MENGALIRKAN AIR LUMPUR PORONG: SUDAH SIAPKAH KALI PORONG DAN SELAT MADURA MENERIMA DAMPAK MULTIEFEKNYA?
Oleh : Subaktian Lubis Puslitbang Geologi Kelautan
Merilis pernyatan Presiden RI pada sidang kabinet tanggal 27 September 2006 bahwa kawasan Porong sebagai kawasan rawan bencana, membawa konsekuensi logis yaitu bagaimana upaya yang proporsional dan tuntas untuk menyelamatkan dan menyingkirkan aset-aset publik, pemukiman penduduk, jaringan perhubungan serta mahluk hidup termasuk manusia dari ancaman aliran lumpur panas Porong ini.
Aliran gravitasi lumpur Porong secara alami akan mengalir ke Kali Porong dan Selat Madura karena bentuk geo-morfologi Kali Porong merupakan satu-satunya drainage alamiah yang dapat mengalirkan air lumpur sampai ke laut Selat Madura.
Namun demikian, kemungkinan berbagai dampak multiefek akibat pengaliran ini juga perlu difahami bersama, agar jika terjadi dampak signifikan yang mengancam kehidupan biota laut dapat diantisipasi lebih dini. Salah satu dampak tidak langsung tetapi cukup signifikan adalah terjadinya kematian ikan secara masal akibat fenomena algae bloom.
Mengalirkan Air Lumpur ke Kali Porong
Kali Porong merupakan salah satu outlet aliran fluvial pembawa sedimen darat yang cukup signifikan. Sedimen darat ini selanjutnya terendapkan di muara-muara sungai membentuk pulau-pulau delta baru. Catatan sejarah perkembangan delta Porong, menunjukkan bahwa laju majunya garis pantai atau pelumpuran sekitar 9-15 m/tahun. Kandungan endapan Kali Porong adalah 1,3 Kg/m3, sedangkan debit rata-rata musim hujan adalah 500 m3/detik. Diperkirakan volum endapan darat yang terangkut oleh Kali Porong ini mencapai 56.000 ton per hari pada musim hujan. Aliran sungai ini selain mengangkut endapan darat juga membawa zat-zat hara yang bermanfaat bagi mata rantai makanan kehidupan biota laut. Kelimpahan zat hara ini akan merangsang pertumbuhan berbagai biota laut sejenis plankton dan algae, yang merupakan ciri perkembangan baru mata rantai nutrisi di laut.
Kali Porong sebagaimana sungai-sungai lainnya di kawasan tropis merupakan sungai musiman, artinya debit aliran airnya berfluktuatif sepanjang tahun. Pada musim kemarau debit aliran tidak mencapai 5 m3/detik, sedangkan pada musim hujan mencapai maksimum 1500 m3/detik. Perbedaan debit yang signifikan inilah yang perlu dipertimbangkan jika aliran air lumpur mencapai kali porong secara alami. Debit aliran lumpur bersama air lumpur dari pusat semburan saat ini diperkirakan mencapai 160.000 m3 perhari atau sekitar 1,85 m3/detik, debit airnya saja diperkirakan 0,55 m3/det. Debit air lumpur ini masih lebih kecil dibandingkan debit rata-rata aliran Kali Porong pada musim kemarau. Namun yang menjadi concern adalah bagaimana fluktuatif penurunan kualitas air Porong akibat percampuran kedua aliran air ini? Jawabnya, akan berpengaruh signifikan jika debit aliran air Kali Porong < 5 m3/det. Jelas bahwa hampir semua komponen lingkungan akan terpengaruh, tetapi jika debit air > 500 m3/det maka akan terjadi pengenceran total dan tidak akan mempengaruhi kualitas air sungai.
Agar mengalirkan air lumpur ini tidak membawa dampak yang signifikan maka diperlukan sistem manajemen pengaliran yaitu buka-tutup katup disesuaikan dengan fluktuasi debit air Kali Porong.
Berdasarkan data densitas lumpur Porong (1,3-1,9 gr/cc), padatan lumpur yang terbawa sampai ke sampai ke sungai tidak akan sempat mengendap karena settling velocity (kecepatan pengendapan) lumpur pada air tawar sekitar 20 cm/jam., sedangkan pada air laut 90 cm/jam. Bandingkan dengan kecepatan arus Kali Porong rata-rata 740 m/jam (0,4 knot). Artinya lumpur ini akan terbawa terus ke muara. Di muara, lumpur ini akan mengalami hambatan aliran karena efek pendangkalan, kemungkinan mengendap sebagai endapan muara atau membentuk pulau-pulau lumpur baru. Karena sifat berat jenisnya yang lebih besar dari air laut maka sebagian lumpur mengendap di perairan dangkal. Selanjutnya, jika akumulasi lumpur di peraian dangkal ini cukup tebal, maka akan mengalir sebagai rayapan ke perairan yang lebih dalam oleh efek gaya beratnya sendiri.
Fenomena Algal Bloom (Red Tide)
Salah satu fenomena alam yang dikhawatirkan oleh para ahli oseanografi muncul atau aktif jika terjadi pengadukan endapan dasar laut dangkal adalah fenomena bloom algae. Bloom algae adalah pertumbuhan alga yang super cepat sehingga jumlahnya sangat berlimpah menutup permukaan laut. Percampuran lumpur Porong dengan lumpur dasar laut Selat Madura akan terjadi pada saat debit maksimum atau adanya pengaruh gerak orbital gelombang laut di perairan dangkal. Teraduknya endapan lumpur ini akan memicu dan mengangkat kista-kista algae yang umum dijumpai pada lumpur muara-muara sungai.
Pada tahun 2003 para peneliti BATAN bersama dengan Universitas Atmajaya dan Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL) telah menemukan adanya kista yang diduga merupakan kumpulan algae menyerupai jenis Dynoflagellate pada sedimen dasar laut di perairan pantai utara Jawa. Hal ini memberikan indikasi bahwa peluang terjadinya blooming algae atau harmfull algal bloom ini memungkinkan jika nutrisi atau zat hara disekitar perairan melimpah dan sinar matahari cukup menghangatkan perairan. Akibatnya, kista yang berada di dasar laut akan mengalami proses percambahan (germination) dan pecah menjadi sel-sel algae yang keluar dan menyebar. Sinar matahari akan mempercepat proses pembelahan sel menjadi sejuta kali dalam waktu dua sampai tiga minggu. Jika algae ini memiliki pigmen warna merah maka limpahan algae yang mengambang di permukaan laut ini akan mewarnai perairan menjadi merah sehingga fenomena ini disebut Red Tide.
Red Tide lazim terjadi pada perairan dangkal atau muara, terutama akibat adanya banjir di muara sungai yang menimbulkan arus dasar laut. Arus dasar laut ini berpotensi mengaduk endapan dasar laut. Selain itu, teraduknya endapan dasar laut juga dapat diakibatkan oleh pecahnya gelombang laut. Akibat adukan ini maka kista-kista algae yang berada di dalam sedimen lumpur ini terangkat ke permukaan dasar laut. Jika kandungan oksigen cukup dan temperatur perairan cukup hangat maka kista-kista tadi pecah dan sel algae berhamburan melayang pada kolom air laut. Nutrisi dan zat hara yang terbawa aliran sungai ke laut mempercepat pembelahan sel algae ini sehingga menyebabkan blooming algae secara berlimpah. Berlimpahnya algae ini menutupi permukaan laut pada malam hari dan turun menyelam ke bagian bawah pada siang hari, sehingga kenampakannya jarang terlihat secara visual pada siang hari. Arus permukaan laut biasanya mengangkut limpahan algae ini membentuk sabuk memanjang mengikuti arah arus, namun jika arus laut tidak cukup kuat maka limpahan algae ini membentuk kawasan perairan dengan rona merah, kadang-kadang bercampur warna coklat atau hitam tergantung dari pigmen jenis algae dominannya. Berlimpahnya algae di permukaan laut mengakibatkan berkurangnya kandungan oksigen pada kolom air di bawahnya. Akibatnya mahluk hidup lain seperti ikan-ikan kecil akan mati lemas kekurangan oksigen. Selain itu, jika jenis algae ini beracun, maka ikan-ikan besar yang memakan algae ini juga ikut teracuni, biasanya mengalami kelumpuhan dan bahkan mati beberapa saat kemudian.
Berlimpahnya algae ini juga mengakibatkan keracunan mahluk hidup lainnya seperti kerang-kerangan yang hidup di dasar laut. Kerang yang teracuni algae ini sangat beracun jika dikonsumsi manusia karena mempunyai akumulasi kandungan racun yang lebih tinggi dibandingkan jenis ikan.
Hal lain yang merupakan ciri booming algae adalah selalu terjadi di kawasan pantai, sangat jarang terjadi di laut lepas karena umumnya kista-kista algae ini hidup dalam bentuk Alexandrium istirahat tertimbun sedimen lumpuran sampai tahunan di muara-muara sungai atau perairan dangkal.
Tentu saja kehadiran Red Tide ini termasuk fenomena yang sangat jarang tetapi bersifat alami. Biota laut terutama jenis ikan biasanya secara naluri akan menghindar jika bertemu dengan dispersi lumpur. Namun, kejadian red tide ini umumnya tidak terdeteksi oleh indera makhluk air. Ciri yang dapat diamati akan kehadiran algae bloom ini adalah banyaknya dijumpai ikan yang mati lemas secara masal akibat kekurangan oksigen.
Pada beberapa kasus yang telah terjadi, kebanyakan masyarakat kawasan pantai menyalahkan limbah industri penyebab kematian ikan secara masal, padahal tidak menutup kemungkinan algal bloomlah penyebabnya. Kejadian semacam ini sering terjadi secara berkala di muara-muara sungai Teluk Jakarta, pantai utara Jawa dan muara sungai-sungai di Selat Bali, dimana kerap kali bangkai ikan ini terdampar dan mengotori pantai Kuta, Bali.
Penutup
Kekhawatiran akan munculnya dampak-dampak ikutan ini secara jujur memang terlampau berlebihan, karena kita percaya bahwa alam sendiri akan bertindak sebagai penyeimbang seluruh proses alam.
Adalah tidak mungkin menahan luapan lumpur Porong ini dengan membangun tanggul-tanggul penahan karena sifat lumpur yang plastis dan selalu mengembang-mengkerut atau selalu pada kondisi yang tidak stabil dan berpotensi menimbulkan bencana lainnya. Mengalirkan lumpur ke laut juga sulit dilakukan tanpa menerapkan teknologi pengenceran, pengadukan dan pemompaan.
Mengalirkan air lumpur ke Kali Porong akan berdampak signifikan jika debit Kali Porong relatif kecil, kecuali jika debit Kali Porong > 500 m3/det maka tidak akan menimbulkan dampak yang berarti.
Selain itu, ada kemungkinan munculnya dampak biologis di kawasan muara dan pantai yaitu fenomena algae bloom atau Red Tide. Jika setelah pengaliran air lumpur Porong ini ditemukan kematian masal jenis ikan, maka perlu diteliti apakah akibat keracunan oleh zat-zat yang terkandung pada lumpur Porong, atau akibat re-aktifnya kista-kista algae yang tumbuh berkembang secara berlimpah.
Kita menyadari bahwa, keputusan mengalirkan air lumpur ke Kali Porong adalah alternatif buruk dan pahit dari pilihan yang terburuk dan terpahit. Yang perlu disikapi adalah agar kita tidak panik jika dampak multiefek atau dampak ikutan muncul sewaktu-waktu. Oleh sebab itu perlu pemahaman bersama tentang berbagai dampak multiefek yang mungkin akan terjadi.








November 27, 2006 pukul 2:51 am |
tolong kasih saya informasi mengenai sejarah, kondisi, karakteristik, kegunaan, kehidupan, dsb sebelum terjadi luapan lumpu sidoarjo. (kondisi normal)
November 27, 2006 pukul 2:55 am |
informasi tentang sungai/kali porong sebelum terjadi kasus lapindo.