Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur

Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur
Senin, 30 Mei 2011 | 22:36 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya –  Adriano Mazzini, ahli geologi dari Oslo University, akhirnya angkat bicara pada sesi terakhir Humanitus Symposium on Indonesia’s Mud Volcano, yang berlangsung di Surabaya. “Saya tidak mau berpendapat karena Richard Davies sudah tidak ada di sini,” katanya. Davies, ahli ilmu kebumian dari Durham University, memang meninggalkan tempat itu lebih dulu untuk mengejar pesawat.

Pada sesi terakhir simposium yang berlangsung Kamis (26/5) petang lalu di Hotel Mercure, 14 pembicara dari dalam dan luar negeri tampil bersama di panggung. Sekitar satu jam, peserta dan wartawan diberi kesempatan bertanya kepada pembicara yang sejak pagi masing-masing mempresentasikan risetnya.

Sebelum sesi berakhir, Davies dan Mark Tingay dari Adelaide University pamit lebih dulu karena ada acara lain di negaranya. Saat itu baru muncul pertanyaan dari seorang wartawan tentang asal penyebab semburan lumpur panas di Desa Renokenongo, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006 dan sampai sekarang belum berhenti. “Apakah karena kesalahan pengeboran oleh PT Lapindo Brantas atau karena gempa bumi di Yogyakarta?”

Faktor penyebab semburan lumpur panas itu memang memicu kontroversi berkepanjangan hingga saat ini. Sejumlah ilmuwan kebumian dan perminyakan terbelah dua pendapatnya. Tidak terkecuali di lingkungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Prof R. P. Koesoemadinata, mantan ketua organisasi ini, pernah membuat surat protes terbuka terhadap penyelenggaraan Lokakarya Lumpur Sidoarjo oleh BPPT pada 2007. Koesoemadinata menilai pembicara lokakarya tersebut lebih didominasi ahli-ahli yang pro-gempa Yogyakarta.

Dalam forum internasional, Richard Davies dan Mark Tingay, dalam tulisannya di jurnal ilmiah, termasuk yang berpendapat faktor pengeboran sebagai penyebab munculnya semburan lumpur panas yang telah menenggelamkan beberapa desa di Sidoarjo. Sementara Adriano Mazzini–dalam jurnal ilmiah–berpendapat sebaliknya, yakni gempa Yogyakarta mengaktifkan patahan Watukosek yang melintasi Sidoarjo dan meletuskan <I>mud volcano<I>.

Untuk memperingati lima tahun semburan, Humanitus Foundation–lembaga swadaya masyarakat non-politik dan non-agama yang berpusat di Australia–dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyelenggarakan simposium internasional pada 25-26 Mei 2011. Pada hari pertama, 10 pembicara dari luar negeri dan empat pembicara dari dalam negeri serta para peserta meninjau lokasi kawah semburan dan muara Kali Porong.

Di sekitar kawah, panitia memasang bendera negara-negara yang pernah melakukan penelitian di kawasan lumpur Sidoarjo, antara lain Inggris, Australia, Amerika, Rusia, Jepang, dan Norwegia. Pembicara dan panitia melakukan foto bersama di lokasi semburan dan arena simposium itu.

Akan tetapi, simposium ini tak lepas dari kecaman. Andang Bachtiar, mantan Ketua IAGI dan kini menjadi Ketua Dewan Penasihat IAGI, membuat surat protes terbuka. Dia menuduh panitia tidak berimbang dalam memilih pembicara. Selain itu, mereka lebih menonjolkan ilmuwan asing. “Jadi marilah kita sama-sama ke Porong, Sidoarjo, pada 25-26 Mei ini untuk menyerahkan harga diri keilmuan kita ke para ahli asing dan menyediakan diri dimanfaatkan pihak tertentu untuk bersih-bersih,” katanya.

Direktur Eksekutif Humanitus Foundation Jeffrey Richards menolak tuduhan bahwa pihaknya sengaja mengundang pakar yang pro kepada Lapindo Brantas. “Lupakanlah soal pemicu, jauh lebih penting saat ini menangani para korban,” katanya. Bantahan serupa disampaikan oleh Wakil Kepala BPLS Hardi Prasetya.
Menurut Hardi, pembicara yang diundang adalah ilmuwan yang pernah melakukan penelitian dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal ilmiah. “Ada dalam Lusi Library kami,” kata guru besar ilmu geologi itu. Kami, kata Hardi, tidak bisa menyetir pendapat para ilmuwan mancanegara yang telah memiliki reputasi.

Panitia simposium terkesan menghindari diskusi soal penyebab semburan. Namun ada saja wartawan yang menanyakan hal itu kepada para ilmuwan. Richard Davies, yang masih tetap berpendapat bahwa pengeboran oleh Lapindo Brantas sebagai pemicu semburan lumpur panas, juga tidak mau berpolemik lebih jauh soal ini. Dalam paparannya dan kepada wartawan, dia lebih berfokus berbicara tentang berapa lama lumpur itu akan keluar.

Sayang, Davies dan Tingay harus kembali ke negaranya, sehingga tidak mengikuti secara penuh sesi terakhir. Jawaban atas pertanyaan wartawan soal penyebab semburan lumpur panas di Sidoarjo akhirnya menggantung. Adriano Mazzini tak ingin menjawab karena Davies dan Tingay tidak berada dalam ruangan. Dia ingin menunjukkan sikap adil.

Memang, tidak seperti sikap sekelompok ilmuwan di Tanah Air, para ahli mancanegara yang berbeda pendapat tersebut rukun-rukun saja selama tiga hari di Sidoarjo. Davies, Tingay, Mazzini, dan ahli lainnya makan dalam satu meja. Mereka pun berada dalam satu mobil saat menuju lokasi lumpur Lapindo dan asyik berdiskusi satu sama lain.

Jeffrey Richards menjelaskan, pihaknya hanya mengganti tiket dan memfasilitasi akomodasi para pembicara. “Mereka mau datang ke sini tanpa dibayar karena (punya) keinginan besar untuk meneliti semburan lumpur ini,” katanya.

Memang, obyek kajian ahli ilmu kebumian kebanyakan produk yang terjadi sejak ribuan hingga miliaran tahun lalu. “Dari lumpur Sidoarjo ini kita mengamati kelahiran dan evolusi serta dinamika obyek ini,” kata Loyc Vanderkluysen, dari Arizona State University.

Hardi Prasetya dan Sofyan Hadi dari BPLS menawarkan kantor lembaganya menjadi tempat penelitian para ahli. Sedangkan Jeffrey Richards berencana membentuk jaringan ilmuwan tentang lumpur Sidoarjo.

Agar tidak menimbulkan kontroversi, seyogianya mereka melibatkan lembaga lain di Tanah Air, seperti LIPI, IAGI, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia, serta perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain. Selain demi kemaslahatan ilmu pengetahuan, riset tersebut harus bermanfaat untuk membantu warga yang menjadi korban lumpur panas di Sidoarjo.

UNTUNG WIDYANTO

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/30/brk,20110530-337778,id.html

Catatan RDP “

Publish or perish

Sayang sekali, pendapat dari sisi yang berkeyakinan bahwa Lumpur Lapindo disebabkan oleh pengeboran sangat jarang menuliskan secara ilmiah yang dipublikasikan dalam publikasi “resmi”. Dalam dunia ilmu, segala yang dianggap ilmiah harus ada dalam sebuah journal yang dapat disitir secara benar. Ini memang tidak berarti bahwa yang dipublikasikan merupakan sebuah kebenaran, tetapi yang dipublikasikan inilah yang akan menjadi tersimpan, dalam bahasa geologi terfosilkan. atau preserved. Artinya keberadaanya teruji dan terbukti serta dapat dipertanggungjawabkan.
Termasuk tulisan dalam mailist, koran, blog atau website, bukanlah sebuah tulisan ilmiah, dan tidak dapat disitir sebagai rujukan (referensi). Karena ini mirip koran yang tidak ada reviewnya. Davies dan Mazzini keduanya beradu karena tulisannya masuk dalam jurnal ilmiah. Walaupun isinya sama dengan tulisan di Dongeng Geologi sekalipun ! hihihihi. Tapi yg diakui tetep saja mereka-mereka ini.
Ini mirip dalam dunia poltik dimana politik yang diakui adalah percaturan politik di dalam parlemen, walaupun sebobrok apapun, tetapi legitimasi ada disana. Obrolan dalam televisi maupun demo bisa saja dianggap parlemen jalanan.

Jadi kalau ingin “terdengar” tuliskan saja pendapat itu dalam sebuah jurnal ilmiah. Diterbitkan. Dan lebih baik lagi kalau naskah publikasinya mendapat ISSN atau ISBN.

Salam

RDP

About these ads

11 Balasan ke Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur

  1. johan mengatakan:

    Mungkin pulau jawa akan tenggelam oleh lumpur hahahaha…..

  2. lucy mengatakan:

    itulah simbol ke- egoisan, Keserakahan, Kekuasaan, kalau ke untungan yg di dapat mereka mau ambil sendiri, tapi kalau kerugian, mereka ingin ada pihak lain yang menanggung, dengan segala Dalih, cara, dan upaya..,, mereka tidak juga sadar, apa yg telah mereka perbuat bahwa Tuhan akan meminta pertanggung jawaban nya di suatu saat nanti. harta yg mereka dapat dari cara2 sebelum nya, tidak sedikit pun memudahkan urusan mereka di alam sana. bahkan teman ataupun saudara2 mereka yg sebelum nya bisa membela mereka tapi TIDAK di alam sana, Bumi ini ciptaan Tuhan, tidak ada bahkan tidak akan pernah ada Planet lain yang mampu menyamai seperti bumi, yang sepatutnya kita jaga kelestarian nya. bukan seenaknya meng exsploitasi. Tuhan dan Malaikat pun sebelumnya tahu, bahwa manusia di bumi hanya akan membuat kerusakan….,maka dari itu Tuhan telah menyediakan tempat SURGA dan NERAKA untuk mereka. Manusia memiliki batasan umur, tapi memiliki keinginan yang tak terbatas.., itu adalah KESOMBONGAN yang bukan pada HAK nya.., hanya Tuhan lah yang berhak SOMBONG, bukan kita para manusia.

  3. dhany mengatakan:

    mungkin menurut ahli geologi ataupun ahli bumi sekalipun saya yakin pasti ada pro dan kontrak jika lumpur lapindo tidak ada yang mampu mengatasi maslah ini … tapi maslah ini sampai sekarang juga belum teratasi kita bukan butuh janji tapi bukti. saya tidak tau untuk memulainya, setidak nya kasih kesempatan buat saya yang tak tau apa – apa soal geologi karena saya mempunya informasi bahkan lebih dari informasi bahwa ada seseorang yang bisa atau bersedia untuk membantu menunjukkan kemampuannya… tapi beliau ini hanyalah rakyat biasa suara apapun,dan usaha apapun banyak orang tidak percaya,apa bisa rakyat biasa atau Beliau ini di beri kesemptan untuk hal ini…adakah orang yang bisa membantu saya untuk beliau ini ???? saya sungguh berharap hingga sekrang untuk niat baik beliau ini. tapi saya tak atau memulainya dari mana …

    • ADRIANA T.H mengatakan:

      Why not, believe or not, orang itu memang “ADA”, bahkan dekat dengan semburan lapindo, karena memang ” Dia” Sudah Waktunya Muncul di tanah jawa ini.

  4. dhany mengatakan:

    maaf sebelumnya saya ikut nimbrung di forum ini …apa masih aad yang percaya apabila ada sesorang yang bisa membantu menggatsin lumpur lapindo?

  5. dhany mengatakan:

    maaf sebelumnya sa ikut nimbrung di forum ini …apa masih aad yang percaya apabila ada sesorang yang bisa membantu menggatsin lumpur lapindo?

  6. filesindo mengatakan:

    Dampak sosial,ekonomi dan kesehatannya rakyat disekitarnya juga wajib diperhatikan, masih banyak yang tidak jelas nasipnya padahal air dan udara sudah sangat tercemar, wahai para DPR dan juga PRESIDEN beserta WAKILNYA mohon dirasakan apa yang kita rasakan, mohan datang dan menginaplah ditempat kami untuk beberapa hari, anda semua akan tau betapa menderita dan susahnyanya jika hidup disini,

    jangan cuma sibuk memikirkan kesejahteraan diri sendiri, tolong tanggungjawablah pada kesejahteraan kami rakyatmu, jangan kau tindas kami, jangan kau bohongi kami dengan dongeng2mu, kami butuh adil dan bijaksanamu

    salam,
    Rakyat PORONG

  7. yogie mengatakan:

    sekarang tak perlu saling menyalahkan gimana cara untuk penghentiannya
    saya punya cara apakah menurut geologi indonesia bisa atau tidak
    blm pernah dilakukan penyumbatan melalui titik pengeboran awal,dengan cara dibor ulang dan memasukkan cubing lebih kecil dari pengeboran awal tersebut.
    menurut penelitian saya bahwa terjadi kebocoran waktu pengeboran awal tersebut. dan letak dari pada kebocoran itu saya perkirakan antara 1500m kedalamannya dalam tahap awal pengeboran adalah 3000m kemungkinan besar seprti itu
    tergantung dari ahli geologi
    trimah kasih bagi yang membaca dan ahli geologi indonesia

    Balas

  8. dian mantens mengatakan:

    presiden kon gagas ra mung juk gaji mundak ae . . . .kon mundur ae SBY , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: