Partitur di Atas Lumpur

RADAR SIDOARJO Kamis, 24 Apr 2008

SIDOARJO – Empat pria melumuri diri dengan lumpur. Mereka lantas berkeliling kolam sambil bernyanyi dan mengumandangkan doa untuk bumi. Itulah bagian ekspresi seni dalam festival budaya untuk memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

Festival budaya di Sanggar Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo, kemarin (24/4) itu juga dihadiri oleh seniman asal Australia Jan Cornell dan seniman dari Semarang Suwandi Widianto. Mereka menampilkan seni pertunjukan dengan tema Partitur di Atas Lumpur.

Suwandi dan kawan-kawan menyajikan penampilan teater yang apik. Mereka memainkan peran kontroversi antara penguasa dan rakyat. Salah satunya, adegan melumeri sekujur tubuh dengan lumpur, lalu berjalan mengelilingi kolam.

Dia pun menyanyi di atas kolam. Menggunakan alat sederhana, seperti seruling, batang pohon bambu, dan selang panjang. Saat mereka mainkan, keluarlah alunan nada. “Seni itu juga memiliki makna kekuatan doa,” ujar Suwandi.

Jan Cornell berpartisipasi dengan menyanyikan lagu kritik lingkungan. Dia mengimbau semua makhluk hidup saling menghormati. Setelah menyanyikan lagu tersebut, dia masuk sumur sedalam 5 meter. Di sana, Jan berekspresi dengan suara yang menggaung.

Jan melakukannya sebagai simbol untuk kondisi alam yang rusak. Dinding-dinging sumur hitam legam. Di dalam sumur dia menangis. “Get me out,” teriaknya lantang.(nuq/roz)

Tinggalkan Balasan