Minggu, 25 Feb 2007, JawaPOS
SIDOARJO – Upaya Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo menyumbat semburan lumpur dengan bola-bola beton dimulai kemarin sore. Teknik penyumbatan dengan metode HDCB (high density chained ball) itu dimulai dengan memasukkan (insersi) untaian pertama bola-bola beton ke kawah lumpur.
“Untaian pertama kami masukkan ke kawah sekitar pukul setengah empat sore tadi (kemarin, Red),” kata Juru Bicara Timnas Rudi Novrianto kemarin. Meski bola sukses masuk ke kawah semburan, kawat baja sling yang digunakan untuk mengerek untaian bola itu terputus. Akibatnya, insersi pertama tak dapat dilanjutkan sesuai rencana.
Pada insersi itu, Timnas berencana memasukkan lima untaian bola beton. Prosesnya, masing-masing untai dimasukkan satu per satu dengan selang waktu sekitar satu jam. “Tapi, karena kawat slingnya putus, kami lanjut besok (hari ini, Red),” kata Rudi.
Walau demikian, lanjut Rudi, tanda-tanda bahwa teknik HDCB itu akan berhasil mulai terlihat. Untaian pertama yang dimasukkan ke kawah lumpur kemarin diperkirakan berhasil mencapai permukaan tanah keras. “Untaian pertama yang kami masukkan ke kawah itu dilengkapi benang ukur dan alat sensor tekanan. Setelah kami ukur, untaian pertama tersebut bisa tenggelam sampai kedalaman 700 meter,” jelas Rudi.
Pada penjelasan tentang metode HDCB sebulan lalu, Timnas mengatakan bahwa keberhasilan teknik itu harus diawali dengan tenggelamnya untaian bola beton ke dasar kawah semburan. Setiap untai terdiri atas dua bola besar dan dua bola kecil. Bola besar masing-masing berdiameter 40 sentimeter. Berat setiap bola berat 40 kilogram. Bola yang kecil, masing-masing berdiameter 20 cm dengan berat 16-17 kilogram.
Jika ditotal, berat setiap untai bola beton tersebut 112-114 kilogram. Sempat dikhawatirkan untaian bola beton itu tak dapat tenggelam ke dasar kawah karena kuatnya tekanan semburan. “Kalau untaian bola beton itu cuma melayang-layang di antara semburan lumpur, harus kami analisis lagi, apakah teknik itu dapat diteruskan atau tidak,” jelas Koordinator Monitoring Bidang Keahlian Sifat Magnetis Sedimen Tim Insersi HDCB Satria Bijaksana.
Satria pernah mengatakan, pelaksanaan teknik senilai Rp 3 miliar itu berpotensi gagal. Potensi kegagalan yang utama, jelas Satria, jika untaian bola beton tidak tenggelam ke dasar kawah. Potensi kegagalan berikutnya, jika untaian bola beton tidak masuk tepat ke lubang kawah lumpur. “Masalahnya, data yang kami miliki sangat minim. Kami belum tahu persis posisi lubang kawah dan besar tekanan semburan,” tuturnya.
Data tersebut, imbuh Satria, baru dapat diperoleh setelah insersi pertama terlaksana. Sebab, dalam insersi pertama itu, salah satu untaian bola beton dilengkapi alat sensor tekanan.
Alat tersebut berfungsi mengetahui posisi HDCB di dalam kawah, serta berfungsi memberikan gambaran tentang geometri dasar kawah. “Kalau tahap itu berhasil dilaksanakan, baru kami masukkan untaian-untaian berikutnya, secara bertahap,” beber Satria. Total HDCB yang akan digunakan 374 untai.
Proses insersi pertama sendiri kemarin nyaris gagal. Sebelum memasukkan untaian bola beton pertama ke dalam kawah, Timnas menyurvei posisi kawah menggunakan sonar.
Peralatan sonar tersebut dipasang pada kawat sling yang dibentangkan antara dua tower crane di tepi barat dan timur kawah lumpur. “Untuk mengetahui posisi kawah, sonar itu digerakkan ke barat dan timur, persis cara kerja scanner,” jelas Rudi.
Timnas memulai tahap survei posisi kawah sekitar pukul 09.00. Namun, sekitar pukul 12.30 proses itu terhenti. Penyebabnya, angin kencang berembus di sekitar kawah lumpur sehingga posisi tower crane labil. “Padahal, proses scanning-nya tinggal sekitar 2 meter. Tapi, kami sudah mengetahui posisi kawah dan bentuknya. Tinggal sedikit penyempurnaan,” kata Rudi.
Sekitar pukul 13.00 embusan angin mereda. Timnas kembali berusaha melanjutkan proses insersi. Namun, datang awan gelap yang disusul hujan deras. Baru sekitar pukul 14.30 cuaca agak bersahabat. “Begitu hujan reda, kami segera memulai proses insersi pertama. Proses itu berakhir sekitar pukul setengah lima sore,” ujar Rudi. (sat)








Februari 25, 2007 pukul 4:17 am |
Kalau bola-bola uniform, maka perbandingan berat (massa):
Bola1 : Bola2 = d1^3 : d2^3 = 8 : 1 ; bukan 40 Kg dan 17 Kg.
Kalau bola yang 40 cm, massanya (m1) 40 Kg, maka
Massa-Jenisnya bola cuma: δb = 6 m1/(pi.d1^3) = 1193,662073 Kg/m3
Dengan asumsi om papang : Massa-Jenis lumpur : δ = 1300 Kg/m3 ; maka bolanya ngambang!
Februari 25, 2007 pukul 4:33 am |
Pak RIrawan, mungkin bolanya berongga,tidak masif/pejal.
Februari 25, 2007 pukul 5:01 am |
Lha om,
diatas dikatakan:
“… potensi kegagalan yang utama, kalau untaian bola beton tidak tenggelam ke dasar kawah …”
Februari 25, 2007 pukul 5:58 am |
Pak R Irawan, kalau di teks berita diatas sih berat total satu untai hanya 112 -114 kg,tapi diberita lain sebelumnya (Tempo,Surabaya net atau Antara ) konon beratnya per untai 300 – 400 kg. Saya kira yang bener 300 – 400 kg. Jadi beton dapat tenggelam. Kan sekarang sudah masuk kedalaman 700 meteran ?
Februari 25, 2007 pukul 6:21 am |
benar om,
sedikitnya saya sudah baca 5 berita bersumber dari pejabat resmi yang data tentang berat ini lain-lain, belum lagi banyak data lainnya. Lha kalau buat hitungan, kan hasilnya ngaco. Nanti dikira hitungannya yang ngawur. Kesel kan?
Februari 25, 2007 pukul 3:43 pm |
BD beton pada umumnya berkisar 2400 Kg/m3
Februari 26, 2007 pukul 12:55 am |
Pak Syahraz, waktu sekolah dulu guru saya bilang yang namanya BD (Berat Djenis) adalah perbandingan berat suatu zat atau materi terhadap berat air dengan volume yang sama. Misal minyak 1 liter beratnya 0,7 kg, sedang air 1 liter beratnya 1kg, sehingga Berat Djenis minyak = 0,7kg/L :1 kg/L = 0,7. Jadi BD ( Berat Djenis) itu besaran bilangan yang tidak berdimensi,semacam angka Reynold, angka Mach dsb. Dalam literatur saya mengenal istilah Specific Grafity dalam N/m3 dengan simbol gamma kecil dan Density dalam Kg/m3 ditulis dengan simbol rho kecil. Dalam blog ini saya sering menjumpai Density ditulis BD dengan satuan kg/m3 (SI unit) bahkan ppg (pound per gallon ?). Jadi BD yang ditulis pak Syahraz saya pahami sebagai Density (densitas/rapat jenis ). Ada yang meng Indonesiakan Spesific Gravity menjadi Berat Jenis (BJ), sedang Gravity diterjemahkan menjadi Densitas atau Rapat Jenis. Melihat satuannya,maka BD yang Bapak maksud saya pahami sebagai Density (Densitas,Rapat Jenis ). Maaf lho Pak Syahraf, pendapat saya ini saya maksudkan agar kita dapat berkomunikasi dengan kesatuan istilah hingga didapatkan kesatuan tafsir dalam setiap pembahasan topik.
Februari 26, 2007 pukul 1:02 am |
Eh , masih kurang.Saya juga paham maksud sebutan Massa Jenis seperti yang dipakai Pak R Irawan untuk menyebut Density/ Densitas atau Rapat Jenis, karena ada dimensinya ( kg/m3).
Februari 26, 2007 pukul 5:01 am |
Kita dikibulin ….. bola betonnya diisi butiran besi ……. pasirnya juga pasir besi …. he … he ….ya tentu saja berat.
Februari 26, 2007 pukul 5:25 am |
Soal dimensi dan satuan sering menimbulkan kerancuan, akibat buku-buku pelajaran di sekolah (Depdikbud) terlambat mengadopsi perubahan atas kesepakatan dunia.
Tetapi seperti dikatakan om papang, dengan melihat satuannya, kita akan paham yang dimaksudkan.
Berdasarkan MKS (system of units):
Density (ρ : rho) : Rapat-Jenis, massa per 1 m3, satuannya Kg/m3
Specific gravity (SG) : perbandingan density suatu zat terhadap air murni pada 4 derC ( ρ = 1000 Kg/m3), tanpa satuan.
Berat = Vektor gaya atau tenaga ke arah pusat bumi = Weight = g . ρ . V
Salam
Februari 26, 2007 pukul 6:09 am |
Terima kasih pak R Irawan, Pak Syahraz saya salah,yang saya maksud bukan Spesific Gravity,tetapi Spesific Weight, berat/m3,simbolnya gamma kecil , satuannya N/m3. Cocok ya dengan rumus pak R Irawan?Jadi BD=BJ=SG gitu ya?
Februari 26, 2007 pukul 6:14 am |
Pak Herman , yang bikin berat itu rantainya,coba ditimbang, kan berat sekali !
Februari 26, 2007 pukul 7:24 am |
Benar om papang,
BD atau BJ dalam pengertian yang tertera dibuku fisika SMA hingga 20 an tahun lalu adalah :
Specific Weight = SG . ρ . g [Kg/(s.m2) = N/m3]
Tetapi besaran ini tidak dianjurkan dipakai dalam hitung fisika, sebab g tergantung pada level lokasinya.
Februari 26, 2007 pukul 7:26 am |
Tambahan:
Dalam hal ini ρ adalah untuk H2O pada 4 derC = 1000 Kg/m3
Februari 28, 2007 pukul 4:13 am |
Biarken mereka menggonggong dan berteori muluk tapi HDCB harus tetap jalan terus. Kasihan nasib puluhan ato bahkan ratusan ribu jiwa yang hidup menderita di barak-barak penampungan yang sumpek dan menyesaken bahkan untuk sekadar melaksanakan “hajatan” lahiriah dan bathiniahpun sudah tidak memadaii lagi, lantas apa masih harus menunggu teori-teori yang terlalu “njlimet” itu …? Keburu “ambles” bung ….. no time too much talking without acting … !!!
Memang di dunia persada ini tidak ada kecap nomer 2 semua kecap nomer 1, tapi kalo hanya bercuap-cuap doang malah “percum-tak-bergun” yang penting adalah action.
So …. tunggu aja hatsil HDCB yang juga punya landasan matematis untuk diterapken membendung emosi LUSI jangan di udal-adul apalagi dicibirken …!
Februari 28, 2007 pukul 3:58 pm |
Pak Dalbo, HDCB itu ibarat pentas seni diatas panggung atau permainan sepak bola dilapangan, kita penontonnya. Kalau pas menyenangkan kita bersorak-sorak bertepuk tangan , kalau pas mengecewakan kita bilang uuuuuuuuu…turun…turun. Kita semua penonton tidak dapat merubah skenario pertunjukan,bisanya komentar.Kebetulan blog pak Rovicky ini yang paling laris dikunjungi( lebih dari 250 ribu) dibanding blog Hot mud flow (tanpa in east Java).Saya suka blog ini karena dapat menambah wawasan ilmu yang sebelumnya tidak saya ketahui melalui komentar-komentar yang di submit dan kebetulan di blog ini kita berjumpa. Saya juga melihat ada yang mengudal-udal,mencibir,mencemooh,meragukan bahkan mengundat-undat katanya di Metro TV bulan Agustus 2006 sistem bola beton sudah diperkenalkan oleh sebuah LSM dikota Nganjuk Jawa Timur. Yang saya tahu dari blok ini adalah bahwa menurut perencananya ( pakar Geofisika ITB).HDCB kalau berhasil hanya mengurangi debit lumpur 50 – 70 %. Jadi kalau sekarang ada 150.000 m3/hari, sesudah ada HDCB diharapkan lumpur yang keluar tinggal 45.000 m3/hari. Jadi masih ada 45.000m3/hari yang harus dibuang. Kalau sisa debit ini tidak dapat dibuang, maka barak penampungan tetap akan dijejali para pengungsi yang menderita lahir dan batin.Bisa dicek komentar-komentar saya sejak awal,sama sekali tidak menolak, bahkan mendukung usaha ini, sebab usaha ini dilakukan dengan pendekatan ilmu non geologi.Saya bahkan menganjurkan Lusi diselesaikan secara MULTIDISIPLIN.Alhamdulilah, sekarang sudah ada gaungnya.(Kunjungi IAGI net ! ). Lha usulan saya apa?. Saya usulkan lubang semburannya ditutup dengan batu-batu kali ukuran 25 -30 Cm dikantongi dengan jala ( jaring ) dengan volume 1- 2 m3 perkantong. Kantong-kantong berisi batu tersebut secara berangsur -angsur dimasukkan kedalam kawah tepat mengenai lubang sembur. Karena kantong berisi batu tersebut fleksibel/dapat berubah bentuk, diharapkan kantong yang pertama diletakkan dapat menutup lubang sembur menyesuaikan bentuk lubangnya (bulat, segi-empat, atau lonjong) kemudian disusul kantong-kantong lain dengan jumlah menyesuaikan bentuk kawah lumpur. Walaupun menutup lubang,namun karena berisi bongkahan batu yang ada rongga-rongga disela-selanya, maka lumpur masih diberi kesempatan untuk melewatinya dengan jumlahnya berkurang banyak. Seiring berjalannya waktu,maka diharapkan ada lumpur mengendap/menempel batu, mengisi celah-celah tersebut,sehingga lama kelamaan terjadi proses kongglomerasi sehingga menutup sama sekali lubang lumpur dan lumpur berhenti menyembur. Walaupun lumpur tersumbat, karena penyumbatannya berjalan secara gradual, maka kemungkinan terjadi shockwave atau water hammer dapat dihindari,sehingga tidak timbul kenaikan tekanan pada saluran (konduit) lumpur yang berpotensi menimbulkan rekahan atau semburan baru ditempat lain. Adapun bahan jala/jaring untuk kantong dapat dipakai tali baja yang biasa dipakai untuk spaner tower antena. Bila jaring nelayan tahan suhu 150 der. C, maka bahan tersebut mungkin dapat digunakan, mengingat ketahanannya terhadap korosi garam air laut sudah diketahui. Metode ini relatif murah dan tanpa perhitungan yang njlimet, karena yang dihadapi adalah sisa tekanan yang ada dipermukaan tanah. Lain halnya HDCB yang ada dikedalaman mungkin lebih dari 1000 meter, hitungannya harus njlimet. Teknologi usulan saya cukup sederhana, seperti membuat bronjong/matras yang fleksibel sekali dan juga tidak usah pakai peralatan canggih seperti sensor tekanan apalagi sonar. Diawur saja mesti bisa menutup lubang, lha wong kawahnya seperti rumah undur-undur. Tetapi yaitu, usulan ini tetap saja sebagai usulan, karena keputusan ada yang diatas sana. Satu keyakinan yang ada pada saya adalah disumbat atau tidak disumbat, semburan lumpur tidak akan terjadi ditempat lain seputar Porong. Kalau toh bisa muncul semburan lain, hal ini sudah terjadi sejak awal. Buktinya semburan-semburan kecil yang timbul tidak menjadi besar, tetapi menjadi hilang dengan sendirinya, karena lumpurnya mengendap menutupi jalan yang dilaluinya. Keyakinan ini menjadi bahan tertawaan para ahli seluruh dunia dan dengan keyakinan tersebut saya tidak malu diberi label kecap no2 atau no 3, sebab saya punya cara berpikir dengan analogi ilmu lain yang saya yakini relevan.
Maret 1, 2007 pukul 11:45 am |
Kita yakin, semuanya bertujuan baik, agar lumpur isecepatnya dihentikan. Tetapi semua konsep berangkat dari 1 keyakinan, bahwa sumbernya ber-tekanan statis (tetap).
Apakah tidak sebaiknya kita meneliti ulang semua tanda-tanda di seputar semburan itu? Antara lain gas H2S yang sangat besar. Darimana gas itu, kecuali dari aktifitas geothermal, hasil reaksi mineraloksida dan air akibat panas diatas 650 derC?
Jika benar geothermal, maka HDCB bakal menaikkan semburan uap air bersama gas H2S. Maka sebaiknya dilakukan pengukuran kadar gas H2S ini setiap hari, karena sifatnya yang berbahaya.
Maret 1, 2007 pukul 11:51 am |
….. tolong dikoreksi:
bukan “mineraloksida”, tetapi seharusnya:
“mineralsulfida” …..
Maret 1, 2007 pukul 12:37 pm |
Pak RIrawan,
Konsep statis bukanlah satu-satunya yang dianut. Sudah beebrapa (mungkin malah kebanyakan geoscientis) berkeyakinan sistem terbuka, yaitu adanya “water incharge” dimana semburan ini hanyalah tempat keluarnya (water discharge) .
Tidak surutnya debit inilah terutama yang sering mendasari pemikiran ini. Palaing tidak, hal-ini seperti yg dipresentasikan dalam simposium tentang MV di BPPPT dua minggu lalu. Sumber panas yang bisa saja sampai 650 tentunya dari kedalaman dibawah 5 ribuan meter (kalau asumsi geothermal grad) yang ada 30deg C/Km. Atau seandainya ada magmatic chamber (dapur magma) yg menjadi dapurnya G Penanggungan.
Statusnya semua masih dugaan, secara ilmiah HARUS dibuktikan dengan pengamatan dan pengukuran. Hal ini yang belum ada (belum dilakukan.
Maret 1, 2007 pukul 5:05 pm |
Dapatkah geothermal menghasilkan tekanan 300 bar sehingga dapat menaikkan lumpur setinggi 3000 meter? Menurut saya perlu beberapa syarat.Diantaranya adalah harus ada ada rongga dimana lumpur panas mempunyai permukaan untuk penguapan air ( evaporation surface ) sehingga dapat menghasilkan uap yang mempunyai tekanan tinggi.Kalau toh ada evaporation surface, tekanan uap jenuh pada critical point hanya 225,65 kg/cm2 (jadi belum sampai 300 bar ) pada suhu 374.15 der.C,sehingga walaupun suhu lebih dari 400 der C ,selama bentuknya masih uap jenuh (saturated steam ),maka tekanannya panced pada 225,65 kg/cm2.Lain halnya bila uap tersebut menjadi superheated steam.Dengan suhu 650 der.C, saturated steam dapat menjadi superheated steam dengan tekanan 300 atm abs ( 300 bar ).Pertanyaannya bagaimanakah proses saturated menjadi superheated steam dikedalaman bumi sana ?
Sebagai gambaran pada konstruksi ketel uap (steam boiler) sebagai hasil teknologi manusia kita dapat mengetahui proses terjadinya air menjadi uap bertekanan tinggi.Pada steam boiler (jenis pipa air ) ada bagian ruang air (waterspace) disebut drum bawah yang penuh berisi air dan dihubungkan dengan pipa-pipa pemanas (penuh air juga ) ke steam space/ruang uap (disebut drum atas) yang berisi air kira -kira setengah tinggi(tidak penuh),sehingga ada permukaan air (evaporation surface) yang memungkinkan air menjadi uap. Agar didapat evaporation surface dengan luas yang maksimal,maka kedua drum dipasang pada posisi horisontal.Air dipompakan kedalam drum bawah (waterspace),kemudian dipanasi dalam pipa-pipa air yang berada ditungku/dapur pemanas.Air panas akan masuk drum atas.Karena di drum atas air panas mempunyai evaporation surface maka terjadilah perubahan bentuk air menjadi uap.Makin tinggi suhunya ,makin tinggi pula tekanannya sampai tercapai critical point sebesar 225,65 kg/cm2.Ada juga jenis steam boiler dengan konstruksi lorong api,misal ketel lokomotif uap dimana air yang dipanasi berada diluar pipa/lorong api,berbeda dengan yang diuraikan diatas,dimana air yang dipanasi berada didalam pipa ( disebut pipa air).Untuk mendapatkan tekanan yang lebih besar maka saturated steam dipanasi lagi menjadi superheated steam dalam instalasi/ruang tersendiri sebelum dipakai sebagai sumber tenaga (misal untuk turbin uap).Sebagai contoh generator listrik yang digerakkan oleh turbin uap dengan tekanan uap 300 bar dan suhu 650 der.C, dapat menghasilkan daya bersih sekitar 120 Mw.
Kembali kepada sumber lumpur panas, pertanyaan yang pertama: adakah rongga yang memungkinkan terbentuknya evaporation surface? Yang kedua: adakah rongga lain yang dapat berfungsi sebagai ruang pemanasan lebih (”superheatasi”)?Dan yang ketiga : bagaimana cara saturated steam dari rongga yang bertekanan 225,65 kg/cm2 masuk/pindah kedalam rongga yang bertekanan 300 kg/cm2 (300 bar).Kalau ketiga pertanyaan itu dapat terjawab semua, maka dapat dipastikan bahwa tekanan 300 bar atau lebih (ada yang memperkirakan 4000 psi) yang mampu mendorong lumpur menyembur diatas adalah disebabkan adanya geothermal atau dapur magma dikedalaman lebih dari 3000 meter. Tetapi bila tidak,maka kemungkinannya adalah karena tekanan hidrostatis dan sedikit geothermal dari gunung yang berhubungan atau adanya batuan entah apa namanya yang membebani sehingga lumpur tertekan dalam jebakan/perangkap.
Kebetulan lapisan batuan yang ada diatasnya dilobangi dengan bor,sehingga lumpur mendapat jalan keluar dari jebakannya. Ini persis kalau kita memencet cemplon hangat,kemudian menusuk dengan sendok garpu hingga gula jawa cair muncrat keluar.Jal … kata orang semarang.
Maret 1, 2007 pukul 5:14 pm |
Oh, terima kasih pakde. Bagus kalau sudah dipikirin. Pendapat geolog, daerah itu bukan areal geothermal, sehingga mestinya berlaku gradasi 17-30 degC/Km. Tapi 420 degC muncul dari hitungan thermodynamic, untuk bisa mendorong lumpur dan panas yang demikian besarnya terus-menerus keluar dari kedalaman 3000 m. Betul, semua masih berstatus dugaan atau hipotesa.
Tapi konsep HDCB kan jelas hanya bertumpu pada asumsi tekanan statis MV. Apa tidak sebaiknya diingatkan, sedikit saja ada unsur magmatic, maka seluruh alur hitungannya berbeda. Dan munculnya gas H2S “dalam jumlah besar” mestinya sudah menjadi tanda adanya reaksi senyawa mineral-belerang dengan air pada temperature ultra tinggi. Hambatan keluarnya lumpur tanpa membungkam sumber energinya, berarti menambah konversi energi menjadi panas, yang ditandai oleh kenaikan gas H2S itu.
Maret 1, 2007 pukul 5:24 pm |
Sangat bagus Om papang, bahwa kita bisa mulai diskusi tentang ini, yang rasanya belum pernah serius dibahas. Tapi maaf kalau salah, sebab saya baru nimbrung ke soal lumpur Lapindo lewat blog ini.
Saya akan mempelajari uraian Om papang yang logis dan dalam ini, lalu coba mengajukan komentar setelah saya paham. Tapi maaf lagi kalau agak lama, sebab besok kebetulan saya berhalangan karena ada tugas lain.
Maret 5, 2007 pukul 8:37 am |
Pak Rovicky,ini saya mencoba membuat simulasi penyumbatan semburan lumpur dengan model analogi hidrolik dan listrik seperti yang pernah saya singgung-singgung dalam beberapa komentar pada topik-topik yang berbeda dihalaman ini. Simulasi model ini berdasarkan asumsi Pertama,bahwa besarnya sisa tekanan ( residual pore pressure) ditentukan hanya oleh diameter lubang bekas bor dikedalaman 3000 meter seperti tertulis dalam well data sheet.
Asumsi yang kedua adalah keluarnya lumpur didorong oleh adanya beda tekanan hidrostatis dengan prinsip bumbung berhubungan,bukan oleh tekanan uap akibat adanya geothermal.
Simulasi ini cukup sederhana dan dapat dilakukan dirumah sebagai bentuk pembelajaran oleh siapa saja yang berminat, tidak perlu dilaboratorium khusus.Ini hanyalah sebuah permainan belaka.
Barangkali yang berwenang dapat memanfaatkannya untuk bahan pengambilan keputusan,…monggo.
Simulasi untuk mengkaji akibat yang timbul bila terjadi penyumbatan semburan lumpur dipermukaan.
Untuk mengkaji akibat penyumbatan pada lubang semburan dibagian atas atau permukaan baik sebagian atau total ( 100 %), dapat dicoba dengan pendekatan secara analogi hidrolik (Hydraulical Analogy ) atau dengan Analogy listrik (Electrical Analogy).Didalam perhitungan dalam mechanical engineering, misal pada system suspensi alat transportasi,sudah biasa dilakukan analogi listrik dengan perhitungan matematik menggunakan Transformasi Laplace (Laplace Transform) berupa analogi dimensi besaran mekanik diubah menjadi besaran listrik.
Uraian dibawah ini mungkin bisa digunakan untuk simulasi penutupan lubang semburan dalam rangka menghentikan semburan lumpur Sidoarjo.
Analogi hidrolik ( Hydraulical Analogy)
Aliran lumpur yang menyembur dari dalam bumi disimulasikan dengan sirkuit hidrolik dengan meggunakan menara air/water tower sebagai sumber tekanan dan rangkaian pipa beserta beberapa kran air sebagai pengatur debit aliran.Apabila hal tersebut dipandang memakan biaya yang relatif besar,maka dengan tanpa mengurangi prinsip percobaan,dengan biaya murah percobaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Dengan meniru cara-cara perawat/paramedis mengatur cairan infus kepada pasien di rumah sakit kita adakan percobaan ini.
Diumpamakan kita punya satu kantong infus diisi air panas dan 5 selang dimana 4 selang diantaranya dilengkapi dengan pengatur tetesan. Kemudian kantong berisi penuh air panas kita gantungkan pada tempat yang lebih tinggi terhadap ujung selang (panjang 1,5 m) yang terpasang padanya.
Ujung selang infus tersebut dihubungkan dengan pipa bercabang 5 (misalnya) dimana satu cabang untuk yang dari kantong sedang pada 4 cabang lainnya dihubungkan pada 4 selang infus yang masing-masing dipasangi pengatur aliran/tetesan yang berfungsi sebagai penentu besar kecilnya restriksi.Selang yang terhubung kantong kita sebut selang PERTAMA (no1).Pada salah satu selang yang kita sebut selang UTAMA (no 2), pengatur alirannya disetel pada posisi KENDOR,sehingga restriksinya kecil sekali dan aliran dapat lancar melaluinya.Sedang pada ketiga selang yang lain (no 3,4 & 5), pengatur disetel pada posisi KENCANG, sehingga restriksi sangat besar yang menyebabkan cairan sulit mengalir melaluinya.Dalam analogi ini selang PERTAMA (no 1 ) yang tanpa pengatur merepresentasikan LUBANG BEKAS BOR pada kedalaman 3000 ,sedang satu selang yang restriksinya sangat kecil sebagai selang UTAMA(no2) merepresentasikan saluran semburan (konduit) lumpur utama,sedang 3 yang lain sebagai gambaran saluran-saluran kecil dimana lumpur atau gelembung gas pernah menembusnya.Pada saat selang yang PERTAMA (no 1) dihubungkan dengan kantong cairan yang digantung seperti uraian diatas, maka pada selang UTAMA(no2) cairan akan mengalir dengan derasnya karena restriksinya kecil,sedang pada 3 selang lain(no3,4,5) yang berestriksi besar, cairan hanya akan menetes.Kondisi ini menggambarkan keadaan dilapangan dimana lumpur menyembur melalui lubang utama dengan debit lebih dari 100.000 m3/hari, sedang pada lubang yang lain hanya timbul gelembung-gelembung uap/gas.
Dalam pelaksanaanya kita melakukan dalam percobaan sbb:
Jalannya Percobaan.
Bila selang UTAMA (no 2) yang punya aliran deras DISUMBAT dengan cara MENGENCANGKAN pengaturnya sehingga aliran MATI,APAKAH mengakibatkan tetesan cairan pada no 3,4,5 akan menjadi aliran yang DERAS (debitnya bertambah)?
Kemungkinan kesatu.
Bila ternyata aliran pada selang no3,4,5 tersebut deras(debitnya bertambah) maka dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa dilapangan akan terjadi semburan baru dengan debit yang lebih besar apabila lubang semburan yang UTAMA disumbat pada permukaannya.
Kemungkinan kedua
Bila ternyata aliran pada selang no3,4,5 tersebut debitnya bertambah, namun apabila jumlah debit ketiganya masih lebih kecil dari debit selang no.1, maka dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa dilapangan akan terjadi semburan baru yang kecil- kecil,dimana kalau dijumlah debit ketiganya masih lebih kecil atau sama dengan debit pada selang UTAMA no.1.ketika belum disumbat.
Hal tersebut dapat dipakai sebagai kajian dilapangan yaitu apabila semburan UTAMA ditutup kemudian timbul banyak semburan baru yang kecil-kecil ditempat lain, maka itu akan mempermudah usaha mematikan semburan daripada mematikan satu semburan yang besar dengan debit yang sama dengan jumlah debit semburan-semburan tersebut,berdasarkan besar gaya sembur(exerted force):
F= gravity X debit X kecepatan sembur.
makin kecil debitnya,makin kecil gaya sembur yang dilawan oleh sumbat.
Kemungkinan Ketiga.
Bila cairan pada selang no3,4,5 tetap hanya keluar menetes saja, maka dilapangan tidak perlu dikhawatirkan muncul semburan baru yang liar.
Catatan: Dengan prosedur seperti diatas, bila dalam percobaan menggunakan menara air dan kran, pada pipa PERTAMA sebaiknya dipasang pengukur tekanan(manometer) dengan range 0 – 1000 mBar untuk mengetahui perubahan tekanan apabila kran UTAMA ditutup.
Untuk lebih meyakinkan atau sebagai kros cek atas kevalidan hasil percobaan dengan model analogi hidrolik tersebut, dapat dilakukan simulasi pembanding dengan model analogi listrik (electrical analogy ) secara berikut:
Analogi Listrik.
Dalam percobaan ini digunakan sumber tegangan dari PLN dengan melalui trafo tanpa stabilizer sehingga dapat dianggap tegangan out put akan dipengaruhi oleh beban yang berupa lampu-lampu listrik yang menyala secara sendiri-sendiri atau bersamaan dalam satu rangkaian sirkuit listrik.Demikian juga besarnya kuat arus dalam suatu percobaan disamping dipengaruhi oleh besarnya resistor dalam sirkuit,juga dipengaruhi oleh perubahan tegangan output trafo,sedang tegangan input trafo dari PLN adalah konstan.
Mirip pada analogi hidrolik,tetapi disini dipakai 4 variable wire-wound resistor berupa dimer lampu yang masing-masing dihubungkan seri dengan bola lampu 100 Watt.Dalam sirkuit ini keempat rangkaian variabel resistor dihubungkan secara paralel kepada trafo pada terminal/tap 200 V dengan lebih dahulu melalui satu Miliampermeter (pengukur arus listrik).
Untuk percobaan ini disamping 4 lampu a’ 100 Watt, juga digunakan trafo berkapasitas 100 Watt agar peka terhadap perubahan beban.Adapun tegangan nominalnya adalah input 220 V dan output 200 V, serta variable resistor digunakan dimer lampu kamar yang biasa digunakan untuk meredupkan cahaya lampu pada kamar hotel atau ruang rawat pasien dirumah sakit.( Dipasaran dikenal sebagai dimer lampu hotel ).
Untuk mengetahui tegangan output dipasang votmeter 0 -250 V dan untuk mengukur kuat arus I = (I1 + I2 + I3 + I4) dipakai miliamper-meter 0 – 1000 mA yang dipasang seri terhadap 4 dimer lampu dari terminal/tap 200V pada trafo..
Adapun percobaannya adalah sebagai berikut:
Jalannya Percobaan.
Dimmer pada lampu UTAMA (no.1) diputar pada posisi maksimum, berarti R1 sangat kecil mendekati 0 dan lampu UTAMA menyala terang (maximum) dengan kuat arus=I1, sedang dimmer no. 2,3,4 diputar pada posisi minimum sehingga nilai resistor ketiganya(R2,R3,R4) menjadi maksimum (sangat besar),yang mengakibatkan lampu yang terseri pada masing-masing dimer tersebut menyala redup (cahayanya minimum) dengan kuat arus: I2,I3 & I4.
Pada posisi ini hampir semua arus melalui lampu UTAMA (no. 1),hanya sebagian kecil melalui ketiga lampu yanglain.Adapun besarnya kuat arus (I1+I2+I3+I4)di tunjukkan oleh mA-meter ( diprediksi sekitar 500 mA pada tegangan 180 V)
Bila lampu UTAMA ( no.1) dimernya diubah menjadi posisi minimum sehingga nilai resistor R1 menjadi maksimum maka lampu L1 redup,berarti I1′ (I1+I2+I3+I4)
Percobaan ini dapat dipakai sebagai kajian dilapangan, yaitu apabila saluran lumpur utama disumbat,berakibat muncul semburan – semburan baru dengan debit Q2′+Q3′+Q4′lebih besar dari Q1,dimana Q1′=0.
Hal ini berarti penyumbatan total lubang UTAMA berpotensi menaikkan tekanan semburan lumpur yang akan menimbulkan semburan-semburan baru ditempat lain yang tidak dikehendaki.
( dlm percobaan ditunjukkan lampu L2,L3,L4 bertambah terang karena kenaikan tegangan output trafo secara signifikan walau posisi dimer tidak diubah)
Kemungkinan Kedua.
Bila ketiga lampu tidak menjadi tambah terang berarti pemadaman lampu UTAMA L1 tidak menaikkan tegangan out trafo secara signifikan sehingga kenaikan kuat arus pada lampu L2,L3,L4 juga tidak signifikan.Hal ini dapat dilihat pada mA-meter yang menunjukkan pengurangan bukan penambahan,sehingga (I1′+I2′+I3′+I4′)
Maret 5, 2007 pukul 8:45 am |
–> Ompapang sebuah “pengandaian/analogi” yang menarik
bisa mengirimkan gambar skema sederhananya ? lewat email japri rovicky di gmail.com
Biar yang lain mudah mengerti
suwun
rdp
Maret 5, 2007 pukul 10:03 am |
Pak Rovicky, kelihatannya bagian bawah kepotong,ini saya lengkapi.Gambarnya nanti menyusul,terimakasih atas perhatiannya.
Kemungkinan Kedua.
Bila ketiga lampu tidak menjadi tambah terang berarti pemadaman lampu UTAMA L1 tidak menaikkan tegangan out trafo secara signifikan sehingga kenaikan kuat arus pada lampu L2,L3,L4 juga tidak signifikan.Hal ini dapat dilihat pada mA-meter yang menunjukkan pengurangan bukan penambahan,sehingga (I1′+I2′+I3′+I4′)
Maret 5, 2007 pukul 10:15 am |
Pak Rovicky, maunya tak tambahi,tapi mungkin ada tanda lebih kecil,jadi oleh komputernya dipotong. Lha ini terusannya yang kepotong karena ada tanda lebih kecil,sekarang tanda tersebut saya ganti dengan kata kata.
(I1′+I2′+I3′+I4′) lebih kecil dari (I1+I2+I3+I4)
Percobaan ini dapat dipakai sebagai kajian dilapangan, yaitu apabila saluran lumpur utama disumbat,namun TIDAK berakibat muncul semburan -semburan baru dengan debit Q2′,Q3′,Q4′ yang signifikan besarnya, berarti penyumbatan lubang UTAMA tidak berpotensi menaikkan tekanan semburan lumpur,sehingga tidak muncul semburan baru yang lebih besar( dlm percobaan ditunjukkan lampu L2,L3,L4 hanya sedikit bertambah terang atau bahkan tidak bertambah terang walau pengukur tegangan menunjukkan adanya kenaikan tegangan output trafo)
Kemungkinan ketiga
Posisi dimer masih tetap seperti semula.Bila Lampu Utama dimatikan dan ketiga lampu L2,L3,L4 menjadi lebih terang cahayanya tetapi tidak mengakibatkan penambahan angka signifikan yang ditunjukkan mA-meter,berarti kejadian penambahan tegangan telah dikompensasi dengan penambahan kuat arus, sehingga tegangan relatip tak berubah secara mencolok.Dalam hal ini (I1′+I2′+I3′+I4′) = (I1+I2+I3+I4)
Percobaan ini dapat dipakai sebagai kajian kejadian dilapangan,yaitu apabila lubang semburan lumpur disumbat, kemungkinan dapat terjadi semburan baru dilain tempat.Namun apabila debitnya dijumlahkan (Q1′+Q2′+Q3′+Q4′) ternyata nilainya tidak lebih besar dari(Q1) yaitu debit yang keluar sebelum disumbat atau dengan kata lain debitnya tetap.(dalam percobaan diatas ditunjukkan TIDAK BERTAMBAHNYA angka pada mA-meter)
Dengan demikian dengan alasan seperti pada analogi hidrolik,akan menjadi harapan bagi kita bahwa apabila setelah disumbat terjadi semburan- baru yang kecil-kecil akan mempermudah kita untuk menutupnya,dibanding menyumbat satu semburan besar, sehingga tujuan menghentikan semburan lumpur tercapai.
Catatan : Bila pengambil keputusan mendapatkan hasil percobaan dari salah satu kemungkinan percobaan diatas dan menjatuhkan pilihan pada menyumbat total lubang semburan lumpur dipermukaannya, maka apabila ternyata mengakibatkan hal yang bertentangan dengan harapan mereka,seperti kemungkinan KESATU percobaan diatas,yaitu timbul semburan liar dengan debit yang jauh lebih besar,maka peristiwa tersebut menunjukkan bahwa semburan lumpur bukan hanya berasal dari lubang bekas bor,tetapi kemungkinan ada lubang lain yang ikut memberikan kontribusinya menyatu dengan lumpur hasil pengeboran.Jadi asumsi bahwa lumpur berasal dari lubang bekas bor dikedalaman 3000 meter yang menjadi dasar percobaan ini tidak sepenuhnya benar.
Maret 5, 2007 pukul 1:56 pm |
Om papang, tentu saja geothermal sangat bisa menghasilkan tekanan tinggi, bahkan lewat 1000 bar sekalipun.
Air pada suhu diantara titik-tiga dan titik-kritis 374.15 derC dapat berwujud UAP-JENUH maupun CAIR secara bersama-sama. Tetapi pada suhu diatas titik-kritis atau disebut super-kritis, air hanya dapat berupa GAS, bukan uap-jenuh dan selanjutnya berlaku hukum-hukum gas-ideal. pada daerah super-kritis ini gas air mampu menghimpun enthalpy yang sangat besar, akibat koeffisien specific-heat yang besar pada tekanan sangat tinggi.
Ketel uap berbeda dengan geothermal. Ketel uap umumnya selalu bekerja pada daerah uap-jenuh, dus di bawah titik kritis, Hanya sedikit pembangkit listrik tenaga uap yang bekerja dengan suhu di daerah super kritis.
Di dapur magma dengan suhu diatas 650 derC, gugus fluida yang menyentuhnya dapat langsung menjadi gas. Jika air, maka terjadilah uap air. Jika uap air itu ditahan expansi volumenya oleh tekanan statis lumpur setinggi 3000 m (400 bar pada ρ = 1333 Kg/m³), maka uap itu langsung menjadi gas air super kritis, yang terus menghimpun enthalpy dengan terus menaikkan tekanannya, hingga dapat mengalahkan tekanan statis yang menghambat expansi volumenya.
Menurut saya, tidak mungkin sumber energi lumpur Lapindo itu lain daripada geothermal, melihat 3 tanda-tanda utama; 1: sumber yang non-stop diatas 100 MW selama 9 bulan lebih, 2: keluarnya uap yang sangat panas setelah konduksi dan konveksi melalui lorong sepanjang 3000 m, dan 3: keluarnya gas H2S dalam jumlah besar.
Maret 5, 2007 pukul 3:48 pm |
Konsep HDCB atau untaian bola beton, yang memakai logika drum filter koral/pasir, sesungguhnya sudah didasarkan pada perhitungan hidrodinamika yang cerdas dan sahih (legitimated). Pencemplungan bola-bola beton itu pasti berhasil mengurangi debit semburan, yang dibuktikan melalui hasil hitungan numerik di komputer, asalkan asumsi atau perkiraan dasar yang dipakainya adalah benar, yakni sumber energi di kedalaman 3000 m (atau berapapun aktualnya) adalah HIDROSTATIS!
Namun, seandainya sumbernya adalah geothermal, maka HDCB akan gagal (dan semoga tidak), sebab sumber energi (100 Mw lebih) masih terus diproduksi dan menjadi tekanan yang makin kuat. Ciri-ciri adanya geothermal, setelah penceburan ratusan untai bola beton: A) debit keluaran lumpur tidak berkurang {kalaupun sedikit mengecil sesaat akibat hambatan aliran, dalam jangka panjang makin besar akibat erosi dinding lubang oleh derasnya arus}, B) kadar gas H2S naik akibat makin banyaknya air yang berreaksi dengan senyawa belerang & mineral dalam magma, dan C) muncul semburan-semburan lain akibat makin besarnya tekanan.
Energi geothermal hanya bisa berkurang atau berhenti, jika supply airnya berkurang atau berhenti.
Maret 5, 2007 pukul 5:38 pm |
Wah, Pak R Irawan,ini ramai ya, kita masuk ke ranah termodinamika.Terus terang saya belum baca teorinya lagi tentang perubahan fase cair menjadi gas dariH2O.
Pada teknologi ketel kan jelas,disitu ada sumber panas (dapur api), ada bejana yang
berisi air tapi hanya setengah tinggi,sehingga mempunyai permukaan untuk proses penguapan,ada pompa yang memasukkan air (recharge) kedalam bejana yang bertekanan tinggi.(mestinya tekanan pompa lebih tinggi dari tekanan dalam bejana). Nah,kalau 3000 meter didalam bumi sana kan sudah saya tanyakan,bagaimana
caranya memasukkan uap jenuh keruang superheater (kalau ada).Kalau di ketel kan jelas ada,pakai pompa.Kalau didalam sana untuk me recharge air kan tidak ada
pompa alam yang bisa melawan tekanan air super kritis.Itu baru dari sisi mekanisnya.
Pada sisi termodinamikanya,dari tabel uap kita dapat melihat pada suhu 600 der.C,tekanan 300kg/cm2,enthalpi h= 824,1 kal/kg.
Sekarang kita anggap teori bapak BENAR.Dalam topik yang lain kita sudah memperkirakan daya yang mendorong lumpur kepermukaan dari kedalaman 3000 meter adalah sekitar 100 Mw atau 24 juta kalori/detik.Daya ini berarti akan MEMBUTUHKAN uap pada tekanan 300 kg/cm2 sebanyak =
24.000.000. kal/det : 824,1 kal/kg = 29122,68 kg/detik uap superheater/gas air superkritis.Dengan demikian berarti harus ada recharge air untuk dijadikad uap sebanyak 29122,68 kg/detik atau kira-kira 29 m3/detik.Kalau dihitung perhari kan menjadi 2.505.600 m3/hari.Padahal debit lumpur yang mengandung 70 % air, hanya 120 -150 m3/hari.Kalau teori pak R Irawan benar dan hitungan saya juga betul,kemana larinya uap atau air 2.505.450 m3/hari itu ? Kalau hitungan saya betul berarti teori pak R Irawan kan masih dapat disanggah.
Maret 5, 2007 pukul 5:46 pm |
tambahan sedikit, kalau teori saya :yang mendorong lumpur 3000 m keatas adalah perbedaan tekanan hidrostatis dan SEDIKIT geothermal seperti telah saya uraikan dikomentar terdahulu, sehingga sampai dipermukaan bersuhu 100 – 120 der C serta mengandung sedikit uap dan berbau gas H2S.
Maret 6, 2007 pukul 12:37 am |
mohon maaf ,ada kekeliruan,tak koreksi lagi menjadi :” kemana larinya uap atau air sebanyak 2.505.600 m3/hari – 150.000 m3/hari =2.155.600 m3/hari itu ?”
Maret 6, 2007 pukul 12:44 am |
semprul,keliru maning, maksudnya 2.355.600 (dua juta tigaratus limapuluh lima ribu enam ratus ) m3/hari. mBok mau tak bulatno dadek 2,5 juta, gampamg nulise.
Maret 6, 2007 pukul 1:52 am |
salahe jebule ndok 120.000 – 150.000 m3/hari ditulis 120 – 150 m3/hari. uuuuuu
Maret 6, 2007 pukul 12:39 pm |
Betul om papang, kita terpaksa masuk ke termodinamika. Mungkin yang membingungkan adalah perbandingan ke istilah ketel (boiler). Padahal H2O dalam keadaan superkritis tidak ada yang menguap (to boil, from liquid to vapour phase) sebab langsung masuk ke phase gas-ideal, sehingga lebih cocok menyamakannya dengan Supercritical Water Reactor, yang dipergunakan pada pembangkit listrik ber-efisiensi tinggi atau PLTN. Gas air dengan kecepatan tinggi bergerak melalui rongga-rongga terowongan yang terhubung dengan sumber air, sehingga terjadi effek self-recharge atau air terhisap masuk ke dapur reaktor magma (bandingkan dengan spray-cat, udara yang bergerak dengan kecepatan tinggi menimbulkan vakum pada pipa cabang, yang menghisap cat dari kaleng dibawahnya).
Suhu gas air di bawah diperkirakan sekitar 420 derC (693 derK). Sedangkan tekanannya sekitar 500 bar. Jika kita pakai penyederhanaan logika termodinamika seperti yang om papang rintis, maka berlaku:
dh = dU + P.dV ; jika perubahan internal energi diabaikan: dU ≈ 0 , maka
100 Mw = 500 bar . dV
100 . 10^6 Nm/s = 500 . 10^5 N/m² . dV
Besarnya recharge air ke dapur magma: Q = dV = 2 m³/s = 172.800 m³/hari. Air itu selain ikut keluar bersama lumpur yang sekitar 150.000 m³/hari, juga keluar berbentuk uap dan sebagian menerobos masuk ke dalam lapisan-lapisan mata air sepanjang lorong vertikal 3000 m.
Tentang HDCB, jika memang benar sumbernya geothermal, maka prediksi terbaiknya adalah: “tidak terjadi apa-apa”, sebab bola-bola itu langsung masuk ke reaktor dan hancur pada suku 420 derC 500 bar. Namun jika bola-bola itu sempat mampir-mampir sebelumnya, maka effeknya erosi dinding lubang, yang akan memperbesar debit semburan lumpur.
Maret 6, 2007 pukul 3:28 pm |
Pak R Irawan,menurut pemahaman saya,rumus dh=dU + p dV berlaku untuk gas termasuk uap superheated yang punya sifat compressible. Karena itu juga punya sifat
ertama
ari mana tekanan tetap 500 Bar didapatkan sehingga dapat dipakai dalam proses (isobarik) selama berlangsungnya aliran
dapat ekspansi/menimbulkan Usaha (bertambah volumenya).Sedang air termasuk tidak termasuk compressible, tetapi incompressible.Dengan mengabaikan modulus
elastisitas,maka air tidak dapat mengecil volumenya,sebaliknya ia juga tidak dapat
berekspansi.Pada hitungan Bapak,dianggap proses isobarik (tekanan konstan=500 Bar) sehingga energi atau Usaha = tekanan X Volume.Menurut saya perubahan Volume ( dV) disini adalah perubahan volume gas(uap),sebab air tidak akan dapat
berubah volumenya melainkan tetap.Dari tabel uap pada suhu 420 der.C dan tekanan 500 kg/cm2, spesific volumenya =0,00196 m3/kg.Jadi berat uap dengan volume dV= 0,00196 X 2 =0,00392 kg.Berarti tambahan air untuk dijadikan uap HANYA 0,00392 kg/detik untuk Daya 100 Mw dan tekanan 500 Bar.
Pertanyaanya adalah
lumpur keatas yang mampu melawan tekanan kolom lumpur setinggi 3000 meter.
Kedua :Bila dalam bentuk air 2 m3, bagaimana gambar diagram p-V nya?
Saya jawab sendiri:
Jawaban Pertama : Tekanan 500 bar didapat dari tekanan HIDROSTATIS dengan prinsip bumbung berhubungan dari tempat yang jauh lebih tinggi disekitar Porong.
Jawaban Kedua : Bila dV bentuknya air, maka tidak dapat digambar diagram p-V nya.
Bila dV berupa uap baru bisa digambar diagram p-V nya,sehingga dapat mencerminkan Usaha atau Energi 100 juta Nm.(Luasan yang dibatasi harga p & V dalam diagram menunjukkan Usaha/detik )
Kalau jawaban saya tersebut betul,berarti pendapat saya mengenai penyebab lumpur
menyembur keatas adalah HIDROSTATIS ditambah sedikit geothermal adalah benar.
Kalau pak RIrawan menjawab bagaimana?
Maret 6, 2007 pukul 5:12 pm |
tambahan: Sebagai perbandingan di Bledug Kuwu semburan lumpur terjadi terputus putus tidak kontinyu, hal ini karena proses yang terjadi adalah lebih banyak atau seluruhnya oleh geothermal. Dalam hal ini terputus-putusnya dengan periode tertentu adalah disebabkan proses pembentukan uap yang kemudian dalam perjalanan waktu bertambah tekanannya sampai mampu mendorong lumpur keatas. Setelah sampai kepermukaan gelembung lumpur yang berisi uap kemudian pecah menimbulkan bunyi bledug-bledug.Karena itu dinamakan bledug kuwu (letaknya didesa Kuwu ?). Proses pemanasan oleh geothermal yang lain adalah geyser,yang muncratnya juga terputus putus dengan periode tertentu. Jadi kalau alirannya kontinyu, disertai gelembung lumpur yang pecah dipermukaan kemungkinannya adalah karena hidrostatis ditambah sedikit geotermal.Persis aliran kran air panas dikamar mandi yang dipanasi dengan heater /pemanas air. Kalau hanya geotermal, keluarnya gelembung seperti pada perahu mainan anak yang pakai api,bunyinya klothok…klothok dengan frekwensi tergantung besar kecilnya api.
Maret 6, 2007 pukul 5:28 pm |
tambahan: Sebagai perbandingan di Bledug Kuwu semburan lumpur terjadi terputus putus tidak kontinyu, hal ini karena proses yang terjadi adalah lebih banyak atau seluruhnya oleh geothermal. Dalam hal ini terputus-putusnya dengan periode tertentu adalah disebabkan proses pembentukan uap yang kemudian dalam perjalanan waktu bertambah tekanannya sampai mampu mendorong lumpur keatas. Setelah sampai kepermukaan gelembung lumpur yang berisi uap kemudian pecah menimbulkan bunyi bledug-bledug.Karena itu dinamakan bledug kuwu (letaknya didesa Kuwu ?). Proses pemanasan oleh geothermal yang lain adalah geyser,yang muncratnya juga terputus putus dengan periode tertentu. Jadi kalau alirannya kontinyu, disertai gelembung lumpur yang pecah dipermukaan kemungkinannya adalah karena hidrostatis ditambah sedikit geotermal.Persis aliran kran air panas dikamar mandi yang dipanasi dengan heater /pemanas air. Kalau hanya geotermal, keluarnya gelembung seperti pada perahu mainan anak yang pakai api,bunyinya klothok…klothok dengan frekwensi tergantung besar kecilnya api.
Karena tambahan air hanya 0,00393 kg /detik = 0,00393 liter /detik maka dapat dikatakan tidak ada tambahan ( recharge ) air. Lumpur yang keluar hanyalah dari reservoir yang terjebak oleh lapisan batuan. Dan geothermal tidak berpotensi membangkitakan tekanan sampai dapat mendorong lumpur menyembur keluar dari kedalaman 3000 m,melainkan hanya menaikkan temperatur sampai 120 der C.
Maret 7, 2007 pukul 12:26 am |
Om papang, pak Irawan,
Apapun sumber energy itu (baik hydrostatic, geothermal, gabungan ato dll), secara konsep (menurut saya), metoda HDCB tdk akan berakibat fatal seperti yg pak Irawan uraikan di pesan2 sebelumnya. Hanya efektifitas-nya (dan biaya yg dikeluarkan) yg saya ragukan.
Mengapa?
Secara basic, bila setahun yg lalu Lapindo melakukan prosedur yg benar (good standard practice) dlm pengeboran sumur ini (dengan bekal informasi yg sama hingga saat ini ttg kandungan gas di lapangan), memasang casing dan pengadaan BOPS (Blowout preventer), etc, niscaya bencana ini dpt dicegah. Detailnya pak Rovicky mungkin lbh berkompeten berbagi cerita dibanding saya yg bukan org perminyakan. Tp idenya, saya yakin spt “nge-plug” lobang yg kecil (casing ID) dgn pressure yg equivalent (ato lbh besar) dgn upward pressure.
Dengan basic di atas dan kenyataan bahwa lubang/kawah sumur mencapai 50m (?), spt banyak ilmuwan seantero dunia yg mengatakan, bahwa LUSI secara praktis sangat amat sangat sulit diredam dan lumpur ini berpotensi utk terus mengalir sampai tercapai keseimbangan pressure di dalam sana dgn di atas.
Pak Irawan mungkin lbh bisa mengemukakan dgn gamblang teori2 hidrolik dan termodinamika utk mendukung hipotesa diatas dibanding saya yg udah hampir lupa rumus2nya. Tp secara singkat, analogi menghentikan lumpur (red:menyumbat sumur) adalah meredam energy fluida/produk yg mengalir dr perut bumi dan menyeimbangkan tekanan di permukaan.
Kembali ke HDBC, metoda ini (lagi, menurut saya) hanya meredam energy tanpa melakukan usaha utk menyeimbangkan tekanan. Kecuali, timnas bertujuan utk memasukan ribuan untaian bola, yg saya yakin ini tdk pernah sampai dibenak mrk.
Jd, menurut saya rasa takut pak irawan terlalu berlebihan, krn bola2 ini tdk akan sampai menyumbat dan mengakibatkan build-up pressure.
Yg dpt saya sumbangkan, cara lain bila timnas mentok dgn HDBC, ide serupa dgn pak syahraz tapi berbeda prinsip, yaitu dengan memperbaiki (sebisanya) kondisi tanah di lubang/kawah semburan/sekitarnya dengan rock dumping selayaknya membangun fondasi massive breakwater ataupun artificial island spt yg dilakukan di alaska. Metoda ini jg tdk murah, membutuhkan banyak batu berbagai ukuran/berat dan waktu yg panjang, tp paling tdk secara infrastuktur dan jangka panjang, metoda ini akan membuahkan keuntungan bagi ex-penduduk porong/sidoarjo yg terkena bencana.
Rock dumping dpt terus dilakukan sampai batuan2 ini dpt meredam energy dr dasar bumi sampai satu saat terjadi keseimbangan tekanan dr berat batuan/rock/gravel dgn berbagai ukuran diatas.
Akhir kata, saya cmn bisa mendukung setiap usaha tulus yg dilakukan utk menghentikan bencana ini dan percaya bahwa manusia diciptakan utk menaklukan bumi… badai pasti akan berlalu.
salam,
Bobby
Maret 7, 2007 pukul 1:57 am |
pak Bobby, saya setuju dengan ide Bapak,sebab ini senafas dengan usulan saya yang telah saya tulis diatas sebagai tanggapan atas tulisan pak Dalbo pada topik ini.Mohon dibandingkan,mungkin bedanya pada teknis pelaksanaan dilapangan.
Maret 7, 2007 pukul 5:48 am |
Benar om papang, dh = dU + p.dV adalah “ideal-gas law”, saya pakai untuk air di atas titik-kritis 374.15 derC, sehingga senantiasa gas, berapapun tekanannya.
Saat ini terjadi thermodynamic mechanical equilibrium, yaitu isobarik seperti disebutkan oleh om papang, yakni hibah dari sumber energi panas abadi menjadi tekanan yang konstan untuk melawan:
a) Tinggi lumpur 3000 m: p1 = ρ . g . H = 1333 Kg/m³ x 9,80665 m/s² x 3000 m = 392,168 bar.
b) Rugi-geser aliran: p2 = ½ . λ . ρ . u2 . H/d = ½ x 0,075124 x 1333 Kg/m³ x (3,80695 m/s)² x 3000 m / 0,762 m = 28,569 bar. (Koefisien geser diperoleh dari formula Moody, dengan asumsi viskositas lumpur 100 cStk dan kontur kekasaran lubang k/d = 0,1).
c) Kesetaraan kualitatif energi yang keluar berupa uap, lumpur-panas, konduksi, konveksi dan kondensasi: p3 ≈ 80 bar.
Maka reaktor gas H2O superkritis di bawah sana bekerja dengan tekanan konstan (isobarik) sebesar: Σp ≈ 392 bar + 28,569 bar + 80 bar ≈ 501,737 bar.
Om papang juga benar, spesific volume GAS H2O (bukan air dalam liquid phase) pada 420 derC dan 500 bar adalah: kv = 0,00196 m³/Kg. Tetapi tambahan air adalah dV/dt = 2 m³/detik yang di recharge ke reaktor untuk dijadikan gas H2O, sehingga berat gas H2O yang diproduksi oleh reaktor untuk mendorong lumpur naik keatas: dW/dt = dV/dt : kv = 2 m³/detik : 0,00196 m³/Kg = 1020,408 Kg/detik.
Sementara ini dulu om papang. Yang lain akan saya komentari berikutnya.
Maret 7, 2007 pukul 6:59 am |
Diatas ini saya mengikuti alur penjelasan om papang agar mudah dipahami. Namun yang benar sbb: debit air 2 m³/detik yang direcharge ke dapur magma dimengerti sebagai air dalam kondisi normal dengan rapat-jenis: ρ1(air-normal) 1000 Kg/m³.
Sedangkan spesific-volume: kv = 0,00196 m³/Kg yang disebutkan om papang adalah kebalikan dari rapat-jenis : ρ2(gas H2O pada 420 derC 500 bar) = 1 / kv = 1 : 0,00196 m³/Kg = 510,204 Kg/m³.
Sehingga debit air (normal) 2 m³/detik (dW/dt = 2000 Kg/detik) yang masuk ke dapur-magma itu segera diubah menjadi gas-H2O 420 derC 500 bar dengan debit: dV/dt = dW/dt : ρ2 = 2000 Kg/detik : 510,204 Kg/m³ = 3,92 m³/detik. Jika lubang lorong tetap 30 inches, maka gas-H2O naik dengan kecepatan: u2 = 8.595799 m/detik
Maret 7, 2007 pukul 7:45 am |
Tanggapan saya atas pertanyaan om papang:
Pertama: Darimana tekanan tetap 500 bar didapatkan? Proses termodinamika. Air 2 m³/detik (liquid) masuk ke dapur-magma, langsung terkonversikan menjadi gas-H2O (420 derC 500 bar) dengan debit 3,92 m³/detik, yang meluncur dengan kecepatan 8.595799 m/detik naik keatas, sambil menarik dan mendorong lumpur nyembur keatas.
Kedua: Bagaimana diagram p-V nya? Persis sama seperti ideal-gas, berlaku: P.V = n.R.T
R: universal gas constant (8,314 J/mol.K).
Maret 7, 2007 pukul 8:04 am |
Bleduk Kuwu mungkin adalah microsystem dari geothermal juga, sebab ada daerah yang temperaturnya naik 50 derC tiap Km kedalaman, tetapi yang terjadi hanya uap jenuh dalam jumlah kecil. Sangat berbeda dengan kasus lumpur Lapindo, yang merupakan Water-Reactor dengan sumber energi abadi berupa magma dengan suhu diatas 650 derC, yang langsung memampatkan energi dalam arus kuat gas-H2O 500 bar, yang meluncur naik keatas dengan kecepatan 8.595799 m/detik.
Bandingkan dengan Pembangkit Listrik Geothermal di Wayang Windu (Bandung Selatan), yang memasukkan air ke lubang hingga menyentuh magma untuk bisa memperoleh uap panas, yang mensupply listrik 120 Mw. Proses dan besarannya hampir mirip, kan?
Maret 7, 2007 pukul 9:06 am |
Pak R Irawan,wah kita berpetualang,dari geosain ke hidrodinamika,lalu termodinamika,sekarang masuk ke ranah heat transfer.Setelah 9 bulan,lumpur panas yang mengalir dalam saluran/konduit boleh dikata tidak mentransfer panas kedinding saluran sebagai proses force convection dikarenakan sudah terjadi keseimbangn suhu antara lumpur dan dinding,sehingga dapat diperkirakan dari kedalaman 3000 meter lumpur selalu bersinggungan dengan dinding yang suhunya sama dengan lumpur tersebut.
Pada kenyataannya suhu lumpur dipermukaan 100 – 120 der C.
Sedang suhu dibawah sana menurut pak RIrawan 650 der C.Jadi penurunan suhu antara 530 – 550 der.C.
Kecepatan meluncur keatas 8,595799 m/det (wah kaya no telepon).Jadi waktu tempuh kepermukaan = 3000 m : 5,6 m/det = 535,7 detik = 8,93 menit.
Pertanyaannya adalah dapatkah dalam 8,93 menit lumpur yang suhunya 650 der C turun menjadi 120 der.C tanpa melepaskan panas kedinding saluran sepanjang perjalannya ?
Sebagai perbandingan, pada erupsi G.Merapi tahun 1984, batu yang berasal dari magma berdiameter sekitar 80 cm,yang terbawa air sampai Jurang Jero ( 4km dari puncak) setelah kena hujan selama 2 bulan atau 60 hari, kalau disentuh masih terasa panas, dituangi air dingin segera menjadi uap.Diperkirakan suhu antara 80 – 90 der C.Hal ini nyata karena saya sendiri yang mengalaminya bukan orang lain.
Perbandingan lain,kita tidak akan menyantap pisang goreng yang baru 10 menit turun dari penggorengan atau buru-buru menyruput kopi panas yang 10 menit yang lalu dihidangkan.
Soal Pembangkit Listrik di Wayang Windu,ada yang tidak mirip,yaitu cara masuk air kelubang dekat magma, disana tentu menggunakan POMPA AIR seperti pada ketel uap.
Maret 7, 2007 pukul 9:19 am |
Begini pak Bobby, menurut saya penting dipastikan dulu, apakah sumbernya hidrostatis atau hidrotermal. Hidrostatispun tidak boleh dari subduksi tektonik, yang karakteristiknya bukan statis.
Kalau hidrostatis, HDCB pasti berhasil!
Dengan asumsi ITB: Ǿ lubang 30 inches (0,762 m), ke 375 untai bola beton bakal mengurangi debit lumpur 61%, yakni dari 150000 m³/hari menjadi 58.392 m3/hari. Kalaupun Ǿ lubangnya 2 m: lumpurnya berkurang 25% (112834 m³/hari), kalau 3 m: 13% (130.125 m³/hari). Pendeknya, pasti berhasil!
Kalau hidrotermal?
Sudah sering saya kemukakan, yang tidak bakal saya beberkan kalau tidak ada hitungan yang mendukungnya. Apalagi yang prediksinya negatif, pasti banyak yang tidak suka.
Namun, apakah sebaiknya saya tetap tidak perlu mengutarakannya manakala hitungannya menyatakan negatif, dan hanya memaparkan yang baik-baik saja, sesuai harapan masyarakat? Apakah memang prediksi negatif itu lebih banyak dampak buruknya, betapapun kuat hitungan yang mendasarinya?
Gampang sih kalau saya ikutan: “… semoga sukses, kita doakan bersama …”
Maret 7, 2007 pukul 11:51 am |
Wah om papang, saya coba agak gamblang seperti diminta oleh pak Bobby, meskipun saya tidak pandai dalam hal ini. Gak keberatan kan, saya ajak ke rana meteorologi? Kenapa di Jakarta panasnya 33 C, kalau di Puncak 22 C, di Semeru -10 C, di Himalaya -50 C, meskipun sama-sama saat cuaca cerah? Itu dijelaskan oleh hukum pertama termodinamika: suhu udara naik jika tekanan naik dan sebaliknya. Awan atau kantong udara panas 38 C dari Sidoarjo, yang disundul naik seketika hingga mencapai tinggi setara puncak Semeru, akan seketika jadi dingin sampai dibawah nol derC, sebab volumenya melar akibat tekanan diatas kecil. Dan sama sekali bukan karena pengaruh suhu lingkungan, sebab prosesnya kan seketika, jadi bersifat adiabatik (tanpa perpindahan panas dari lingkungan).
Hitung-hitungannya gampang kog, sehingga orang sekarang bisa melakukan ramalan cuaca.
Maka tidaklah aneh, bukan? Jika gas-H2O di kedalaman 3000 m yang suhunya 420 derC karena tekanannya 500 bar, setelah sampai di permukaan menurut om papang suhunya tinggal 100-120 derC. Itu karena tekanan diatas cuma sekitar 0 bar.
Selain itu, daya serap kolori oleh lapisan bumi sepanjang 3000 m sebetulnya juga besar, yang ikut mendinginkan lumpur+uap yang keluar. Di kedalaman -120 m suhu bumi cuma sekitar 15 derC (perturbed zone). Begitu pula rongga-rongga sungai bawah tanah, banyak yang dimasuki oleh lumpur dan uap bertekanan tinggi, yang bisa diketahui dari adanya pencemaran air tanah di daerah itu.
Diatas saya bilang, gas-H2O melejit dengan kecepatan-awal sedikitnya 8,595799 m/detik. Gas panas itu lalu menghibahkan panasnya kepada lumpur-lumpur yang diajaknya ikut tamasya ke atas, seraya menghadiahkan pula kalor kepada tanah-tanah di sepanjang jalan, dan sebagian malah mencar belok ke gang-gang sungai bawah tanah. Akibatnya stamina gas-H2O itu anjlok. Gas-H2O menjadi demam memasuki suhu di bawah titik-kritis, sehingga lemas dan sebagian jatuh (collapse) mengembun menjadi cairan.
Tapi angka 5,6 m/det dari mana, om?
Tentu saja ada pompa alam yang memasukkan air 2 m³/detik ke dapur magma di bawah lumpur Lapindo. Samalah kayak Wayang Windu. Cuma agak repot menjelaskannya tanpa gambar. Tapi coba amati kerjanya alat semprot obat nyamuk jaman dulu atau spray cat pakai angin. Mirip kog!
Maret 7, 2007 pukul 3:15 pm |
pembetulan tentang waktu tempuh lumpur dari 3000 m ke permukaan : yang benar bukan 5,6 tapi 8,6 m/det sebagai hasil pembulatan 8,595799 m/det.. Jadi waktu tempuh = t = 3000 meter : 8,6 m/det = 378,8 detik=5,8 detik. yang lain selanjutnya menyesuaikan dengan pembetulan tersebut.
Maret 7, 2007 pukul 3:56 pm |
O, tapi 8,6 m/det itu adalah kecepatan awal gas-H2O segar ketika baru keluar dari dapur magma, yang melejit naik lewat lubang 30 inci (perkiraan ITB). Dalam perjalanan naik 3000 m itu, sebagian besar sudah mengembun dan keluar bersama-sama lumpur dengan kecepatan total sekitar 3,8 m/det, ketika menjelang sampai ke permukaan (asumsi lubang tetap 30 inci). Selain itu ada pula air yang nyasar meresap ke samping, atau masuk ke alur sungai-sungai bawah tanah.
Maret 7, 2007 pukul 4:19 pm |
Sebelum menanggapi pak RIrawan, saya mau tanya pak dhe Rovicky dulu, kalau lumpur atau semen dipompakan kedalam lubang sumur ,kemudian ada yang bocor kesamping
itu kan namanya loss, kalau debitnya mendapat tambahan dari samping sumur itu kan namanya gain, lha kalau lumpurnya dari bawah naik keatas lalu sebagian bocor kesamping, apakah juga dinamakan loss, wong kita tidak rugi atau kehilangan,bahkan untung debit yang keluar telah dikurangi ? Gimana pak Dhe menurut ilmu pengeboran?
Maret 7, 2007 pukul 4:56 pm |
Sambil nunggu jawaban dari pak dhe, yang tadi saya terusin sedikit.
Pertanyaan dasar om papang sangat benar, mana mungkin perjalanan 3000 m selama 5,8 menit atau 15 menit sekalipiun akan mampu menurunkan panas dari 420 C menjadi 120 C?
Benar, konduksi atau serapan panas oleh dinding lubang, hitungannya menunjukkan: sangat kecil.
Tetapi, gas-H2O dengan enthalpy sangat besar itu memberikan energi kinetisnya kepada massa lumpur, lalu mengalami expansi volume sebab makin tinggi tekanan geodatik makin berkurang, sehingga suhunya turun drastis. Jika kita buat hitungan termodinamikanya, ternyata hasilnya sangat cocok dengan apa yang kita temui di lapangan.
Maret 8, 2007 pukul 1:01 am |
–> Ompapang
Kondisi itu disebut loss-gain … coba baca tulisan lama disini :
http://hotmudflow.wordpress.com/yang-sering-dibaca/
http://rovicky.wordpress.com/2006/06/22/apa-itu-undergroud-blowout/
Ompapang dan RIrawan,
Cobalan anda hitung … apakah mungkin dengan lubang 30 inci menghasilkan flowrates hingga 150 mkubik sehari ?
Sebagai gambaran vertikal (tebal) sumber air ini tidak lebih dari 300 meter. Berapa permeabilitas yg diperlukan. 1 Darcy itu sudah seperti pipa, padahal dibawah itu batupasir yang permeabilitasnya tidak seperti pipa looh ….
Maret 9, 2007 pukul 10:17 am |
Terima kasih pak Rovicky.
Wah saya mesti belajar lagi ground water flow atau hidrodinamika geologi, yang saya ingat sih hanya rumus Darcy, debit = konduktifitas X beda tekanan mirip rumus Ohm pada listrik,kuat arus=beda potensial/tahanan atau I = E/R.
Untuk konduktifitas pada aquifer tergantung jenis batuan/ tanah pembentuknya yang berbeda-beda,ada yang berpori besar ada yang kecil,ada batuan pecah,ada tanah pasir ada kerikil(gravel).Jadi harus belajar lagi ground water flow.
Untuk pak RIrawan,kita kembali kediskusi kita.
Mengenai geothermal ada beda pendapat antara saya dengan Bapak.Saya menghitung tambahan air hanya 0,00392 kg/det = 0,00392 lt/det = 0,00000392 m3/det =0,339 m3/hari.Sangat kecil sekali.
Bapak menghitung tambahan air = 2 m3/det =172800 m3/hari, yang kemudian naik menjadi 3,92 m3/det,jauh diatas perhitungan saya.
Sebelum kehitung-hitungan sekarang dari Suralaya kita turun ke Marcapada,kita kembali ke Fisika Dasar.
Kita mengenal 3 jenis benda,yaitu padat,cair dan gas.
Sifat-sifat benda :
-Bentuk benda padat pada umumnya tidak mengikuti bentuk ruang yang ditempatinya.Untuk benda padat tertentu misal tanah, masih ada pembagian lagi yaitu bentuk padatan (compacted) dan mawur/curah (loose).
-Benda padat bentuk curah mengikuti bentuk ruang yang ditempatinya.
-Benda cair selalu mengikuti bentuk ruang yang ditempatinya,tetapi tidak menyesuaikan dengan besar volume ruang yang ditempatinya.
-Benda gas,mengikuti bentuk ruang yang ditempatinya dan juga mengikuti besar volume yang ditempatinya.
Karena itu pada benda padat curah dikenal dua harga density, yaitu density bentuk padatan dan density bentuk curah.Density padatan sudah semestinya lebih besar dari yang curah.Dalam soilsains dan mekanika tanah (soil mechanics) ada yang mengartikan sebagai berat- volume(kg/m3) sebagai density tanah curah.Sebagai contoh dalam proyek pembuatan tanggul atau urugan(fill), satuan harga untuk volume tanggul “jadi” dan satuan harga bahan yang berupa tanah curah sangatlah jauh berbeda,sebab setiap 20 cm tinggi urugan tanah dilakukan pemadatan dengan mesin compactor/vibrator roller.
Pada benda cair hanya mengenal satu pengertian mengenai density,yaitu massa/satuan volume, misal kg/m3, karena tidak mengikuti besar volume ruang yang ditempatinya.Jadi tidak diekpresikan dalam pengertian spesific volume.
Pada benda gas tidak mengenal pengertian density,melainkan spesific volume,karena benda gas mengikuti bentuk dan besar volume ruang yang ditempatinya.
Jadi pengertian density pada H2O cair tidak dapat diartikan sebagai kebalikan specific volume pada gas/uap H2O,walau dimensinya cocok.
Kembali kepada perbedaan kita.
Secara dimensional analysis, memang benar kalau dimensi specific volume adalah kebalikan dari dimensi density, m3/kg adalah kebalikan dari kg/m3.Tetapi kita harus benar dalam persepsi.
Orang bilang hitungan pak RIrawan, BENER NING ORA PENER, karena Bapak salah persepsi.Secara analisis dimensi benar, tetapi secara logic salah.
Salahnya dimana? Coda kita lihat!
Bapak menghitung DV/dt =dW/dt : density gas.Ini jelas keliru,sebab gas tidak punya density sebagai kebalikan spesific volume.Disini ada pencampur adukan pengertian,seolah – olah besaran angka density dapat digunakan dalam perhitungan debit H2O baik fase cair maupun gas.Pada hal density hanya dikenal pada H2O fase cair dan spesific volume hanya pada fase. gas/uap.
Disini bisa kita lihat pada hitungan bapak, 2 m3det H20 = 1020,408 kg/det H20.Padahal seharusnya, 2 m3 H20 cair bila menguap tetap akan jadi 2000 kg uap/gas H20. Hitungan Bapak ada kekurangan 979,592 kg H20 yang hilang.Kalau pada reaksi nuklir,mungkin saja terjadi,karena menurut Einstein,hilangnya masa akan menjadi energi sesuai rumus E = mC2. Tapi disinikan bukan reaksi nuklir. Jadi karena persepsi salah,hitungannya juga tidak betul.
Yang betul berapa ?
Prinsip ini dipegang dulu,bahwa dW/dt adalah tetap,baik fase cair maupaun gas.
Bila dalam bentuk cair, maka dW/dt = dV/dt. Dalam hitungan Bapak 2000 kg/det= 2m3/det.Itu sudah betul.
Bila dalam bentuk gas berapakah dV/dt ?
dW/dt = 2000 kg gas H20/det.
Spesific volume = 0,00196 m3/kg
Jadi dV/det = 2000 kg/det : 0,00196 m3/kg=
10200408 m3/det.(sepuluh juta duaratus ribu empat ratus delapan) m3.Bayangkan uap air bertekanan 500 bar dengan debit sepuluh juta/detik,harus keluar melalui lubang diameter 30 inci( Luas lubang 0,456 m2),berapa kecepatannya ?
Luas lubang = 0,456 m2.jadi kecepatan =10200408 m3/det : 0,456 m2 = 22367514 m/det = 65786,8 kecepatan suara = 74,6 kecepatan cahaya.Spektakuler!
Karena sampai saat ini kecepatan maksimum yang dikenal adalah = kecepatan cahaya, maka hitungan pak RIrawan pasti salah !
Kalau hitungan yang mendasarinya salah,maka teori pak RIrawan tentang adanya kekuatan geothermal bersuhu 650 der C dikedalaman 3000 meter,GUGUR dengan sendirinya.
Maret 9, 2007 pukul 12:29 pm |
Lha wong kecepatan aliran 2,5 m/det aja sudah “nggilani” koq pak…..
Saya dulu ngitung kecepatan rencana max sungai aja pakai 2,5 m/det. Ngeri deh…
Maret 9, 2007 pukul 2:46 pm |
ralat: kecepatan cahaya =300.000.000. m/det, jadi 22367514 m/det = 22367514 : 300.000.000. m/det = 0,0746 X kecepatan cahaya.
Maret 9, 2007 pukul 3:41 pm |
ooo…
Maret 9, 2007 pukul 4:05 pm |
Pakde dan om papang, saya baru sempat nulis lagi.
Pakde, komen Maret 8th, at 1:01: maksudnya 150000 m³/hari? Itu total fluida yang nyampai keatas. Air murninya doang, saya hitung 2 m³/det atau 172800 m³/hari, yang terkonversi menjadi gas-ideal 500 bar 420 derC, agar bisa memancarkan energi 100 Mw. Masuknya fluida memang tidak mungkin rembes lewat lapisan pasir atau batuan porous yang rapat, sebab permeabilitasnya tidak cukup, paling 80 mD kayak yang maximal di reservoir minyak/gas. Jadi logikanya memang disana ada rongga-rongga kayak pipa yang banyak sekali, lalu bermuara di lubang utama (ITB: 30 inci, tapi bisa juga lebih besar). Selain itu, alirannya bukan laminer dan bilangan reynoldnya tinggi dengan diameter rongga yang cukup besar dan viskositas rendah, akibat suhu yang sangat tinggi di bawah sana. Sehingga tidak bisa dihitung lewat rumusan Darcy, tapi kalau pakai Forchheimer atau nlainnya juga belum jelas format rongga-rongganya. Tapi kita toh bisa melakukan perhitungan dari realitas outputnya 150000 m³/hari, lalu turun ke bawah untuk memghitung darimana energi 100 Mw itu.
Maret 9, 2007 pukul 4:07 pm |
Terima kasih om papang, sudah naggapi panjang lebar. Disini kalau hitung-hitungan dan omong bahasa alam/fisika kog sangat sepi ya. Padahal segala macam urusan hidup ini yang menyangkut hubungan kita dengan alam ya cuma satu-satunya harus pakai bahasa alam, yakni rumus dan hitungan. Kalau tidak, ya tebak-tebak, trial and error, bisa saja akhirnya jadi trampil setelah lewat pengalaman panjang. Tapi apa mau tunggu 1000 tahun lagi baru tahu caranya?
Saya sih tidak pengalaman (kan baru kali ini ada lumpur keluar 150000 m³/hari?) dan juga tidak bisa meramal. Tapi lewat hitung-hitungan, saya berani mengatakan begini-begitu. Dan tinggal ditunggu tokh kenyataannya setelah terjadi.
Maret 9, 2007 pukul 4:12 pm |
Soal tambahan air. om papang yang nulis, air suhu 420 der.C dan tekanan 500 kg/cm2, spesific volumenya =0,00196 m3/kg. Dan itu memang benar! Tapi darimana datangnya angka tambahan air 0,00392 kg/det itu?
Soal tambahan air 2 m³/det, saya kan jelas menulis; “debit air (normal) 2 m³/detik (dW/dt = 2000 Kg/detik) yang masuk ke dapur-magma” (kommen Maret 7 at 6:59).
Setelah menjadi gas-H2O 420 derC 500 bar,
volumenya menjadi: dV/dt = dW/dt : ρ2 = 2000 Kg/detik : 510,204 Kg/m³ = 3,92 m³/detik.
Jadi cocok dengan pendapat om papang: “cair atau gas, H2O nya tetap 2000 Kg/detik.”
Mohon periksa lagi komen Maret 7th at 6:59.
Soal debit: dV/dt = 10200408,
satuannya bukan m³/det, melainkan Kg²/m³det ?
Bukankah seharusnya:
dV/dt = 2000 KgGasH2O/det x 0,00196 m³/Kg
= 3,92 m³GasH2O/det.
Soal kecepatannya:
Luas lubang: 0,456 m²
Kecepatan: u = 3,92 m³/det : 0,456 m²
= 8,59649 m/det.
Masih ada yang salah, om?
Maret 9, 2007 pukul 10:31 pm |
Pak RIrawan yang betul,saya yang salah.Harusnya berat gas X specific volume, bukan malah dibagi seperti hitungan saya.Jadi satuan hitungan saya ya amburadul, karena tidak saya cek ulang dimensinya. Mohon maaf saya telah menyalahkan pak R Irawan. Saya jadi ingat kata kata bijak,menuding kesalahan orang itu satu jari menunjuk ke orangnya,tetapi tiga jari menunjuk kediri sendiri.Betul juga ya!
Jadi saya akui teori Pak RIrawan masih dalam koridor BENAR.
Sekarang kita pikirkan proses terjadinya tekanan. Kalau pada water heater dikamar mandi jelas diketahui air masuk dari water tower ke water heater,dipanasi lalu keluar lewat kran dalam keadaan panas. Disitu ada sensor tekanan yang mengatur pemanasan air. Water heater akan bekerja kalau kran air dibuka. Kalau water heater menggunakan panas matahari mereka bekerja terus menerus selama ada panas matahari.Ketika kran ditutup,pemanasan air tetap berlangsung. Saya belum dapat membayangkan proses terjadinya penggantiam air. Saya berusaha membandingkan dengan cara kerja mesin ram jet. Konstruksi ram jet kan hanya seperti tabung bolong.Tanpa turbin. Udara masuk dari depan,dibakar oleh bahan bakar,ekpansi kebelakang menimbulkan thrust ( gaya dorong ).Sangat sederhana. Apakah ya seperti itu proses pembentukan tekanan oleh geothermal. Ada air masuk ke saluran 30 “,dipanasi oleh magma lalu menyembur keatas bercampur material padat berupa semburan lumpur. Kalau pada ramjet, udara dapat masuk dari depan karena tabung ramjet sudah punya kecepatan tinggi,kalau belum ram jet tidak dapat bekerja.
Kalau proses recharge seperti sprayer cat atau obat nyamuk, air recharge kan harus masuk ruang pemanasan,dalam sprayer masuk kepompanya ,bukan ke tangkinya padahal kalau seperti sprayer air recharge akan tersedot keluar oleh aliran uap dan keluar sebagai semburan dipermukaan, jadi air sebagai bahan baku uap yang harus membangkitakan tekanan kan belum ada.
Kalau dibandingkan dengan mesin fogging yang untuk membasmi nyamuk, udara masuk ke mesin, dicampur bahan bakar,terbakar lalu keluar dicampur bahan kimia untuk membunuh nyamuk yang kemudian keluar sebagai asap/fog. Udara dapat masuk dan keluar secara bergantian karena dalam mesin ada mekanisme yang mengatur pergantian udara yag akan dibakar. Kalau sedang terjadi pembakaran,udara dari luar berhenti dulu,sesudah gas hasil pembakaran keluar, udara segar diberi kesempatan masuk,begitu seterusnya. Dalam mesin ini kita tahu ada mekanisme yang mengatur giliran udara masuk dan gas keluar. Prinsip seperti apa cara kerja pemasukan air yang akan menjadi uap diruang pemanasan , bagaimana cara penggiliran masuk keluarnya. Misal 1 m3 air masuk dulu,jadi uap,keluar,baru kemudian 1m3 lagi air dimasukkan , begitu seterusnya seperti mesin fogging. Kalau didalam boiler, air dipompa masuk sebagai feed water, dipanasi, dipisah uapnya dari air oleh separator,masuk keruang super heater ,baru kemudian keluar sebagai uap panas bertekanan tinggi. Kalau pada geyser, air dipanas oleh geothermal, menjadi uap,setelah tekanannya cukup ia menekan air keluar sebagai semburan geyser.Karena ekpansi, tekanan uap kembali mengecil ,air ganti menekan,menempati ruang bekas uap yang ekspansi.. Karena pemanasan terus menerus,air yang masuk menjadi uap dan setelah cukup tekanannya kembali mendorong air menyembur keatas lagi ,begitu berulang-ukang. Jadi bagaimana prosesnya perlu penjelasan yang kongkrit dan ini masuk ranah engineering. Monggo pak RIrawan,kita masuk ke enginnering, apakah mirip cara kerja PLT Panas Bumi.
Maret 10, 2007 pukul 8:56 am |
Oh nggak apa om papang.
Saya justru mikir, seandainya om papang yang pimpin timnas, situasinya akan jauh lebih baik. Om papang selalu mau mendalami setiap masukan, kuat dalam pendirian namun sportif. Tapi kuncinya, om papang menyerukan untuk multidisipliner dan menghargai hitung-hitungan serta rumus sebagai bahasa paling efektif untuk memahami kemauan alam.
Saya tidak tahu bagaimana proses pembentukan timnas dan bagaimana keputusan diambil. Tetapi hasilnya sudah diketahui dan sebentar lagi bola-beton HDCB. Dalam mengelola kepentingan umum, apalagi soal bencana, seharusnya ada norma dasar yang mutlak harus diterapkan:
1. Tidak boleh ada pejabat yang tidak yakin mampu mau ditunjuk.
2. Tanggungjawab yang jelas dan keras harus diterapkan.
3. Setiap konsep wajib lebih dulu dibuatkan hitung-hitungan ilmiah dan akademisnya secara lengkap dan rinci.
4. Konsep berikut hitung-hitungannya wajib diumumkan seluas-luasnya.
5. Rakyat dari segala disiplin berikut sentra-sentra akademis wajib memberikan tanggapan kritisnya.
6. Dilakukan beberapa tahap forum diskusi guna menetapkan kesimpulan akhir.
7. Pelaksanaan diawasi ketat, apakah setiap tahap hasilnya sudah sesuai dengan konsep hitung-hitungannya.
Maret 10, 2007 pukul 9:35 am |
terima kasih atas pujiannya, saya masuk web blog ini dengan maksud untuk memberi masukan, barangkali masukan saya bermanfaat,tapi ternyata saya malah mendapat masukan berupa ilmu-ilmu baru dan pemikiran baru,maka ketika saya ketemu pak RIrawan, saya berpikir , sangat bagus kalau saya dapat bertukar pikiran sebagai teman sekaligus lawan diskusi. Ibarat bermain catur, lawan kita adalah juga teman kita. Kalau lawan kita pergi,kita tidak punya teman bermain catur. Kalau main soliter kita tak perlu teman,kalau main musik kita harus seirama dengan teman,jadi tak punya lawan. kalau bermain catur kita dapat two in one,ya teman ya lawan, seperti kita dengan isteri lah !
Maret 10, 2007 pukul 9:47 am |
iya om papang, saya kesasar ke blog ini juga kebetulan. Awalnya bingung, kenapa semua urusan lumpur ini kog tidak keruan. Saya coba menghitung-hitung, wah makin kaget, wong jelas-jelas dari awal angka hitungannya sudah tidak mungkin berhasil, kog dikerjakan? Misalnya spillway itu.
Tapi di blog ini, kalau omong soal alam/fisika kog sepi ya. Dari timnas para pakarnya kog tidak komentar? Makanya saya terima kasih om papang mau menanggapi.
Selanjutnya boleh saya coba menjelaskan soal ini:
Bagaimana air masuk ke ruang sumber panas?
Mungkin soal ini bisa membantu.
Saya punya kompresor angin.
Lalu juga pipa, yang dapat saya potong dan rangkai dengan mesin las.
Apakah saya bisa mengambil air dari danau secara kontinu ke atas?
Prinsipnya cukup sederhana:
Saya rangkai pipa menjadi bentuk “Y” terbalik. Satu kaki saya hubungkan dengan kompresor angin. Kaki satunya (yang bersudut 20 derajat terhadap kaki yang ke kompresor) saya hubungkan dengan selang ke danau di bawah. Ternyata di ujung pipa keluar selain angin, tetapi juga AIR.
Cobalah, asyik!
Sekarang, air yang mancur diujung pipa saya tampung dalam tabung, yang ditaruh di atas kompor besar. Setelah airnya mendidih, tabungnya saya tutup rapat, lalu uapnya saya belokkan masuk ke ujung pipa pertama dan kompresornya saya singkirkan.
Nah, bukankah saya bisa menghasilkan uap dan semprotan air terus menerus dari air danau, hanya dengan 1 kompor, tetapi tanpa pompa yang konvensional?
Maret 10, 2007 pukul 1:08 pm |
Kita lanjutkan bermain catur ya pak RIrawan.
Kalau hanya satu tabung kan tidak bisa,harus butuh dua.Kalau tabung yang no1 dibuka untuk menampung air, tabung yang kedua ditutup untuk menaikkan air. Disamping itu perlu mekanis untuk mengatur giliran membuka dan menutup tabung, semacam cam shaft (noken as ) pada mesin 4 tak ( four stroke engine ). Kalau hanya satu gimana?
Di mesin fogging memang ada katupnya, pembakarannya pakai busi ,tapi tanpa crankshaft, suaranya mirip mesin gergaji (chain saw).
Maret 11, 2007 pukul 3:11 am |
sya kira memebuat beton seberat apapun tidak akan berhasil untuk menutupi semburan lumpur panas, karena semburan lumpur itu lebih kuat di bandingkan dengan berton, dan kemungkinan akan lebih berbahaya lagi kalau beton itu terpantul keras… think about that…
Maret 11, 2007 pukul 5:03 am |
Monggo, kita lanjutkan caturnya.
Sebenarnya om papang sudah merekonstruksi salah satu kemungkinan mesin alam. Hasil berpikir jernih dan konsisten. Bisa jadi di dalam sana ada semacam 2 ketel dan 1 klep yang mengatur kerja bergantian.
Tetapi ada lagi beberapa skenario mesin alam.
Bisa jadi ada salah satu pipa cabang, yang membalikkan gas superkritis H2O lewat aquifer kebawah lagi dan langsung menerobos dapur magma di sebelah lain. Tetapi gasH2O nya terbawa magma yang bergerak, keluar lewat lubang utama.
Bisa juga lebih sederhana, misalnya awalnya pengeboran yang terlalu dalam merusak dan melubangi selubung magma. Kebetulan diatasnya ada aquifer bertekanan tinggi yang tebal dengan debit tinggi. Tetapi lubang utama pengeboran keburu ditutup. Tekanan dasyat gasH2O yang terjadi bergerak ke segala arah, dan membuat kawah magma yang besar, sehingga air leluasa turun masuk ke dapur besar itu.
Tentu saja masih ada kemungkinan lain.
Kita tidak bisa memastikan, skenario mesin alam yang mana yang sesungguhnya ada di bawah sana. Kita cuma bisa menemui dan tahu pasti adanya result yang tak terbantahkan. Mesin alam di bawah sana kekuatannya 100 Mw menghasilkan 3,92 m³/det gasH2O 420 derC 500 bar.
Selama hampir 300 hari mesin itu bekerja dan sudah mengeluarkan total-energi sebesar: E = 300 hari x 100 Mw = 720000 MWH , untuk menyemburkan lumpur panas sebanyak 40 juta m³ (belum termasuk uap dan gas H2S) ke atas.
Dan masih bakal terus bekerja selama puluhan tahun.
April 20, 2007 pukul 5:35 pm |
Mohon maaf saya mulai dari awal lagi. Habis saya bingung, mau mulai dari mana.
Apakah ada alat (sonar) yang dapat memetakan keadaan rongga di bawah (pusat semburan). Atau bagaimana kemungkinan Bolton tunggal (seperti kelereng, bukan ukurannya lho) ditanamkan detektor lalu dicemplungin banyak-banyak biar menyebar ke seluruh rongga saluran sehingga terpantau garis besar penampang semburan dan semua salurannya. Wah mumet nih, aku nggak paham nanyanya.
April 21, 2007 pukul 5:31 am |
Teknologi sekarang: BISA.
Tapi mahal. Di bawah sana (-3000m) tekanannya 500 bar suhunya 420 ºC, sehingga bola-ukurnya harus dibuat dari bahan khusus (bukan beton).
Kayak bolton atau HDCB itu ya telmi dan ngawur. Belum sampai ke bawah sudah jadi bubur, tapi sempat merontokkan dinding lubang semburan.
April 21, 2007 pukul 6:10 am |
Pak RIrawan
Darimana anda ketemu suhu 420 deg C pada kedalaman 3000m ?
kalau ngeliat disini :
http://rovicky.wordpress.com/2007/04/03/detak-detak/
Suhu di sekitar kedalaman 10.000 feet (sekitar 3000 meter, hanyalah 150deg C.
Juga sakjane 500 bar itu berapa psi ?
aku kebiasaan pakai psi rada sulit ngebayangin besarnya tekanan.
April 21, 2007 pukul 9:30 am |
Pak dhe,terus terang saya beda pendapat terhadap kesimpulan dalam “detak-detak”: http://rovicky.wordpress.com/2007/04/03/detak-detak/
Menurut saya, hidrotermal sudah terjadi sejak awal sbg kecelakaan pengeboran, jadi sejak awal bukan UGBO. Tapi ini tidak penting. Masalahnya logika “detak-detak” hanya menjelaskan hidrotermal sebagai asal dari panas dan uap, sedangkan semburan lumpur tetap pakai UGBO. Saya yakin, ini keliru.
Pendapat saya didasarkan pada sumber energi yang besar dan cenderung naik (120 MW) dan land-subsidence yang harus didahului oleh rongga-rongga kosong, yang isinya sudah ditarik oleh gas berkecepatan tinggi. Jika pendapat ini benar, artinya harus hidrotermal total. Ini sudah saya tulis diatas sini:
http://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-semburan/#comment-11460; Maret 1st, 2007 at 5:14 pm
http://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-semburan/#comment-11519; Maret 7th, 2007 at 5:48 adalah
http://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-semburan/#comment-11521; Maret 7th, 2007 at 6:59 adalah
http://hotmudflow.wordpress.com/2007/02/25/bola-beton-tembus-pusat-semburan/#comment-11578; Maret 9th, 2007 at 4:05 pm
Tekanan dinamis di kedalaman sana: 500 bar = 5.10^7 N/m² = 7251,9 psi harus ada untuk menaikkan lumpur 3000 m dan melawan rugi-geser. Tekanan hidrotermal sebesar itu muncul dari gas-ideal H2O dengan suhu 420 ºC (isentropicexponent κ = 3).
April 21, 2007 pukul 10:48 am |
Diskusi kita panjang kali ya. dari 25 februari 2007 sampai hari ini [hampir dua bulan] Tentu melelahkan sekali. Tapi hasil nyatanya apa ya? Target diskusi ini apa sih? Sekedar berbagi pendapat dan ilmu sehingga wawasan lebih luas atau benar2 memberi sumbangan nyata solusi “lumpur lapindo” ini.
Kalo boleh usul:
1. Atur jadual untuk bertemu di atas satu meja supaya diskusi bisa efektif efisien
2. Sebelumnya tentukan target apa yang mau dicapai biar tidak ngelantur kesana kemari diskusinya
3. Supaya hasil diskusi tidak muspro, silakan dipublikasikan.
4. Hasil diskusi diserahkan ke tim penanggulangan lumpur lapindo.
5. Selesai
Gimana? Setuju para konco???
Wass.
April 21, 2007 pukul 3:35 pm |
Mas Irawan
Kedalaman 3000 m dengan tekanan diatas 7300 psi itu sudah mendekati lithostatic. Gradien tekanan lithostatic biasanya diambil 1.05 psi/ft.
Kalau anda melihat gradient geothermal dari sumur sebelahnya (sumur Porong-1) yang berjaraj 7.5 Km dari Bpj-1, maka lokasi BPJ-1 atau semburan Lusi adalah sebuah anomaly yang mungkin baru terlihat disitu.
Gradien geothermal ini tidak cocok dengan pengukuran Vitrine reflectance (Ro). Ro ini coal rank. Jadi coal rank itu ada hubungannya dengan suhu tertinggi yang dicapai batubara sehingga berubah dari peat-coal-hingga antracite. Coba di gugle nanti MAs Irawan bisa belajar juga dari situ.
Barangkali memang ada anomali sedemikian cepatnya magma berkembang atau menjalar tanpa diketahui sebelumnya. Mungkin aku yg belum pernah menjumpainya. Hanya saja “unlikely” selama ini.
Apakah menurut Mas Irawan tanpa adanya pengeboranpun sebenernya sudah akan njebug sendiri ? Karena tekanan dibawah itu sudah mendekati lithostatic ?
Mungkin ini argumentasi anda bisa dipakai pihak Lapindo utk menyatakan bahwa semburan ini bukan akibat pengeboran
Untuk mengurangi asumsi-asumsi yang Mas RIrawan pakai selama ini.
coba gunakan data pengukurannya yg dilakukan oleh Pak Rudi yg bisa didonlod di website IAGI disini :
http://iagi.or.id/unduh/lusi.zip
Mungkin Dr Rudi juga ahli-ahli dr GSA telah keliru menginterpretasikan telah terjadi UGBO
April 21, 2007 pukul 6:39 pm |
Wah … terima kasih, saya akan pelajari sesuai petunjuk pak dhe.
Sementara kalau boleh saya ingin komen dulu begini. Sejak awal saya sadari, bahwa angka-angka yang saya kemukakan ada yang tidak cocok dengan data rumusan atau tabel geologi. Namun, kalau axioma geologi yang induktif dipatok, maka tidak akan pernah ada semburan lumpur lapindo, bukan? Betapapun, angka-angka yang saya ajukan tidak antagonis terhadap pakem-pakem geologi, yang tetap berlaku untuk sekitar daerah itu, tetapi tidak berlaku atau terkecuali di sepanjang lubang semburan, sebab ada uap yang sangat panas menyembur dari sesuatu sumber yang dalam.
Saya berangkat dari data riel di lapangan, lalu saya hitung ke bawah berdasarkan rumus hukum alam yang pasti, dari situ saya temukan angka-angkanya. Gampangnya begini, ada fakta 150000 m³/hari lumpur ditambah uap panas menyembur keluar. Untuk itu diperlukan daya ratusan MW yang terus-menerus. Dan itu hanya mungkin dihasilkan oleh dapur magma (ini kesimpulan logis), berupa uap panas yang melejit dengan kecepatan tinggi. Saya tidak tahu dan belum pernah memastikan, di kedalaman berapa dapur magma tempat asal uap itu berada. Yang pasti, pada posisi -3000 m kondisi uapnya harus bertekanan 500 bar dan suhu 420 ºC, sebab kalau tidak maka tidak akan ada debit 150000 m³/hari itu. Tetapi, jika uapnya berasal dari dapur magma di kedalaman -8000 m, maka tekanan di situ harus lebih dari 1000 bar dan suhunya jauh lebih tinggi lagi.
Menurut pendapat saya, peristiwa ini akibat kecerobohan pengeboran, yang telah membuat lubang di kerak batuan cair dan menyebabkan air menerobos masuk ke dapur magma, menjadi energi liar berupa uap panas bertekanan tinggi.
April 21, 2007 pukul 6:57 pm |
Pak dsusetyo, kami atau saya sih setuju saja. Tetapi diskusi di sini juga merupakan pertemuan yang yang efektif dan efisien. Targetnya juga jelas, wujud kepedulian dan harapan sekiranya pikiran-pikiran ini berguna. Blog ini sudah merupakan publikasi modern yang gampang diakses oleh siapapun, tetapi kalau maksudnya dimasukkan koran atau majalah, itu terserah pak dhe yang punya. Begitu juga kalau mau diserahkan kepada BPLS.
April 21, 2007 pukul 9:14 pm |
Se-7, blog ini sangat efektif, kapan waktu kita bisa “berbalas pantun” sangat fleksibel. Ide yang ada bebas digulirkan, dan bila dirasa cocok silakan digunakan, free of charge! Hitungan + gambar detailnya, kita tunggu file .doc dari Pakarnya, tahu dong siapa
).
Terlepas dari dana pelaksanaannya, dari baca-baca artikel dan diskusi di blog ini, saya pribadi hanya menemukan 2-3 pilihan penanganan.
1. Biarkan lumpur menggenang (radiusnya antara 2-5 km ???). Jangan Panik!!
http://rovicky.wordpress.com/2006/11/23/salam-duka-daerah-ini-wajar-ditenggelamkan-ditimbun/
Berarti Ganti Untung (warga bebas memilih dimana mereka menetap dan berusaha=bangun pabrik baru, bekerja, sekolah dst selanjutnya) atau Relokasi Sementara / Permanen ?? (syukur-syukur kota baru yang dibentuk bisa berkembang pesat, bagaimana aktivitas=kerja warga sebelumnya?). Ini bahasa singkatnya, detailnya rumit, terutama masalah sosial-ekonominya. Kalau bangun ini itu (+sarana + prasarana) ‘kan lebih terukur selama pendanaannya oke.
2. Biarkan lumpur mengalir.
W4H-nya sudah banyak ditulis di blog ini. Tinggal keberanian mengambil salah satu pilihan saja. Hanya dengan asumsi Luberan harus menyusut dan amblesan tidak menimbulkan masalah baru. Kalau dua hal ini tidak tercapai go to 1. Titik.
3. Matikan…(seperti iklan saja) semburannya.
mengutip dari http://rovicky.wordpress.com/2007/04/03/detak-detak/
…
Yang terlihat saat ini adalah proses hydrothermal dimana keluarnya semburan uap panas yang berasal dari sumber dapur hydrothermal yang berada dibawah Formasi Kujung.
Air yang keluar saat ini sudah berbeda dengan yang keluar pada saat awal semburan. Air yang keluar bukanlah air asin (air laut) yang terjebak pada Batugamping Kujung lagi.
…
Jadi cari cara menemukan sumbernya dengan tepat dan cari cara mematikan sumbernya dengan tepat. W4H-nya, i don’t know how (ada artikel terlewat / belum dibaca??). Tapi sebisanya kita akan sumbang saran apalagi bila banyak deskripsi keadaan lapangan yang masuk ke blog ini tentu akan semakin membantu dan terarah kepada penyelesaian masalah.
Kalau tercapai ayo ramai-ramai kerja bakti nasional bersihkan lumpur BPj-1!!!
Ini sekedar menyederhanakan masalah dan penyelesaiannya. Kalau pun salah atau kurang, mari dan tolong dikasih tahu. Terima kasih.
April 22, 2007 pukul 11:48 am |
repot seh, sudah ampir setahon ga beres, ga jelas apa yang mau dilakukan, rencananya apa, nasib korban mau diapain? Ini negara dan pejabat2nya macam dagelan apa bisnis apa politik, apa2an seh?
Pakar2 pinter pada ngomong sendiri ato dicuekin. Pemerintah, Lapindo, Bakri, Timnas cuma janji2 doang, hamburin duit triliunan gak keruan dan gak ada hasilnya. Tapi korban tambah banyak dan jeritannya makin memilukan. Sekarang ada BPLS, tapi presidenpun cuek gak berkenan menemui korban yang ke Jakarta. Ini maunya kemana? Ini berlawanan dengan sunatulah, doapun gak bakal didengerin.
Mei 29, 2007 pukul 5:53 am |
Kalangan ilmuwan di Jawa Timur dirambati kecemasan perihal masa depan penanganan semburan lumpur panas di Sidoarjo. Mereka bertanya-tanya sampai kapan pemerintah, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, dan Lapindo Brantas Inc tahan menghadapi lumpur panas yang terus meluber tak terkendali?
Bencana yang sudah-sudah selama ini umumnya berlangsung cepat, tidak lambat seperti lumpur Sidoarjo. Pada bencana yang cepat, perbedaan antara bencana dan dampak teramati dengan jelas. Oleh karena itu, fase rehabilitasi bisa dimulai segera setelah fase bencana berlalu.
Akan tetapi, tidak dengan peristiwa lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. Setahun setelah semburan pertama terjadi di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, lumpur terus menyembur dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Dampak dan kerusakannya pun semakin meluas.
Dr Adi Soesilo, staf pengajar di Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, Jawa Timur, mengutarakan, peristiwa ini telah mencapai over limit, melampaui batas kemampuan manusia dan masyarakat yang menghadapinya.
“Bahkan, boleh dibilang melampaui batas ilmu pengetahuan,” katanya mengungkap hasil diskusi Kelompok Kajian Kebumian dan Mitigasi Bencana (K3MB) Unibra.
Mengambil contoh gunung lumpur (mud volcano) yang terekam di Azerbaijan, fenomena itu berlangsung bertahun-tahun dan membentuk gunung lumpur hingga ketinggian sekitar 500 meter.
Dikhawatirkan, jika batas daya tahan itu terlampaui akan membuat semua pihak yang seharusnya bertanggung jawab untuk menanggulangi semburan lumpur atau pemulihan sosial akan putus asa.
Akhir-akhir ini gejalanya sudah tampak, tutur Adi Soesilo. Misalnya, dari percakapan nonformal dalam pertemuan-pertemuan geolog di Jakarta, sudah tidak lagi yang membicarakan semburan lumpur. Percakapan tentang lumpur tidak menarik lagi, bahkan terhenti.
“Lalu siapa lagi yang mesti memikirkan menanggulangi luberan ini jika berlangsung bertahun-tahun?” katanya. Bagaimana jika BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) karena alasan kekurangan anggaran menghentikan upaya penanggulangan. Bagaimana jika pers sudah kehilangan minat memberitakannya?
Metode penanggulangan
Itulah sebabnya, ketika K3MB Unibraw menyodorkan gagasan terbaru menanggulangi semburan lumpur dalam diskusi Rabu (23/5), disebutkan tidak adanya motivasi untuk mendapatkan proyek dari eksekusi gagasan yang mereka sodorkan.
“Silakan ide dan gagasan kami ini dieksekusi oleh kontraktor tunjukan pemerintah mana pun, dan kami tetap akan siap membantu,” ujar Arif Rahmansyah, pakar geologi sipil anggota K3MB Unibraw.
Dr Nurhuda, geofisikawan Jurusan Fisika MIPA Unibraw, menyodorkan gagasan yang merupakan kombinasi antara metode insersi bola beton dan gagasan pakar Jepang counter weight. Caranya disebut metode insersi batuan beku.
Metode insersi bola beton dilakukan dengan memasukkan untaian bola beton ke dalam lubang semburan, menurut Arif Rahmansyah, kini sudah terhenti. Selain karena ketiadaan biaya untuk produksi bola beton di pabrik, juga karena nyaris tidak ada efek yang ditimbulkan. Tercatat sudah 400 untai bola beton sudah dimasukkan dari 2.000 yang dipersiapkan.
Metode counter weight yang disodorkan Takashi Okumura, Direktur Katahira Engineering, yang sempat dipresentasikan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menimbulkan kecemasan K3MB. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membendung lumpur dalam metode ini senilai Rp 600 miliar, bakal menjadi beban besar bagi rakyat.
“Meski ada jaminan bahwa bantuan pembiayaan berasal dari Jepang, metode ini juga dapat disebut berstatus coba-coba. Teramat banyak koreksi yang harus disodorkan, padahal waktu untuk melakukan perhitungan lebih cermat demikian sempit,” ungkap Arief.
Selain itu, secara teknis apakah metode membangun pelindung dam dari baja dengan radius 60 meter dan tinggi 40 meter bisa dilaksanakan dan cukup aman bagi pekerjanya? “Masih tanda tanya,” ujar Nurhuda.
Dana Rp 600 miliar, jika benar berbentuk bantuan, lebih tepat digunakan untuk memberi ganti rugi rumah dan tanah warga sekitar Rp 400 miliar, seperti tuntutan mereka selama ini. Dana sebesar itu lebih bermanfaat untuk melakukan relokasi, pembangunan kembali infrastruktur yang rusak, menjamin kesehatan penduduk, dan memulihkan kehidupan.
Insersi batuan beku
Metode insersi batuan beku, demikian Nurhuda, dilakukan dengan menyumbat lubang semburan dengan batuan beku. Batu beku, atau batuan andesit, kata Soedarto, pakar Ilmu Tanah dan Peta Udara Fakultas Pertanian Unibraw yang juga anggota Tim K3MB, selama ini dikenal sebagai batu hitam yang dimanfaatkan untuk pembuatan jalan (pasir dan batu/sirtu).
Warnanya hitam, sering disebut batu hitam. Batuan beku andesit tersedia dalam jumlah melimpah di seluruh Pulau Jawa, sebagai berkah pulau yang dikaruniai kekayaan alam gunung berapi. Disebut batuan beku karena batu ini terbentuk lewat pembekuan magma yang menerobos dari perut bumi sebagai lava sampai membeku dalam perjalanan menuju permukaan bumi.
Batuan beku bisa ditambang murah di gunung dan bukit di daerah Pacet, Mojokerto, dan tersedia melimpah dengan harga murah. Bahkan, bisa gratis jika ditambang di bukit batuan berstatus tanah negara. Biaya yang diperlukan diyakini hanya beberapa miliar rupiah. Biaya yang dibutuhkan untuk tenaga kerja penambangan batuan beku, serta transportasi dari lokasi penambangan ke pusat semburan di Porong, Sidoarjo, tidak begitu besar.
Menurut Nurhuda, biaya penambangan dan pengangkutan batuan beku dari lokasi penambangan (misalnya di sungai) mencapai Rp 400.000 satu truk. Katakanlah dihitung dengan biaya sortir, biayanya mencapai Rp 1 juta setiap truk. Jika dibutuhkan 500 truk, kebutuhan biayanya “hanya” mencapai Rp 500 juta.
Batuan beku dipilih karena berbeda dengan bola beton. Batuan beku yang terbentuk pada suhu 700 derajat Celsius, diyakini lebih tahan terhadap suhu dalam perut bumi di lokasi semburan yang diperkirakan sebesar 200 derajat Celsius. Batuan beku juga lebih tahan terhadap salinitas (kadar garam) yang ekstrem tinggi. Kadar garam ini yang diyakini membuat semen bola beton rapuh.
Selain itu, permukaan geometri batuan beku yang berbongkah-bongkah lancip bisa menimbulkan efek ikatan atau gigitan di antara bebatuan. “Di dalam saluran semburan lumpur nantinya, batuan beku yang lancip itu saling menggigit karena bentuk batuan yang kristalin.
Ini bisa mencegah batuan terlempar kembali ke atas jika terkena tekanan semburan ke atas permukaan kembali,” papar Soedarto.
Sementara itu, timbunan batuan beku itu juga akan memberi efek counter weight di lubang semburan, seperti halnya sumpalan batu di lubang semburan. Lumpur yang menerobos akan tertahan oleh batu dan memberikan efek tekanan oposisi ke bawah, dan diharapkan akan muncul kesetimbangan tekanan baru. [Dody Wisnu Pribadi] http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/28/teropong/3557213.htm
Sarasehan dan Pameran Burung Kenari
28 Mei 2007
Ingin mengulang sukses penyelenggaraan Sarasehan dan Pameran Burung Kenari pada awal tahun 2007, Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (HMPT) Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, kembali menggelar kegiatan yang sama selama satu hari, Senin (28/5). Diadakan di Sasana Samanta Krida dengan tema “Peranan Mahasiswa dalam Mengembangkan Potensi Peternakan di Malang Raya”, acara itu dikemas dengan nama “Animal Husbandry Expo 2007″.
Bentuk kegiatan meliputi pameran burung kenari, pameran produk peternakan, lomba burung kenari, dan sarasehan dengan topik “Mengangkat citra kenari sebagai salah satu prospek peternakan masa depan”. Peserta terdiri dari para mahasiswa peternakan se Malang Raya, wakil instansi peternakan pemerintah, pegusaha ternak, dan peternak rakyat.
Sementara itu lomba (body contest) burung kenari terdiri atas 4 kelas, yakni kelas impor besar, kelas impor kecil, kelas lokal, dan kelas persilangan. Untuk kelas impor besar tersedia hadiah berupa uang tunai masing-masing Rp 200 ribu (Juara I), Rp 150 ribu (Juara II), Rp 100 ribu (Juara III), dan sejumlah uang pembinaan untuk Juara IV hinga Juara X. Hadiah untuk kelas impor kecil, Juara I Rp 100 ribu, Juara II Rp 75 ribu, Juara III Rp 50 ribu, Juara IV-Juara X sejumlah uang pembinaan. Hadiah yang sama diberikan untuk kelas lokal. Sementara untuk kelas persilangan hadiah yang diberikan berupa uang tunai Rp 150 ribu (Juara I), Rp 100 ribu (Juara II), Rp 75 ribu (Juara III), dan sejumlah uang pembinaan untuk Juara IV-Juara X. Selain itu, panitia juga menyediakan door prize bagi peserta sarasehan dan pameran. [Far]
September 25, 2007 pukul 2:32 pm |
Kenapa ngga pake metode SKRUP Saja Kalo Sudah Ketemu Kawahnya , Terimakasih
Februari 2, 2008 pukul 2:19 am |
[...] Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Cak Arif @ 1:20 am Pembagian uang ganti rugi lapindo kepada warga siring membuat sisi yang berbeda dimana ada beberapa orang yang siap mental, membuat [...]
Februari 2, 2008 pukul 2:25 am |
[...] perjalanan ini memerlukan jarak tempuh 1.5 Jam tapi sampai kantor membutuhkan waktu 3.5 jam karena Lapindo. Perjalanan yang sangat macet itu memaksa aku supaya berfikir positif, karena sangat membosankan [...]
Nopember 21, 2008 pukul 10:16 pm |
Saya mohon info, terutama dari ompapang dan mas R Irawan atau siapa saja yang tahu : cara mengetahui berapa tekanan dan kapasitas sebuah Boiler yang dibutuhkan untuk memutar Turbin yang berkapasitas 3 Mw. Jika tidak keberatan infonya dapat dikirimkan ke saya melalui email : Misbahuddin_konecranes@yahoo.co.id atau forum ini.
atas infonya banyak terima kasih.