RADAR SIDOARJO Jumat, 30 Mar 2007
SIDOARJO – Tim insersi bola beton dari ITB Bandung menyatakan frekuensi dan tinggi semburan lumpur telah turun. Tanda positif itu dinilai merupakan indikasi penurunan volume semburan. Tapi, lumpur justru meluberi (overtopping) tanggul cincin pusat semburan.
Menurut anggota Tim Supervisi Bola Beton Satria Bijaksana, frekuensi semburan lumpur rata-rata tinggal 12 kali dalam waktu 5 menit. Padahal, pada awal insersi, frekuensi semburan bisa sampai 20 kali dalam 5 menit. “Penurunan intensitas semburan itu menjadi indikasi telah terjadi penurunan volume semburan lumpur,” kata Satria.
Tidak hanya itu. Dia menyebut telah terjadi penurunan pula pada ketinggian semburan. Tingginya saat ini rata-rata hanya sekitar 3 meter. Padahal, saat awal insersi bola beton, ketinggian lonjakan bisa mencapai 6 meter. “Tapi, ini masih merupakan hasil pengamatan visual,” jelasnya.
Jika memang volume semburan turun, mengapa overtopping masih kerap terjadi? Menurut Satria, overtopping terjadi karena aktivitas penguatan tanggul terganggu. Luberan lebih disebabkan penanggulan yang tak maksimal. Bukan akibat volume semburan yang tetap tinggi. “Bagaimanapun, lumpur kan tetap keluar. Upaya penanggulan terus berkejaran dengan waktu,” ujarnya.
Kondisi di lapangan, overtopping memang terus terjadi. Lumpur meluber di sisi barat tanggul cincin. Meski hanya sesaat, aktivitas insersi bola beton pun terganggu dan molor. Sebab, tanggul yang diluberi lumpur merupakan lokasi crane untuk pemasukan bola beton.
Aktivitas penanggulan di sekitar pusat semburan memang tak begitu tampak. Hanya terlihat sejumlah ekskavator long arm yang berusaha mendorong lumpur ke arah selatan. Juru bicara Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Rudi Novrianto mengatakan, kondisi tanggul memang belum stabil. Itu akibat hujan deras yang terus turun di sekitar areal lumpur. Tanggul menjadi gembur dan licin sehingga sulit dilewati alat berat, terutama truk pengangkut material.(dyn)








Maret 30, 2007 pukul 3:34 am |
-kalau semburannya intermittent/terputus-putus ,tadinya 20 semburan/menit menjadi 12 semburan /menit, barangkali betul juga dugaan Pak R Irawan, sumber tekanannya geothermal dibawah sana. Kejadian ini mirip peristiwa fisika pada perahu klothok-klothok (yang berpemanas pelita kecil ) mainan anak-anak yang sering dijual di pasar malam.
-Luber karena tanggulnya ambles atau pendangkalan lumpur mengendap yang tak tersalurkan atau semburannya makin -besar atau ….perlu pond susun ala Pak Syahraz.
Maret 30, 2007 pukul 5:15 am |
Wah ompapang hebat. Banyak hal di sekeliling yang bisa dipertautkan dengan dialektika ilmu alam oleh ompapang. Mmm … perahu klothok-klothok? … oh benar om. Kalau perahu itu pipa knalpotnya diperbesar, maka gas klothok-klothok yang keluar menjadi jarang atau turun frequensinya, bukan? Namun tiap kali … klothok …, gas yang keluar volumenya lebih besar. Bener nggak, om?
Kalau menurut ompapang bener, maka ada lagi logical error dalam kesimpulan tim supervisi bolton. Turun naiknya debit semburan harus dihitung dari besarnya luberan yang mengalir, bukan dari freequensi semburan. Mestinya bolton itu telah menimbulkan kerontokan dinding lubang, sehingga diameter lubang menjadi lebih besar. Akibatnya frequensi semburan lumpur turun dari 20 menjadi 12 kali per 5 menit. Namun debit volume tiap semburan mestinya naik. Persis seperti perahu klothok-klothok. Betul nggak om?
Ini tidak asing di dunia sehari-hari, apalagi dunia akademis. Sekedar fenomena simple harmonic motion pada teori oscilasi. Senar gitar, makin besar makin rendah frequensinya. Rumus belaku umum: f = (1/2π).(k/m)^½ ; jelaslah dengan bertambahnya massa (gas klothok, senar gitar, lumpur mengalir) yang ber-oscilasi, makin kecillah frequensinya. Betul nggak, om?
Maret 30, 2007 pukul 10:18 am |
ralat : 20 semburan /menit dan 12 semburan /menit ,harusnya :”semburan per lima menit “sesuai pernyataan Tim Supervisi Bola beton Satria Bijaksana diatas.
Maret 30, 2007 pukul 11:11 am |
Ada hal yg perlu diperhatikan soal “overtopping” ini. Bisa saja flowratenya bertambah, bisa juga terjad amblesan yang dulu saya sebut sebagai differential subsidence disini
http://rovicky.wordpress.com/2006/11/23/salam-duka-daerah-ini-wajar-ditenggelamkan-ditimbun/
April 1, 2007 pukul 3:44 am |
[...] memang pengamatan jumlah semburan permenit ini menunjukkan frekuensi yang berkurang, memang ada kemungkinan volume fluidanya yang keluar juga berkurang. Sebelumnya setiap menit 20 kali menjadi hanya 12 kali per menit. Tentu saja sulit mengukur dengan [...]
April 1, 2007 pukul 4:27 am |
tiap lima menit pak dhe!
April 1, 2007 pukul 4:44 am |
wooh hiya
suwun Oom
April 1, 2007 pukul 10:17 am |
Tambah gawat. terus. Lebih baik pak Rovicky, pak RIrawan dan ompapang yang suruh menangani. Habis yang ngurus selalu orang2 goblok.