran itu. Apakah karena mata bornya mengenai perut lumpur ataukah bagaimana??? he.he. sorry ya pak saya kurang paham istilah yang biasa dipakai untuk “perut lumpur”. Tapi saya berpikir jawaban bpk Ini akan sangat membantu para geologis yunior seperti saya.
    Akhirnya saya tahu bhw Ternyata penyebab kasus lusi sangatlah sederhana dan menurut saya penanganannyapun sederhana seperti yang dikatakan oleh bpk koesoema, buang saja lumpur itu ke selat madura. Daripada membuang miliyaran rupiah untuk pembuatan tanggul2 yg sering jebol itu!! Kalo ada yang gampang ngapain dibuat sulit

  15. hari mengatakan:

    …>>>Berikan saya kesempatan untuk bertemu ketua BP BPLS…<<>>Hari<<<
    Hp: 0811798643 / 08117203343…

  16. hari mengatakan:

    …>>>Berikan saya kesempatan untuk bertemu ketua BP BPLS…<<>>Hari<<<
    Hp: 0811798643/08117203343

  17. hari mengatakan:

    …>>>Berikan saya kesempatan untuk mertemu ketua BP BPLS…<<>>Hari<<<
    Hp: 0811798643/08117203343

  18. Hardi Prasetyo mengatakan:

    Saya amati sudah tidak banyak pandangan-pandangan baru tahun 2007 tentang Lusi. Paper-paper baru yang komprehensif, mulai mengalir dari pakar-pakar kebumiand dari Manca Negara. Walaupun masih ada perbedaan dalam driving fornce mechanism pembentukan LUSi, namun hampir semuanya telah sepakat menggunakan terminologi gunung lumpur (mud volcanoe). Citra satelit Crisps 5 Juli 2007, resolusi 5 m setelah disusun kembali menjadi mosaik, memperlihatkan kenampakan geometri dari gunung lumpur dimaksud. Perhatikan pola aliran lusi, dari pusat semburan sebagai kaldera, ke arah selatan dan utara sebagai daerah dataran. Aliran ke utara masih terganggu adanya pipa gas pertamina yang berarah timur barat, selepas pipa pola aliran ke utara.
    Siapa mau lihat silahkan kontak kami atau Soffian Hadi (Deputi Operasi), Hardi

  19. Hardi Prasetyo mengatakan:

    Saya kenal baik Prof. Koesoemadinata, waktu jadi mahasiswa waktu ujian Gasin Analysis, menggunakan model Slumberger, saat itu sada dapat angka maksimum alias 10 karena kebetulan baca salah sate tesis terkait hal tersebut. Terakhir saya apresiasi karena Prof Koesoemadinata, mengadop dan memodifikasikan dengan menjadi sangat baik Peta Tektonik Doang Borderland.
    Saya kebetulan saat ini dapat tugas Pemerintah menjadi Wakil Ketua BPLS (badan penanggulangan lumpur sidoarjo), jadi terus-terus berfikir dan berfikir bagaimana secepatnya bisa menanggulangi semburan Lusi. Realitas kondisi tanggul-tanggul pengaman Siaga-2 seperti Perang Vietnam, tak terduga, sering terjadi pendadakan, apa lagi Week end. Gagasan Prof Koesoemadinama akan menjadi kenyataan! hardi

  20. chilo mengatakan:

    waduh ada yg esmosi om rovic, hurufnya capital smua.
    sebaiknya jangan dihapus ya om, karena ini adalah tetap aspirasi, mungkin dia salah satu masyarakat yang tertindass. ok om?

  21. JANCUK mengatakan:

    JANCUK..SEMUANYA
    NEGERI PARA PENJAHAT…PENJAHAT KEMANUSIAAN

    TUNGGU TANGGAL MAINNYA
    KLO BAPAK-BAPAK PENJAHAT (PEJABAT) TIDAK MENYELESAIAKAN
    PERSOALA-PERSOALAN DI MASYARAKAT

    DIMANA HATI NURANI BAPAK……HWE JANCUK

  22. bestian mengatakan:

    pak, sekali2 bahas tentang geologi pulau ambon dong… please

  23. agustinus widhi mengatakan:

    Saya mengerti penjelasan prof mengenai gejala alam dari persoalan lapindo ini, tetapi yang saya tidak mengerti adalah sikap Lapindo Brantas yang menyerahkan seluruh persoalan dampaknya pada pemerintah. Masyarakat yang terkena juga tidak bisa berbuat apa-apa karena peran TNI dan aparat pemerintah yang mendukung Lapindo sendiri. Bagaimana dengan kerugian2 mereka, juga petambak2 yang berada disekitar sungai porong?

  24. tony adrianto mengatakan:

    Yang jadi masalah, kenapa mengebor dekat pemukiman dan mengapa UKL/UPL nya bisa dengan mudah didapat. Marilah kita sebagai Geologist mulai memikirkan undang-undang mengenai Tata Lingkungannya, jangan samapai rakyat dikorbankan hanya untuk kepentingan pengusaha mendapatkan untung besar. Kalau sudah begini tidak ada yang mau disalahkan dan masing-masing merasa benar….Wassalam

  25. DR. M. Mulyono, M.Sc. mengatakan:

    Pak Broto, mungkin pandangan orang “sub-surface” dan “surface” itu berbeda. Istilah dari alam ke alam mungkin dapat diterapkan kalau kondisinya sama. Contoh air sumur tanah yang mengandung besi. Pada saat keluar dari tanah masih jernih, kemudian tidak berapa lama menjadi hijau, kuning, dan selanjutnya merah, terdapat endapan feri hidroksida. Ini menandakan perubahan kondisi dari sub-surface ke surface, yang tadinya dalam keadaan tereduksi (reduction state) menjadi keadaan teroksidasi (oxyidation state). Kecuali kalau si lusi itu dimasukkan kembali ke sub-surface, misalnya dengan cara slurry (fracture) injection. Ini baru dari alam ke alam. Itupun dalam prakteknya lumpur yang diienjeksikan tersebut (yang dipraktekkan di dunia perminyakan untuk sludge minyak) tidak boleh berubah, misalnya akan mengeluarkan gas, dsb.

  26. Broto mengatakan:

    1. Argumentasi bahwa karena aliran lumpur datang dari perut bumi (alami) berarti dialirkan ke laut tidak akan bermasalah terasa sangat gamblang, apalagi bila dikaji dengan skala waktu jutaan tahun.
    2. Kenyataannya, akibat dari kejadian ini terasa saat ini (bukan jutaan tahun lagi) dan wajar bila ada kekhawatiran bahwa penanganan yang salah dapat mencemarkan lingkungan dan menambah parah beban bagi manusia dll saat ini.
    3. Keyakinan dan perkiraan bahwa pengaliran lumpur secara terbuka akan menyelesaikan masalah terasa sangat riskan, apalagi ternyata keyakinan dan perkiraan bahwa minyak dapat diambil dari sidoarjo dengan aman/mudah ternyata salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: