Kompas Lidah api membubung tinggi membelah langit Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (22/11) malam. Merahnya api di atas lumpur hitam itu ternyata menjadi berita duka bagi beberapa keluarga. Kini yang tersisa hanya Merah Putih di atas peti jenazah Kapten (Inf) Afandi (49), Komandan Koramil Balongbendo, Sidoarjo. Dia meninggal ketika ledakan pipa gas Pertamina menyembur ke luar bersama lumpur panas di Porong. Kapten Afandi mendapat kenaikan pangkat menjadi mayor anumerta.
Lantunan sendu suara terompet ditingkahi tabuhan drum bertempo lambat membelah kesunyian Kompleks Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) B2-33 Sidoarjo.
Dari dalam rumah keluar beberapa prajurit mengangkat peti, mendekati mobil jenazah yang akan membawanya ke Purwodadi, Jawa Tengah. “Saya sudah bilang sama Bapak, jangan ke tanggul dulu. Hati-hati longsor,” ujar Kuntiyati (44), istri Afandi, sendu.
Keluarga Afandi adalah satu dari tiga keluarga yang masih bertahan di Perumtas. Rumah mereka berjejer tepat di sebelah tanggul. Afandi bersikukuh tetap tinggal selama lumpur belum memasuki wilayah itu. “Saya, ya, ikut karena kami memang tidak punya tempat mengungsi,” tutur Kuntiyati.
Di sisi peti suami, Kuntiyati berdiri menyambut Panglima Kodam V Brawijaya Mayjen TNI Syamsul Mappareppa. Saat Syamsul mendekat seusai mendoakan jenazah, Kuntiyati hanya berkata, “Saya sudah ikhlas.”
Sementara itu, jenazah Bripda Fanny Dwi Saputra (25), petugas patroli jalan raya yang bermarkas di Polda Jatim, hanya dijemput bibinya, Endang, di RSUD Sidoarjo. Kedua orangtua Fanny masih di Pasuruan. “Mereka tidak kuat melihat jenazah almarhum,” ujar Endang sambil mengusap air mata.
Selain menewaskan anggota TNI dan Polri, ledakan pipa gas itu juga menewaskan karyawan PT Jasa Marga yang tengah piket, Yusman Edi Y (46) dan Tri Iswandi (45).
“Aku tidak terima ayah meninggal. Lumpur sudah makan korban terlalu banyak…,” tutur Widia Oktaviana (21) di sela-sela sesenggukan. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya, Yusman, karyawan bagian teknik pemeliharaan Jasa Marga, harus meninggal tiba-tiba. Ibunya, Dewi Mardiana (44), duduk sambil berzikir dengan suara lirih.
Dikman Adjie Pratama (19), adik Widia, hanya bisa diam pasrah ketika para tamu mengerumuni peti ayahnya di ruang tamu mereka di Kompleks Kepu Permai, Sidoarjo.
Dikman, Widia, dan ibunya langsung berlari ke Porong sesaat setelah mendengar ledakan itu. “Kami menunggu hingga jenazah ayah ditemukan. Dikman bahkan ikut mencari ayah di lumpur,” tutur Widia.
Di rumah duka Tri Iswandi, karyawan PT Jasa Marga yang juga piket malam itu, di Puri Indah Blok BH No 5, Kamis pagi sangat senyap. Ketiga anaknya, Aryo Bagus Nugroho (14), Rivaldi Aris Hidayat (10), dan Fauzi Gilang (5), belum sempat mandi. “Fauzi hanya mau dimandikan ayahnya,” ujar ibunda mereka, Sri Nawang Winingsih (36). “Perjalanan mereka masih panjang,” tutur Winingsih tentang anak-anaknya.
Di sela tangisan, Winingsih mendekap anak ketiganya. Ia mengenang bagaimana sang ayah menjanjikan liburan bersama segera setelah lumpur surut. Apa hendak dikata, liburan itu tak pernah datang.
Kelamnya lumpur sekali lagi menambah catatan kepedihan warga Porong. Atas nama Dewi, Winingsih, dan keluarga korban lumpur Lapindo lainnya, Kuntiyati berucap, “Tolong, jangan buat warga Porong kembali bersedih….”
Gugur dalam tugas
Di Jakarta, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan bela sungkawa menyusul jatuhnya korban jiwa, terutama prajurit TNI, dalam ledakan pipa gas Pertamina di kawasan semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc.
Seusai pertemuan Komite Tingkat Tinggi Angkatan Bersenjata Indonesia-Malaysia, kemarin, Djoko mengatakan, para prajurit itu gugur dalam tugas melaksanakan operasi militer selain perang. Dia memastikan pihak keluarga akan menerima santunan, baik dari Mabes TNI dan TNI AD, pemerintah daerah, maupun dari Lapindo.
Djoko menyatakan masih belum berencana mengevaluasi atau bahkan menarik keberadaan pasukan TNI yang ditugaskan mengamankan lokasi sekitar semburan lumpur Lapindo. (AB7/AB8/DWA)








November 25, 2006 pukul 4:38 am |
Apakah cukup hanya dinaikkan pangkatnya? apakah cukup hanya diberi santunan.. mereka telah rela mengorbankan raganya, bahkan nyawanya demi menjalankan tugas.. Kemudian apa upayanya setelah semua terjadi… apa upayanya agar tidak lagi bertambah korban… apakah cukup dinyatakan sebagai daerah bahaya seluas 440 hektar, atau hanya dinyatakan sebagai bencana…? Lalu mau dikenakan nasib warga yg rumahnya ada diwilayah itu? cukupkah hanya diberi uang kontrak dan uang makan…? bagaimana dengan lingkungan sosialnya… ? mereka masih butuh hidup… Bagaimana upaya PETINGGI-PETINGGI kita, mana suara DPR… soal beras import aja lantang….?????, soal yang kecil lantang… soal alat perang lantang… sekarang soal warga… yang notabene dulu juga memilih mereka… mana….?????????
November 25, 2006 pukul 8:09 am |
[...] Alasan lain untuk dicintai dan dibanggai adalah pengorbanan mereka dalam bertugas melayani warga biasa. Ini juga banyak kasusnya, yang terakhir adalah banyak aparat Polisi dan TNI yang jadi korban bencana ledakan Gas Lapindo saat mereka bertugas. [...]