<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Diskusi HDCB</title>
	<atom:link href="http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hotmudflow.wordpress.com</link>
	<description>A geoscientist concern on hot mud flow in East Java, Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Dec 2009 15:04:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: usil</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31667</link>
		<dc:creator>usil</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 02:45:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31667</guid>
		<description>Hanya segelintir orang saja yang bisa jawab pertanyaan2 pak Lippman dan Bara 
diatas.

Siapa2 mereka? Tanya pak Dhe Rovic.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya segelintir orang saja yang bisa jawab pertanyaan2 pak Lippman dan Bara<br />
diatas.</p>
<p>Siapa2 mereka? Tanya pak Dhe Rovic.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bara</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31663</link>
		<dc:creator>bara</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 04:52:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31663</guid>
		<description>tanda2, penyebab, cara pengatasannya terhadap beban torsi,tension dan buckling pada pipa bor apa yaaaa, makasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tanda2, penyebab, cara pengatasannya terhadap beban torsi,tension dan buckling pada pipa bor apa yaaaa, makasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lippman</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31572</link>
		<dc:creator>lippman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 03:28:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31572</guid>
		<description>mohon bantuannya rumus2 tentang tekanan, yang ditekan itu rubber yang punya density(kekentalan) tertentu didalam tabung, yang mana ruber tersebut tadinya keras kemudian dipanaskan dengan waktu tertentu akan meleleh, selanjutnya ditekan dialirkan kebeberapa dititik dengan dia yang mengecil dalam waktu tertentu, karena rubber tersebut sifatnya akan mati atau keras dalam waktu tertentu,
yang menjadi pertanyaan berapa kecepatan dan waktu tempuh yang dibutuhkan, dan diameter(area) yang cocok untuk perubahan dia mengecil, 

mohon bantuaanya kalo bisa ada contoh rumusnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mohon bantuannya rumus2 tentang tekanan, yang ditekan itu rubber yang punya density(kekentalan) tertentu didalam tabung, yang mana ruber tersebut tadinya keras kemudian dipanaskan dengan waktu tertentu akan meleleh, selanjutnya ditekan dialirkan kebeberapa dititik dengan dia yang mengecil dalam waktu tertentu, karena rubber tersebut sifatnya akan mati atau keras dalam waktu tertentu,<br />
yang menjadi pertanyaan berapa kecepatan dan waktu tempuh yang dibutuhkan, dan diameter(area) yang cocok untuk perubahan dia mengecil, </p>
<p>mohon bantuaanya kalo bisa ada contoh rumusnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: AlFarid</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31276</link>
		<dc:creator>AlFarid</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 06:24:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-31276</guid>
		<description>Sejauhmana dampak (pengurangan) semburan lumpur terhadap pemasangan Bola Beton..lalu apa upaya yang akan dilaksanakan saat ini dan ke depan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sejauhmana dampak (pengurangan) semburan lumpur terhadap pemasangan Bola Beton..lalu apa upaya yang akan dilaksanakan saat ini dan ke depan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Budiyono</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-19108</link>
		<dc:creator>Budiyono</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 10:24:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-19108</guid>
		<description>Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di optimaidea@plasa.com terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di <a href="mailto:optimaidea@plasa.com">optimaidea@plasa.com</a> terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Budiyono</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-19107</link>
		<dc:creator>Budiyono</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 10:22:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-19107</guid>
		<description>Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di optimaidea@plasa.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada siapapun ini kami mohon alamat jelas PT.LAPINDO BRANTAS terima kasih lebih baik jikalau dikirimkan melalui alamat email kami di <a href="mailto:optimaidea@plasa.com">optimaidea@plasa.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mang Ipin</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14489</link>
		<dc:creator>mang Ipin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Aug 2007 02:41:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14489</guid>
		<description>Sori baru kembali dari Garut habis ngeliat PLTPB di Kamojang,begitu buka favorit blog
ini waaaah!!! sudah sangat ramai dengan pencerahan dari beberapa para pakar qta,
maaf yo bung Usil masih belum pindah ke diskusi HDCB part II masih ndompleng aza
dsini.... namun ulasan terakhir dari mdm Hime mengenai fail dari trial n error dua PT ter
kenal ndak ada sanksinya alias tanggung jawabnya??????? yaah barangkali itu me-
rupakan jawaban kenapa BPLS tidak tolah toleh kepada usulan2 yang suangaat reason
able dari para pakar di blog ini yaaa????????mbuh, lam kompak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sori baru kembali dari Garut habis ngeliat PLTPB di Kamojang,begitu buka favorit blog<br />
ini waaaah!!! sudah sangat ramai dengan pencerahan dari beberapa para pakar qta,<br />
maaf yo bung Usil masih belum pindah ke diskusi HDCB part II masih ndompleng aza<br />
dsini&#8230;. namun ulasan terakhir dari mdm Hime mengenai fail dari trial n error dua PT ter<br />
kenal ndak ada sanksinya alias tanggung jawabnya??????? yaah barangkali itu me-<br />
rupakan jawaban kenapa BPLS tidak tolah toleh kepada usulan2 yang suangaat reason<br />
able dari para pakar di blog ini yaaa????????mbuh, lam kompak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hime_furuumun93</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14476</link>
		<dc:creator>Hime_furuumun93</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 15:37:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14476</guid>
		<description>Om Papang betul, sama sekali tidak ngawur, pak usil yang baik.
Kesimpulan pak usil logis, dan tentu saja benar!
Karakteristik semburan2 liar itu persis Bejana Berhubungan, sebab pangkalnya dapat dipastikan berawal atau bercabang pada lubang semburan utama. Dilubang semburan utama, tekanan hidrostatis dikontrol oleh tinggi genangan di pond. Maka tinggi semburan liar (statis) tidak bakal melebihi tinggi genangan dilubang semburan utama ditambah tekanan gas di semburan liar.

Pemikiran pak usil yang diilhami adanya Bejana Berhubungan antara semburan liar dengan lubang semburan utama, seharusnya menjadi dasar tim ITS membuat tekanan “kontra hidrostatis”, yakni keyakinan bahwa tekanan semburan liar tidak bakal jauh berbeda dari sekitar 20 m. Hanya metode mereka saja yang bikin repot diri sendiri dengan pakai pralon setinggi gedung 5 lantai segala. Sehingga konsep yang sudah benar itu dan seharusnya pasti sukses, malah membingungkan para penontonnya. Pralonnya goyang sedikit, muncul hujan.

Wah, ternyata om Papang sudah sejak awal awal kritis atas metode tim ITS: &quot;kog primitif sekali, ndadak pakai pipa setinggi 24 m, mbok pake relief valve +manometer kan lebih bisa diketahui tekanan airnya. ................&quot;
Ternyata om Papang lah yang pertama kali memikirkan dan mengusulkan metode alternative yang lebih masuk akal. Pada dasarnya usulan om Papang perfect. Hanya seperti om Papang sudah menegaskannya: &quot;Kalau tidak kuat pasangan pipa berbentuk huruf T tersebut akan jebol keatas.&quot; Oleh sebab itulah saya usulkan agar dipakai plat baja sebarat total gaya tekan dari semburan liar yang bekerja pada luas penampang pipa. Dengan injakan plat baja itu, pipa akan tertanam aman.

Tetapi disini ini aneh, ya om.
Yang dijalankan dilapangan bukannya usulan om Papang yang sudah jelas logis, melainkan tetap pemasangan pralon kurus setinggi gedung 5 lantai yang lucu itu. Ya sudah pasti goyang2 dan terus bikin hujan.
Persis seperti HDCB nya tim ITB. Sudah dikritik dan dikupas habis2 an dengan perhitungan rinci dan dalil2 yang sangat kuat. Nyatanya tetap dikerjakan dengan argumen trial &amp; error yang sangat ngawur, bahwa bola menyerap energi friksi, rotasi dan translasi. Setelah sekarang benar2 muncul banyak semburan liar, apa tanggung jawabnya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Om Papang betul, sama sekali tidak ngawur, pak usil yang baik.<br />
Kesimpulan pak usil logis, dan tentu saja benar!<br />
Karakteristik semburan2 liar itu persis Bejana Berhubungan, sebab pangkalnya dapat dipastikan berawal atau bercabang pada lubang semburan utama. Dilubang semburan utama, tekanan hidrostatis dikontrol oleh tinggi genangan di pond. Maka tinggi semburan liar (statis) tidak bakal melebihi tinggi genangan dilubang semburan utama ditambah tekanan gas di semburan liar.</p>
<p>Pemikiran pak usil yang diilhami adanya Bejana Berhubungan antara semburan liar dengan lubang semburan utama, seharusnya menjadi dasar tim ITS membuat tekanan “kontra hidrostatis”, yakni keyakinan bahwa tekanan semburan liar tidak bakal jauh berbeda dari sekitar 20 m. Hanya metode mereka saja yang bikin repot diri sendiri dengan pakai pralon setinggi gedung 5 lantai segala. Sehingga konsep yang sudah benar itu dan seharusnya pasti sukses, malah membingungkan para penontonnya. Pralonnya goyang sedikit, muncul hujan.</p>
<p>Wah, ternyata om Papang sudah sejak awal awal kritis atas metode tim ITS: &#8220;kog primitif sekali, ndadak pakai pipa setinggi 24 m, mbok pake relief valve +manometer kan lebih bisa diketahui tekanan airnya. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;<br />
Ternyata om Papang lah yang pertama kali memikirkan dan mengusulkan metode alternative yang lebih masuk akal. Pada dasarnya usulan om Papang perfect. Hanya seperti om Papang sudah menegaskannya: &#8220;Kalau tidak kuat pasangan pipa berbentuk huruf T tersebut akan jebol keatas.&#8221; Oleh sebab itulah saya usulkan agar dipakai plat baja sebarat total gaya tekan dari semburan liar yang bekerja pada luas penampang pipa. Dengan injakan plat baja itu, pipa akan tertanam aman.</p>
<p>Tetapi disini ini aneh, ya om.<br />
Yang dijalankan dilapangan bukannya usulan om Papang yang sudah jelas logis, melainkan tetap pemasangan pralon kurus setinggi gedung 5 lantai yang lucu itu. Ya sudah pasti goyang2 dan terus bikin hujan.<br />
Persis seperti HDCB nya tim ITB. Sudah dikritik dan dikupas habis2 an dengan perhitungan rinci dan dalil2 yang sangat kuat. Nyatanya tetap dikerjakan dengan argumen trial &amp; error yang sangat ngawur, bahwa bola menyerap energi friksi, rotasi dan translasi. Setelah sekarang benar2 muncul banyak semburan liar, apa tanggung jawabnya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ompapang</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14470</link>
		<dc:creator>ompapang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 12:58:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14470</guid>
		<description>Nggak ngawur pak Usil, memang dalam beberapa bejana yang berhubungan  dengan  luas penampangnya berbeda satu terhadap  lainnya seperti disebut Bu Hime, tinggi permukaan air senantiasa semua sama tak tergantung luas permukaan, (kecuali bila berbentuk kapiler).Hal tersebut disebut HIDROSTATIS PARADOKS. Coba tanya Bu Hime kalau gak percaya....sekali lagi :pak Usil nggak ngawur....he 3X.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nggak ngawur pak Usil, memang dalam beberapa bejana yang berhubungan  dengan  luas penampangnya berbeda satu terhadap  lainnya seperti disebut Bu Hime, tinggi permukaan air senantiasa semua sama tak tergantung luas permukaan, (kecuali bila berbentuk kapiler).Hal tersebut disebut HIDROSTATIS PARADOKS. Coba tanya Bu Hime kalau gak percaya&#8230;.sekali lagi :pak Usil nggak ngawur&#8230;.he 3X.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ompapang</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14469</link>
		<dc:creator>ompapang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 12:49:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14469</guid>
		<description>Bu Hime, saya pernah komen pada tgl 26/6 -07 pada topik &quot;Was-was ,ITS stop semburan&quot; mengenai menutup semburan dengan bantuan  relief valve +manometer.
Btw, ompapang gak ada prasangka buruk lho, sesama murid perguruan Eyang Bernoulli sudah wajar kalau muncul ide yang sama atau mirip. Yang jelas mesti  lebih mudah menemukan titik temu, sebab pakai bahasa yang sama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Hime, saya pernah komen pada tgl 26/6 -07 pada topik &#8220;Was-was ,ITS stop semburan&#8221; mengenai menutup semburan dengan bantuan  relief valve +manometer.<br />
Btw, ompapang gak ada prasangka buruk lho, sesama murid perguruan Eyang Bernoulli sudah wajar kalau muncul ide yang sama atau mirip. Yang jelas mesti  lebih mudah menemukan titik temu, sebab pakai bahasa yang sama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: usil</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14468</link>
		<dc:creator>usil</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 11:41:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14468</guid>
		<description>Koq Bejana Berhubungan......ngawur aku!
Ompapang...jangan ketawain dong!!

