Penurunan akibat semburan porong ini sudah dapat dimengerti banyak pihak. memang karena secara logika mudah sekali diketahui, ya hanya memindahkan materi dari bawah yang “berpindah” ke permukaan. Namun perlu diketahui bahwa penurunan (amblesan) yg terjadi tidaklah sama disemua tempat ada tempat2 tertentu yg akan memiliki kecepatan ambles yang berbeda.
Perbedaan penurunan ini sudah terlihat dengan adanya kasus limpahan atau luapan lumpur yang disebut oleh Pak Basuki, ketua timnas sebagai istilah “over topping” . Secara mudah saya gambarkan dibawah ini

Penurunan ini perlu diketahu dan dipetakan. Dan saya yakin sudah dipetakan oleh tim (semoga). Peta penurunan permukaan ini akan dapat dipergunakan untuk mengantisipasi pegerakan selanjutnya, sehingga mempermudah penanganan serta desain konstruksi bangunan civil dipermukaan (bendungan, jembatan, jalan dll).
Selain untuk kebutuhan penanganan, data differential subsidence ini dapat dipergunakan untuk melihat apakah ada kemungkinan hubungan antara struktur geologi bawah permukaan atau bahkan untuk mendeteksi arah (jalannya lumpur dari bawah).
Banyak sekali fenomena-fenomena yang perlu dicatat sebagai pemenuhan kebutuhan data-data ini dalam menangani bencana yang sangat langka ini.








September 18, 2006 pukul 1:47 am |
Pak Rovicky, sekarang ini di wilayah Perum TAS, walaupun belum terkena lumpur tapi lantai, baik semen maupun keramik ,di rumah – rumah banyak yang terangkat, disertai dinding yang retak. Sewaktu kejadian diiringi suara gemeretak yang keras (di lingkungan saya sudah banyak yang ngungsi, jadi banyak yang nggak ngeh kalau rumahnya rusak, dan pada waktu terjadi dirumah saya kebetulan kejadiannya pagi pas saya lagi sendiri. Bisa dibayangkan kalau kejadiannya tengah malam misalnya, pasti bikin heboh dan panik seisi rumah). Biasanya keramik yang mengalami pengangkatan itu satu lajur/2 kotak (arah utara-selatan),setelah itu berhenti, mungkin sudah ada space kalau terjadi pemuaian/pengkerutan/pengangkatan/penurunan (gak ngerti istilah yang pas) ya, Pak.
Buat gambaran Bapak, lokasi rumah yang keramiknya terangkat ini, yang saya ketahui sendiri, di sekitar belakang balai desa Kedung Bendo. Kalau di photo atas yang ada di blog ini, jaraknya kira-kira 1.5 – 2 km arah utara – timur laut dari pusat semburan. Uniknya, ini nggak terjadi serentak, mula-mula rumah yang di posisi tengah, lalu menjalar ke samping. Banyak rumah yang di utara (berlawanan dengan arah pusat semburan) mengalami kerusakan lebih dulu sebelum yang selatan. Kemungkinan rumah di blok lain ada yang mengalami peristiwa serupa.
Kalau kata orang-orang, ini disebabkan karena turunnya permukaan tanah. Kalau dilihat dari ilmu geologi, menurut Pak Rovicky gimana, Pak?. Mohon pencerahannya.
Matur suwun sebelumnya.
Salam dari Tanggulangin
November 9, 2006 pukul 5:28 am |
[...] Perhatikan deferential subsidence. [...]
November 16, 2006 pukul 5:05 am |
[...] Tanggul …. ya taggul merupakan salah satu cara paling mudah dan dianggap paling visible, paling mungkin dikerjakan. Tentunya ada beberpa hal yang harus diingat : Ketinggian tanggul memiliki batas maksimum. Karena tanggul dibuat dari bahan yang sebenarnya tembus air. Selain itu tanggul ini merupakan tanggul sementara, dimana toh akhirnyta akan turun atau mengalami subsidence. Dan karena turunnya itu tidak bersamaan maka akan terjadi limpahan seperti yang terjadi akhir-akhir ini terutama pada tanggul yang paling dekat dengan lokasi semburan. Penurunan 1 cm perhari (?) jelas tidak mudah ditangani, kan ? Karena sangat-sangat dinamis. [...]
November 24, 2006 pukul 1:37 am |
[...] Amblesan yang terjadi pada crater ini memang berbentung kerucut kebawah. Namun ini dalam skala besar degan radius amblesan 2 Km. Namun dalam skala kecil, atau skala konstruksi civil amblesan ini sangat-sangat tidak merata. Seperti yg dulu sudah aku wanti-wanti tentang differential subsidence, penurunan sepotong-sepotong akibat rekahan-rekahan bawah tanah yang sangat kompleks. [...]
April 1, 2007 pukul 3:01 am |
[...] karena terjadi amblesan setempat differential subsidence. Seperti yang sudah saya tulis dahulu disini tentang amblesan setempat atau differential subsidence akan lebih berbahaya ketimbang curah hujan [...]