Hari Ini Bola Beton Mulai Sumbat Lumpur

Jumat, 16 Feb 2007,
Lapindo Tetap Tolak Bayar Warga TAS
Barisan Warga TAS dalam perjalanan pulang dari pertemuan di Pendopo Kabupaten Sidoarjo saat melintas di pusat kota kemarin. Aksi ini menimbulkan kemacetan panjang.
Hari Ini Bola Beton Mulai Sumbat Lumpur
SIDOARJO – Tuntutan warga Perum TAS I sebagai korban lumpur tidak ditanggapi Lapindo. Sampai kemarin, belum kunjung ada kepastian apakah warga perumahan itu mendapatkan kompensasi kerugian atau tidak.

“Saya sudah desak Lapindo untuk menyatakan komitmennya, apakah warga Perum TAS dapat ganti rugi atau tidak. Tapi, mereka (Lapindo, Red) minta waktu sampai 22 Februari nanti,” ujar Bupati Win Hendrarso di Pendapa Kabupaten Sidoarjo kemarin.

Seperti diberitakan, warga Perum TAS I memblokade jalan selama hampir tiga jam Rabu (14/02). Mereka menuntut Lapindo agar membayar ganti rugi. Blokade berakhir setelah Win menjanjikan pembicaraan antara General Manager Lapindo Imam P. Agustino, Ketua Pelaksana Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Basuki Hadimoeljono, dan Pemkab Sidoarjo.

Rencana semula, pertemuan itu dilaksanakan mulai pukul 09.00. Namun, realisasinya mundur. Menurut Win, Lapindo minta pertemuan tersebut dialihkan ke Hotel Shangri-La, Surabaya, markas mereka.

Di akhir pertemuan, Lapindo minta waktu sampai 22 Februari untuk memberikan kepastian. Alasannya, kompensasi kerugian bagi warga Perum TAS I membutuhkan dana sangat besar. Nilainya diperkirakan ratusan miliar rupiah. Padahal, para manajer Lapindo tidak memiliki otoritas untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Kapasitas mereka hanyalah pelaksana di lapangan.

“Yang punya otoritas adalah para manajer di holding company Lapindo, yakni EMP (Energi Mega Persada) dan Grup Bakrie,” tutur Win. “Top manajernya Nirwan Bakrie, adik menteri Aburizal Bakrie. Jadi, yang bisa menekan mereka (agar segera memberikan keputusan) ya para menteri,” imbuhnya.

Win mengatakan, upaya untuk menekan Lapindo itu akan ditempuh para menteri yang tergabung dalam Tim Pengarah Timnas. Itu dilakukan saat rapat evaluasi kinerja timnas, sebelum mengakhiri masa tugas pada 8 Maret mendatang. “Rapat itu dilaksanakan pada 22 Februari mendatang,” kata Win.

Mendengar penuturan Win, wakil warga Perum TAS I langsung emosi. Terlebih lagi mereka tidak melihat kehadiran Imam Agustino.

“Kemarin (Rabu lalu, Red) kami dijanjikan bahwa hari ini adalah upaya terakhir. Kalau masih harus menunggu seminggu lagi, apa boleh buat. Kami akan menghentikan aktivitas penanggulan di wilayah Perum TAS,” ancam Mitro, salah seorang wakil warga Perum TAS I.

Imam Agustino, yang datang terlambat pada pertemuan itu, bergeming. Dia kukuh pada pendapat awal Lapindo. Menurut Imam, komitmen Lapindo dalam membayar kompensasi kerugian terhadap warga korban lumpur Lapindo adalah sebatas kesepakatan yang diambil pada 4 Desember tahun lalu.

Kesepakatan itu belum memasukkan Perum TAS I dalam skema ganti kerugian. Menurut Imam lagi, kewajiban Lapindo menanggung pembayaran ganti rugi Rp 2,5 triliun seperti yang ditetapkan pemerintah belum mengakomodasi ganti rugi untuk warga Perum TAS I. “Itu adalah kemampuan maksimal kami. Selanjutnya, kami serahkan pada timnas. Kami akan mengikuti apa yang diputuskan Tim Pengarah Timnas,” tandas Imam.

Basuki melontarkan pernyataan yang berseberangan dengan Imam. “Sikap kami seperti yang tertuang dalam notulen rapat di Kantor Bappekab Sidoarjo, 25 Januari lalu. Warga Perum TAS sudah kami nyatakan layak mendapat kompensasi ganti kerugian,” ujarnya.

Warga Perum TAS I belum puas dengan penjelasan Win maupun Imam. Meski demikian, mereka sepakat menunggu sampai 22 Februari mendatang.

“Saya janji, 22 Februari itu adalah yang paling akhir. Kalau Anda masih percaya saya, tunggu sampai 22 Februari. Kalau tidak, terserah. Saya angkat tangan,” tegas Win.

Lantaran tak kunjung mendapat jawaban memuaskan, kemarin warga Perum TAS I jadi makin beringas. Perjalanan pulang dari Pendapa Kabupaten Sidoarjo dilakukan sambil menutup jalan beberapa kali.

Meski hanya beberapa menit, aksi tidak simpatik itu menimbulkan kemacetan panjang. Antrean kendaraan yang akan masuk Sidoarjo dari Surabaya mencapai satu kilometer. Di ruas jalan dari arah selatan, kemacetan juga memanjang sekitar dua kilometer.

Melihat aksi warga TAS sudah berlebihan, aparat kepolisian datang dengan perangkat pengendali massa, termasuk satu mobil watercannon. “Pemblokadean jalan sudah cukup meresahkan,” kata Kapolres Sidoarjo AKBP Utomo Heru Cahyono. Karena itu, pihaknya siap bertindak tegas jika warga tetap ngotot memblokade jalan. “Tapi, upaya persuasif masih kami upayakan,” jelasnya. Setelah melalui beberapa negosiasi, warga akhirnya membubarkan diri. Sebagian besar kembali ke tempat pengungsian di Pasar Porong Baru (PPB).

Bola Beton

Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur ternyata masih sangat yakin dengan keampuhan metode killing mud softly menggunakan bola-bola beton. Ketua Pelaksana Timnas Basuki Hadimoeljono kemarin mengatakan, realisasi metode itu akan dimulai hari ini.

“Besok (hari ini) tower crane untuk mengangkat bola-bola beton itu dan menjatuhkannya ke pusat semburan akan masuk lokasi,” ujarnya.

Perakitan tower crane, lanjut Basuki, tidak membutuhkan waktu lama. Maksimal sehari. Karena itu, tahap penceburan rangkaian bola-bola beton ke pusat semburan lumpur dapat dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

“Nanti kami menggelar konferensi pers. Kami juga akan menyiapkan tempat di lokasi agar teman-teman wartawan dapat meliput langsung proses penceburan bola-bola beton ke pusat semburan (lumpur),” katanya bersemangat.

Seperti diberitakan, metode yang dicetuskan pakar fisika dari ITB itu menggunakan rangkaian bola-bola beton berdensitas tinggi. Satu rangkaian terdiri atas empat bola, seberat 400 kg. Dua bola di antaranya masing-masing berdiameter 40 sentimeter. Dua bola yang lain masing-masing berdiameter 20 sentimeter. Rencananya, Timnas menggunakan 500 rangkaian bola beton.

Aksi penyumbatan semburan lumpur dilakukan dengan memasukkan rangkaian bola beton itu ke lubang pusat semburan. Teknik semacam itu disebut high density chained balls (HDCB). Yakni, meredam energi semburan dengan mengubahnya menjadi energi getaran, rotasi, friksi, dan translasi oleh bola-bola beton yang ada.

Setiap hari, rencananya, dimasukkan antara 25 sampai 100 rangkaian. Selanjutnya, akan digunakan sensor khusus yang dipasang di rangkaian bola-bola tersebut. Sensor itu berfungsi mengetahui tekanan dan arah bola. Pada tekanan tertentu, sensor akan terlepas dan naik sehingga bisa dipakai lagi.

Diharapkan, metode yang menelan biaya Rp 1,6 miliar itu dapat mengurangi debit semburan lumpur hingga 70 persen. “Tapi, turun 50 persen saja sudah sangat bagus,” tandas Basuki.

Dana Relokasi

Biaya relokasi infrastruktur Porong, Sidoarjo, yang porak-poranda akibat Lapindo Brantas diputuskan akan ditanggung pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjamin, dana relokasi Porong diambilkan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Infrastruktur Porong yang rusak itu meliputi jalan tol, rel kereta api, dan sebagainya. “Semua dana relokasi akibat banjir bencana lumpur Lapindo ditanggung APBN,” kata Sri Mulyani usai rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden kemarin.

Dana relokasi infrastruktur Porong masuk dalam APBN Perubahan. Saat ini kebutuhan pembangunan infrastruktur di Porong sedang dihitung menteri yang terkait langsung. “Hingga saat ini, memang belum ada yang mengusulkan. Tapi, tidak lama lagi akan dibahas,” ujarnya.(dyn/sat/tom)

About these ads

113 Balasan ke Hari Ini Bola Beton Mulai Sumbat Lumpur

  1. Tempat Karaoke mengatakan:

    Wuihh.. keren juga tulisannya nee yg ane cari-2 lumayan buat pencerahan. Seandainya Kamu kepengen cari kesenangan bernyanyi nii saya beri referensi tempat karaoke yang cukup keren.Good om Admin. http://cb150rstreetfire.wordpress.com/2014/01/04/karaoke-oke-ala-hello-fktv/

  2. What’s up, this weekend is nice for me, because this moment i am reading this impressive educational article here at my home.

  3. [...] ajang tulisan semacam buku harian, ternyata dapat juga dipakai untuk berdiskusi serius. Coba tengok diksusi tentang bola beton yang jumlahnya hingga mencapai diatas 100. Sehingga diteruskan di threat khusus diskusi seri satu [...]

  4. [...] kecepatan bola dihitung oleh R Irawan sbb : Om papang benar, bola memang bisa tenggelam. Kita bahkan bisa pula menghitung kecepatan (ub) [...]

  5. ompapang mengatakan:

    Saya bukan dari ITB, juga bukan ahli geologi. Sejak awal saya tidak menolak bola-bola beton ITB,namun demikian saya tetap mengkritisinya. Saya bahkan sudah sejak awal punya keyakinan bahwa bola-bola beton yang disebut HDCB (walau tak dirantai/chained) apabila dapat menutup total ( 100 %) semburan tidak akan menimbulkan semburan baru ditempat lain,sebab tekanan dari perut bumi walau berasal dari panas bumi/geothermal tidak akan kuat menembus celah-celah sempit yang punya restriksi besar sekali,yang bisa tembus hanyalah gas berupa bubble/gelembung saja, karena sudah dilawan oleh 3000 m tinggi kolom lumpur, jadi tinggal sisanya saja.
    30 MENIT bukanlah waktu yang singkat, dengan waktu tersebut geothermal mampu menghimpun tenaga untuk membuat lubang baru ditempat lain.Tetapi nyatanya kembali kelubang lama. Jadi kalau mampu menutup selama satu hari saja, itu sudah cukup untuk mengendapkan kolom lumpur sehingga membentuk endapan lumpur padat setinggi 900 meter.( 30% X 3000 m),sedang diatasnya yang 2100 m adalah air.
    Bila kedalam lubang semburan yang bagian atas berisi air tadi dituangkan campuran beton kering (tanpa air),maka air akan keluar dan tempatnya setinggi 2100 m digantikan oleh beton tadi,sehingga penyumbatan total akan terlaksana. Saat inilah HDCB betul-betul sukses, karena tak ada semburan baru ditempat lain. Bravo Wong Ndeso !!

  6. Wong-Ndeso mengatakan:

    Ada yang pesimis dengan metode memasukkannya bola-bola beton untuk mengurangi volume semburan lumpur. Tetapi FAKTANYA, hari ini (Senin 19-Maret-2007) setelah 374 bola – bola beton dimasukkan, semburan lumpur sempat terhenti selama 30 menit. sekitar jam 11 siang.

    bravo metode insersi bola – bola beton. Selamat bagi penemu ide tersebut (katanya ITB ya…). Semoga setelah tambahan 500 bola beton, baru semakin terasa hasilnya.
    dan menghapus keraguan terhadap metode ini.

  7. [...] bahwa usaha menutup lumpur dengan bola-bola beton cukup menarik. Oleh karena skala musibah dan ketertarikan pada musibah ini, saya selalu mengikuti [...]

  8. Herman mengatakan:

    Pak Syahraz

    Saya mohon tanya soal kimia semen dan beton yang mengeras dan cairan lumpur.

    Apakah gas H2S dan Air dan Oksigen terlarut dan menurut keterangan juga mengandung garam Na dan Mg karena bekas laut purba. Apakah tidak timbul MgSO4 dan Na2SO4 berapa kadarnya dalam air lumpur ?? . Apakah Trikalsium Silikat atau Trikalsium Aluminat dalam beton tidak bereaksi ? Berapa kadarnya ini bisa ditekan dalam semen beton ??. Berapa kecepatan reaksinya ?

    Terima Kasih

  9. syahraz mengatakan:

    Lha kan sudah ada beton yang pakai agregat “berat”. Memang lebih kuat tapi “jatuhnya” lebih mahal karena agregat yang berat semacam limbah gram besi memang lebih mahal daripada pasir maupun kerikil. Dan ketersediaannya tidak begitu banyak.

    Kalau untuk beton dengan tulangan ram-raman saringan pasir ya bisa saja. Asalkan bebannya tidak terlalu berat dan karakteristik betonnya tercapai. Kalau betonnya cukup menahan beban berarti tulangan tidak berfungsi. Ini disebut beton tanpa tulangan. Beton jenis ini kalau tidak dipasang tulangan ya tidak apa-apa. Untuk masalah penggunaan strimin saringan pasir saya kira OK-OK saja asalkan sesuai dengan beban desain (kalau tidak menghitung beban desain ya dikira-kira saja, wong saya juga sering pake “canda’an” aja koq pak)…

    Hal ini bisa terjadi karena kebetulan mutu dan luas penampang tulangan yang dibutuhkan sama dengan luas penampang strimin yang dipasang. Lha ini yang dinamakan “Canda’ane pas”…

    Dan jangan lupa penempatan tulangan juga harus pas. Kalau terbalik ya pasti melendut karena tidak tercapai keadaan “under reinforced” atau tulangan leleh lebih dulu daripada betonnya.

    Salam hangat

  10. ompapang mengatakan:

    Pak Syahraz,saya pernah nyoba untuk bubungan rumah saya, tidak saya pakai bubungan dari pabrik,tetapi bikin sendiri dari strimin saringan pasir,kemudian disemen. saringan pasir untuk ototnya,ternyata sampai 20 tahun tidak pecah bubungannya. Saya pernah berpikir kalau campuran beton ditambah aditif paku reng kayu mungkin K nya sampai 1000. Saya belum sempat nyoba sampai sekarang,siapa yang mau nyoba? Mungkin dicampur tahi besi mesin bubut jadi lebih kuat,soalnya tahi besi mesin bubut praktis tak ada harganya, kalau sudah membatu sulit membuangnya. Dibengkel-bengkel besar banyak kita temui berton-ton. Mungkin bisa sebagai pengganti serat ****sensor lho pak!

  11. syahraz mengatakan:

    Lho? bikin BAKPAU nya didalam sumur atau diluar sumur nih?
    Kalau didalam sumur ya terpaksa pakai cor kering, tapi kedalaman sumurnya 3000 meter ik….

    ya terpaksa bikin BAKPAU diluar sumur trus dicemplungkan.

    Kalau masalah pengerasan beton sih saya yakin Wika pake steam-curing, bukan dirawat pake air biasa. Ga tau lagi kalo ada “permainan”… yang mestinya di-steam-curing eh malah dirawat pake air biasa… yo kacau….

    Kalau di pabrik prestress tempat saya dulu bisa buat beton K-1000 tanpa aditif. Pada umur 1 hari kuat tekannya bisa mencapai 550 kg/cm2. Asalkan perawatannya dengan cara steam-curing.

    Pernah juga dicoba untuk campuran dalam pembuatan brankas, adonan kueh betonnya dicampur dengan serat ***** (sensor) sehingga sifat beton tidak getas dan tidak mudah pecah.

    iki wis nomer piro tho?

  12. herman mengatakan:

    Iki wis nomer pira ya …? Wis ben nganti 200
    kalau ndak keliru koagulasi untuk PDAM pakai Alum katanya juga pakai polielektrolit…. . Tapi katanya harus pakai flokulator supaya gaya van der wals terlampaui. Ini katanya lho….he..he..yang penting banyak teman bisa ditanyai…. jadi kalau untuk lumpur lapindo flokulator harus dibawahnya bola bola beton itu…..tapi harus dibuat turbulen..