Wuuups! pecah 300 posting disini......MURI ngkali ya??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Koq Bejana Berhubungan&#8230;&#8230;ngawur aku!<br />
Ompapang&#8230;jangan ketawain dong!!</p>
<p>Wuuups! pecah 300 posting disini&#8230;&#8230;MURI ngkali ya??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: usil</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14463</link>
		<dc:creator>usil</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 09:10:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14463</guid>
		<description>Yaaaa??? yang diatas itu usil posting sebelum baca komennya non Hime!
Amburadul deh susunannya....ya wis!

Tapi penjelasannya non Hime itu, apa berkaitan dengan Bejana Berhubungan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yaaaa??? yang diatas itu usil posting sebelum baca komennya non Hime!<br />
Amburadul deh susunannya&#8230;.ya wis!</p>
<p>Tapi penjelasannya non Hime itu, apa berkaitan dengan Bejana Berhubungan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: usil</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14462</link>
		<dc:creator>usil</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 08:54:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14462</guid>
		<description>Iya betul juga yang Bang Rud bilang tentang selang.
Usil ingat kalo lagi cuci bajaj usil dan air pam lagi soak, ujung selang
harus dicekik agar semprotan bisa nyampe ke bajaj yang lagi parkir
di jaoh sana.

Uuups....sori!  seharusnya diposting di HDCB-2.       Yuuuuk!!!...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Iya betul juga yang Bang Rud bilang tentang selang.<br />
Usil ingat kalo lagi cuci bajaj usil dan air pam lagi soak, ujung selang<br />
harus dicekik agar semprotan bisa nyampe ke bajaj yang lagi parkir<br />
di jaoh sana.</p>
<p>Uuups&#8230;.sori!  seharusnya diposting di HDCB-2.       Yuuuuk!!!&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hime_furuumun93</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14459</link>
		<dc:creator>Hime_furuumun93</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 08:15:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14459</guid>
		<description>Duh, bang Rud ini bagaimana? Bang sudah menulis sendiri: “Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar.” 

Sebelumnya om Papang sudah menjelaskan dengan gamblang: “.......bila pada tinggi pralon 20 meter PAS pada saat itu tidak ada semburan(SEMBURAN BERHENTI).” 

Sayapun juga sudah menuliskan: “Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan “kontra hidrostatis”, maka v = 0.” 

Lalu, apanya yang bertentangan dengan hukum Bernoulli? Tujuan pipa pralon tim ITS adalah membuat semburan dinamis menjadi kondisi statis atau semburannya berhenti.

Bang Rud: ‘Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.’

H: Duh, logika apaan ini? 
Asumsi awal: tekanan semburan dari bawah adalah 20 m. 
Maka setelah tinggi pralon tim ITS mencapai 20 m, semburannya pasti berhenti. Mana bisa naik jadi 40 m? Mau pipanya 1 cm, 1 m atau 100 m, tetap airnya cuma bisa naik 20 m. Berhenti ya berhenti, titik!

Bang Rud: ‘Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan.’

H: Ya tergantung!
Kalau saya sambungkan slang air itu ke pralonnya tim ITS pada ketinggian 21 m, meskipun diperkecil lubangnya sampai 1 mm, tetap tidak bakal keluar airnya. Sebab airnya sudah berhenti pada ketinggian 20 m.
Tetapi, kalau saya sambungkan slang air itu kebagian bawah pralonnya tim ITS, lalu saya arahkan mulut slang vertikal keatas dan ujung slang saya perkecil, maka hasilnya sbb:
- air mancur keatas, tetapi jauh dibawah angka absolut 20 m,
- air mancur makin tinggi, bila dipakai slang yang lebih besar (lubang diujung slang tetap sama kecil),
- air mancur makin mendekati 20 m dalam ruang vakum tanpa hambatan udara. 

Bang Rud: ‘Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja.’

H: Ya tidak ada yang aneh. 
Pada pipa berdiameter kecil, aliran air naik dengan cepat. Sedangkan di ember, naiknya air lebih lambat. Tetapi katakanlah, embernya dibuat sangat tinggi, maka tetap air akan naik dan berhenti pada 20 m. Dan meskipun kita pakai pipa 1 cm, airnya tetap berhenti di 20 m.   

Om Papang: ‘Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat lempengan besi W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.’

H: Oh, om sudah pernah usul mengganti pralon panjangnya ITS (yang aneh dan merepotkan itu) dengan valve + relief valve + manometer? Aduh, dimana om? Saya tidak niatan mencuri ide. Tetapi bagus sekali, dengan tambahan relief valve dan manometer pada pipa cabang-4 + plat baja, maka metode penyumbatan semburan liar akan bisa lebih cepat dilakukan. Namun kita perlu hati2, lubang pipa sebelah atas tidak boleh tertutup permanen, melainkan harus pakai sekat ring karet dan plat baja sebagai counter-weight. Sehingga kalau berat platnya kurang, air tetap bisa menerobos keluar, tanpa menyebabkan sisa tenaga tendangan semburan dari bawah membuat pipa yang ditanamkan tercabut naik keatas. 

Pak Rovicky yang punya blog ini bagaimana? Rubriknya dipotong diakhir dan kita disuruh pindah, konteksnya ya tidak nyambung, apalagi yang baru membaca. Usulnya adalah 20 texts terakhir dipindahkan ke HDCB 2. Tetapi terserah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Duh, bang Rud ini bagaimana? Bang sudah menulis sendiri: “Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar.” </p>
<p>Sebelumnya om Papang sudah menjelaskan dengan gamblang: “&#8230;&#8230;.bila pada tinggi pralon 20 meter PAS pada saat itu tidak ada semburan(SEMBURAN BERHENTI).” </p>
<p>Sayapun juga sudah menuliskan: “Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan “kontra hidrostatis”, maka v = 0.” </p>
<p>Lalu, apanya yang bertentangan dengan hukum Bernoulli? Tujuan pipa pralon tim ITS adalah membuat semburan dinamis menjadi kondisi statis atau semburannya berhenti.</p>
<p>Bang Rud: ‘Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.’</p>
<p>H: Duh, logika apaan ini?<br />
Asumsi awal: tekanan semburan dari bawah adalah 20 m.<br />
Maka setelah tinggi pralon tim ITS mencapai 20 m, semburannya pasti berhenti. Mana bisa naik jadi 40 m? Mau pipanya 1 cm, 1 m atau 100 m, tetap airnya cuma bisa naik 20 m. Berhenti ya berhenti, titik!</p>
<p>Bang Rud: ‘Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan.’</p>
<p>H: Ya tergantung!<br />
Kalau saya sambungkan slang air itu ke pralonnya tim ITS pada ketinggian 21 m, meskipun diperkecil lubangnya sampai 1 mm, tetap tidak bakal keluar airnya. Sebab airnya sudah berhenti pada ketinggian 20 m.<br />
Tetapi, kalau saya sambungkan slang air itu kebagian bawah pralonnya tim ITS, lalu saya arahkan mulut slang vertikal keatas dan ujung slang saya perkecil, maka hasilnya sbb:<br />
- air mancur keatas, tetapi jauh dibawah angka absolut 20 m,<br />
- air mancur makin tinggi, bila dipakai slang yang lebih besar (lubang diujung slang tetap sama kecil),<br />
- air mancur makin mendekati 20 m dalam ruang vakum tanpa hambatan udara. </p>
<p>Bang Rud: ‘Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja.’</p>
<p>H: Ya tidak ada yang aneh.<br />
Pada pipa berdiameter kecil, aliran air naik dengan cepat. Sedangkan di ember, naiknya air lebih lambat. Tetapi katakanlah, embernya dibuat sangat tinggi, maka tetap air akan naik dan berhenti pada 20 m. Dan meskipun kita pakai pipa 1 cm, airnya tetap berhenti di 20 m.   </p>
<p>Om Papang: ‘Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat lempengan besi W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.’</p>
<p>H: Oh, om sudah pernah usul mengganti pralon panjangnya ITS (yang aneh dan merepotkan itu) dengan valve + relief valve + manometer? Aduh, dimana om? Saya tidak niatan mencuri ide. Tetapi bagus sekali, dengan tambahan relief valve dan manometer pada pipa cabang-4 + plat baja, maka metode penyumbatan semburan liar akan bisa lebih cepat dilakukan. Namun kita perlu hati2, lubang pipa sebelah atas tidak boleh tertutup permanen, melainkan harus pakai sekat ring karet dan plat baja sebagai counter-weight. Sehingga kalau berat platnya kurang, air tetap bisa menerobos keluar, tanpa menyebabkan sisa tenaga tendangan semburan dari bawah membuat pipa yang ditanamkan tercabut naik keatas. </p>
<p>Pak Rovicky yang punya blog ini bagaimana? Rubriknya dipotong diakhir dan kita disuruh pindah, konteksnya ya tidak nyambung, apalagi yang baru membaca. Usulnya adalah 20 texts terakhir dipindahkan ke HDCB 2. Tetapi terserah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ompapang</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14452</link>
		<dc:creator>ompapang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 04:34:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14452</guid>
		<description>Bu Hime, saya setuju dengan ide menutup semburan &#039;yang masih kecil&#039; dengan plat baja dan maaf saya salah mengartikan  ketikan kp sebagai kilopascal . Mengenai  tekanan =density X 2g.h , seperti telah saya tulis diatas , harga 2g.h adalah pengganti v^2, sebab menurut saya untuk energi potensial  air setinggi h , akan menimbulkan energi kinetik dengan kecepatan  v= V2g.h  (akar 2g.h)Jadi disini dianggap ada semburan air keluar dari pipa yang berdiameter 10 cm dengan kec.epatan v. Untuk menahan semburan yang mirip nosel tersebut dibutuhkan Gaya F= 3,14 X 0,1^2 /4 X1000 kg/m3 X 2X 10 m/det2 X 20 m = 3140 kN. Tetapi bila cara perlawanannya dengan metode  Bu Hime,memang yang dilawan bukan tekanan hidrodinamik,tetapi hidrostatik. Jadi  menurut saya metode Bu Hime  lebih cerdas, sebab tekanan hidrodinamiknya sudah dibocorkan/by pass oleh kran/valve. 
Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan  yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat  lempengan besi  W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.     
Btw, karena rasanya HDCB sudah marhum, maka saya setuju  diskusi penutupan semburan baru dibuatkan forum baru seperti diusulkan PapaTITA.Setuju Pak Dhe?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Hime, saya setuju dengan ide menutup semburan &#8216;yang masih kecil&#8217; dengan plat baja dan maaf saya salah mengartikan  ketikan kp sebagai kilopascal . Mengenai  tekanan =density X 2g.h , seperti telah saya tulis diatas , harga 2g.h adalah pengganti v^2, sebab menurut saya untuk energi potensial  air setinggi h , akan menimbulkan energi kinetik dengan kecepatan  v= V2g.h  (akar 2g.h)Jadi disini dianggap ada semburan air keluar dari pipa yang berdiameter 10 cm dengan kec.epatan v. Untuk menahan semburan yang mirip nosel tersebut dibutuhkan Gaya F= 3,14 X 0,1^2 /4 X1000 kg/m3 X 2X 10 m/det2 X 20 m = 3140 kN. Tetapi bila cara perlawanannya dengan metode  Bu Hime,memang yang dilawan bukan tekanan hidrodinamik,tetapi hidrostatik. Jadi  menurut saya metode Bu Hime  lebih cerdas, sebab tekanan hidrodinamiknya sudah dibocorkan/by pass oleh kran/valve.<br />
Btw,kalau gak salah saya sudah pernah komentar tentang penggunaan valve untuk semburan  yang ditangani ITS, tapi disana saya tambahi relief valve yang bisa disetel dan manometer untuk mengetahui sisa tekanan yang mendorong terjadinya semburan. Dengan membaca manometer,maka h nya akan dapat diperkirakan dengan mengalikan 10 dari angka yang terbaca di manometer. Dengan didapatnya harga h, maka berat  lempengan besi  W dapat ditentukan pula,tak perlu banyak menambah-nambah.<br />
Btw, karena rasanya HDCB sudah marhum, maka saya setuju  diskusi penutupan semburan baru dibuatkan forum baru seperti diusulkan PapaTITA.Setuju Pak Dhe?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Bang Rud</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14451</link>
		<dc:creator>Bang Rud</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 04:14:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14451</guid>
		<description>Maaf Mbak Hime, saya minta waktu sedikit lagi untuk klarifikasi beberapa hal yang masih mengganjal.

&quot;Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===&gt; tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon.&quot;

Ini sangat bertentangan dengan hukum Bernoulli untuk fluida dinamis. Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar. Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan. 
Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.
Persamaan Bernoulli utk ini bisa dilihat di Wikipedia :
http://en.wikipedia.org/wiki/Bernoulli%27s_principle

Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja. Kenapa demikian? karena dengan bertambah lebarnya pipa/ember, kecepatan fluida akan mengecil dan membuat fungsi Energi potensialnya (p.g.h) dapat lebih berperan dan ini sangat sesuai dengan hukum Bernoulli di atas.

Salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf Mbak Hime, saya minta waktu sedikit lagi untuk klarifikasi beberapa hal yang masih mengganjal.</p>
<p>&#8220;Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===&gt; tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon.&#8221;</p>
<p>Ini sangat bertentangan dengan hukum Bernoulli untuk fluida dinamis. Kalau fluidanya nggak bergerak sih memang benar. Coba Mbak Hime ambil slang/pipa air flexible yang biasa digunakan untuk menyirami tanaman. Arahkan ke atas, lalu coba perkecil lubang semburannya. Tinggi semburan akan sangat bergantung dengan besar kecilnya lubang semburan.<br />
Kalau pipa yang digunakan tim ITS di sana diameternya cuma 1 cm atau kurang, bisa jadi 40 m masih keluar semburannya/meluber.<br />
Persamaan Bernoulli utk ini bisa dilihat di Wikipedia :<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bernoulli%27s_principle" rel="nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/Bernoulli%27s_principle</a></p>
<p>Tapi kalau Mbak Hime meletakkan pipa tadi di dasar ember (menghadap ke atas) setelah embernya terisi air , maka luncuran airnya tidak akan setinggi kalau tidak ada air, atau kalau diberi pipa dgn diameter kecil saja. Kenapa demikian? karena dengan bertambah lebarnya pipa/ember, kecepatan fluida akan mengecil dan membuat fungsi Energi potensialnya (p.g.h) dapat lebih berperan dan ini sangat sesuai dengan hukum Bernoulli di atas.</p>
<p>Salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rovicky</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14450</link>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 04:03:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14450</guid>
		<description>Diskusi selanjutnya silahkan ke Diskusi HDCB-2
http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-2/

trims idenya Papa Tita</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi selanjutnya silahkan ke Diskusi HDCB-2<br />
<a href="http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-2/" rel="nofollow">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-2/</a></p>
<p>trims idenya Papa Tita</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: PapaTITA</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14447</link>
		<dc:creator>PapaTITA</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 02:23:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14447</guid>
		<description>Diskusi ini cukup panjaaaang ... salut buat para guru besar disini.
Tidak puas-puasnya saya ikuti tiap saat, namun bagi yg cuma pakai dialup spt saya loadingnya jadi lama hanya untuk melihat posting terakhir.
Pak Dhe apa mungkin dibuat per bagian misal per halaman 20 posting seperti di forum2 atau kalau tidak memungkinkan maka dibikin kelanjutan DISKUSI HDCB Bagian II.

Cuma bisa usul.
Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi ini cukup panjaaaang &#8230; salut buat para guru besar disini.<br />
Tidak puas-puasnya saya ikuti tiap saat, namun bagi yg cuma pakai dialup spt saya loadingnya jadi lama hanya untuk melihat posting terakhir.<br />
Pak Dhe apa mungkin dibuat per bagian misal per halaman 20 posting seperti di forum2 atau kalau tidak memungkinkan maka dibikin kelanjutan DISKUSI HDCB Bagian II.</p>
<p>Cuma bisa usul.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hime_furuumun93</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14446</link>
		<dc:creator>Hime_furuumun93</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 18:10:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14446</guid>
		<description>Aduh, pak Usil dan mang Ipin ini memanas-manasi dan menyoraki terus, padahal saya harus kerja kembali. Tolong maklum, kalau saya sering cuti ngeklik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, pak Usil dan mang Ipin ini memanas-manasi dan menyoraki terus, padahal saya harus kerja kembali. Tolong maklum, kalau saya sering cuti ngeklik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hime_furuumun93</title>
		<link>http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14445</link>
		<dc:creator>Hime_furuumun93</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 17:29:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hotmudflow.wordpress.com/diskusi-hdcb-high-density-chained-ball/#comment-14445</guid>
		<description>Yang semula sudah betul om Papang. Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan &quot;kontra hidrostatis&quot;, maka v = 0, sedangkan tekanan dibagian bawah pipa pralon:  p = density  X  g.h [bukan:  density  X  2.g.h]. Sehingga harga F = luas penampang  X  p  =  density  X  luas penampang  X  g.h  =  1000 Kg/m3  X  phi  X  0,1^2/4 m2  X  10 m/s2  X  20 m  =  1570 Kgm/s2  =  1570 N.

Eh om, saya tidak salah ketik. Memang maksud saya 157 Kp (Kilopound = 9.80665 N atau dibulatkan menjadi 10 N), yang merupakan satuan Force atau Weight = 1570 N = 157 (x g) Kg = 157 Kp. Sebab Kg adalah satuan “mass”. Namun menurut “kebiasaan” dilapangan, om Papang juga benar, Nilai besaran suatu benda umumnya yang disebutkan adalah Massa-nya (Kg) yang selalu abadi, bukan Gaya-beratnya yang dipengaruhi oleh resultant gravitasi dan percepatan geraknya.
Setahu saya, kalau Kilopascal menulisnya harus KPa. Bukan begitu, om? 

Tetapi sangat bagus penjelasannya om Papang. Mudah2 an dapat berguna bagi banyak orang  untuk memahami hakekat alam.

Tujuan menaikkan pipa pralon adalah membangun tekanan “kontra-hidrostatis” terhadap tekanan semburan liar. Karena semburan liar itu merupakan cabang kecil dari lubang semburan utama, maka tekanan semburan liar relatif hanya ditentukan oleh tinggi genangan diatas semburan utama, atau quasi statis. Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===&gt; tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon. Atau sebaliknya, semburan atau hujan akan otomatis berhenti, bilamana tingginya sudah melebihi tekanan semburan liar.

Prinsipnya saya yakin, metode “kontra hidrostatis” bisa dipergunakan untuk menyumbat semburan liar. Namun metodenya harus praktis dan cerdas, tidak perlu bersusah payah memasangkan pipa pralon setinggi gedung 5-10 lantai.

Maka saya usulkan begini:
Sediakan pipa (sebaiknya baja, tidak pralon) secukupnya. Ukuran pipa disesuaikan dengan perkiraan debit semburan liar (Q). Rekomendasi kecepatan (u) antara 0,4 - 0,6 m/detik, sehingga diameter pipa: d = 1,46 x Q^(0,5) [satuan Q dalam m3/s, dan d dalam m]. Kalau terlampau kecil, maka semburan tidak bakal mau lewat dalam pipa, melainkan menerobos lewat samping2 luar pipa. Kalau terlampau besar malah mubazir. Setelah pipa ditanam kuat dan cukup dalam, maka bagian atas pipa diberi cabang-4 bentuk palang (╬). Dikiri-kanan dipasangkan stop kran (valves). Jika besar pipa sudah benar dengan kecepatan aliran tidak melebihi u = 0,6 m/detik, maka tinggi pipa tegak-lurus diatas titik percabangan cukuplah: H = 5.(u)^2/(2g) + 0.2 m = 29 cm. Bibir pipa teratas harus rata dan diberi ring-karet sebagai perapat, lalu letakkan plat baja diatasnya. Jika kedua stop-kran dibuka penuh, maka seluruh semburan akan hanya mengalir kecabang dikiri-kanan. Tutup perlahan-lahan kedua stop-kran. Jika air masih menendang plat baja keatas, maka tambahkan beban yang menekan plat baja itu. Teruskanlah penutupan kedua stop-kran dan terus tambahkan beban secukupnya diatas plat baja. Begitu seterusnya hingga kedua stop-kran tertutup rapat dan seluruh semburan berhenti total. Tidakkah cara ini jauh lebih mudah dan praktis daripada memasang pipa pralon vertikal puluhan meter keatas?

Betapapun, terima kasih pula Bang Rud atas tanggapannya terhadap ungkapan saya yang dirasakan kurang benar.

1) Bang Rud: ‘Tidak ada seorangpun didunia ini yang mampu menghentikan energi panas bumi, kecuali nanti waktu kiamat, buminya hancur sendiri.’

Sumber panas bumi itu umumnya tenang dalam selubung mantel-isolasinya. Kecerobohan manusia telah melukai mantel itu. Kebetulan diatasnya ada sumber air tanah bertekanan tinggi, sehingga terbentuklah uap air superkritis, mirip di-proyek2 PLTPB yang mengebor untuk memperoleh uap dari energi panas bumi. Uap murni akan diperoleh, jika sumurnya diberi casing. Bila tanpa casing, maka uap akan menyeret tanah disekitar lubang, yang menyembur keluar berbentuk lumpur. Sumur2 di PLTPB harus ditutup kembali, bila tidak diperlukan lagi. Caranya: sumur harus didinginkan dengan injeksi air dingin, lalu menginjeksikan semacam bahan isolasi yang mencegah air tanah menyentuh sumber panas bumi, sehingga sumur tidak lagi memproduksi uap. Proses ini dinamakan killing-well.

Di Lula ini sulit dilakukan killing well, sebab tidak ada peta geometri lubang, terlampau dalam dan genangannya sudah terlanjur sangat besar.
2) Bang Rud: ‘Tapi kalau “membatasi” luberan dengan metode “kontra hidrostatis” itu mungkin… Logikanya begini : anda punya panci yang dipanasi terus menerus. Katakanlah panci itu terisi air yang cukup banyak sehingga begitu dipanasi langsung mendidih dan meluber-luber. Kalau anda bisa membatasi dengan menambah bibir panci tsb, maka luberan itu tidak akan keluar dari panci. Jadi metode “kontra hidrostatis” tidak bermaksud untuk menghentikan energi tsb, dan energi tetap dikeluarkan dalam bentuk panas, dan gas juga tetap keluar. Hanya saja metode tsb membatasi agar lumpur dan air tidak keluar ke mana2, sehingga boleh dibilang yang dilawan oleh metode ini hanya “kecepatan fluida” nya saja!!’
Logika ini ada benarnya.
Tetapi untuk menutup cabang kecil semburan liar, sama sekali tidak perlu memakai logika ini. Cukup memakai metode pipa cabang 4 dan plat baja “kontra hidrostatis”. Tujuannya hanya memaksakan semburan kembali lewat lubang utama.

Sedangkan untuk “membatasi” luberan dilubang utama, saya tetap tidak percaya logika ini bisa dipakai. Misalnya pakai double cover dam Jepang atau tembok cincin gandanya pak Bambang Bahriro, yang maksudnya juga membangun tekanan “kontra hidrostatis”. Sumber energi disana sangat besar, bisa menyemburkan lumpur 150 ribu m3/hari dari -3000 m. Sedangkan diameter mulut kawahnya sudah 70 m. Apalah artinya ditambah lagi dengan genangan dalam tembok silinder setinggi 40 m? Namun, bila temboknya sangat tinggi, jauh diatas 40 m, teoritis memang ada kemungkinan terjadi seperti logikanya bung Rud (lumpur dan air tidak meluber, hanya uap dan gas yang keluar). Tetapi pada saat itu, berhamburanlah semburan2 liar di-mana2, bisa di Sidoarjo, Juanda, Surabaya, dll. Pendeknya menurut saya, konsep ini tidak layak diterapkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang semula sudah betul om Papang. Setelah tercapai keseimbangan antara tekanan semburan vs tekanan &#8220;kontra hidrostatis&#8221;, maka v = 0, sedangkan tekanan dibagian bawah pipa pralon:  p = density  X  g.h [bukan:  density  X  2.g.h]. Sehingga harga F = luas penampang  X  p  =  density  X  luas penampang  X  g.h  =  1000 Kg/m3  X  phi  X  0,1^2/4 m2  X  10 m/s2  X  20 m  =  1570 Kgm/s2  =  1570 N.</p>
<p>Eh om, saya tidak salah ketik. Memang maksud saya 157 Kp (Kilopound = 9.80665 N atau dibulatkan menjadi 10 N), yang merupakan satuan Force atau Weight = 1570 N = 157 (x g) Kg = 157 Kp. Sebab Kg adalah satuan “mass”. Namun menurut “kebiasaan” dilapangan, om Papang juga benar, Nilai besaran suatu benda umumnya yang disebutkan adalah Massa-nya (Kg) yang selalu abadi, bukan Gaya-beratnya yang dipengaruhi oleh resultant gravitasi dan percepatan geraknya.<br />
Setahu saya, kalau Kilopascal menulisnya harus KPa. Bukan begitu, om? </p>
<p>Tetapi sangat bagus penjelasannya om Papang. Mudah2 an dapat berguna bagi banyak orang  untuk memahami hakekat alam.</p>
<p>Tujuan menaikkan pipa pralon adalah membangun tekanan “kontra-hidrostatis” terhadap tekanan semburan liar. Karena semburan liar itu merupakan cabang kecil dari lubang semburan utama, maka tekanan semburan liar relatif hanya ditentukan oleh tinggi genangan diatas semburan utama, atau quasi statis. Maka, meskipun pipa pralon itu besar, kecil, berbentuk piramid, berbentuk corong, berbentuk botol berperut gemuk atau berbentuk vas bunga berperut langsing ===&gt; tekanan kontra-hidrostatisnya tetap sama, jika tinggi kolom airnya sama. Sehingga, meskipun pralon diganti-ganti dan diperbesar, selama tingginya tidak mencukupi, pasti akan terjadi overflow atau limpahan air atau hujan dari ujung atas pralon. Atau sebaliknya, semburan atau hujan akan otomatis berhenti, bilamana tingginya sudah melebihi tekanan semburan liar.</p>
<p>Prinsipnya saya yakin, metode “kontra hidrostatis” bisa dipergunakan untuk menyumbat semburan liar. Namun metodenya harus praktis dan cerdas, tidak perlu bersusah payah memasangkan pipa pralon setinggi gedung 5-10 lantai.</p>
<p>Maka saya usulkan begini:<br />
Sediakan pipa (sebaiknya baja, tidak pralon) secukupnya. Ukuran pipa disesuaikan dengan perkiraan debit semburan liar (Q). Rekomendasi kecepatan (u) antara 0,4 &#8211; 0,6 m/detik, sehingga diameter pipa: d = 1,46 x Q^(0,5) [satuan Q dalam m3/s, dan d dalam m]. Kalau terlampau kecil, maka semburan tidak bakal mau lewat dalam pipa, melainkan menerobos lewat samping2 luar pipa. Kalau terlampau besar malah mubazir. Setelah pipa ditanam kuat dan cukup dalam, maka bagian atas pipa diberi cabang-4 bentuk palang (╬). Dikiri-kanan dipasangkan stop kran (valves). Jika besar pipa sudah benar dengan kecepatan aliran tidak melebihi u = 0,6 m/detik, maka tinggi pipa tegak-lurus diatas titik percabangan cukuplah: H = 5.(u)^2/(2g) + 0.2 m = 29 cm. Bibir pipa teratas harus rata dan diberi ring-karet sebagai perapat, lalu letakkan plat baja diatasnya. Jika kedua stop-kran dibuka penuh, maka seluruh semburan akan hanya mengalir kecabang dikiri-kanan. Tutup perlahan-lahan kedua stop-kran. Jika air masih menendang plat baja keatas, maka tambahkan beban yang menekan plat baja itu. Teruskanlah penutupan kedua stop-kran dan terus tambahkan beban secukupnya diatas plat baja. Begitu seterusnya hingga kedua stop-kran tertutup rapat dan seluruh semburan berhenti total. Tidakkah cara ini jauh lebih mudah dan praktis daripada memasang pipa pralon vertikal puluhan meter keatas?</p>
<p>Betapapun, terima kasih pula Bang Rud atas tanggapannya terhadap ungkapan saya yang dirasakan kurang benar.</p>
<p>1) Bang Rud: ‘Tidak ada seorangpun didunia ini yang mampu menghentikan energi panas bumi, kecuali nanti waktu kiamat, buminya hancur sendiri.’</p>
<p>Sumber panas bumi itu umumnya tenang dalam selubung mantel-isolasinya. Kecerobohan manusia telah melukai mantel itu. Kebetulan diatasnya ada sumber air tanah bertekanan tinggi, sehingga terbentuklah uap air superkritis, mirip di-proyek2 PLTPB yang mengebor untuk memperoleh uap dari energi panas bumi. Uap murni akan diperoleh, jika sumurnya diberi casing. Bila tanpa casing, maka uap akan menyeret tanah disekitar lubang, yang menyembur keluar berbentuk lumpur. Sumur2 di PLTPB harus ditutup kembali, bila tidak diperlukan lagi. Caranya: sumur harus didinginkan dengan injeksi air dingin, lalu menginjeksikan semacam bahan isolasi yang mencegah air tanah menyentuh sumber panas bumi, sehingga sumur tidak lagi memproduksi uap. Proses ini dinamakan killing-well.</p>
<p>Di Lula ini sulit dilakukan killing well, sebab tidak ada peta geometri lubang, terlampau dalam dan genangannya sudah terlanjur sangat besar.<br />
2) Bang Rud: ‘Tapi kalau “membatasi” luberan dengan metode “kontra hidrostatis” itu mungkin… Logikanya begini : anda punya panci yang dipanasi terus menerus. Katakanlah panci itu terisi air yang cukup banyak sehingga begitu dipanasi langsung mendidih dan meluber-luber. Kalau anda bisa membatasi dengan menambah bibir panci tsb, maka luberan itu tidak akan keluar dari panci. Jadi metode “kontra hidrostatis” tidak bermaksud untuk menghentikan energi tsb, dan energi tetap dikeluarkan dalam bentuk panas, dan gas juga tetap keluar. Hanya saja metode tsb membatasi agar lumpur dan air tidak keluar ke mana2, sehingga boleh dibilang yang dilawan oleh metode ini hanya “kecepatan fluida” nya saja!!’<br />
Logika ini ada benarnya.<br />
Tetapi untuk menutup cabang kecil semburan liar, sama sekali tidak perlu memakai logika ini. Cukup memakai metode pipa cabang 4 dan plat baja “kontra hidrostatis”. Tujuannya hanya memaksakan semburan kembali lewat lubang utama.</p>
<p>Sedangkan untuk “membatasi” luberan dilubang utama, saya tetap tidak percaya logika ini bisa dipakai. Misalnya pakai double cover dam Jepang atau tembok cincin gandanya pak Bambang Bahriro, yang maksudnya juga membangun tekanan “kontra hidrostatis”. Sumber energi disana sangat besar, bisa menyemburkan lumpur 150 ribu m3/hari dari -3000 m. Sedangkan diameter mulut kawahnya sudah 70 m. Apalah artinya ditambah lagi dengan genangan dalam tembok silinder setinggi 40 m? Namun, bila temboknya sangat tinggi, jauh diatas 40 m, teoritis memang ada kemungkinan terjadi seperti logikanya bung Rud (lumpur dan air tidak meluber, hanya uap dan gas yang keluar). Tetapi pada saat itu, berhamburanlah semburan2 liar di-mana2, bisa di Sidoarjo, Juanda, Surabaya, dll. Pendeknya menurut saya, konsep ini tidak layak diterapkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
