SEMBURAN LUMPUR PANAS KIAN TAK TERKENDALI

Nusantara / Metro SiangJum’at, 30 Maret 2007 12:19 WIB

Metrotvnews.com, Sidoarjo: Luberan lumpur panas PT Lapindo Brantas dari pusat semburan di Banjar Panji I, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, semakin tidak terkendali. Saat ini, luberan lumpur panas kembali bergerak cepat ke wilayah Kelurahan Siring, Kecamatan Porong yang sebelumnya memang sudah terendam lumpur panas.

Selain itu, gelembung-gelembung kecil di Kelurahan Siring juga terlihat semakin banyak. Bahkan ada satu gelembung besar muncul dari dalam pemukiman yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Semburan dari gelembung semakin besar, bahkan bisa mencapai lima meter.

Pergerakan lumpur yang masuk ke Kelurahan Siring ini berasal dari luberan lumpur yang keluar dari tanggul Cincin. Apabila luberan lumpur ke Kelurahan Siring ini tidak segera ditutup, dikhawatirkan akan menggenangi rel kereta api untuk jalur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi dan Jalan Raya Porong.(DOR)

About these ads

20 Respon untuk SEMBURAN LUMPUR PANAS KIAN TAK TERKENDALI

  1. ompapang mengatakan:

    Judul berita : “SEMBURAN lumpur makin tak terkendali”, jebulannya isi beritanya : LUBERAN lumpur panas makin tak terkendali, wartawan semprul, gawe berita gak enjoh !
    SEMBURAN nya sudah dikendalikan dengan HDCB, soal berhasil tidaknya ditunjukkan oleh BLEBERAN lumpurnya .Kalau BLEBERAN bisa dikendalikan digiring masuk ke spillway dan dapat dibuang kelaut, baru namanya HDCB menunjukkan hasil yang diharapkan.Tetapi bila BLEBERAN sampai LUBER(overflow) diatas tanggul ,berarti BLEBERAN cari jalan sendiri (nggugu karepe dewe ) alias TAK TERKENDALI. Hal itu hanya bisa terjadi kalau debit SEMBURAN tidak berkurang (atau malah tambah?), jadi usaha meNGENDALIkan SEMBURAN dengan HDCB boleh dikata belum menunjukkan indikator keberhasilannya.(ompapang gur ape muni gagal, ndadak gae ukara munyer-munyer!.)

  2. RIrawan mengatakan:

    Just before I go on my trip…
    Wah bagus, apalagi dilanjutkan dengan upaya mencari fakta. Teruskan Novi.
    1. orang harus berani pakai persamaan2 sampai keluar angka-angkanya, itu awal cara memahami kebenaran rahasia alam, namanya hipotesa. Mengukur diperlukan untuk konfirmasi, kalau cocok maka hipotesanya (quasi) benar, sekaligus orang ngerti proses kerjanya alam.
    2. Silahkan diukur dan memang harus diukur. Bagi orang2 di lapangan, ada kog caranya. Hipotesa hanya menjadi (quasi) PASTI setelah cocok dengan hasil pengukuran. Itu yang saya bilang.
    3. lha data-data dari mereka yang berwenang dan bertugas memang sangat ditunggu-tunggu.
    4. viskositas naik karena semburan kecampur rontokan dinding, lama-lama ya berkurang campurannya. Cuma air di dekat rel kereta? Mmm … hipotesanya kan ceto welo-welo to … padatan yang rapat-jenisnya 20% diatas (average) fluidanya akan turun mengendap 1 m dalam waktu kurang 17 detik untuk yang lebih besar daripada 0,6 mm; dan 293 detik untuk yang diatas 0,002 mm. Lha mana ada padatan yang bisa nyampai sejauh rel kereta api, kecuali yang sangat sangat halus. Buktinya? Apa sudah diukur? Itu … saga spillway … padatannya numpuk di hulu spillway … dan sekarang: cuma air encer yang nyampe ke rel kereta api …
    Oke … ada lagi? Silahkan kritisi terus, dari situ kita makin mengerti alam.

  3. Novi mengatakan:

    jujur saja saya agak ragu dengan hipotesa bapak irawan.
    1. Bapak berani memakai persamaan2 dan mengeluarkan hasil berupa angka. Padahal tidak langsung mengukur. mungkin bisa kita kirim beberapa anggota blog ke sana unutk sesekali meninjau (gimana pak rovicky?).mungkin ada link?
    2. Kalau penghitungan debit secara kualitatif, saya sempat baca dalam salah satu harian, kalau sekarang itu perbaikan tanggul utama agak lebih mudah karena luapan lumpur relatif stabil (tenang). JAdi minimal debitnya tidak berambah atau fluktuasi semburan tidak lebih tinggi. Jadi terlalu berani kita mengatakan debit naik apalagi di tambah kata PASTI dari perhitungan.
    3. masalah suhu saya rasa orang2 timnas atau lapindo atau yg bekerja di sana memperhatikan itu (mungkin ada data2nya).
    4. viskositas naik. kemaren kebetulan saya lewat jalan raya porong. Emang ada aliran di dekat rel kereta. Tapi fluida itu bukan lumpur seperti yang dikeluarkan semburan. Aliran yang saya lihat berupa air. Jadi walaupun fluida ini memang berasal dari semburan, berarti kadar airnya lebih besar (lebih encer). Jadi faktanya bukan lebih kental.

  4. herman mengatakan:

    Pak RIrawan

    lho … saya ini tahu apa soal geologi, saya bukan orang geologi dan juga bukan orang fisika, apalagi yang konpleks-kompleks …… saya hanya terobsesi metatheorema …. ingin mencari apakah ada satu bahasa antar cabang – cabang disiplin hukum kodrat ….

    Uraian keadaan – keadaan umum dimana statemen-statemen (pernyataan / proposisi) nya adalah teorema-teorema disebut METATHEOREMA.

    jadi saya ini hanya .. uraian-uraian saja … bukan intinya … sebab kalau tidak yang diluar geologi spt saya pasti gak ngerti … padahal pembacanya khan dari multi disiplin.

    kalau pak RIrawan tidak muncul otomatis yang akan diliput tidak ada ..ya saya gak bisa muncul …

  5. RIrawan mengatakan:

    Novi, di bawah sana sumbernya sekarang menyemburkan 24-29 juta kalori/detik. Menurut saya debit naik atau turun itu mestinya bisa disimpulkan dari dampak kualitatif yang kelihatan. Saya sih tidak ngukur, melihat langsungpun tidak. Namun saya sudah mengatakan semua itu sebelum pelaksanaan insersi bolton, dasarnya dari hitung-hitungan ilmu alam dan math. Jadi ya terserah, percaya atau tidak.
    1. Debit naik. Lha rugi geser aliran (pr = ½ . λ . ρ . u2 . L/d) makin kecil akibat diameter-lubang (d) dibesarin oleh bolton.
    2. Makin kental atau viskositas naik. Itu karena dinding-dinding rontok, jadi kandungan padatannya naik.
    3. Makin panas. Itu karena sempat dihambat sesaat oleh bolton. Jadi energinya terkumpul dan terkonversi menjadi panas. Energi panas dan tekanan tinggi itu menambah kerusakan selubung magma, sehingga aktifitas geothermal naik 3-5 juta kalori/detik. Hipotesa ini didukung oleh naiknya kadar H2S (hasil reaksi air dan mineralsulfida) dan membesarnya gas/uap yang keluar.
    Saya tidak mengukur apapun, tetapi merangkai data-data sebelumnya berdasarkan hukum-hukum alam yang pasti dan membuat kesimpulan logis. Lalu saya hitung balik, kalau angkanya cocok dengan data awal itu, barulah saya kemukakan hipotesanya. Dan saya sudah omong tentang ini sebelum pelaksanaan insersi bolton. Cocok tidak dengan kenyataan setelah bolton dicemplungkan, ya kita lihat saja sama-sama.

    Saya beberapa hari kedepan bakal absen dari blog ini sebab ada tugas bepergian. Silahkan berdiskusi ria, saya akan kembali secepatnya tugas selesai.

    bun, mestinya ada dari kekuatan kreatifitas orang-orang super, gagasan untuk menghentikan aktifitas geothermal itu, dan masih ditunggu. Yang sudah keluar misalnya HDF dari pak Herman, lalu dimasukin dinamit langsung ke pusat reaktor semburan gas, sehingga injeksi air langsung terbumpet, dll. Tetapi ini semua bukan dari saya. Saya belum sesuper orang-orang hebat kreatif itu.

  6. bun mengatakan:

    Wah trima kasih Rirawan,

    Sangat jelas,…tapi apa ada teknologinya untuk menutup dapur magma atau menghentikan injeksi air kedapur magma?

  7. RIrawan mengatakan:

    bun, saya coba memakai fenomena yang tampak beserta data-data yang sudah diketahui untuk dirangkai berdasarkan hukum-hukum alam yang pasti dan membuat beberapa kesimpulan logis, lalu dari situ saya hitung balik. Hanya kalau angka-angka hitungan akhirnya masih cocok dengan data-data awal, maka beranilah saya mengutarakannya menjadi hipotesa.

    Bolton awalnya menghambat aliran. Tetapi sifat energi itu kekal, terkonversi menjadi kenaikan panas, tekanan dan energi kinetis berupa jet-spray lumpur dan gas, yang menggerus dan merontokkan dinding lubang, sehingga semburan sempat berhenti 35 menit, bumpet oleh longsoran dinding. Tetapi tekanan yang terus menguat menjebol hambatan itu. Boltonnya sendiri akan terus nyeplos ke bawah, meninggalkan lubang yang membesar. Dengan diameter lubang yang lebih besar, kecepatan arus menjadi lebih lambat. Sehingga interval semburan menjadi lebih panjang dari 20 ke 12 kali per 5 menit, dan tampak berkurang ketinggiannya. Itu karena yang melejit naik adalah gas bertekanan tinggi. Lumpur dan air terseret oleh arus gas, membuat rongga-rongga kosong yang sangat luas.

    Ambles hanya bisa terjadi bila ada rongga-rongga kosong. Dan itu memang sudah terjadi sejak 10 bulan lalu. Tetapi rongganya berada di kedalaman lebih dari 700 m. Di atas nya, sebagian besar uap air sudah collapse dan tidak mampu menarik fluida, melainkan melakukan konveksi, penetrasi memasuki lorong-lorong sungai bawah tanah. Maka setiap orang bisa meramalkan bakal ada amblesan. Persoalannya cuma kapan?

    Apakah ambles dipercepat oleh bolton?
    Saya lebih cenderung mengatakan sedikit pengaruhnya.
    Bolton menyebabkan sesaat ada terobosan gas panas ke samping kemana-mana, bisa juga sampai ke Gresik. Tetapi tidak menambah rongga kosong, kecuali struktur tanahnya mungkin menjadi makin volatile.

    Membuka saluran2 baru sangat mungkin, apabila saluran utamanya dihambat, karena pancaran energi 100-120 Mw akan terkonsentrasi menjadi tenaga dan panas yang sangat kuat dan liar. Ini saya sudah kemukakan sejak awal sebelum pencemplungan bolton, berikut cara menghitung dan angka-angkanya.

    Maka saya harus mengulangi lagi: bolton sangat berbahaya dan tidak layak diteruskan!

    Tidak ada cara menghentikan semburan dengan menghambat atau menyumbatnya dari atas. Di bawah sana sumbernya geothermal, yakni pertemuan air dengan sumber energi abadi, batuan cair atau magma. Maka caranya: hentikanlah aktivitas geothermal itu, tutup dapur magmanya, atau hentikan injeksi air ke dapur magma.

  8. Novi mengatakan:

    Saya tertarik dengan coment2nya pak RIrawan yang juga ikut menghitung2 dengan persamaan2 seperti bapak2 penggagas bolton tsb. Tapi saya baca di koran atau lihat di TV Timnas dan tim ITB ga berani ngomong masalah debit. Alasannya perhitungan debit semburan agak susah. Nah pak RIrawan menulis
    1. Saat ini dipastikan debit lumpur dan gas dipastikan bertambah setelah melakukan insersi HDCB (comment 1)
    gimana ya caranya pak RIrawan menghitung debit air, sementara timnas yang kesehariannya di sana mengaku kesulitan?
    2. Lumpur lapindo seolah2 makin kental atau viskositas naik (comment 2)
    Apa benar viskositasnya naik? mungkin ada yang menghitung dengan pasti?
    3. Lumpur yang nyembur sekarang makin panas. Menurut hitungan debitnya naik. (comment terakhir)
    Apa benar lumpurnya makin panas?mungkin pak RIrawan mengukurnya atau dapat data dari pihak lain. Kalau bisa saya juga ingin data2 ini, kemana harus saya minta. Mungkin kita dapat berpikir bersama2 karena saya juga tergerak untuk ikut memikirkan masalah ini.

  9. bun mengatakan:

    maksutnya menjadi unstable/disturbed..ato bahkan sturated,..jenuh.

  10. bun mengatakan:

    Mohon penjelasan yg ahli,…kalo bolton berhasil mengurangi tggi semburan dn frekuensi disemburan utama,…tapi muncul ditempat lain lagi,…apa ga berarti, malah membuka saluran2 baru?…dan lapisan2 tanah yg tadinya stable menjadi stable,…berarti mempercepat KEAMBLESAN?….spt ramalan mama laurent?…jangan2 bolton idenya mama laurent,…maaf sekedar humor.

  11. bun mengatakan:

    apa spy ada alasan bikin proyek pipa lagi?…semoga ga terlalu ngeress gitu,…kasian nyawa manusia..

  12. RIrawan mengatakan:

    Lebih mengancam itu pipa gas pertamina. Lumpur yang nyembur sekarang makin panas. Menurut hitungan, debitnya juga makin naik. Kalau kena pipa gas, sangat berbahaya. Aneh, sudah makan korban orang, malah dibangun lagi persis diatas tanggul, padahal sudah jelas tanggulnya bakal jebol. Sekarang pipanya sudah melintang diatas danau lumpur panas yang terus meluas.

    Kereta api masih bisa jalan pelan-pelan, sehingga kalau anjlokpun mungkin tidak sampai makan korban.

  13. bun mengatakan:

    Mas Lintang,…kalo LUSI sih bukan bencana alam,…itu bencana MANUSIA,..kalo bencana alam setau saya adalah bencana yg TIDAK disebabkan manusia,spt:gempa,tsunami,tornado..dll(tanpa TRIGGER HUMAN BEING).

    Mas Lintang ada PENERAWANGAN yg menurut saya WASKITA,…”…Kok pemerintah bodo amat?….”

    Hal ini juga menjadi pertanyaan saya,..terutama SEJAK meledaknya PIPA GAS pertamina….saya hanya rakyat bodo,…yg berpikir;…KOK TIMNAS MEMBUAT EMBANKMENT/TIMBUNAN diatas pipa gas tanpa proteksi apapun,…saya rasa semua org tau,..PASTI MELEDAK,…karena pipa gas..punya MAKSIMUM ALLOWABLE DEFLECTION khusunya disambungan,..dan kalo ditimbun,..pasti terjadi penurunan tanah/immediate settlement,..ga usah ngitung,…semua tehnik sipil akan ngerti pasti dorrr…njebluk,..kasian korban2 yg disana,…apa memang anak2 muda yg belum ngerti?yg dilapangan,…

    Apa nggak,..semakin luas lumpurnya,..semakin kompleks,..semakin besar proyeknya?,…kalo bis susah kenapa mesti digampangin(..kaya iklan sampoerna)…

    Ataau sekedar kurang sajen kepada yg mbaurekso,..hehehehhe,…

  14. RIrawan mengatakan:

    Pak Herman, kohesi molekular menyebabkan lumpur bersifat dilatant (kontra thixothrop). Lumpur lapindo seolah-olah makin kental atau viskositas dinamiknya (η) naik, apabila terhadapnya dilakukan gerakan yang menimbulkan tegangan-geser (τ = F/A) besar. Gejala ini cukup dikenal di kalangan operator oil-drilling. Hal ini menjelaskan dengan gamblang tentang semburan yang muncul secara periodik. Maka frequensi yang turun sangat jelas menunjukkan lubang sudah makin rusak dan diameternya membesar.

  15. herman mengatakan:

    RIrawan
    thixotrophy alamiah lapisan disturbed tidak cukup kuat menahan ekses enerji

  16. Lintang lagi mengatakan:

    Sangat betul ompapang. Pemerintah betul2 gambling, emangnya ini Pachinko… Lintang tambah bingung aja.
    Lintang juga sangat setuju dengan mas RIrawan, dengan sedikit perhitungan termodinamik sebetulnya udah keliatan.

  17. ompapang mengatakan:

    Lintang kok nggak bilang kalau pemerintah gambling fifty-fifty, kalau bisa nutup,berarti Lapindo yang ngganti rugi, kalau muncul retakan 2 baru,berarti bencana alam seperti kata Lintang, jadi Pemerintah yang keluarkan uang lebih kecil dari ganti rugi sesuai ketentuan undang-undang (?)bencana alam(namanya bukan ganti rugi).

  18. RIrawan mengatakan:

    Oh aku juga ketar-ketir.
    Coba pelajari Diskusi HDCB.

    Dari gejala yang muncul dan yang sudah diberitakan, saya coba menghitung-hitung ulang. Saat ini dipastikan debit lumpur dan gas lebih besar daripada sebelum insersi HDCB. Ada tambahan energi 15-20 Mw yang melejit keluar, tetapi sebagian energi itu sudah masuk ke jalur-jalur di samping lubang utama.

    Kalau diceploskan lagi 500-1000 HDCB, kerusakan lubang akan makin parah. Tekanan dibawah onggokan HDCB dan guguran dinding akan cukup besar untuk membuat terobosan, sehingga bakal muncul banyak lubang-lubang semburan-semburan baru. Tekanan itu bisa cukup besar, hingga semburan lumpur dan gas bisa muncrat tinggi di lubang-lubang baru.

    Perhitungan thermodynamic dengan metode yang sama seperti pernah saya paparkan dalam diskusi HDCB sangat jelas menunjukkan besarnya resiko itu. Saya harap banyak pihak lain yang kompeten mau ikut melakukan kajian mendalam tentang resiko ini.

  19. Lintang lagi mengatakan:

    Mbah Joyoboyo nate sendiko “mengko nek wis tutuk titi wancine, sidoarjo dadi segoro”. Lintang bengong, “Lho kok segoro mbah mengko omahe lintang piye, telogo mbekne.”
    “Ora cah bagus, segoro. Ndang minggato kono, mumpung durung kelelep blethokan panas”, wih mbah Joyo serius baget.
    Lintang mikir lan ketar-ketir,”Opo iyo dadi segoro….. :( :(

  20. Lintang mengatakan:

    Dalam hati rakyat, kenapa sih pemerinath begitu bodoh? Tetapi dalam hatiku pemerintah sangat pintar, udah tahu insersi bola2 ajaib akan menyumbat dan membuat tekanan makin besar lalu muncul retakan2 baru, tapi tetap saja dilakukan. Supaya orang bisa melihat bahwa LUMPUR ITU BUKAN DARI PENGEBORAN TETAPI DARI ALAM…. week
    Mbah dukun tolong lintang agar mata hati orang2 itu segera dibuka……..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: