TANAH SEKITARNYA MULAI ‘AMBLES’ ; Lumpur Lapindo Bisa Seperti Bledug Kuwu

Monday, 04 September 2006,
collapsebpj.jpg TANAH SEKITARNYA MULAI ‘AMBLES’ ; Lumpur Lapindo Bisa Seperti Bledug Kuwu

SIDOARJO (KR) – Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi luapan lumpur panas di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, semakin was-was dengan adanya informasi yang menyebutkan wilayah tersebut mulai turun atau ambles. Masyarakat khawatir, amblesnya tanah itu akan semakin dalam, sehingga mengancam keberadaan mereka.

Manajer Eksplorasi Lapindo Brantas Inc Bambang P Istadi di ITB kemarin mengakui, daerah yang digenangi lumpur di Porong Sidoarjo mulai ambles rata-rata lima centimeter selama sebulan. Wilayah yang ambles itu pada radius dua kilometer dari pusat semburan di sumur eksplorasi Banjarpanji-1 Desa Renokenongo. “Penurunan tanah itu terjadi secara perlahan-lahan,” katanya.

Menurut Bambang, kondisi itu diketahui berdasarkan pengamatan melalui sarana Global Positioning System (GPS) selama sebulan. Jika lamanya satu tahun diperkirakan terjadi penurunan tanah 60 sentimeter atau enam meter dalam kurun waktu sepuluh tahun.

Menyikapi kondisi alam tersebut, saat ini pihak Lapindo sedang menyurvei lokasi baru dengan areal yang lebih luas, guna mengetahui luasan areal yang bakal terkena dampak penurunan tanah. Melihat kejadian alam munculnya gunung lumpur seperti yang terjadi di Bledug Kuwu Purwodadi, bisa saja lumpur di Porong ini akan membentuk gunung serupa pada areal sekitar 50 hektar. Perkiraan Bambang, wilayah yang cenderung turun secara alami bakal menjadi cekungan lalu menjadi tempat penampungan lumpur.

Karena itu, tidak menutup kemungkinan daerah yang berada dalam radius dua kilometer tidak bisa dihuni. Sedang di luar itu, dapat direkondisi dan menjadi permukiman permanen.

Ancaman amblesnya tanah sekitar lokasi semburan lumpur panas ini sebelumnya sudah diperkirakan sejumlah kalangan. Ketua Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amin Widodo misalnya, memprediksi amblesnya lokasi lumur Lapindo hanya menunggu waktu. Sebab, luapan lumpur sejak 29 Mei lalu secara otomatis mengosongkan lapisan tanah pada radius 3.000 meter dari permukaan tanah. Padahal di bawah lapisan berisi minyak, gas serta air yang sangat rentan untuk bergerak.

Ketua Departemen Pengembangan Ilmu Ikatan Ahli Geologi Indonesia Edy Sunardi juga mengatakan, belum pernah terjadi kasus seperti ini bisa dihentikan. Semburan lumpur seperti ini berpotensi membentuk gunung.

Sementara itu upaya perluasan pond-5 (kolam penampungan lumpur) seluas 90 hektar di Desa Besuki masih terbentur belum selarasnya keinginan warga yang menghendaki lahannya dibeli Lapindo Brantas Inc, dengan keinginan Lapindo yang menghendaki sewa lahan warga.

HR Lapindo Brantas Inc Sebastian Dja`far sebagaimana dilansir Antara kemarin menyatakan, pihaknya sementara ini menghendaki lahan untuk pond-5 tersebut dengan sistem sewa. “Opsi jual bagi warga, merupakan konsep jangka panjang Lapindo. Hitungannya sementara ini kita sewa dulu, kalau memang kelak harus menjadi waduk permanen, baru kita beli lahan warga itu,” ucapnya.

Seorang warga Desa Besuki Rasidin menyatakan, pada intinya warga menolak jika sawahnya dijadikan sebagai pond-5 dengan cara disewa. Warga meminta lahan yang akan dijadikan pond-5 ini dapat dibeli pihak Lapindo. (San)-z

Menurut Sebastian, mestinya warga ‘diuntungkan’ dengan opsi sewa dulu dan bukan langsung jual. Pasalnya warga bisa menerima uang sewa dengan tetap memiliki areal sawahnya.

“Toh kalau nantinya kita harus membeli lahan, ya kita beli juga. Warga bisa nikmati keuntungan ganda, dari sewa dan jual tanah,” kilahnya.

Mengenai pembangunan 2.000 unit rumah bagi warga yang pemukiman maupun lahan pertaniannya terendam lumpur panas, Sebastian menjelaskan bahwa Lapindo siap membangun rumah tersebut di daerah Tanggulangin Sidoarjo. Namun sifatnya disesuaikan budaya dan keinginan warga korban semburan lumpur. Di mana rumah yang kelak dibangun itu, sifatnya sementara.

Sementara itu, sebanyak 2.502 pengungsi tercatat telah meninggalkan area pengungsian Pasar Baru Porong (PBP). Mereka pergi dari pengungsian, karena batas waktu yang ditentukan telah habis serta telah mendapat rumah kontrakan.

Sabino Mariano, petugas Satlak PBLP Kabupaten Sidoarjo menjelaskan, kepergian sejumlah pengungsi tersebut karena mereka telah menandatangani nota kesepakatan bersama tentang uang kontrak selama dua tahun Rp 5 juta/KK dan mendapat uang jaminan hidup sebulan Rp 300 ribu/jiwa, serta mendapat uang transport pindahan Rp 500 ribu/KK.

Bardasarkan data Satlak PBP, pengungsi yang pindah berasal dari tiga desa, yakni Desa Jatirejo sebanyak 284 KK (1.011 jiwa), Desa Renokenongo 137 KK (534 jiwa), Desa Kedungbendo 232 KK (957 jiwa). (San)-z

http://222.124.164.132/article.php?sid=95515

Tinggalkan Balasan