  13. DjayaWikarta mengatakan:

    Tekanann lumpur dari bawah meamng samapi 300 Bar ?., besar sekali ya, sekitar 300 kg/cm2. Kalau diameter lubang sumur rata-rata 60 cm ?, Maka gaya yang harus ditahan hampir 850 ton. Kalau adonan kering BAKPAU ompapang bisa setinggi 300M,
    (asumsi 10% dari kedalaman 3000m)….. kayaknya bisa cukup kuat.
    Volume sumbat 300m sekitar 85 m3, berat jenis bakpau misalkan 0.8 (mirip kayu ?) maka cuma dapat berat sumbat 68 ton…. ???? 780 ton lagi diapain ya ?.
    Atau cari bahan BAKPAU yang lebih berat

    tapi gaya penyumbatan selain berat bakpau….juga agya friksi bakpau dengan dinding sumur. Asal shear strength dari bakpau tidak serapuh tepung terigu saja.
    bahan bakpau yang saya tahu mengembang disaat matang kepanasan hanya styrofoam….ini malah BJ nya cuma 0.3 an….dan juga rapuh.

    Ompapang, CO2nya nanti setelah ketemu bahan BAKPAU yang cocok :)

    Tapi kalau saya punya bahan semacam coagulan lumpur….dan bisa ngembang
    asyik banget. Sayang sekali adonan Portland cement malah mengkerut.
    Memang musti banyak disiplin yang mikirin……belum apa-apa sudah perlu orang kimia.

    tadi sore pulang kerja sekilas ada siaran BBC1 yang menayangkan crane-crane persiapan pencemplungan bola beton. Senang juga lihat orang Indonesia punya upaya….
    …. salut , terlepas dari ngerti atau tidaknya dengan hitungan pak RIrawan
    saya setuju, kayaknya kita harus mulai dibiasakan telling by number. Makanya sekarang kepala saya rada pening…belajar ngitung diluar kepala nih…

  14. RIrawan mengatakan:

    He he,
    sejarah mencatat, penemu-penemu hebat, Newton, Thomas Alpha Edison sampai Einstein awalnya dianggap orang-orang aneh dan tukang mimpi. Cuma mereka serius dan terus kerja keras mewujudkan mimpinya.
    Terusnya bung DjayaWikarta ya ,,,,,?

  15. ompapang mengatakan:

    Eh, pak Djaya Wikarta, ada yang kurang,tak tambahi ya!. Kalau bahan kimianya dipakai es kering ( CO2 beku ) bisa nggak ya, soalnya es kering kan didalam air mungkin bisa menghasilkan gas CO2 dan mungkin juga ledakan disuhu tinggi.

  16. ompapang mengatakan:

    Pak Djaya Wikarta, pemikiran yang bagus, bagaimana kalau teori Bapak digabung dengan teori pembuatan bakpao atau roti tawar ataupun teori penggorengan krupuk. Dalam proses pembuatan bakpao,roti tawar atau apem dipakai bahan tambahan agar terjadi pengembangan/pemekaran atau pertambahan volume pada produk yang bersangkutan. Ada yang pakai soda kue ada pula yang pakai gist atau tape yang dalam prosesnya terjadi fermentasi. Tapi pada dasarnya adalah sama yaitu mendapatkan gas CO2 yang akan membuat gelembung-gelembung sehingga membentuk pori-pori/lubang-lubang dalam produk makanan tersebut sehingga bahan yang kecil dapat menjadi mekar.Dalam krupuk pun terjadi proses pemekaran yang secara fisik kelihatan serupa,walau tanpa bahan tambahan. Jadi berbeda dengan proses pengecoran jembatan Kobe yang Bapak saksikan, disini justru diharapkan timbulnya void/rongga. Kalau dalam bola beton pak Djaya Wikarta tersebut dicampur bahan kimia semacam soda kue dan bahan pemercepat beku campuran semen dan lumpur, mungkin akan dihasilkan produk berupa bekuan campuran semen dan lumpur dengan bentuk fisik seperti batu apung yang berlubang-lubang , ada rongga/void nya. Mungkinkah dibuat bola beton bertulang kawat kecil- kecil dan diberi campuran bahan kimia tertentu, sehingga apabila kena panas lebih dari 120 derajat, bola beton tersebut dapat mengembang/mekar seperti krupuk, walau berada pada tekanan 300 bar. Kalau dapat dibuat tentu akan bisa mengurangi luas lubang semburan seperti usulan Pak Djaya Wikarta atau menekan debit hingga 10 % nya pada kedalaman 3000 meter. Bagaimana ya?

  17. DjayaWikarta mengatakan:

    tambahan…. kekecualian.
    Usuan teori saya tentang penyumbatan dengan “beton lumpur” tentu harus dibatalkan…
    jika ternyata PENYUMBATAN lubang lumpur DILARANG berdasarkan pertimbangan geologis/vulkanologis atau pertimbangan lain-lain.

    kalau memang semburan gak boleh disumbat, maka satu-satu nya jalan keluar
    kita harus bisa bikin produk dengan bahan baku Lumpur yang melimpah ruah ini.
    Atau barangkali saja lumpur dari perut bumi ini mengandung “biji2an berharga”
    cobalt, paladium atau uranium …atau kandungan apalah yang bisa berguna
    orang geologi atau minyak mungkin bisa lebih tahu.

    Atau lumpur Sidoarjo hanya sekedar bahan baku padang pasir atau malah sampah ?.
    Rasanya,….. Tuhan tidak akan terlalu kebangetan :(

  18. DjayaWikarta mengatakan:

    Lama-lama asyik juag mengikuti diskusi mudflow ini. Andai saja saya kenal banyak istilah2 geologi dan sipil mungkin saya bisa tambah excited. Tidak terlalu lama buka kamus. Tapi untungnya ada ompapang, RIrawan dan Rovicky yang tetap dingin memberi support agar tetap berkoar dan pemikiran disiplin lain-lain ikutan urun rembuk. dan memang seharusnya dalam segalah hal harus multi-displin.

    Saya tertarik oleh keywords: semen portland, temperatur tinggi, pengerasan lumpur, aglomerasi, kecepatan aliran, kedalaamn sumur, diameter sumur, viscositas lumpur….
    bola-bola beton dan …..usaha penyumbatan tentu saja.

    Saya pernah lihat video dokumen pengerjaan ngecor tiang jembatan Kobe, yang dikerjakan harus tepat waktu. Karena katanya kecepatan pengerasan beton sudah TERTENTU. Terlalu lambat keras maka aliran bertekanan air laut akan mendorong bubur beton, jika erlalu cepat keras maka coran akan tidak homogen timbul banyak void dan sangat tidak diinginkan dari segi kekuatan struktur.

    Kalau karakteristik “kecepatan pengerasan beton” ini dimanfaatkan untuk menyumbat semburan lumpur oleh “adonan lumpur + portland”…..kayaknay asyik.

    Pertama, bung syahraz yang sipil harus meyakinkan kita bahwa BETON kerasa bisa terbentuk dari campuran cement+lmpur.

    Kecepatan pengeringan adonan beton harus lebih cepat daripada waktu tempuh lumpur dari kedalaman (300m ?) ke permukaan.

    Memanfaatkan Teori ompapang bola amblas, kita bikin larutan kental cement, bungkus pake bola beton lalu cemplungkan kedalam sumur biarkan sang bola meluncur ke-kedalaman untuk beberapa saat. Lama pencempungan bisa dihitung.

    Teori RIrawan + Syahraz, Rovicy, temperatur dibawah tanah tinggi, dynamic load, dan beton bisa pecah atau malah ikutan jadi bubur.
    Karena luncuran bola dalam lumpur dan tumbukan bola dengan dinding sumur pastilah juga menyebabkan gaya-gaya dinamis terhadap bola pembungkus cairan cement.

    Tugas pak RIrawan menghitung dan design bola, agar bola pecah dikedalaman +300m.
    Tugas Syahraz, bikin cairan cement agar bisa cepat bereaksi dengan lumpur. kalau perlu kasih explosive sedikit.

    Cara kerjanya sederhana :)
    Bola pecah akibat gaya dinamik dikedalaman lebih 300m. cairan semen berhamburan dan teraduk sempurna dengan lumpur. Adonan mengalami pengerasan selama mengalir keatas permukaan. Tentu selama mengalir, adonan tidak boleh teraduk-aduk.
    Kemudian adonan beraglomearsi disana-sini….dan sebelum sampai permukaan, semua aglomerat sudah menyatu menjadi penyumbat lumpur sekuat beton jembatan Kobe. Dan bisa sekuat sisa permukaan tanah Sidoarjo yang tidak semuanya jebol.

    Cuma saja kalau lumpurnya ternyata material organik…teori ini wassalaam tentu saja.
    Tapi portland cement-nya mungkin saja masih bisa diganti resin.

    sapa tahu ?…. bukankah teori Newton juga muncul dari keisengan melamun ….
    atau mungkin anak-cucu ompapang nanti yang melanjutkan “teori” saya ?.
    Silakan…

  19. RIrawan mengatakan:

    Monggo pakde Rovicky (ikutan teman-teman disini dengan panggilan akrab ini, ya). Kalau sudah biasa, kayak nenggak tuak, nggak mumet kog.
    Disini saya baru belajar banyak tentang geologi, matur nuwun pakde.
    Ada salah ketik (300 m) di kalimat terakhir saya, seharusnya 3000 m.
    Bola mulus ya tidak bakal ada rotasi, dus serapan energi rotasinya nol, sebab untaiannya dibuat 2 bola besar di bawah, 2 kecil di atasnya, sehingga yang besar paling bawah maunya ngebut 2,130244863 m/detik; tapi yang kecil paling atas maunya lelet cuma 1,117968395 m/detik, alhasil turunnya untaian 4 bola itu pasti berjejer tegak lurus ke bawah. Ini barangkali yang memang dimauin oleh sang perancang.

    Bung Syahraz, kalau dari publikasi (sepotong-sepotong, belum saya temui yang lengkap), sering dikatakan bahwa tujuannya bola harus masuk sejauh mungkin, harapannya hingga ke sumber energi. Ini memang lebih logis, sebab kalau menyumbat “selang” di sebelah atas, sangat tidak masuk akal dan menabrak kaidah ilmu alam yang paling dasar. Tapi kalau berhasil masuk ke bagian sangat dalam, itu masuk ke domain geologi dengan spektrum parameter yang lebih komplex. Soal “hilang” kalau masuk ke sumber energinya, ini tergantung apaan sebenarnya di bawah itu. Para geologist umumnya percaya, bahwa sumbernya cuma hidrostatis dengan suhu sekitar 140 deg C, sebab magma di daerah itu masih belasan Km dibawahnya. Tetapi banyak sekali fenomena, yang menurut saya sumbernya adalah hidrothermal dengan sedikitnya 420 deg C.
    Tulangan mild-steel malah lebih cepat memecahkan bola dari dalam, akibat pemuaian yang tidak sama (sebab utama rontoknya WTC911), kecuali semennya dicampur dengan kimia khusus yang menaikkan yield beton. Ini bisa ditanyakan pada BUMN yang bikin.

  20. Rovicky mengatakan:

    Potential failure karena suhu mungkin tidak akan sampai 500 deg C di bawah sana. Menurut perkiraan ahli2 MudVolc dari Jepang (dari simposium MV di BPPT minggu lalu), hanya sekitar 140 deg C. Dan kalau menggunakan semen yg sering dipakai di perminyakan (untuk nyemen casing) mungkin masih tahan. tetapi harus diingat dia tahan karena statis, sedangkan ini kondisinya dinamis.
    Jadi memang ada potential failure kalau perkiraan panasnya tidak seperti yang diduga, kalau terlalu panas tentunya bola menjadi mudah pecah atau retak (fract) seperti yang Pak Syahraz tulis diatas.

  21. syahraz mengatakan:

    saya masih kurang mengerti dengan “…. bahwa untaian bola akan sampai di sumber energi sebesar …..”

    Sebetulnya tujuan bola beton itu untuk menyumbat “selang” atau malah masuk ke sumbernya? Lha kalau masuk ke sumbernya apa ga malah “hilang”?

    Setahu saya sih bola beton diharapkan tidak sampai ke sumbernya.

    Memang terbukti dengan rumus yang sederhana bisa dihitung “kapan bola beton sampai”

    Pak rovicky :
    Mungkin ada 1 potential failure yang belum terungkap. Bagaimana dengan struktur bola beton itu sendiri? Tantangan apa saja yang terjadi di sumber semburan?

    Karena sepengetahuan saya beton K-350 bisa bertahan di suhu 500 derajat Celcius Selama kurang lebih 30 menit saja. Setelah 30 menit maka beton akan berubah strukturnya dan hancur. Ini tidak ada hubungannya dengan tulangan, karena fungsi tulangan (polos maupun deformed) hanya sebagai penahan “Tarik” saja.
    Dan memang beton tidak dirancang untuk tahan panas, tapi untuk menahan “Tekan” saja. Sementara “Tarik”nya diderita oleh tulangan.

    Ini juga berlaku untuk beton dengan mutu yang lebih tinggi. Dan memang beton tidak dapat bertahan lama dalam suhu yang tinggi. Karena sifat struktur beton berubah dalam suhu tinggi, maka dikhawatirkan kemampuan beton untuk mentransfer energi jadi berkurang.

    ————
    Kebenaran hanya milik Allah

  22. Rovicky mengatakan:

    Mas Irawan
    itung-itungane aku pakai di Dongengan-ku ya ?
    Yang baca biar ikutan mumeth liat rumus :D

    http://rovicky.wordpress.com/2007/02/24/bola-bola-itu-menyerap-energi/

    Bener tuh gambar bolanya mulusssh … artinya tidak ada friksi atau minimal

  23. RIrawan mengatakan:

    iki sing nomer 91.
    Maaf, sudah di submit dibawah commentnya om papang yang lain.

    Om papang benar, bola memang bisa tenggelam.
    Kita bahkan bisa pula menghitung kecepatan (ub) masuknya bola.
    Pertama perlu ditetapkan beberapa asumsi, seperti yang sudah pernah dihitung oleh om papang:
    - Kecepatan (ul) arus lumpur = 1,736 m/detik
    - Massa Jenis (δ) lumpur segar = 1300 Kg/m3
    - Penampang(A) lubang = 1 m2 (setelah lewat kepundan yang garis tengahnya 50-60 m)
    - Diameter lubang : d = √ (4.A/pi) = 1.128379167 m
    - Angka Reynold (Re) = 6000
    - Jumlah berat (ΣW) runtaian bola-bola = 225 Kg (Kompas 22/02/07: 200-250 Kg, 2 bola 40 cm dan 2 bola 20 cm)

    Besaran berikutnya:
    Jumlah Volume : ΣV = 2 V1 + 2 V2 = 2 . 1/6 . pi . (d1^3 + d2^3) = 0,075398223 m3
    Dengan pengabaian atas kawat penghubung bola-bola, diperoleh:
    Massa Jenis (δb) bola = ΣW / ΣV = 2984.155 Kg/m3

    Seperti telah dijelaskan oleh om papang, Berat bola (W) sama dengan Gaya apung (F) ditambah Gaya drag (R) setelah tercapainya kecepatan nominal yang tetap : W = F + R.

    Kita cermati bola1 (d1 = 40 cm): W1 = F1 + R1
    1/6 . pi . d1^3 . δb . g = 1/6 . pi . d1^3 . δ . g + ½ . δ . c . A1 . (ub1 + ul1)^2
    Dengan A1 = ¼ . pi . d1^2, diperoleh:
    Kecepatan turun bola1: ub1 = {(4.d1.g) . (δb/δ – 1) / (3.Cd)}^0,5 – ul1
    Kecepatan-riel lumpur yang lewat di sekeliling bola : ul1 = ul . A / (A-A1)
    Koeffisien drag Cd merupakan fungsi dari Kecepatan ub1, sehingga hitungan harus diselesaikan dengan numerik. Dengan angka Reynold 6000 seperti diusulkan oleh om papang, berdasarkan Tabel-empiris (Willy Bohl, Kamprath-Reihe, halaman 266), Cd ≈ 0,4 saja. Angka Cd = 3,8 dapat terjadi apabila permukaan bola diberi sirip-sirip, sehingga memungkinkannya melakukan rotasi untuk penyerapan energi seperti yang dikemukakan oleh team ITB, namun yang saya lihat di koran dan TV, ternyata bola-bola betonnya mulus.
    Maka Kecepatan turun bola1 : ub1 = 2,130244863 m/detik.

    Berdasarkan asumsi om papang Re = 6000, kita bisa cek kekentalan lumpur (viskositas): ט = (ul1 + ub1) . (d – d1) / Re = 0.000499638 m2/detik. Kekentalan itu mirip dengan oli kental SAE140 pada suhu 20 derajat C. Apabila kita sudah memperoleh data sesungguhnya dari lumpur segar dari hasil pengukuran lab, maka perhitungan kita dapat disempurnakan.

    Selanjutnya bola2 (d2 = 20 cm): W2 = F2 + R2
    Kecepatan turun bola2: ub2 = {(4.d2.g) . (δb/δ – 1) / (3.Cd)}^0,5 – ul2
    Kecepatan-riel lumpur yang lewat di sekeliling bola : ul2 = ul . A / (A-A2)
    Maka Kecepatan turun bola2 : ub2 = 1,117968395 m/detik.

    Dari perhitungan diatas dapat dipastikan, bahwa kedua bola besar (40 cm) cenderung lebih cepat turun daripada kedua bola kecil (20 cm), tetapi karena mereka diuntai dengan kawat dan 2 yang besar dimasukkan terlebih dahulu, maka untaian itu akan cenderung masuk lurus ke bawah.

    Andaikan lubangnya lurus terus sampai ke kedalaman 3000 m dan secara kualitatif kita ambil kecepatan rata-rata untaian-bola : u = {(ub1 . d1^2) + (ub2 . d2^2)} / (d1^2 + d2^2) = 1.92778957 m/s, maka dapatlah diramalkan, bahwa untaian bola akan sampai di sumber energi sebesar 100 MW di kedalaman 300 m dalam waktu: 3000 m : 1.92778957 m/s = 1556 detik ≈ 26 menit !!!

  24. syahraz mengatakan:

    aku wis nomer 90 yo? Kurang 10 maneh ki….

  25. syahraz mengatakan:

    tujuan pond susun sebenarnya ya cuma menambah kapasitas penyimpanan saja sambil “mengulur” waktu agar para ahli segera memikirkan aspek lainnya (sosial ekonomi, penyumbatan, ganti rugi, dsb)

    Otak saya ya ga sanggup mikir cara menyumbat lumpur yang seperti ini (Lha wong bukan bidang saya).

  26. syahraz mengatakan:

    Ada banyak sekali cara perkuatan tanggul karena prinsip tanggul adalah retaining wall.

    Jika ditambah dengan sheet pile ya bisa saja. Tapi tetap ada resikonya tapi bukan resiko struktur lho pak. Resikonya adalah sifat tanggul yang semula temporer kalau ditambah sheet pile ya jadi permanen.

    Cuma itu aja koq pak ompapang.

    Wah memang kalau sudah senior & pengalaman bisa dengan mudah tebak-tebakan umur… hehehe (biasanya mendekati akurat lho)

  27. ompapang mengatakan:

    untuk pak Syahraz :kalau tanggulnya pond susun diperkuat dengan sheet pile mungkin lebih menjamin kekuatannya , lagi pula sheet pile dengan cara selang seling tingginya kan bisa disambung dengan las,agar mendapatkan tinggi yang dikehendaki. Mungkin nggak ya?

  28. ompapang mengatakan:

    pak Syahraz.., kalau tanggulnya pond susun diperkuat dengan sheet pile mungkin lebih menjamin kekuatannya , lagi pula sheet pile dengan cara selang seling tingginya kan bisa disambung dengan las,agar mendapatkan tinggi yang dikehendaki. Mungkin nggak ya?

  29. syahraz mengatakan:

    Kalau masalah mirip ya saya “ora gumun”.. Lha wong ada mahasiswa fakultas ekonomi (saya lupa nama universitasnya, yang jelas universitas di jakarta) yang mengusulkan mirip pond susun.

    Sebetulnya Indonesia punya banyak pemikir jempolan, hanya sayangnya terbentur birokrasi.

    Semoga kita tidak capek berkarya (mengkritik & memberi alternatif solusi) … Amien….

  30. syahraz mengatakan:

    untuk lumpur yang sudah mengeras ya tentu saja cukup kuat untuk menahan tanggul. Wong tanggulnya cuma 8 meter aja.

    Lumpur padat itu keras sekali lho pak. Wong bisa dipakai untuk campuran bahan bangunan koq.

    Memang untuk menghasilkan metode yang baik ya harus menggabungkan 2 atau lebih metode supaya terjadi sinergi yang baik.

    Pada saat saya presentasi dulu ternyata banyak juga yang mirip tapi ya beda hitungan dan sudut pandang aja. Intinya ya sama aja : Mempercepat Gunung Lumpur.

  31. Rovicky mengatakan:

    Pak Syahraz
    Setelah melihat gambar itu sepertinya mirip dengan yang sederhana saya tuliskan dulu disini :

    http://rovicky.wordpress.com/2006/11/25/buang-saja-airnya/

    Nah yang menjadi konsen saya sekarang adalah … apa landasan tanggul ini ?
    Apakah lempung (mud) yang barusaja mengeras ini mampu menahan beban tumpuhan tanggul ?

    Akan lebih menarik lagi kalau anda gambungkan dengan subsidence. Bagian tengah (crater akan ambles dengan dimensi sekian meter !

  32. syahraz mengatakan:

    buat pak rovicky :

    urutan kerjanya sudah saya upload ke ” http://lapindo.topcities.com “.

    Semoga membantu.

    Salam hangat……

  33. syahraz mengatakan:

    buat pak Irawan :

    Lha justru pond yang saya rancang itu bertujuan untuk mencegah & meminimalisir land subsidence itu. Land Subsidence terjadi karena tidak ada gaya berat yang mencukupi. Maka terjadilah land subsidence itu.

    Kalau lumpur yang sudah mengeras ya keras sekali. Kalau lumpur kering diberi air, ya airnya pasti meresap tapi ya ga banyak karena sebelum sempat meresap, airnya dibuang dulu melalui outlet. Jadi konstruksi pond susun bisa didirikan diatas lumpur yang sudah mengeras.

    Kalau masalah simulasi saya ga punya dana pak… Justru saya khawatir kalau saya melakukan simulasi nanti biayanya saya tagihkan ke Lapindo. Lha trus apa bedanya saya dengan para ahli dari ITB itu? (Jangan lupa bahwa simulasi bola beton itu biayanya ditagihkan ke Lapindo lho)

    Saya ga mau membisniskan bencana.

  34. RIrawan mengatakan:

    Satu hal saya mau nanya Syahraz.
    Apakah konstruksi tanggul pond susun bisa dibuat tahan terhadap subsidence yang sudah pada level meter dan masih terus berlangsung, seperti yang diterangkan oleh pak Rovicky?
    Lalu sudahkan dilakukan perhitungan tentang daya dukung dried-mud pada berbagai kadar kandungan air? Saya usul sebaiknya segera mulai dengan simulasi percobaan, sehingga diperoleh data empiris acuan untuk dibuatkan kalkulasi extrapolasi pada besaran yang direncanakan dengan ukuran sesungguhnya nanti.

  35. RIrawan mengatakan:

    Salam hormat saya buat om papang.
    Saya memang lebih muda, om. Namun dengan penuh rasa kagum serta hormat atas kepribadian om papang yang terbuka dan egaliter, saya mohon biarlah sementara umur saya simpan dulu. Diskusi di dunia maya ini nyaman, semuanya bisa lepas bicara dan nulis apa adanya. Dipuji, disemprot atau dimaki, kita tetap bisa tertawa. Wong tidak kelihatan orangnya kog. Lagipula, ini yang penting, kita murni menangkap isi tulisan tanpa terpengaruh oleh fisik atau titel atau pangkat atau umur. Kayak Syahraz, ide dia bagus ya kita bilang bagus tanpa lihat umurnya.
    Pak Rovicky yang bikin blog ini? Ya jelas beliau orang istimewa yang besar kepeduliannya bagi kemanusiaan dan pengabdiannya pada profesi. Bukan kayak saya, yang ngerem dengan kesibukan sendiri dan tahu-tahu muncul koar-koar. Betul juga pak DaLBO (eh, adik atau mbah sih, kog kayak pak Suharta?) ngomelin saya terus.
    Semoga ompapang berhasil menurunkan generasi baru geologist hebat yang multidisipliner.

  36. RIrawan mengatakan:

    Sampai sekarang saya belum melihat ada yang lebih instan dan lebih layak daripada metodenya Syahraz. Itu kalau kita pakai “hitungan matematis”! Tidak termasuk yang coba-coba dan sudah gagal. Memang masih perlu konsep besar untuk pengendalian selama puluhan tahun, tetapi pengerjaan konsep jangka panjang itu perlu 2-3 tahun. Kalau tidak muncul lainnya yang lebih unggul, maka perlu segera diterapkan metodenya Syahraz untuk menahan lumpur setidaknya 2 tahun. Orang-orang di sana sudah tak tahan.

    He he he, saya sih tidak minat “ngluruk ke istana” segala. Buat saya cukup “obrolan warong kopi” atau “obral teori”, mudah-mudahan ada yang memanfaatkan atau menyempurnakannya. Cuma saya nggak ngerti, mbah ini bilang sudah paham: “….. bencana ditimbulken oleh action dan upaya diluar hitungan matematis”. Kog langsung dibantah sendiri: “Saya rasa semuanya sudah diperhitungken secara matematis …..”
    Lha, kalau gini, bingung saya. Mending mikirin rumus matematika.

  37. ompapang mengatakan:

    Nyimpang sedikit dari topik.
    Pak Dalbo,saya juga sudah ngirim ke RI 1,RI 2, Menteri2 ESDM,PU,Perhubungan,Menko Kesra,yang belum Gubernur Jatim dan Bupati Sidoarjo serta Pak Dalbo sendiri.
    Ganti crita, tebak-tebakan umur,saya mau menebak umur Bapak-Bapak : pak Syahraz 30-35,Pak Rovicky 40-45, Pak RIrawan 35-40, Pak Dalbo 28-30, Kalau tebakan saya terlalu muda berarti Bapak-bapak awet muda,kalau terlalu tua ya awet tua seperti saya.Bapak-Bapak nggak usah nebak umur saya, tanggal 17 Pebruari minggu lalu saya berulang tahun yang ke 36 eh 63, lha wong cucu saya sudah dua,saya lahir jaman Jepang. Pak RIrawan jangan panggil saya MBAH PAPANG lho,panggil saja ompapang.
    Saya mengikuti blog ini sejak awal.Saya kagum dengan pribadi pak Rovicky seorang geologist independen kata Wikipedia,melalui blok ini saya banyak belajar dari beliau,istilahnya kebo nusu gudel. Dari IAGI net saya bisa tahu betapa banyak geologist-geologist muda yang berprestasi bukan hanya didalam negeri,tapi juga diluar ,semisal pak Andang, pak Miko atau mang Okim dsb dsb. Ya, saya mengagumi beliau-beliau secara pribadi ,sebab mengingatkan kekaguman saya pada waktu berkunjung di Museum Geologi yang berdekatan dengan Museum Science di London waktu saya masih muda.Karena kekaguman tersebut pada saat itu saya berkeinginan anak saya atau cucu saya menjadi geologist.

  38. syahraz mengatakan:

    Mungkin juga ide saya ditolak karena saya masih MUDA… Hehe

    Mungkin usia pak rovicky 2x usia saya (Kira-kira lho pak rovicky… No innuendo lho)

  39. syahraz mengatakan:

    Mungkin juga saya ditolak karena saya masih MUDA… Hehe…

    Mungkin usia saya 1/2 dari usianya pak rovicky (bisa diliat dari fotonya pak rovicky)

  40. syahraz mengatakan:

    Lha saya sudah sampai Istana Presiden + Menteri PU + Staf Ahli Menteri + Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia…. Lha kalau mereka ga mau trus saya bisa apa?

    Dari awal sekali sudah saya katakan bahwa “Pihak yang berwenang” hanya mau “METODE INSTAN”. Itu jelas ga cocok dengan metode Pond Susun ( http://lapindo.topcities.com )saya.

    Dan jangan lupa bahwa metode bola beton pun juga pakai hitungan pak DalBO. Jadi penerapan suatu metode (gagal maupun berhasil) tidak dengan cara coba-coba, tapi ya harus ada hitungannya

    Jangan dikira kami-kami ini jalan di tempat. Justru Anda yang bangun kesiangan.

    Semoga kita semua tidak capek berbuat apapun untuk kebaikan bersama… Amien

  41. DaLBO mengatakan:

    Yaa sapa seh yg nggak prihatin n trenyuh hatinya meliat kondisi sodara-sodara kita yang lagi ketimpa “luapan” bencana hanya kerna ulah para ahli petrologist n geologist yang mengesampingken “disiplin” ilmunya sendiri …???
    Apakah mereka gak berpikir akibat yang ditimbulken bila harus melakuken action dan upaya diluar hitungan matematisnya Pak RIrawan cs yang bangun kesiangan itu …? Saya rasa semuanya sudah diperhitungken secara matematis juga ekonomis dan lebih pragmatis daripada cuman ngumbar teori doang …….!
    Kalo memang punya cara yang lebih efektif dan mujarab untuk menyumbat luapan LUSI itu, silaken dirujuk ke Istana jangan “hanya” disini “percum tak bergun” hanya buang energi dan obral teori yang lebih pas dijlentreken di kampus or institusi.
    Nah daripada cuman jadi jago dikandang lebih baek ngluruk ke istana sambil bawa formula matematisnya sehingga jelas itungannya tidak cuman jadi obrolan warong kopi …..jalan ditempat euy …!

  42. syahraz mengatakan:

    ya memang harus MULTI DISIPLIN. Itu harus.. supaya didapat data yang akurat untuk kemudian DICOBA metode yang baik.

    buat pak rovicky :
    untuk membuat tanggul bertingkat sebenarnya tidak terlalu sulit. Coba nanti saya upload gambar urutan kerjanya di http://lapindo.topcities.com.

    intinya tanggul bertingkat harus dibuat diatas lumpur yang sudah mengeras.

    buat pak DaLBO :
    kami-kami yang hadir di forum ini merupakan orang-orang yang peduli terhadap bencana ini. Jadi tidak benar kalau hanya NATO. Karena kami punya solusi masing-masing. Hanya saja metode kami tidak dipakai. Itu saja. Kenapa? ya karena menerapkan 2 atau lebih metode secara bersamaan juga “agak sulit”.

    Karena itu untuk menerapkan 2 atau lebih metode ya harus digabung dengan konsekuensi ada beberapa penyesuaian supaya bisa selaras, serasi, dan seimbang.

    saya dapat nomor urut 72 ya?

  43. RIrawan mengatakan:

    Ha ha ha, maaf mbah DaLBO, terpaksa saya terus lagi nulis yang ke 71.
    Yang minta “terus” lebih banyak.
    Demokratis, ya?

    Andaikan urusan lumpur ini gampang dan sudah dikenal, boleh saja tanpa hitung-hitungan (pakai kira-kira atau pengalaman) dan tentunya sekarang sudah selesai. Maka saya tidak usah bikin judeg atau sumpek orang. Terus terang saya sudah banyak tanggung jawab lain dan sama sekali tidak ingin tambah urusan.

    Tapi saya ingin agak serius.
    Berulang-ulang disebut “…untuk penderitaan puluhan ribu warga Porong …”, maka hendaknya kita jujur, bahwa dibenak kita sungguh itu yang paling penting.
    Siapapun tak layak ngotot dengan cara, ego dan seleranya sendiri dalam urusan lumpur Lapindo ini.

    Rumah 1 lantai silahkan bangun pakai pengalaman doang. Tapi bangun 10 lantai, anda kriminal atau main-main sama nyawa orang, kalau tidak tahu teori, rumus dan hitung-hitungannya. Dan menara 100 lantai atau jembatan Suramadu, bukan manusia yang bisa tanpa teori dst.

    Misalnya, kita mau mengalirkan lumpur. Langsung action pakai pengalaman, adanya hanya mengenai air. Ya cari sakit dan didemo warga, kalau langsung action. Tapi dengan think and talk mengenai teori, pakai rumus dan hitung-hitungan, kita bisa buat rancangan yang benar dan action dengan persentasi sukses yang tinggi. Soal rumit dan bikin sumpek, banyak kog anak negeri ini yang sudah kerjaannya.

    Yang paling perlu saat ini adalah melaksanakan seruannya bung ompapang: MULTIDISIPLINLAH! Himpun seluruh potensi bangsa ini.

  44. ompapang mengatakan:

    Pak R Irawan, saya tengok hasil uji produk semen Gresik ( http://www.semengresik.com) jenis PPC untuk beton umur 28 hari,kuat tekannya = 385 kg/cm2. Jadi kalau bola beton masuk kebawah mendapat tekanan 400 bar atau lebih,mestinya ya hancur jadi bubur ya ? Dari kros cek tersebut saya berpendapat analisis pak R Irawan perlu dipakai sebagai bahan pertimbangan para pengambil keputusan.Apa kemungkinan akan hal ini sudah diantisipasi oleh Pak Umar Fauzi dkk dari ITB sebagai perencana metode ini ? Kalau sudah, ya syukurlah,sebab saya menunggu hasil usaha ini.Kalau belum kan BLAIK, kata pak Syahraz dari Semarang.
    Buat pak de Rovicky, ini komentar yang ke 70, mestinya Timnas lebih banyak melibatkan ahli sipil atau lainnya untuk memperkuat tim yang kebanyakan ahli geologi kan ? Multidisiplinlah,kata orang.

  45. Rovicky mengatakan:

    Lah iya terusin lah yaw
    Diskusi ini tidak hanya berguna buat Lusi tetapi berguna mengasah otak kita juga. Semakin sering dipakai kan smakin tajem.
    Aku ini geologist yang gemeteran kalau ngadepin angka, jadi aku ya grtal0gratul kalau ngikuti rumus. Tapi kan itu perlu jg …. bagaimanapun harus ada angkanya :D

    Keliru itu biasanya, yg sering kan cuman asumsinya yang keliru. Rumusnya mungkin tepat tetapi asumsinya yang peru diperhatiin sebelum melakukan hitungan atau analisa numeriknya.

    nah sekarang sudah angka subsidence rate yang dilakukan oleh ITB sbb
    Hasil dari penelitian selengkapnya adalah GPS telah mendeteksi land subsidence dengan nilai penurunan pada level desimeter dalam jangka waktu kurang dari satu bulan dan pada level sub meter dalam jangka waktu kurang dari dua bulan. (IAG-Geodesy research group, 2006 ; PT LAPI, 2006). kemudian dalam jangka waktu 5 bulan, penurunan tanah yang terjadi di Porong Sidoarjo sudah dalam level meter. Sementara itu hasil pemantauan secara kontinyu menggunakan GPS memperlihatkan land subsidence yang masih terus berlangsung sampai saat ini.

    Jadi bisa diperkirakan bagaimana mau menanganinya nggak ? Kita tahu rate semburan masih 100 meter kubik sehari.

    Coba gimana membuat tanggul bertingkatnya ? mampu ngga diatasi … atau kalau mampu pada ring lingkaran mana yang paling efisien. Ini mestinya ahli sipil bisa ngitung kan ?

    salam

  46. ompapang mengatakan:

    teruslah pak R Irawan, kan kata pak de Rovicky bolanya molor, bukan rantainya. Di depan kan saya sudah ngomong sama pak de Rovicky, wait and see. Sekarang saatnya see karena bola-bolanya sudah siap dilapangan. Ayo kita lihat sambil komentar sak enak udele dewe. Jangan kesungging eh kesinggung lho dan jangan pula mutung,dunia virtual memang luas banget, banyak yang dapat kita ambil manfaatnya dari sana, tetaplah didunia virtual. Kalau lemes tanya sama mBah Marijan obatnya apa , biar rosa…rosa.

  47. RIrawan mengatakan:

    bung eko,
    Apa saya merekomendasikan Bola-bola beton?
    Jawaban saya: TIDAK !
    Ada skenario logis yang lebih seram, Bola-bolanya keluar kayak meriam.
    Kalau keputusannya dilandasi oleh hitungan yang lengkap, silahkan dipaparkan dulu secara rinci dan terbuka.
    Saya sih tidak penting dan tidak perlu gubris tulisan saya, kalau yakin konsepnya sudah sangat kuat.

    bung ompapang,
    ide bagus dengan kejar paket G, agar lumpur liar itu bisa cepat dikendalikan.
    Benar juga, kita kog banyakan nato, sementara seperti kata bung argosiloku, semua yang sudah dikerjakan dijawab oleh alam: BUKAN ITU!

    mbah DaLBO, saya bakal diam selamanya, kalau situasinya sudah beres.
    Pelan-pelan saya mengerti.
    Mestinya di Indonesia banyak orang yang tahu dan spesialis.
    Malah juara olimpiade.
    Tetapi,
    “….. macam gituan tidak pas disini” (website bencana lumpur Lapindo).
    “….. NATO, bikin pusing dengan “itung-itungan” matematisnya yang rumit.”
    Ya sudah,
    baru 9 bulan,
    kita tunggu lagi.
    Sorry sudah bikin bosen dst.
    Saya akan diam, kecuali ada yang minta.
    Apa tulisan disini tidak dibaca TIMNAS?

    He he he,
    bung ompapang dan Rovicky,
    belum 100, baru nyasar tulisan ke 57, saya sudah disemprot NATO bikin judeg.
    Lemes apa terus?

  48. Rovicky mengatakan:

    Om papang
    Ini ngga hanya rekord karena banyaknya diskusi dan komentar, tetapi judulnyapun sudah salah …. Lah wong katanya masih molor terus ngga jadi dimasukin tuh bola2nya :(

    pripun niku nggih ?

  49. ompapang mengatakan:

    Pak Dalbo…, gak usah sumpeg atawa judeg, jadikan saja topik blog ini sebagai hiburan, saya juga sering berkunjung ke IAGI net, disana juga ada yang uring-uringan masalah mud volcano, iya, sesama geologist bisa uring-uringan lho.Coba baca tulisan pak de Rovicky : Sulitnya berdiri ditengah atau komentar teman-teman pak Rudi Rubiandini kepada beliau tentang geologist yang dipakai Lapindo. Wah ,seru.Saya sih awam tentang geologi,tetapi saya seneng mengikuti diskusi beliau-beliau di IAGI net,terutama mang OKIM juragan batu mulia, ceritanya lucu-lucu, sering saya kulak saya ceritakan kembali kepada teman-teman penggemar akik.Saya sebut beliau empu akik masa kini. Jadi mari kita serap hal-hal positip dari diskusi topik ini. Mungkin topik ini bisa masuk MURI,karena saat saya menulis komentar ini,sudah ada 64 (enam puluh empat ) komentar,jadi ini yang ke 65, padahal selama ini komentar-komentar pada suatu topik hanya belasan atau kur-kuran saja.Ini 65,sungguh suatu rekord ,bisa di MURI kan.

  50. DaLBO mengatakan:

    NATO … NATO … NATO …..!!!
    No Action Teori thOk …!!!!!!!! Bosen …… Judeg …….Sumpek ….Blek…!!!
    Segera aja menghadep kepada TIMNAS untuk berdebat dan berteori di sana
    Ato masuk aja ke web-blog ato milist IAGI dan semacemnya saya rasa lebih tepat dan lebih efektip daripada bikin pusing dan bingun warga yang terkena bencana LUSI
    Bukannya saya alergi dengen itungan-2 matematisnya Pak RIrawan yang rumit macam gituan tapi cara pemaparannya tidak pas untuk dikonsumsi di sini ….. !
    Sorry about it …!

  51. herman mengatakan:

    pak syahraz
    katanya teman saya yang juga dari tehnik sipil, adonan beton yang mengeras itu seperti juga konglomerasi dalam bidangnya bapak-bapak yang dari geologi, apalagi juga ada cara menyuntukkan semen seperti relief well. Jadi kalau kompromi kesimpulannya : ” bola beton dibuat tidak seragam kemudian disuntuk semen campur accelerator ” Bagaimana pak ……karena ikut gelisah ya timbul puisi ..konglomerasi bola beton ….seperti yang diutarakan ompapang.

  52. syahraz mengatakan:

    pak herman,

    kalau gradasi butiran yang bapak maksud itu untuk gradasi agregat halus & agregat kasar & setahu saya (bukan yang paling tahu lho) itu hanya berlaku untuk adonan kueh beton yang nantinya akan mengering. Jadi teori tentang gradasi butiran itu kurang cocok dengan kondisi lumpur lapindo yang notabene punya energi & kecepatan yang sangat besar.

    Memang teori saya ini kurang mendapat tempat di hati “yang berwenang” karena memang background saya adalah Teknik Sipil. Dan memang (seperti pak ompapang bilang) ternyata “pihak yang berwenang” telah MENGKOTAKKAN lumpur lapindo kedalam bidang geologi. Jadi ya begitulah adanya…..

    Memang solusi yang saya tawarkan hanya menyangkut penyimpanan saja karena memang itulah bidang saya…. Mencoba memberitahu “pihak yang berwenang” bahwa tanggul yang mereka buat sebetulnya masih bisa diperbaiki strukturnya.

    Dengan metode saya maka kita bisa “mengulur” waktu sambil menerapkan metode lain untuk mengatasi lumpur lapindo ini.

    Memang tidak ada solusi yang sempurna & tanpa kelemahan, tapi apakah kita akan diam saja?

    ___________________________________________________
    What we are dealing with is what’s on the surface…. what’s beneath us is His business, not us…

  53. ompapang mengatakan:

    Pak Eko Bawono, manusia itu punya nurani, kalau melihat sesamanya menderita dalam batinnya muncul kegelisahan-kegelisahan. Mereka merasa terpanggil untuk ikut meringankan beban penderitaan sesamanya itu. Bila mereka punya uang maka akan disalurkan melalui TV anu peduli lewat rekening no sekian atau lewat harian H peduli.
    Untuk bencana lumpur Lapindo ini banyak insan yang gelisah, termasuk kita semua.Kalau seniman gelisah, ia tuangkan rasa kegelisahan itu dalam bentuk karya seni sesuai bidangnya, misal dalam puisi,cerpen,film,lukisan,patung,syair lagu,macapat dsb.Kalau aktifis LSM mungkin dengan demo atau somasi.Lha kalau ilmuwan seperti pak Syahraz dan pak R Irawan rasa gelisah itu dituangkan dalam tulisan sesuai bidang ilmu dan profesi beliau-beliau. Saya yakin tulisan beliau-beliau itu muncul dari lubuk hati nurani yang gelisah melihat ketidak pastian kapan bencana Lusi ini akan berakhir. Sampai sekarang ahli -ahli geologi seluruh dunia sudah menyerah dengan pernyataannya bahwa gunung lumpur tidak bisa dihentikan. Yang saya sayangkan ada ahli geologi yang tidak sependapat dengan metode bola beton dari ahli-ahli geofisika ITB, mengatakan persoalan gunung lumpur Sidoarjo adalah domain geologi, ilmu lain nggak bakalan bisa kepakai, beliau seolah-olah berkata kepada geofisikawan ITB atau ilmuwan lainnya : TAHU APA KAMU TENTANG GUNUNG LUMPUR. Masih mending Pak Irawan dengan paradikmanya bersedia mengingatkan para pengambil keputusan (kalau membaca tulisannya ) untuk berhati-hati dalam tindakan TRIAL AND ERROR nya, sebab salah-salah apa yang pak R Irawan betul-betul kejadian, kan gawat. Beliaupun mungkin bersedia diminta sumbangan pikirannya, bila Timnas atau pemerintah pusat/daerah memintanya. Soal gunung lumpur, pendapat saya lebih ekstrim dari pak R Irawan, Pak Syahraz , geofisikawan ITB atau ilmuwan seluruh dunia, yang hanya berusaha mengurangi semburan lumpur, tetapi lebih dari itu saya berpendapat bahwa dengan cara bodon (bodohan ) menggunakan bola beton ( boton) semburan DAPAT DISTOP dengan keberhasilan 95 % (bandingkan dengan relief well yang hanya 10 %). Ekstrim bukan? Usulannya sudah tak kirim akhir November 2006 yang lalu sebelum ada bola beton ITB, tapi tidak diterima mungkin dianggap punya dampak negatif yang menambah persoalan baru, walau sebenarnya tak perlu dikhawatirkan. Sekali lagi saya mengajak Pak Eko Bawono dan Bapak-Bapak yang lain untuk mengapresiasi urun rembugnya pak R Irawan, pak Syahraz dll sebagai bentuk sharing kita bersama . Kata Richard Davies dari Universitas Durham Inggris, geosaintis diseluruh dunia belum tahu banyak tentang gunung lumpur, sekarang adalah kesempatan yang baik untuk belajar tentang gunung lumpur. Ayo kita bentuk kejar(kelompok belajar) paket G (unung Lumpur) dengan gurunya pak de Rovicky !

  54. herman mengatakan:

    Boleh ikut nimbrung …..
    Ini ada pandangan mengenai gradasi butiran daidalam air lumpur campur bola beton. Kalau terjadi gap gradasi maka pori-pori didalam kupulan bola-bola beton dan lumpur masih besar. Semakin beraneka ragam diameter bola dan butiran maka porinya semakin kecil atau semakin padat dan pori-pori yang dapat terisi cairan semakin kecil.
    Demikian …pandangan mengenai gradasi butiran ..terima kasih.

  55. y pramudya mengatakan:

    pakdhe, ono artikel LuSi nang majalah Nature

    iki link e

    http://www.nature.com/nature/journal/v445/n7130/pdf/445812a.pdf

    monggo

    Salam manis

  56. eko bawono mengatakan:

    saya gak begitu ngeh/paham dengan perhitungan yang mas Rirawan lakukan diatas dan saya memang gak perduli. tapi untung ada teori sehingga kita bisa memprediksi hasil yang kita dapat ( betul gak?/ jadi gak sia-sia sekolah nih).
    Eh maaf saya gak punya waktu untuk membaca semua analisa mas irawan. kesimpulannya cara ini mas irawan recomendasikan apa gak sih sebenarnya untuk menanggulangi lumpur sidoarjo. terima kasih

  57. RIrawan mengatakan:

    Komputer yo pancene goblok to mas. Sing pinter wong eling.
    Bung ompapang, thanks for your nice words. We discuss and dream for a better tomorrow, okay?

    Hitungan bung ompapang mengenai konversi daya 4 Mw menjadi kenaikan lumpur setinggi 177 m, saya cocok. Analoginya dari sudut terapan, diperlukan mesin dengan kekuatan daya sebesar P = ρ . H . Q = 13000 N/m3 X 177 m X 1,736 m3/detik = 3994536 Nm/detik ≈ 4 Mw; untuk dapat menaikkan 150.000 m3/ hari lumpur Lapindo setinggi 177 m. Atau contoh lain: kita pasangkan suatu pipa vertikal yang pas sebesar lubang semburan BJP1 dengan ketinggian 177 m diatas permukaan dan semua lumpur diharuskan lewat pipa itu, maka pastilah lumpur akan naik memenuhi pipa vertikal 177 m itu. Kenapa? Sebab dibawah sana ada semacam mesin besar dengan kekuatan 100 Mw. Tetapi akibat tambahan pipa vertikal 177 m itu, maka sisa daya untuk menaikkan lumpur setinggi 3000 m tinggal tersisa 100 Mw – 4 Mw = 96 Mw, sehingga sudah pasti debit lumpur (Q) yang keluar berkurang. Melalui perhitungan numerik sederhana dengan memasukkan parameter koeffisien geser sebagai fungsi kecepatan arus, dapatlah diketahui hampiran atas pengurangan besarnya debit lumpur.

    Dengan cara diatas, misalnya kita pasangkan pipa besar langsung dari dalam kepundan BJP1, lalu pipanya belok horizontal sepanjang 20 Km ke Timur, maka lumpur pasti akan sampai ke Selat Madura sebab 100 Mw itu teramat sangat cukup, meskipun debitnya agak berkurang beberapa persen daripada sekarang, sebab sebagian energi itu diperlukan untuk melawan rugi geser di pipa.

    Kenapa lumpur tidak muncrat ke udara setinggi 177 m?
    Itu sebab lumpur yang keluar dari kepundan BJP1 energi kinetisnya sangat sangat kecil.
    Persis seperti hitungannya bung ompapang, dengan misalnya penampang lubang 1 m2, maka untuk mengalirkan debit 1,736 m3/detik (Q), lumpurnya naik dengan kecepatan 1,736 m/detik (v).
    Sehingga daya kinetisnya cuma: ½.δ.Q.v^2 = 0,5 X 1300 Kg/m3 X 1,736 m3/detik X 1,736^2 m2/detik2 = 3400 Kgm2/detik3 = 3400 Nm/detik ≈ 3,4 Kw saja.
    Lalu berapa tinggi naiknya?
    Setelah berada diatas, lumpur itu kehilangan momentum dan kecepatannya berangsur kurang oleh gravitasi bumi. Secara sederhana dapat kita pakai persamaan Bernoulli, bahwa lumpur akan berhenti, sesudah seluruh energi kinetis itu terkonversikan menjadi energi potensial δ.Q.g.h; sehingga diperoleh:
    h = v^2/(2.g) = 1,736^2 m2/det2 / (2 X 9,80665 m/det2) = 0,154 m.
    Karena lumpur dan uap panas mendorong terus dari bawah yang memberikan residual momentum, maka tinggi kenaikan itu bisa terlihat sedikit lebih.

    Lalu sisa energi yang saya perkirakan 4 Mw itu berupa apa?
    Hampir seluruhnya berupa energi panas yang dikandung oleh lumpur dan uap.

    Bisakah lumpur dibuat muncrat ke udara setinggi 177 m?
    Jelas bisa, kendati teoritis!
    Caranya: di ujung atas pipa itu dipasangkan sebuah nozzle (lubang sempit).
    Maka energi yang tersekap akan segera membangun tekanan yang sangat hebat didalam pipa (dan di sepanjang lubang semburan lumpur), hingga terjadi muncratan lumpur a’la semprotan nozzle-hidrant pemadam kebakaran yang sangat tinggi. Dan 177 m itu bukan apa-apa bagi sumber energi 100 Mw. Kendati ketinggian puncak dapat dihitung dengan mudah melalui persamaan konvensional Bernoulli, namun dalam realitanya, masih ada faktor yang menentukan ketinggian puncak itu, yakni hambatan udara, arah angin, konversi energi menjadi panas pada nozzle dan faktor penguapan (evaporasi) air yang dikandung lumpur. Hitungannya memang menjadi komplex, namun dapat dipecahkan melalui deret Euler dengan pengandaian variabel konstan pada setiap langkah kecil sepanjang interval waktu lintasan.

    Nah bung ompapang, bersama kita sudah beranjak mengenali sifat alam, memahaminya dan berusaha akrab dengan kemauan serta hukum-hukum alam yang menjelaskan hubungan kasualitas tentang segala kejadian.

    Sekarang ayolah.
    Kita coba menebak apa yang kira-kira bakal terjadi dengan pencemplungan untaian Bola-bola Beton (killing mud softly). Saya tidak tahu, bagaimana bentuk permukaannya dan berapa massa-jenisnya. Tapi seandainya bola-bola itu bisa nyeplos masuk, kita bisa meruntut perkiraan aksi-reaksi yang terjadi:
    1. Bola-bola mempersempit penampang lubang,
    2. Tekanan fluida dibawah bola naik,
    3. Sesuai hukum Bernoulli, kecepatan lumpur menjadi lebih deras/cepat, melejit lewat samping-samping Bola-bola.

    Sampai disini kita pause dulu ya untuk ngobrol sejenak.
    Andaikan Bola-bola itu nyangkut dekat dari kepundan BJP1, sebab lubangnya kan rekahan berkelok-kelok (bukan hasil bor), maka kita bakal langsung melihat hasilnya, yakni:
    – misalnya Bola-bola menutup ½ lubang, maka kecepatan arus v naik 2x
    – energi kinetis ½.m.v^2 naik 4x
    (misalnya pakai perhitungan diatas menjadi 4 x 3,4 Kw = 13,6 Kw),
    – tinggi lumpur muncrat naik menjadi h = = v^2/(2.g) ≈ 0,616 m;
    ditambah sisa momentum, bisa kira-kira 0,75 m.
    Lho kalau yang disumpel, bukannya ½ lubang, melainkan cuma 10% lubang yang disisakan, apa yang terjadi?
    Wah, kita akan menyaksikan tontonan kayak air mancur. Kecepatan arus akan naik 10x, sehingga lumpur yang nuncrat akan membawa energi kinetis 100x atau 340 Kw. Lumpur mancurnya bisa sampai tinggi belasan meter, tergantung jauh dekatnya Bola-bola tersangkut. Ini mirip hitungan kita diatas dengan pipa + nozzle.
    Asyik bukan?
    Jika kita akrab dengan alam, ternyata alam murah hati memberitahukan tentang apa yang bakal terjadi dengan setiap tindakan kita.

    Nah, sekarang kita teruskan kisah petualangan Bola-bola beton di terowongan Lapindo.
    4. Pada suatu titik bisa terjadi keseimbangan antara gaya berat Bola-bola dan gaya keatas akibat arus, sehingga Bola-bola berhenti. Apalagi jika lewat rekahan miring horizontal,
    5. Uap dan arus lumpur panas yang lebih cepat akan mengikis dinding terowongan disamping tempat persinggahan Bola-bola, sehingga terowongan Lapindo menjadi lebih luas dan lega, (bukti untuk ini gampang didapat melalui pemeriksaan isotop yang diusulkan bung Rovicky, sehingga bisa diketahui adakah unsur padatan yang berasal dari kedalaman dangkal),
    6. Akibatnya makin leganya terowongan dan getaran arus, Bola-bola akan bergerak turun melanjutkan petualangannya, meninggalkan terowongan besar diatasnya.

    Stop!
    Apa akibatnya dengan lubang yang membesar?
    Oke, kita tanya lagi pada persamaan Bernoulli, namun kali ini versi yang diperbaiki dengan memperhatikan besaran rugi geser yang dinamis. Lumpur dan uap menjadi lebih santai melenggang naik lewat terowongan yang lebih luas dan lega, sehingga mesin energi di bawah sana merasakan berkurangnya beban yang dideritanya dengan:
    ½ .( λ1 . u1^2 /d1 – λ2 . u2^2 /d2). L/g
    maka lebih banyak lumpur yang berhasil disemburkannya naik keatas.
    Kerja mesin energi di bawah sana menjadi lebih efisien menaikkan lumpur keatas, sebab lebih banyak energi yang berhasil dikonversikan ke energi potensial.

    Hep!!!
    Ini bagaimana to?
    Tujuannya memasukkan Bola-bola kan untuk mengurangi debit lumpur dengan 50%, atau malah 70%?
    Apakah tidak ada kemungkinan untuk itu?
    Oh ….., ada … ada!
    Suatu ketika, dalam perjalanannya sang Bola masuk ke terowongan sempit dengan dinding-dinding granit yang sangat keras dan tahan erosi. Ia didorong oleh tekanan dan arus dari bawah, sehingga mestinya bisa kembali keluar atau mengambang bebas dalam arus lumpur. Namun Bola-bola susulan yang dicemplungkan setiap hari, menekannya dari atas. Alhasil, sang Bola terjepit diam bersama teman-temannya di terowongan batu granit.
    Maka lumpur-lumpur terpaksa memperlambat diri dan antri lewat, sebab jalan tol nya ditempati Bola-bola yang ngetem di tengah jalan (kayak bis kopaja dan angkot).
    Hore, sukses …..

    Ssstttt!
    Kan mesin tungku panasnya dibawah sana belum dimatiin dan masih terus mengeluarkan energi 100 Mw? Itulah, energi itu tentu melakukan perubahan entropy sebesar m.c.ln(T1/T2) pada uap yang tidak dapat keluar, sehingga tekanan naik secara isentropic exponential.

    Tekanan yang tinggi itu bisa saja menendang lagi Bola-bola keluar terowongan granit, sehingga praktis lumpur-lumpur dapat mengalir bebas lagi. Tetapi bagaimana kalau Bola-bola itu kecepit, tidak mau keluar? Sampai disini, terus terang saya tidak tahu pasti, saya masih perlu berusaha lebih keras mengenali karakter sang alam. Beberapa kemungkinan bisa diuraikan, misalnya: tungkunya pelahan-lahan mati sendiri sebab tekanan tinggi menghambat air turun ke lava panas, atau hanya uap panas tanpa banyak lumpur yang menerobos keluar sampai ke atas, atau ….. ini yang saya takutkan: lumpur dan uap akan mencari dan membuat sendiri terowongan-terowongan baru.

    Adakah kemungkinan Bola-bola terus amblas turun sampai kepusat sumber energi dan menutup tungku-nya?
    Amblas sih mungkin.
    Menutup tungku, tergantung bahan Bola-bola. Kalau beton semen sih mustahil. Kita perhatikan lagi panci presto, dengan tekanan 5 bar dan panas cuma 150-an derajat C, kita bisa membuat tulang-tulang empuk. Sedangkan dibawah sana tekanannya 500 bar dan panasnya saya perkirakan melebihi 420 derajat C (κ ≈ 3), sehingga beton semen biasa menjadi bubur. Hanya sedikit bahan yang bisa tahan, diantaranya silikonkarbide.

    Aduh, saya sangat berharap, saya keliru.
    Kontroversi antara keyakinan dan harapan ini membuat saya sungguh lelah.
    Dibalik metode Bola-bola beton ini mestinya ada sederetan para ahli, scientist, petrologist, geologist, vulcanologist, hidrologist dan cerdik-pandai yang telah melakukan studi dan perhitungan ilmiah. yang lengkap, sahih dan menyakinkan, sehingga tulisan saya ini bisa dicampakkan sebagai pendapat yang setengah matang atau banyak salahnya.

  58. syahraz mengatakan:

    lha koq wis iso maneh….

    wis lali topike :(

  59. syahraz mengatakan:

    test.. sudah 2 hari submit commentnya error.. kenapa ya?

  60. ompapang mengatakan:

    pak RIrawan, selamat bekerja, anggap saja diskusi kita sebagai impian hari esok untuk mengenang awal terjadinya semburan lumpur, remember yesterday, dream about tomorrow, but live to day.Selamat bekerja untuk hidup hari ini, tapi jangan lupa lho ikut didiskusi ini, saya banyak belajar dari Bapak dan juga pak Rovicky dll,terutama dalam hal menghormati pendapat orang lain tidaklah subyektif,tetapi obyektif. Kutunggu kehadiranmu !
    ctt : simbol lebih besar kayaknya ya memutus kalimat, mungkin wordpressnya kali!

  61. RIrawan mengatakan:

    … lanjutan:

    …, sehingga tidak ada padatan (diameter lebih kecil 0,6 mm) yang mengendap. Salah satu simulasi model kanal yang masuk kriteria diatas adalah sistim kaskade atau talang luncur terbuka (format U) dengan lebar 1 m dan tinggi dinding 2 m. Untuk debit antara 2 s/d 12 m3/detik lumpur segar dari BJP1 (vicosity lebih kecil 75 cStk, consistency lebih kecil 18%), talang itu cukup dengan sudut 1,2 derajat, artinya miring dengan beda tinggi sekitar 8 meter untuk setiap panjang 400 m.

    Tentu saja banyak alternative lain. Tetapi sebelumnya perlu dibuatkan simulasi model yang dihitung result dinamis alirannya berdasarkan parameter sifat-sifat lumpur.

    Eh, sampai disini dulu, mbah.
    Sangat “disayangken”, saya besok harus kerja.
    Saya kan cuma ikutan koar sedikit, bukan yang berwenang mengurusi ini dan bukan siapa-siapa, kecuali berasal dari daerah sana.

    Selamat malam.

    NB:
    Bung Rovicky,
    bisa mohon cepatan periksa isotopnya?
    Tapi sudah cocok, ada aktivitas hidrothermal?
    Siklus recharge maksudnya aquafir?
    Air muda maksudnya pliocene (sebelah atas, sepanjang lubang pengeboran)?

    Nyuwun pangapunten, mas ompapang.
    Saya besok harus kerja.
    Naskahnya sangat bagus.
    Akan saya pelajari dengan cermat dan setelah paham, saya akan tuliskan komentar.
    Salam.

    Yth moderator,
    Kenapa kalau saya pakai simbol “lebih kecil”, text nya langsung putus seperti diatas?

  62. RIrawan mengatakan:

    … lanjutan:
    …, sehingga tidak ada padatan (diameter lebih kecil 0,6 mm) yang mengendap. Salah satu simulasi model kanal yang masuk kriteria diatas adalah sistim kaskade atau talang luncur terbuka (format U) dengan lebar 1 m dan tinggi dinding 2 m. Untuk debit antara 2 s/d 12 m3/detik lumpur segar dari BJP1 (vicosity lebih kecil 75 cStk, consistency lebih kecil 18%), talang itu cukup dengan sudut 1,2 derajat, artinya miring dengan beda tinggi sekitar 8 meter untuk setiap panjang 400 m.

    Tentu saja banyak alternative lain. Tetapi sebelumnya perlu dibuatkan simulasi model yang dihitung result dinamis alirannya berdasarkan parameter sifat-sifat lumpur.

    Eh, sampai disini dulu, mbah.
    Sangat “disayangken”, saya besok harus kerja.
    Saya kan cuma ikutan koar sedikit, bukan yang berwenang mengurusi ini dan bukan siapa-siapa, kecuali berasal dari daerah sana.

    Selamat malam.

    NB:
    Bung Rovicky,
    bisa mohon cepatan periksa isotopnya?
    Tapi sudah cocok, ada aktivitas hidrothermal?
    Siklus recharge maksudnya aquafir?
    Air muda maksudnya pliocene (sebelah atas, sepanjang lubang pengeboran)?

    Nyuwun pangapunten, mas ompapang.
    Saya besok harus kerja.
    Naskahnya sangat bagus.
    Akan saya pelajari dengan cermat dan setelah paham, saya akan tuliskan komentar.
    Salam.

    Yth moderator,
    Kenapa kalau saya pakai simbol “lebih kecil”, text nya langsung putus seperti diatas?

  63. RIrawan mengatakan:

    .. lanjutan:
    …, sehingga tidak ada padatan (diameter

  64. RIrawan mengatakan:

    … lanjutan:
    …, sehingga tidak ada padatan (diameter lebih kecil 0,6 mm) yang mengendap. Salah satu simulasi model kanal yang masuk kriteria diatas adalah sistim kaskade atau talang luncur terbuka (format U) dengan lebar 1 m dan tinggi dinding 2 m. Untuk debit antara 2 s/d 12 m3/detik lumpur segar dari BJP1 (vicosity

  65. RIrawan mengatakan:

    … lanjutan:
    …, sehingga tidak ada padatan (diameter

  66. RIrawan mengatakan:

    Yang Mulia bung, eh … mbah DaLBO, saya bukan scientist, apalagi setara para geologist atau vulcanologist. Dan cuma solo, tidak pakai dkk. Saya tadinya percaya pada yang berwenang ngurusi lumpur Lapindo. Makanya saya tidak “jaoh2” hari berkoar-koar dan berargumentasi. Wong saya punya kerjaan dan tanggung jawab sendiri.

    Tapi tidak layakkah para orang biasa sekarang muncul ikutan menyampaikan pikiran, yang terguncang dan cemas oleh ratap puluhan ribu warga Porong yang anda sebutkan itu? Tentang “Niat Mulia” menghentikan LUSI, itu semua orang yakin. Namun saya hanya ingin memberitahukan, bahwa di jalan kesana ada bahaya, maka saya menulis.
    Apakah ini namanya “meng-adul-adul”?

    “… memprediksikan usaha ini jadi mandul?”
    Apa boleh buat, ini pancaran fitrah akal dilandasan logika.
    Betapapun, saya tegaskan, ini keluar dari ruang subyektivitas pengalaman, pengertian dan kesadaran yang pasti terbatas. Tidak ada pemaksaan untuk percaya. Kalau anda yakin ngawur, jangan digubris! Gampang toh.

    Tapi saya mau memohon omong lagi.
    Sekiranya Yang Mulia orang yang berwenang, yang keputusan dan tindakannya menentukan nasib orang banyak, maka seyogyanya berkenan mendengar, memilah dan mengkaji suara-suara dari para orang biasa. Buang saja yang diyakini kosong, namun ada pula yang bisa berguna memperagung hasil kerja kepemimpinan Yang Mulia.

    Weh, seumur-umur saya belum pernah injak “Amriki” kog.
    Apa biasanya cuma yang baru pulang dari Amriki yang suka ngomong?

    ….. langsung berteori tanpa solusi ….. ?
    Lho, kan baru berkoar.
    Tapi untuk solusi itu ya perlu teori dong, sebab itu sudah hukumnya kalau kita mau berdialog dan bekerja sama dengan alam.

    Tentang lumpur Lapindo, saya baru mencermati tentang apa yang sudah dikerjakan.
    Kaget, sebab hasil komputasi model matematika pada spillway, pola penanganan dengan tanggul dan pemilihan jenis pompa ternyata sangat jauh diluar rentang kemungkinan sukses. Saya bahkan sempat takjub, bahwa tanggul bisa bertahan lewat 10 m, sebab perhitungan iterasi numerik menunjukkan sudah jauh diatas batas maximum, ternyata endapan keras dan kedap dengan kohesi molekular telah menolong.

    ….. mana solusinya ….. ?
    O iya …..
    Tapi satu-satu dong.
    Menghentikan lumpur? Terpaksa saya ulangi. Perlu tertib logika! Diagnosa dulu dan sepakati, apa dan darimana sumber energi 100 Mw lebih itu. Salah obat, ya makin teler. Semprotkanlah air pada tanki minyak terbakar, maka apinya malah nyebar kemana-mana makin hebat.
    Karena masih kontroversial, makanya saya katakan lebih bijak kiranya, bilamana segenap upaya difokuskan dulu pada MANAJEMEN PENGENDALIAN LUMPUR.

    Ah ….. ini teori lagi, mana solusinya?
    Iya ….. iya, satu satu dong.
    Misalnya mengalirkan lumpur itu, bagaimana?
    Syaratnya:
    - lumpur tidak boleh mengendap,
    - semua padatan harus sampai ke tujuan dan
    - sedapat mungkin tidak perlu diencerkan dengan air.
    Dengan simulasi model hidrodinamika kanal terbuka dibantu dengan hitungan algoritma titik tetap, kita bisa membuat beberapa hampiran solusi alternative, yang memenuhi kriteria sifat aliran above critical turbulence dengan faktor luncur Ψ yang cukup (Moody & Prandtl-Colebrook), sehingga tidak ada padatan (Ф

  67. Rovicky mengatakan:

    Water system
    Mnurut pak Lambok (hidrologist) di diskusi iagi siang ini, ada kemungkinan airnya beruba siklus recharge. Artinya ya terus2an airnya akan ada. Taaapi perlu dibuktikan dan caranya sderhana hanya melihat isotop saja cukup utk membedakan air muda atau air tua (miocene trapped water). Metode ini belum dilakukan oleh timnas maupun tim2 lain.

    Rdp

  68. ompapang mengatakan:

    komputere ngawur nek disubmit comment njur bedo tulisane

  69. ompapang mengatakan:

    luas lubang

  70. ompapang mengatakan:

    luas penampang

  71. ompapang mengatakan:

    komputere goblog,wis dibenerno ping pindo panced salah terus. sing bener niku kalo luas penampang diambil 400 der C, dan masuk golongan superheated steam,sebab uap air jenuh (saturated steam ) hanya punya tekanan kritis 225 an bar pada suhu 374 derajat C. Kalau harus superheated, njur siapa yang menekan air/uap jenuh masuk keruang superheater itu. Hayo siapa jal, kata orang Semarang !

  72. ompapang mengatakan:

    woo, semprul salah lagi pak R Irawan. Wah kudu sabar tenan aku. Jal tak benerno !
    Kalau luas penampang selangnya diambil 400 derajat celcius dan masuk golongan superheated steam,sebab uap air jenuh (saturated steam ) hanya punya tekanan kritis 225 an bar pada suhu 374 derajat C. Kalau harus superheated, njur siapa yang menekan air/uap jenuh masuk keruang superheater itu. Hayo siapa jal, kata orang Semarang !

  73. ompapang mengatakan:

    Pak R Irawan,ini pembetulan tentang selang dan suhu 400 derajat yang tidak nyambung.Mudah-mudahan ini betul/nyambung.Wongsobarjo rene subur wong sabar jarene subur ! Lumpur yang naik 3000 m, sampai dipermukaan kan sudah menggeh-menggeh kehabisan napas alias tinggal punya energi kinetik yang tersisa yang Bapak perkirakan tinggal 4 Mw. Boleh saya hitung, mudah2an tak salah hitung.Misal debit lumpur=150.000 m3/hari atau 1,736 m3/detik,maka tekanan dinamisnya =4.000 X 1000/1,736 = 2304000 N / m2 = 2304 kPa atau masih bisa naik lagi setinggi h( head) = 2304000 N/m2 : 13000 N/m3 = 177 meter . Tapi kenyataan dilapangan kan tidak ada semburan yang muncrat keudara. Kalau saya ngetungnya dari kecepatan aliran lumpur.Misal kita ambil luas penampang semburan 1 m2, maka kecepatan semburan v = Q/A = 1,736 m3/det : 1 m2 = 1,736 m2. Gaya sembur( exerted force)nya F= density X debit X kecepatan = 1300kg/m3 X 1,736 m3/det X 1,736 m/det = 3917,8 kg m/det2 = 3917,8 N. Karena luas lubang sembur ( selang ) = 1 m2,maka tekanannya = F/A = 3917,8 N /1m2 = 3917,8 N/m2. Jadi sisa energi aliran lumpur dipermukaan tinggal h = tekanan : spesific gravity = 3917,8 N/m2 : 13000 N/m3 = 0,3 m. Walau saya sendiri tidak yakin,tetapi hasil hitungan ini mungkin lebih riil seperti terlihat dilapangan, lumpur panas hanya kelihatan seperti mendidih, tidak muncrat keatas karena sudah lenggek-lenggek bukan hanya menggeh-menggeh lagi. Kalau luas penampang selangnya diambil 400 derajat celcius dan masuk golongan superheated steam,sebab uap air jenuh (saturated steam ) hanya punya tekanan kritis 225 an bar pada suhu 374 derajat C. Kalau harus superheated, njur siapa yang menekan masuk keruang superheater itu. Hayo siapa jal, kata orang Semarang !

  74. ompapang mengatakan:

    Pak R Irawan, wongsobarjo rene subur wong sabar jarene subur ! Lumpur yang naik 3000 m, sampai dipermukaan kan sudah menggeh-menggeh kehabisan napas alias tinggal punya energi kinetik yang tersisa yang Bapak perkirakan tinggal 4 Mw. Boleh saya hitung, mudah2an tak salah hitung.Misal debit lumpur=150.000 m3/hari atau 1,736 m3/detik,maka tekanan dinamisnya =4.000 X 1000/1,736 = 2304000 N / m2 = 2304 kPa atau masih bisa naik lagi setinggi h( head) = 2304000 N/m2 : 13000 N/m3 = 177 meter . Tapi kenyataan dilapangan kan tidak ada semburan yang muncrat keudara. Kalau saya ngetungnya dari kecepatan aliran lumpur.Misal kita ambil luas penampang semburan 1 m2, maka kecepatan semburan v = Q/A = 1,736 m3/det : 1 m2 = 1,736 m2. Gaya sembur( exerted force)nya F= density X debit X kecepatan = 1300kg/m3 X 1,736 m3/det X 1,736 m/det = 3917,8 kg m/det2 = 3917,8 N. Karena luas lubang sembur ( selang ) = 1 m2,maka tekanannya = F/A = 3917,8 N /1m2 = 3917,8 N/m2. Jadi sisa energi aliran lumpur dipermukaan tinggal h = tekanan : spesific gravity = 3917,8 N/m2 : 13000 N/m3 = 0,3 m. Walau saya sendiri tidak yakin,tetapi hasil hitungan ini mungkin lebih riil seperti terlihat dilapangan, lumpur panas hanya kelihatan seperti mendidih, tidak muncrat keatas karena sudah lenggek-lenggek bukan hanya menggeh-menggeh lagi. Kalau luas penampang selangnya diambil 400 derajat celcius dan masuk golongan superheated steam,sebab uap air jenuh (saturated steam ) hanya punya tekanan kritis 225 an bar pada suhu 374 derajat C. Kalau harus superheated, njur siapa yang menekan masuk keruang superheater itu. Hayo siapa jal, kata orang Semarang !

  75. anang, yb mengatakan:

    Pihak Lapindo tetap harus membayar ganti rugi kepada semua korban lumpur panas, termasuk warga Perum TAS.
    Lapindo pura-pura bodoh dengan menyerahkan soal ganti rugi warga perum TAS kepada Timnas, padahal Lapindo pun bagian dari Timnas.

  76. DaLBO mengatakan:

    Harusnya scientist macam Pak RIrawan dkk dari jaoh2 hari sdh berkoar-koar dan berargumentasi dengen para geologist atopun vulcanologist yang sdh susah payah berupaya menghentiken LUSI ini, tapi koq baru sekarang muncul dan langsung meng-adul-adul niat mulia itu shg sampai memprediksiken usaha ini jadi mandul …..???
    Apa Pak RIrawan baru pulang dari Amriki … dan langsung berteori tanpa solusi …?
    Sangat disayangken kalo hanya sebatas itu yang bisa Pak RIrawan sumbangken untuk penderitaan puluhan ribu warga Porong yang sudah menderita 9 bulan ini ….

  77. RIrawan mengatakan:

    kebetulan saya mesti kerja ….. jadi beberapa hari kedepan agak lambat menanggapinya ….. tapi pasti saya balik.

  78. RIrawan mengatakan:

    o … iya ya, sabar subur!

  79. syahraz mengatakan:

    waduh…. sabar donk pak…..

  80. RIrawan mengatakan:

    Iya ….. solusi nya ….. ?
    Menghentikan semburan?
    Dari sudut mana? Logika? Penerawangan?

    Tuh ada teman yang beri komentar di tulisan berikutnya. Kayaknya dari luar. Dia komprehensif: “… mesinnya mana ada?” Saya cocok sama dia.
    Di bawah sana ada semburan energi 100 MW. Mau melawan gaya Relief Well (saling dorong), ya mesti pakai mesin yang setara kuat. Kira-kira se gede 500 truk gitu. Tapi yang kelihatan gede kog cuma mesin bor. Setelah lubang dari samping ketemu lubang BJP1, dorong atau hisapnya pakai apa? Pantas kontraktor Amrik nya kabur meskipun dibayar ratusan juta rupiah sehari. Pelan-pelan sadar mereka, kalau tak logis.
    Mau mematikan sumber energinya kayak mematikan api kompor? Lha, wong soal apaan sumbernya itu masih kontroversial. Saya bilang hidrothermal. Dalam 2 hari, mayoritas cenderung bilang: bukan!

    Yang pasti, realitas 9 bulan lewat kayaknya terus menerus menegaskan, bahwa tingkat teknologi saat ini tidaklah mungkin menghentikan semburan lumpur Lapindo. Selama 9 bulan (dari seluruh dunia) belum ada 1 pun gagasan solusi yang didukung metode ilmiah dan perhitungan matematika rinci muncul dengan konsep yang meyakinkan.

    Bola beton ….. ?
    Darimana saya bisa peroleh hitung-hitungannya?
    Bukan coba-coba toh?

    Oleh sebab itu, lebih bijak kiranya, kalau semua usaha difokuskan pada MANAJEMEN MENGENDALIKAN ALIRAN LUMPUR! Tetapi mohon yang logis, jangan kayak yang sudah dikerjakan. Memalukan, itu soal lain ….. tapi korban orangnya itu lho.

  81. Janatan mengatakan:

    Bapak-Bapak sekalian mohon maaf saya nimbrung, saya amati anda-anda disini berdebat dengan sangat seru dan beargumentasi dengan sangat bagus, tapi saya melihat belum ada yang mengusulkan solusi yang komprehensif untuk menghentikan bencana semburan ini, bahkan menurut hemat saya solusi bola beton pun layak dicoba hanya karena secara teori masuk akal dan biayanya super murah menurut ukuran total biaya yang telah dikeluarkan selama ini, meskipun begitu metode ini sama sekali belum ternukti kehandalannya dan bersifat spekulasi serta tidak memperhitungkan dampaknya misalnya bisa-bisa crater bertambah besar dsbnya

    Kenapa mereka tidak mengundang saja para pakar & praktisi berpengalaman yang memang bidang pekerjaannya berkaitan erat dengan bencana semburan lumpur seperti ini , seperti para pakar “WELL CONTROL”, mereka setidaknya bisa memberikan gambaran lebih jelas apa yang terjadi didalam sana, sehingga bisa ditentukan apakah ada metode terbaik untuk menghentikan bencana ini atau mungkin memang sudah tidak bisa dihentikan lagi.

  82. syahraz mengatakan:

    kata orang semarang : BLAIK !!!

  83. RIrawan mengatakan:

    Bung Rovicky yang mengasuh situs ini?
    Sungguh usaha yang mulia.
    Apakah tulisan-tulisan ini dibaca oleh orang-orang penting yang mengurusi lumpur Lapindo?

    Tekanan hidrostatis hanya mendorong dan mengumpulkan lumpur menuju ke pusat kolam reservoir lumpur di bawah sana, tetapi mana pernah bisa naik dalam jumlah begitu besar dan begitu panas disertai banyak uap. Maka salah satu hipotesa logis adalah adanya curahan air yang turun dari lubang bekas bor, menyentuh batuan cair panas yang mantel (diapir shale) nya dirusak dan terbuka, sehingga air itu menjadi uap. Himpunan enthalpy yang sangat besar menyebabkan uap menerobos melalui rekahan-rekahan atau membuat sendiri jalan keluarnya ke muka bumi. Rongga-rongga crust dibawah sana menjadi mirip pipa-pipa cabang yang mensupplai dan menghisap lumpur mengalir mengikuti arus uap keatas, menjadi semacam sistim pompa jet atau injector (bandingkan dengan alat spray cat atau semprotan obat nyamuk jaman dulu).

  84. RIrawan mengatakan:

    Tekanan itu quasi proporsionil terhadap tinggi cairan, baik di selang maupun di kolam lumpur yang luas itu.
    (Disini kita mengabaikan capillary-effect, sebab selangnya berupa lubang yang besar).

    Contoh 1:
    Tinggi kolam lumpur saat ini = 8 m lumpur,
    Tekanan di mulut semburan = Tekanan didasar kolam lumpur = 8 m lumpur,
    Tekanan dibawah sana (-3000 m) = 3008 m lumpur.

    Contoh 2:
    Tinggi kolam 6 susun a’la Syahraz = 39 m lumpur,
    Tekanan di mulut semburan = Tekanan didasar kolam lumpur = 39 m lumpur,.
    Tekanan dibawah sana (-3000 m) = 3039 m lumpur.

    Di bawah sana ada semacam pompa jenis positive displacement yang sangat besar dan kuat, yang mampu melawan tekanan total dinamis. Sedangkan hambatan yang anda timbulkan dengan kolam-susun setinggi 39 m cuma punya effect sebesar: (39-8)/(3000+8) = 1% terhadap tekanan geodatic. Terhadap tekanan total dinamis (geodatic head + flow resistance), effectnya malah lebih kecil lagi.

    Maka saya katakan: “Praktis hampir tidak ada pengaruhnya ketebalan 39 m terhadap debit dan tekanan lumpur yang keluar, sebab sebelumnya dengan gampang lumpur itu sudah bisa naik 3000 m.”

  85. Rovicky mengatakan:

    Saya sedang di jakarta, saya mengikuti diskusinya kok. Hanya krn menggunakan bberry jadi rada kagok saja.

    Btw, dalam mengestimasi energi harus diperhatikan energi apa yg diestimasi :
    - energy potesial
    - energi kinetik
    - cadangan energy (resources)
    - energi …

    Sumber energi utama bisa saja energi panas bumi tetapi energi potential sebagai cadangan (resources) hanyalah energi yg dapat dimanfaatkan. Sedangkan energi mekanis yg terrekam dalam volume lumpur selama ini relatif kecil. Dan energi inilah yg mungkin “dilawan” tetapi potensialnnya akan saja selalu ada.

    Rdp

  86. Leo mengatakan:

    Pak De sedang sembunyi , bertapa mencari wangsit keatap langit , mencari jawab diantara para dewa agar ikut menghentikan lumpur . . hoahaoahoahahahhehe .
    Maaf lho Pakde
    Semua lagi pada bingung…ngurusin lumpur

  87. syahraz mengatakan:

    Memang lumpur itu dengan mudah bisa naik 3000 meter. Tapi jangan lupa, bahwa 3000 meter itu adalah “Panjang selangnya”. Sementara yang keluar dari “Selang” ya tinggi tekannya sekitar 20-30 meter. Jika tinggi tekannya mencapai 50 meter ya memang tinggi tekannya segitu. Atau jika tinggi tekannya 100 meter ya memang tinggi tekannya segitu (bukan 3000 meter).

    Jadi tidak masalah berapa “Panjang selangnya”.

    What we are dealing with (now) is the effect on the surface.

    Komentar pak rovicky sudah lama ga muncul

  88. RIrawan mengatakan:

    Bung argosiloku,
    soal bola beton, sayangnya ketakutan saya makin kental. Saya mengharapkan ada bantahan yang sangat “kuat”. Maksudnya ….. , boleh pinjam istilah bung: “logis dan wajar” gitu.
    Saya kira, bilamana usahanya logis dan wajar, alam tak segan menjawab: ITULAH.

  89. RIrawan mengatakan:

    Bung DjayaWikarta,
    tadinya saya pikir, negeri ini banyak pakar dan ahli-ahli pembuat keputusan.
    Jadi biarlah mereka yang mengurus lumpur Lapindo dengan tenang. Kita tidak perlu mengganggunya dengan komentar macam-macam.

    Tapi 9 bulan kog bisa seperti ini, ya?
    Itu penanggulan dan tindakan terus-menerus meninggikannya, kan tidak masuk akal. Dari pelajaran dasar kita tahu, tekanan yang diderita dinding tanggul naik proporsional dengan tinggi zat cair, lalu gaya atau tenaga yang harus ditahan oleh setiap meter panjang tanggul menjadi kuadratis terhadap tinggi zat cair-nya. Jadi kalau tanggul yang awalnya menahan tinggi lumpur 2,5 m ditinggikan untuk menahan lumpur setinggi 7,5 m; maka tenaga yang harus ditahannya menjadi 9x. Mana tahan!???
    Tetapi selama ini, ternyata tanggul-tanggul itu diselamatkan oleh endapan, yang menjadi gugusan sedimen keras dengan kohesi molekularnya. Andaikan lumpur yang keluar itu tidak membuat endapan macam itu, maka tanggul sudah lama jebol dan bubar total. Apakah pembuat keputusan dulu sudah memperhitungkan ini?

    List dari semua hipotesa?
    Mestinya para penanggung jawab urusan ini punya.
    Saya juga mulai mencari.
    Kita menghadapi 2 soal:
    1. menghentikan semburan lumpur
    2. mengendalikan aliran lumpur yang keluar.
    Dan semuanya perlu ditangani dengan tertib logika, bukan coba-coba seperti dulu saat ngebornya.

    ….. Turbin Lumpur?
    Mmm ….. 100 Mw sudah dipakai untuk menaikkan lumpur keatas, jadi yang tersisa diatas cuma panas pada lumpur dan uap air, tidak sampai 1 juta kalori per detik (4 Mw)
    Tapi kalau kita bisa ambil energi saat terik siang hari, dari bidang seluas lapangan bola, ada energi gratis sebesar 1 Mw, dan kayaknya ini lebih gampang mengambilnya, belum lagi turbin angin.

    Tapi gagasan bung menarik.
    Di Porong tidak cuma tersimpan cadangan bahan bakar fosil yang besar, tapi mungkin juga sumber energi hidrothermal dari lidah-lidah diapir yang relatif dekat ke permukaan bumi Porong.

  90. RIrawan mengatakan:

    Bung Syahraz,
    Saya baru masuk ke situs Mudflow, lalu tiba ke makalah anda.
    Sangat bagus dan kreatif!

    Sudah waktunya pembuat keputusan dan penanggung jawab negeri ini mendengar suaranya orang biasa, apalagi yang seperti anda. Bukan cuma menampung kepentingan dan suara orang-orang besar, berpangkat dan yang menyandang gelar-gelar hebat. Kenyataan 9 bulan ini konyol, bukan?

    Ide anda logis.
    Sederhananya bisa begini:
    Dengan luas lahan yang sama, dibuat 6 pond bertingkat.
    Jika bangunannya simetris, maka dari kolam 6 tingkat diperoleh daya tampung sebesar:
    1 + 0.69444 + 0.69444^2 + 0.69444^3 + 0.69444^4 + 0.69444^5 = 2.9 x daya tampung 1 lapis yang seperti sekarang, atau 2.9 x lebih lama (jika debit keluaran lumpur tetap).

    Namun ada beberapa hal yang perlu dikaji:
    1. Praktis hampir tidak ada pengaruhnya ketebalan 39 m terhadap debit dan tekanan lumpur yang keluar, sebab sebelumnya dengan gampang lumpur itu sudah bisa naik 3000 m
    2. Tiap tahun ada 25-40 juta lumpur padat yang keluar. Kolam bertingkat gagasan anda bisa berfungsi 3 tahun. Ini bukan saja lumayan, tetapi memang ini salah satu solusi antaranya.
    3. Tetapi semburan lumpur itu berlangsung puluhan atau ratusan tahun. Jelas bukan ini solusi permanennya. Anda tidak ingin gunungnya setinggi 85 m dan lerengnya sampai ke kota Sidoarjo dalam 30 tahun, bukan?
    4. Menyelamatkan ekosistim tanpa membuang lumpur Lapindo ke laut juga tidak mungkin. Tidak ada alternatif lain kecuali mengembalikannya ke laut. Lumpur itu adalah endapan purba yang berasal dari laut. Jika dibuang ke laut, memang pasti mengganggu keseimbangan ekosistim, tetapi akan sangat cepat tercapai keseimbangan baru tanpa dampak negatif yang berlebihan.
    5. Meskipun ide ini merupakan salah satu cara praktis yang jauh labih layak daripada semua yang sudah dilakukan terhadap semburan lumpur Lapindo, masih perlu dikaji dan disusun suatu metode terintegrasi dan permanen untuk jangka panjang.

    Salam,
    R. Irawan

  91. RIrawan mengatakan:

    Bung ompapang,
    saya baru masuk ke komunitas situs ini, jadi maaf saya belum sempat menjelajah pendapat para pakar dan para ahli.

    Persoalan intinya adalah:
    Apakah sumber energi di bawah sana adalah hidrostatis belaka?
    Jika ya, anda benar!

    Tapi ibarat suatu panci presto (yang bisa melumatkan tulang) yang kita beri api terus menerus. Suatu saat ventil-pengamannya meletup/membuka. Jika kita lalu memaksakan menutup lubang ventil itu, maka fluida didalamnya akan mencari jalan keluar baru, atau mendobrak dinding panci.

  92. DjayaWikarta mengatakan:

    Terimakasih banyak ompapang dan RIrawan, ini reading yang menarik.
    saya memang bukan geologis atau volcanologist, cuma selalu tertarik hal-hal fisika yang terkait kegiatan keseharian manusia terutama energi.
    Saya ikut prihatin, dan seperti RIrawan, ikut2an gemas. Sangat menjengkelkan kalau masih ada orang harus menanggung sengsara bukan akibat perbuatannya sendiri.

    Mungkin ada yang bisa memberi semacam summary, semacam list dari semua hipotesa terjadinya semburan lumpur Sidoardjo. Dari hipotesa2 ini barangkali kita masing-masing memilih salah satu lalu mencoba mendalami teorinya dan menyusun semacam rancangan teknis lalu prosedur atau manual “penghentian lumpur”.

    Kalau nanti “metoda bola beton” gagal, karena “bablas kedalam rongga maha besar” misalnya, maka kita sudah siap dengan upaya baru. Dan metoda yang gagal kita arsipkan dengan baik untuk suatu saat kita buka-buka lagi jika ketemu masalah semburan lumpur yang lain. Pengalaman saya…..saya ternyata tidak pernah bisa belajar dari pengalaman dan selalu membumi hangus “sejarah” sendiri.

    Ompapang, RIrawan…. andai energi 24 juta kalori perdetik bisa dimanfaatkan untuk listrik Jawa-Bali-Madura. Dengan merancang TURBIN LUMPUR misalnya ….
    bukankah pompa lumpur sudah lama kita kenal. Semoga warga Sidoarjo yang menjadi korban sekarang bisa suatu saat kelak malah bisa bersyukur dengan listrik gratis.

  93. ompapang mengatakan:

    Pak R Irawan…,terima kasih atas koreksinya sehingga hitungan saya menjadi betul, saya juga setuju tentang daya 100 Mw yang mendorong naik lumpur dari kedalaman 3000 m dengan debit 150.000 m3/hari. Tentang sumber energi yang ada didalam sana, mungkin pak De Rovicky dapat lebih memberi pencerahan. Tentang akan timbulnya semburan baru yang liar apabila lubang ditutup atau dipersempit, seperti yang Bapak khawatirkan , mohon maaf saya kurang sependapat. Menurut analogi model sirkuit hidrolik,yaitu pada sirkuit hidrolik yang mempunyai sumber tekanan hidrolik ( hydraulic motive force ) stabil yang tak terpengaruh besar kecilnya aliran fluida , debit aliran yang besar akan melalui pipa yang mempunyai restriksi kecil sedang pada pipa -pipa yang mempunyai restriksi sangat besar, debit aliran akan sangat kecil.Demikian pula pada analogi sirkuit listrik. Pada model sirkuit listrik yang mempunyai sumber tegangan listrik (electric motive force ) stabil, dalam arti tak terpengaruh oleh besarnya kuat arus yang mengalir, arus listrik yang besar akan mengalir melalui tahanan( resistor) yang bernilai/berharga kecil, sedang pada resistor-resistor yang berharga sangat besar arus listrik yang mengalir akan sangat kecil. Berdasar kedua analogi tersebut, saya berkesimpulan bahwa lubang semburan lumpur yang ada sekarang adalah satu-satunya lubang atau celah yang mempunyai restriksi atau resistor alami yang sangat kecil sehingga tekanan dari dalam bumi mampu menembus dan menyemburkan lumpur kepermukaan, sedang celah-celah lain mempunyai restriksi atau resistor alami yang sangat besar sehingga lumpur bertekanan tinggi tidak mampu menembusnya, nyaris hanya gas saja yang dapat lolos. Jadi hanya ada satu lubang semburan seperti yang terjadi sekarang,sedang semburan-semburan lain kalau memang bisa, sudah sejak awal akan terjadi, lha wong tekanan dari sumber energi potensia dibawah sana sangatlah maha besar, yang tidak akan berkurang tekanannya bila di”gembos”kan dan tidak akan bertambah bila lubang “gembos”annya ditutup. Itulah alasan mengapa saya tidak khawatir akan terjadi semburan baru bila lubang utama diganggu atau disumbat. Thanks !

  94. RIrawan mengatakan:

    ….. lebih besar daripada 3500, diperlukan waktu kurang dari ½ jam untuk padatan
    lumpur mengendap.

    Benar akan terjadi pengendapan lumpur dalam saluran 3000 m, jika:
    1. lumpurnya tidak bergerak, atau
    2. gerakannya sangat lambat dengan sifat aliran laminar.
    Tetapi bola-bola itu tidak menghentikan sumber energi 100 Mw yang terus
    menerus dipancarkan. Jika bola-bola itu memperkecil lubang saluran 3000 m,
    maka kecepatan-aliran akan makin besar dan memperbesar bilangan-Reynold,
    sehingga sifat aliran makin begolak (turbulence) dan makin tidak ada
    pengendapan di saluran 3000 m.

    Namun inti kontroversinya terletak pada hipotesa, apa dan darimana asal
    sumber energi yang bergolak dan memaksa mau keluar sebesar 100 Mw itu.
    Apakah benar sekedar hidrostatis? Jika ya, maka langkah dan tindakan
    mencemplungkan bola-bola beton itu dapat dibenarkan dan tidak perlu
    terlalu dikuatirkan munculnya semburan-semburan liar di tempat lain, sebab
    tekanan dibawah itu akan tetap statis.

    Tetapi, jika penggagas dan pengambil keputusan untuk “percobaan bola-bola
    beton” tidak yakin tentang asal sumber energi itu, maka saya cuma memohon,
    kajilah lebih mendalam tentang ini. Jangan meresikokan nasib orang-orang
    disana dengan sekedar coba-coba.

  95. RIrawan mengatakan:

    Pada aliran dengan sifat low-turbulence dengan bilangan-Reynold

  96. RIrawan mengatakan:

    ….. lanjutan:

    Pada aliran dengan sifat low-turbulence dengan bilangan-Reynold

  97. RIrawan mengatakan:

    ….. lanjutan:

    5 menit waktu pengendapan (Ø = 2 micron = 0,002 mm pada 1 m tinggi lumpur) hanya berlaku untuk lumpur yang diam pada suhu relatif dingin. Jika lumpur itu panas mendekati titih didihnya, waktu itu makin lama. Begitu pula, jika lumpur itu mengalir, waktu pengendapan menjadi makin lama akibat adanya Magnus-effect yang diderita oleh partikel padat yang ber-rotasi dalam aliran. Pada aliran dengan sifat low-turbulence dengan bilangan-Reynold

  98. RIrawan mengatakan:

    Bung DjayaWikarta, saya sendiri justru yakin bahwa kegiatan ngeborlah penyebab semburan lumpur. Saya cenderung adanya aktivitas hidrothermal, akibat dirusaknya mantel batuan cair (magma), sehingga air dari atasnya bertemu dengan sumber panas tinggi dan menjadi uap bertekanan. Tetapi lubang bor keburu ditutup. Dan tekanan uap terjebak mendorong lumpur mencari atau membuat jalan keluarnya sendiri. Awalnya sedikit, tetapi debit keluaran lumpur makin naik akibat tekanan uap yang naik, hingga tercapai keseimbangan antara energi yang dihasilkan ketel magma dengan energi yang keluar berupa semburan lumpur panas dan uap.

    Bola-bola beton tokh sudah mulai dicemplungkan. Dan saya berharap saya salah! Banyak kerabat dan sahabat saya disekitar sana. Saya tidak ingin dirumah mereka tiba-tiba muncul semburan lumpur atau gas.

    Gagasan bola beton diciptakan dan dihitung oleh pakar dan ahli-ahli dari berbagai disiplin. Kita harap mereka benar. Saya bukan pakar, cuma berasal dari sekitar tempat bencana. Dan saya ngeri menatap apa yang sudah dikerjakan selama 9 bulan ini.

    Bung ompapang, terima kasih tanggapannya.
    Memang saya bukan siapa-siapa, cuma tergelitik ikutan ngomong. Bisa pula … gemas dan cemas … melihat apa yang sudah terjadi. Dan menurut saya … keterlaluan!

    Potensi energi di perut bumi memang satuannya WattJam (WH) yang maha besar. Tetapi saya berpendapat, pengeboran telah mempertemukan sumber air dengan magma, sehingga ada potensi energi itu yang terkonversikan menjadi entropy sebesar 100 Mw atau 24 juta kalori per detik.

    Maaf, jika bung maksudkan SG-lumpur = 1,3 (1,3 x air), maka berat-jenis lumpur ρ ≈ 13000 N/m3, sebab massa-jenis air δ ≈ 1000 Kg/m3, sedangkan berat-jenis ρ = δ . g ; (g: gravitasi bumi = 9.80665 m/s2).

    Jadi sesuai hitungan bung, daya yang dipakai untuk menyemburkan lumpur kepermukaan mestinya 13000 X 1,736 X 3000/1000 =6770,4 Kw= 67,7o4 Megawatt (Mw). Angka ini hanya merupakan energi potensial yang dikandung oleh lumpur setelah berada di atas, tetapi untuk menaikkan massa lumpur dari kedalaman 3 Km keatas, masih dibutuhkan energi tambahan guna melawan geseran (flow-friction). Selain itu, yang keluar adalah lumpur panas dan uap panas, sehingga saya hitung secara kasar, jumlah energi yang berhasil terbebas keluar adalah 100 Mw, yang mestinya sudah sama dengan besarnya daya generator dibawah sana, sebab debit lumpur relatif stabil selama 3 bulan terakhir.

    Asumsi bung: “ … Misal kita ambil 2 juta MW-jam (Energi potensial didalam perut bumi) …” menarik! Ini berlaku, seandainya sumber energi di bawah sana adalah hydrostatis (tekanan tetap), sehingga tentu saja makin lama makin habis, setelah lumpur panas menyembur keluar. Ini mirip sumur-sumur minyak artesis. Tetapi nyatanya debit semburan lumpur panas dan uap cederung stabil bahkan naik, bukan? Makanya, saya lebih condong pada aktivitas hidrothermal, yakni ada sumber penghasil uap sebesar 100 MW.

    5 menit waktu pengendapan (Ø = 2 micron = 0,002 mm pada 1 m tinggi lumpur) hanya berlaku untuk lumpur yang diam pada suhu relatif dingin. Jika lumpur itu panas mendekati titih didihnya, waktu itu makin lama. Begitu pula, jika lumpur itu mengalir, waktu pengendapan menjadi makin lama akibat adanya Magnus-effect yang diderita oleh partikel padat yang ber-rotasi dalam aliran. Pada aliran dengan sifat low-turbulence dengan bilangan-Reynold

  99. ompapang mengatakan:

    Pak Djaya Wikarta.., kalau saya bilang bola beton bisa bablas tertelan reservoir diperut bumi kan namanya tidak menakut-nakuti ya?

  100. ompapang mengatakan:

    Pak RIrawan .., menilik cara pandang Bapak saya kira bapak bukan seorang geologist atau petrologist, demikian juga saya, namun demikian saya sependapat dengan Bapak,bahwa nun jauh didalam perut bumi ada sumber energi apapun namanya yang menyebabkan terjadinya aliran lumpur panas kepermukaan bumi Porong. Tentang 100 megawatt, saya kurang sependapat kalau disebut energi yang merepresentasikan energi potensial dari perut bumi. Energi potensial dari perut bumi biasa dinyatakan dengan Megawatt-jam bukan Megawatt. Sedan Megawatt adalah daya /power atau energi persatuan waktu, d.h.i energi perdetik. Jadi misal debit lumpur 150.000 m3/hari atau 1,736 m3/detik dan specififc gravity lumpur 1300 N/m3 dan lumpur terdorong naik dari kedalaman 3000 meter, maka daya yang dipakai untuk menyemburkan lumpur kepermukaan adalah 1300 X 1,736 X 3000/1000 =6770,4 Kw= 6,77o4 Megawatt (Mw).
    Energi potensial didalam perut bumi mungkin jutaan Mw-jam.( Bukan 100 Mw ) . Misal kita ambil 2 juta MW-jam, maka dengan debit 150.000 m3/hari energi potensial tersebut akan habis selama = 2.000.000 Megawatt-jam/ 6,7704 Megawatt= 295114 jam = 12296,4 hari = 33 tahun. Sedang lumpur yang dikeluarkan 12296,4 X 150.000 m3 = 1.844.460.000 = 1,845 milyard m3. Pertanyaanya adalah adakah volume lumpur sebanyak itu atau adakah energi potensial sebesar 2 juta Mw-jam nun dibawah sana ? Jadi kalau memang ada, usaha penyumbatan dengan bola beton ada baiknya dicoba. Bapak tidak perlu khwatir akan timbul semburan baru, sebab makin dekat permukaan tanah energi semburan lumpur makin mengecil. Bisa dilihat dari semburannya yang tidak terlalu tinggi, hanya seperti air mendidih saja, kalau memang masih tinggi maka semburannya akan berupa semburan lumpur muncrat keudara. Makin besar sisa energinya makin tinggi pula muncratnya. Makin kecil sisa energinya makin rendah pula muncratnya. Karena kenyataan sisa energinya kecil maka apabila kepundannya ditutup dengan 2000 bola beton itu atau dengan bola beton yang berdiameter lebih besar dari lubang semburan ( bukan lubang kawah) saja yakin tidak akan timbul semburan ditempat lain. Bahkan sesuai dengan hitungan pak RIrawan, bila kita dapat menghentikan aliran lumpur, dalam 5 menit saja lumpur, maka 2 micron akan mengendap, berarti dalam saluran yang sedalam 3000 meter akan terjadi proses pengendapan lumpur, berarti pula akan terjadi penyumbatan oleh dirinya sendiri. Demikian pula pada lubang-lubang yang semula mengeluarkan gelembung gas, saya kira lubang – lubang itu sekarang sudah tersumbat sendiri oleh lumpur yang mengendap didalamnya karena tidak dapat jalan keluar untuk mengalir. Seperti yang pernah saya katakan kepada pak Syahraz, kekhwatiran saya justru bola- bola tersebut tidak berhenti disaluran (conduit) tetapi bablas tertelan reservoir diperut bumi.

  101. DjayaWikarta mengatakan:

    Saya tergelitik kesimpulan akhir pak R Irawan,….” …sehingga energi itu justru
    terkumpul menjadi kekuatan dahsyat yang menimbulkan bencana yang
    lebih besar…” ??>

    Saya rasa, menganalogikan kemustahilan usaha menutup lubang lumpur ini dengan
    upaya menyumbat kawah gunung Merapi …. terlalu kualitatif dan hantam kromo.
    Konon menurut teori, letusan dahsyat dari volcano terjadi jika tekanan magma
    tersumbat.

    Tapi kalau benar maka Kesimpulan ini seolah memastikan bahwa bencana lumpur SAMASEKALI bukan disebabkan kegiatan ngebor LAPINDO…. tapi karena “energi”
    dibawah tanah lah yang menimbulkan bencana. Seperti volcano ? ?.
    Artinya …. Lapindo sangat layak untuk tidak bertanggung jawab.

    Saya sempat baca uraian teoritis metoda penyumbatan dengan bola-bola beton ini,
    dan kelihatannya paling masuk akal dibanding misalnya dengan menyumbat
    pake kepala kerbau.

    Kalaupun misalnya nanti gagal, pasti bukan karena “tersumbatnya 70% energi yang
    terkumpul” tapi justru karena jumlah dan ukuran bola-nya tidak cocok. Atau
    memang asumsi teoritis nya kurang tepat, dan nanti bisa dicoba cara lain lagi.
    Tentu setiap upaya yang masih masuk akal tidak perlu ditakut-takuti…akan
    menimbulkan bencana yang lebih dahsyat…..

  102. RIrawan mengatakan:

    Setuju bung Syahraz. Kecepatan mengendap itu disebabkan oleh massa-jenis padatan yang sekitar 3x air. Model matematika hidrodinamis menunjukkan, bahwa Kali Porong hanya bisa menghantarkan lumpur yang sekitar 2 m3/detik itu sampai ke muara, jika ada debit air sungai lebih daripada 60 m3/detik, sebab bentangan lebar Kali Porong itu sekitar 75 m. Itupun dengan syarat sungainya lurus, tidak berkelok-kelok dan tidak berbatu-batu.

    Jika tidak lewat sungai, misalnya lewat sudetan ke arah Timur-Laut atau Timur sepanjang 17-20 Km, dan sudetan itu selebar 100 m, maka paling lama 3 bulan kanal sudetan itu akan penuh dengan endapan sekitar 10 juta m3 dan jelas sudah tidak mampu mengalirkan lumpur lagi.

    Tetapi dapat dibuat 2 sudetan, masing-masing selebar @ 100 m. lalu bergantian masing-masing 3 bulan difungsikan dan dikeruk atau dibuang endapannya. Dengan cara ini, maka seluruh genangan lumpur seluas 600 Ha akan kering dalam waktu 6 bulan.

    Kendalanya, beaya untuk cara ini sangat mahal dan boros energi. Meskipun bisa dipastikan, tidak ada cara lain yang dapat dilaksanakan secara cepat dalam situasi yang terlanjur sangat kritis ini.

    Masih ada kendala lain, yakni lumpur yang dialirkan harus lumpur segar yang langsung diluncurkan dari sumber lubangnya ke kanal sudetan. Sebab, jika dari pinggir tanggul yang sekitar 300-500 m dari mulut lubang semburan, maka jalur itupun akan cepat sekali tersumbat oleh bukit endapan.

  103. syahraz mengatakan:

    ada 1 hal lagi yang mungkin luput dari perhatian apabila lumpur dibiarkan saja. Hal itu adalah : Transportasi Sedimen (Transed). Pada transed dapat diketahui kecepatan aliran sedimen yang ada di dasar sungai. Ternyata kecepatan aliran sedimen sangat rendah sekali, bahkan untuk sedimen “biasa” saja sangat rendah sekali, apalagi untuk sedimen “lumpur lapindo”.

    Saya khawatir usaha membuang lumpur ke sungai akan sia-sia belaka, karena lumpur akan sangat lama sekali sampai di laut. Hal ini dikarenakan kecepatan aliran sedimen amat sangat rendah sekali.

    Apabila lumpur dipaksa dibuang langsung ke laut tanpa lewat sungai, hal ini saya anggap hanya buang-buang energi saja, karena di sungai yang ada aliran air saja transednya rendah sekali, apalagi dibuang langsung ke laut!!! Malah makin ga sampe.

    Jika lumpur dibiarkan mengalir begitu saja, maka lumpur akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dan jika di tempat itu airnya sudah hilang, maka yang tinggal adalah lumpurnya. Maka lumpur cair yang baru keluar akan mencari tempat lain yang lebih rendah. Begitu seterusnya sehingga kira-kira akan terbentuk sebuah gunung lumpur.

    silakan baca http://lapindo.topcities.com untuk menambah referensi anda

  104. agorsiloku mengatakan:

    Semoga ketakutan R. Irawan keliru, semoga bisa ditutup. Meski alasannya sangat logis dan wajar. Setiap usaha yang sudah terjadi dalam mengatasi semburan lumpur selalu dijawab oleh alam sebagai : BUKAN ITU.

  105. RIrawan mengatakan:

    Metode penyumbatan dengan bola beton atau chain-balls atau “killing mud softly” justru saya kuatir tindakan yang berbahaya. Tetapi saya berharap, semoga saya salah!

    Energi yang menyembur dari kedalaman 3 Km itu tidak kurang dari 100 MegaWatt. Masih kontroversial darimana sumber energi itu, apakah sekedar hidrostatik atau subduksi lempeng bumi atau bahkan hidrothermal. Namun fakta selama 9 bulan ini yang menunjukkan terus meningkatnya besaran energi yang keluar, yang ditandai dengan kenaikan debit lumpur dan makin banyaknya uap panas yang memancar keluar, menunjukkan bahwa kemungkinan besar sumber energi itu bukanlah sekedar hidrostatik. Melainkan makin menguatkan kesimpulan adanya sumber hidrothermal atau geothermal.

    Namun saat ini tidak begitu penting mempersoalkan sumber energi itu. Yang pasti, dibawah sana terdapat semacam gerakan menekan atau generator atau tungku pemanas atau ketel penghasil tekanan uap, yang terus menerus aktif mendorong 150.000 – 200.000 m3/hari lumpur naik ke atas hingga 3 Km bersama ribuan m3 uap panas.

    Maka metode penyumbatan lubang semburan dengan 500 rangkaian bola beton @ 4 bola itu sama dengan sekedar mengganggu atau menghambat jalan keluar pembebasan energi. Tetapi sama sekali bukan menghentikan sumber energinya, bahkan tidak pula mengurangi daya atau besaran kapasitas sumber energi itu.

    Apakah lalu bisa meredam energi semburan dengan mengubahnya menjadi energi getaran, rotasi, friksi, dan translasi oleh bola-bola beton itu? Tidak jelas, bagaimana surface contour atau bentuk permukaan bola-bola dibuat sehingga mampu melakukan gerakan rotasi dalam arus lumpur vertikal yang hampir seragam (quasi uniform) kecepatannya. Tetapi katakanlah, bola-bola bisa ber-rotasi dengan kecepatan maximum, yakni sebesar kecepatan arus lumpur yang sekitar 2,5 m/detik pada lingkar luar terbesar bola, maka energi semburan yang berhasil diredam tidak lebih dari 1%.

    Lalu apa akibat dari langkah itu?
    Masuknya ribuan bola itu pasti menghambat lubang saluran naiknya lumpur, yang hakekatnya adalah jalur pembebasan sumber energi dibawah sana, yang terus menerus tak henti-hentinya memancarkan energi lebih dari 100 MW atau 24 juta kalori per detik. Apabila jalur itu dihambat, maka energi itu akan terkumpul dan membentuk tenaga yang makin kuat berupa tekanan yang makin besar dan laju arus lumpur yang makin tinggi kecepatannya.

    Tekanan dan kecepatan arus lumpur yang makin besar itu akan mengikis dinding, memperbesar lubang semburan, bahkan bisa menerobos membuat rekahan dan lubang-lubang baru, yang menjadii jalan keluar baru bagi timbunan energi dibawah yang berakumulasi semakin besar.

    Jelas, ini bisa merupakan malapetaka yang liar dan sangat sulit dikendalikan.
    Metode bola-bola beton itu awalnya akan menyajikan hiburan berupa penurunan debit semburan, mungkin 50% dan bisa saja hingga 70%. Namun tekanan yang makin besar dibawah akan memunculkan semburan-semburan baru dimana-mana berupa lumpur dan gas. Masih untung, sekiranya cuma disekitar lubang utama Banjar Panji 1, tetapi bagaimana kalau muncul di kota atau desa di pemukiman penduduk?

    Sekali lagi, semoga ketakutan saya ini salah!

    Namun jangan sampai terulang kisah ironis seperti pada spillway. Kegembiraan cuma berlangsung 1 minggu, kemudian kanal spillway itu dipenuhi oleh endapan padat, sehingga tidak bisa mengalirkan lumpur lagi. Padahal sebelumnya jelas diketahui, bahwa lumpur Lapindo terdiri atas butiran padat yang melayang bebas dalam air. Massa-jenis butiran padat itu jauh lebih besar daripada air+koloid yang membawanya. Dalam keadaan diam, butiran padat akan turun kebawah atau mengendap dengan kecepatan u = {4.d.g.(ρs/ρw-1)/(3.cs)}½, maka butiran pasir diatas 2 micron akan seluruhnya mengendap hanya dalam waktu 5 menit. Jika lumpur itu bergerak di kanal terbuka, maka kecepatan arusnya: v = {(8.ΔH.A.g)/(λ.L.C)}½. Format disain bangunan spillway sepanjang 400 m dengan lebar dasar sekitar 7 m dan beda-ketinggian kurang dari 2 m, hanya mengahasilkan kecepatan arus 0,52 m/detik disaat awal sebelum terjadi endapan di spillway. Jelas aliran lumpur itu tidak cukup cepat dan sifatnya tidak cukup bergolak (turbulence), sehingga sudah pasti butiran padatan mengendap sepanjang spillway.
    Pertanyaannya: Kenapa disain spillway dibuat seperti itu?

    Kisah ironis lain adalah puluhan pompa yang dibeli dan dioperasikan adalah jenis centrifugal. Pompa ini adalah jenis mesin kinetis yang mengkonversi energi masukan menjadi energi kinetis, yakni menaikkan kecepatan gerak pada massa fluida yang dipompa. Caranya dengan memakai roda-pusingan yang diputar sangat cepat, antara 25 s/d 50 putaran per detik, sehingga menghasilkan tegangan-geser τ = F/A yang sangat besar tetapi ideal jika fluidanya air (low-viscosity, newtonian). Namun lumpur pekat bersifat dilatant. Jika lumpur menderita tegangan-geser yang besar, maka serta-merta kekentalannya (viscosity) nya seolah-oleh naik drastis. Sehingga pompa centrifugal tidak mungkin bisa berhasil untuk menggerakkan lumpur
    Maka untuk memindahkan lumpur pekat, harus dipakai pompa yang cocok untuk lumpur, yakni pompa yang menimbulkan tegangan-geser serendah mungkin ketika bekerja. Dan pompa jenis itu sudah banyak dipakai dimana-mana, termasuk untuk memompa lumpur pekat.
    Pertanyaannya: Kenapa justru pompa centrifugal yang dipakai untuk lumpur Lapindo?

    Realitas kegagalan yang sudah terjadi dalam penanganan lumpur Lapindo ini teramat pahit bagi ribuan rakyat yang menjadi korban.
    Oleh sebab itu, lebih bijaksana, sekiranya metode penyumbatan dengan bola beton ini terlebih dahulu dikaji secara mendalam, apakah benar akan dapat mengurangi atau menghentikan sumber energi dibawah sana, bukan sekedar menghambat atau mengganggu jalan keluarnya, sehingga energi itu justru terkumpul menjadi kekuatan dasyat yang menimbulkan bencana yang lebih besar.

    Wassalam,
    R. Irawan

  106. klikharry mengatakan:

    tapi kau punya cara yang lebih jitu bila bola beton yang buat nyumbat ini masih gak berhasil….
    kita kasih sumbat dengan pembesar-pembesar lapindo, misalnya rumahnya, villanya, mobilnya, laptopnya, motornya, perusahaan mereka yang lain, dijamin pasti stop tuh lumpur, soalnya tujuan dari lumpurnya buat ngasih pelajaran kepada yang empunya lapindo…
    ayosiapa? :)
    “tanya kenapa” he..he..

  107. arifkurniawan mengatakan:

    Aseli euyyy, hebat sekali metodenya.
    Tapi mengenai pemerintah akan mengganti kerugian… ehemm… Saya juga mikir euy, kalau sewaktu sebelum banjir lumpur, ada pasangan yang mau menikah di Porong. Trus ternyata terjadilah musibah lumpur itu. Mengakibatkan mereka (pasangan tersebut) gagal menikah. apakah pemerintah mau mengganti kerugian? Mencarikan pasangan baru untuk dinikahi?
    :D

  108. syahraz mengatakan:

    for Joyo. S & raditpego :
    jangan tertawa diatas penderitaan orang lain donk !!!

    Anda bisa tertawa & bergurau karena rumah anda tidak terendam lumpur. Moral Anda perlu dipertanyakan !!

  109. raditpego mengatakan:

    lebih baik kasih bola semangatnya songoku aja, apalagi kalo jadi super seiya!!!!!

  110. Joyo.S mengatakan:

    :) Eh, bolanya perlu juga dilapisi ijuk lho :) huauhuauauaua….

  111. Leo mengatakan:

    Kita tunggu hasilnya, semoga berhasil mengurangi semburan

  112. sridewa mengatakan:

    pak de Rovicky , mari ber wait and see sambil berharap cemas.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: