Perselisihan Meletup Lagi

Juni 30, 2006

RADAR SIDOARJO
Jumat, 30 Juni 2006

“JARNO ae lumpure arep melaku neng endi, wis sak karepe lumpure,” seru seorang warga desa. Ia mendesak agar lumpur dibiarkan saja lumpur mau mengalir ke mana saja, terserah lumpurnya. Baca entri selengkapnya »


Hari Ini, Bantuan Rp 700 Ribu Per Pekerja Mengucur-Kamis, 29 Juni 2006

Juni 29, 2006

RADAR SIDOARJO    Kamis, 29 Juni 2006

Lapindo: Untuk Karyawan Tetap

Hari Ini, Bantuan Rp 700 Ribu Per Pekerja Mengucur
SIDOARJO – Bantuan senilai Rp 700 ribu per pekerja per bulan bakal dikucurkan Lapindo Brantas Inc. hanya untuk karyawan tetap dari perusahaan yang lumpuh karena banjir lumpur di Porong. Baca entri selengkapnya »


BPMIGAS – PENANGGULANGAN SEMBURAN LUMPUR

Juni 28, 2006

28 JUN 2006 2:49:58 PM
PENANGGULANGAN SEMBURAN LUMPUR DI KECAMATAN PORONG, KABUPATEN SIDOARDJO, JAWA TIMUR
Pada tgl 28 Juni 2006, Lapindo Brantas Inc dan BPMIGAS telah berhasil merangkai snubbing unit 90 persen di Banjar Panji -1 Porong Sidoarjo. Nantinya, setelah berhasil merangkai penuh snubbing unit, akan mengujicoba terlebih dahulu agar  pengoperasiannya berjalan aman. Baca entri selengkapnya »


PERKEMBANGAN TERAKHIR PENANGANAN BENCANA LUAPAN LUMPUR PORONG

Juni 28, 2006

2006-06-28 17:21:07)

Perkembangan penanganan bencana luapan lumpur Porong sampai Rabu (28/6) sore, menurut Koordinator Tim Pelaporan, Drs. Ec. Hariadi Purwantoro, MM, sebagai berikut:


Baca entri selengkapnya »


Media Center

Juni 27, 2006

Selasa, 27 Juni 2006, 22:47 WIB
Hasil Assessment Infrastruktur Komunikasi Data dan Media Center di Area Bencana Banjir Lumpur Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo
Sumber : AirPutih
Pada hari minggu (25/6), tim AirPutih melakukan assessment ke lokasi banjir lumpur gas, PT. Lapindo Brantas. Namun untuk menuju ke lokasi banjir tidak mendapatkan ijin masuk. Karena ketika mencoba untuk mengakses jalan masuk, beberapa di jaga satuan brimob (polisi) dan beberapa jalan kecil (gang) dijaga warga. Hanya pemukim dan pihak pemberi bantuan yang diperbolehkan masuk.

Hasil Assessment Infrastruktur Komunikasi Data dan Media Center  di Area Bencana Banjir Lumpur Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Baca entri selengkapnya »


Keluarnya lumpur Sidoarjo ini

Juni 23, 2006

Setelah sedikit-sedikit ada yang memberikan informasi-informasi tambahan, maka dapat diperkirakan dimana saja semburan itu berasal. Ada beberapa kemungkinan dan tentunya akan berbeda penanganannya. Baca entri selengkapnya »


Keluarnya lumpur Sidoarjo ini

Juni 23, 2006

Setelah sedikit-sedikit ada yang memberikan informasi-informasi tambahan, maka dapat diperkirakan dimana saja semburan itu berasal. Ada beberapa kemungkinan dan tentunya akan berbeda penanganannya. Baca entri selengkapnya »


Wawancara dengan Radio 68H, pagi hari jam 7:30, Selasa 20 Juni 2006

Juni 20, 2006

Wawancara dengan Radio 68H, pagi hari jam 7:30, Selasa 20 Juni 2006

Radio:  Dan saudara,… kita  akan segera berbincang bersama dengan pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung pak Andang Bachtiar. Selamat pagi pak Andang.

ADB: Selamat pagi, koreksi pak, saya bukan dari Instiut Teknologi Bandung, saya lulusan Institut Teknologi Bandung. Tapi sekarang saya tidak berafiliasi secara resmi dengan Institut Teknologi Bandung.
Baca entri selengkapnya »


First Note From ADB

Juni 20, 2006

[iagi-net-l] Lumpur Porong, ADB, dan tim-tim-an

Andang Bachtiar
Tue, 20 Jun 2006 01:39:51 -0700

Dalam 2 hari ini email saya tdk terima dari iagi-net, mungkin karena kepenuhan (gak ditengok-tengok selama week-end s/d pagi ini) terus bounching. Jadi, mohon maaf kalau belum sempat cawe-cawe ikutan nimbrung di lalu-lintas diskusi soal Lumpur Porong ini. Baca entri selengkapnya »


Bahaya Lumpur Lapindo

Juni 20, 2006

Bahaya Lumpur Lapindo
(Selasa, 20 Juni 2006) – Kontribusi dari Aziz Hamid

Pembuangan lumpur ke sungai dinilai justru akan menimbulkan masalah baru di Sidoarjo. Apa itu? Ladang eksplorasi gas PT Lapindo Brantas dikhawatirkan ambles, lantas menimpa jalur pipa gas bawah tanah yang ada di bawahnya. Jika petaka itu terjadi, pasokan gas ke industri-industri di seantero Jawa Timur, bakal terhenti. Ledakan pipa gas juga akan memakan korban jiwa tak sedikit. Kecemasan ini cukup beralasan. Hingga Senin (19/6), atau tiga pekan sejak bencana terbetik, lumpur panas dari lokasi Sumur Banjar Panji 1 PT Lapindo di Porong, Sidoarjo, terus muntah. Sekitar 40 ribu meter kubik lumpur keluar dari perut Bumi saban harinya. Baca entri selengkapnya »


Buat Pengeboran Baru Untuk Atasi Semburan Lumpur Porong

Juni 19, 2006

Senin, 19 Jun. 2006, 18:39 WIB
Buat Pengeboran Baru Untuk Atasi Semburan Lumpur Porong

Jakarta, (Kominfo-Newsroom) – Mantan Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Andang Bachtiar mengatakan, untuk menanggulangi semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, perlu dilakukan pengeboran lain di sekitar semburan dan kemudian dipasangi pipa sehingga semburan lumpur bisa melalui pipa.

“Kemudian pipa tersebut dihubungkan dengan pila-pipa lainnya sehingga semburan tidak melebar kemana-mana,” katanya kepada pers dalam acara diskusi tentang Lumpur Panas Di Sidoarjo yang berlangsung di Gedung YTKI, Jakarta, Senin (19/6).

Menurutnya, jika hanya semburan dari sumur Panji Banjar I yang ditutup, dikhawatirkan akan muncul semburan serupa di sumur lainnya, karena tekanan yang ada di lokasi itu meretakkan batuan di pinggirnya sehingga membuat goncangan pada lapisan sumur di seluruh kawasan tersebut.

Untuk menanggulangi semburan tersebut, demikian Andang Bachtiar, dibuat lubang lagi, kemudian lumpurnya dikeluarkan melalui pipa sehingga dapat dikontrol oleh Tim Teknis Migas.
Ketika ditanya mengenai tindakan antisipasi yang dilakukan pemerintah terhadap semburan lumpur panas, ia menjelaskan sebaiknya pemerintah memindahkan penduduk secepatnya, karena telah 4.000 orang yang kena dampak aliran Lumpur tersebut.

Untuk ke depan, pemerintah perlu mengelola daerah yang sudah kena limbah tersebut, jika semburan sumur Banja Panji dapat dipadamkan, karena masalahnya terdapat 20 hingga 30 hektar areallahan yang kena lumpur.

Seyogianya pemda setempat merehabilitasi daerah tersebut, apakah penduduk akan dipindahkan atau dibersihkan, dan kemudian mengelola permukakan tersebut, jika bencana telah selesai.
Ditanya apakah semburan lumpur panas yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2005 di Sidoarjo terjadi karena gempa, ahli geologi ini mengungkapkan jika semburan terjadi karena gempa, maka akan menimbulkan lapisan dangkal dan masalahanya akan selesai dalam waktu satu hingga dua hari. Contohnya ladang migas di Prabanan, Bantul, air keluar bersama lumpur karena digetarkan oleh gempa, tekanan-tekanan di antara butir sehingga naik.

Selain itu, jika itu benar berasal dari gempa, maka dai natara Yogyakarta dan Porong, banyak ladang-ladang minyak seperti Cepu, yang dekat dengan Yogyakarta, tapi tidak sama dengan di Sidoarjo.

Sementara itu, Ketua Umum Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Chalid Muhammad mengusulkan untuk menanggulangi semburan lumpur panas sebaiknya Lapindo Brantas menerapkan tiga langkah yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang.
Untuk jangka pendek, tanggap darurat dengan melokalisasi dampak sosial, ekonomi dan ekologi.
Jangka menengah, segera menghentikan lumpur, untuk memenuhi kewajiban standar kepada pengungsi akibat lumpur agar segera berhenti.

Jangka panjang, melakukan pemulihan lingkungan hidup, untuk mengubah kebijakan migas karena selama ini perusahaan punya kekuasaan begitu besar.
(T. EYV/Toeb)


Ada apa dengan mud flow di Jawa Timur ini ?

Juni 19, 2006

Banyak yg bertanya-tanya apa sebenarnya terjadi. Saya mencoba menjelaskan apa yg terjadi (bukan penyebab bisa terjadi) berdasarkan atas data-data yg diketemukan dari Mailist serta publikasi-puiblikasi yang ada. Baca entri selengkapnya »


Warga Makin Kalut, Jalan Tol Ditutup Total

Juni 16, 2006

Jum’at, 16 Juni 2006 | 18:16 WIB

TEMPO Interaktif, Sidoarjo:Makin tak terkendalinya banjir lumpur dari semburan sumur pengeboran milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo, membuat warga panik dan kalut. Sore tadi untuk kesekian kalinya puluhan warga Desa Siring menjebol tanggul pembatas di Kilometer 38.200 Surabaya-Gempol karena khawatir debit lumpur yang makin meninggi akan luber ke areal permukiman. Baca entri selengkapnya »


Kandungan Kimia Lumpur Panas Lapindo Diambang Batas

Juni 15, 2006

Kamis, 15 Juni 2006 | 18:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Beberapa kandungan kimia yang ada dalam lumpur yang menyembur dari sumur pengeboran gas PT Lapindo Brantas? Ternyata kandungan lumpur yang menyembur di kawasan Porong, Sidoarjo, itu sudah di atas ambang batas. Baca entri selengkapnya »


[Oil&Gas] [Bor] Semburan Lumpur Lapindo Brantas

Juni 13, 2006

From: Doddy Samperuru
<samperuru@balikpapan.oilfield.slb.com>
Date: Tue, 13 Jun 2006 19:15:03 +0800
Subject: Re: [Oil&Gas] [Bor] Semburan Lumpur Lapindo Brantas

Dear All,

walau saya rada bingung membaca ulasan Pak Wisnu05 ini, tapi patut dihargai kejujuran tulisan Beliau.

Sebagai salah seorang Moderator KBK Pemboran, saya mengajak semua warga milis MiGas untuk lebih fokus ke problem solving masalah ini. Biarkan mediamasa & para politisi mengulas sisi sosial, lingkungan hidup, ekonomi & politiknya.

Dari berbagai media masa yang saya baca, kejadian surface blowout ini diawali oleh “kick” pada saat pemboran sumur Banjar Panji-1. Oleh berbagai sebab, pihak PT LB memutuskan untuk tetap mengebor melewati batas kedalaman 8500ft yaitu kedalaman yg didesain untuk menset intermediate casing 9 5/8″ (?). Sebetulnya ini hal yg biasa. Cuman sialnya, sumur menembus satu high-pressure zone yg menyebabkan kick, yaitu masuknya fluida formasi tsb ke dalam sumur. Sebetulnya hal ini juga lumrah di dunia pemboran. Dengan mud logging yang berkualitas, biasanya kick dapat dideteksi sedini mungkin & umumnya diatasi dengan menaikkan berat lumpur pemboran. Umumnya no problem & pemboran dapat diteruskan dgn precaution. Hal ini nampaknya tidak terjadi. Di sumur BP-1 ini sepertinya kick tsb tidak dapat dikontrol & semakin banyak fluida formasi yg masuk ke dalam sumur (justru bukan “loss total” seperti yg ditulis Pak Wisnu05 di bawah ini) yg mengarah kpd surface blow-out. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap BOP di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dgn tujuan mematikan kick. IMHO, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dgn surface casing 13 3/8″ (?) yg saya tidak tahu berapa kedalamannya. Di kedalaman tsb, IMHO, kondisi geologis tanah unconsolidated & mungkin banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yg bisa sampai ke permukaan. Krn tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur krn BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yg lebih menyenangkan yaitu melewati natural fissures tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat (tiga lokasi ?) di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri.

Sampai kapan hal ini terjadi ? Bisa berhari-hari, bisa berbulan-bulan bahkan 1-2 tahunan. Tergantung sampai kapan tekanan formasi masih kuat mengangkat fluida sampai ke permukaan atau sampai kapan fluidanya habis. Lumpur yg menyembur itu apa ? Campuran gas, air, mungkin ada minyaknya & partikel solid dari dalam formasi atau dari natural fissures tadi. Bagaimana mengatasinya ? IMHO, daerah batas antara open-hole & casing shoe harus diinjeksikan semen sebanyak-banyaknya. Daerah inilah yg merupakan pintu keluar lumpur formasi dari lubang sumur menuju ke permukaan. Kalau pengerjaan penyemenan dilakukan lewat sumur yg ada sangat riskan, opsi lain adalah dgn membor sebiji directional relief-well dari sebuah pad yg aman.

Yg paling ekonomis, cepat & aman adalah menggunakan Coiled Tubing Unit. Lubang sumur ini no problem dapat diarahkan menuju area tadi. Setelah
sampai ke tujuan, pompakanlah semen berdensitas berat sebanyak-banyaknya. Kenapa harus banyak ? Karena melihat kuantitas lumpur jutaan meter kubik pastilah daerah tsb sudah banyak terdapat “gorong-gorong” akibat erosi. Lubang-lubang inilah yg diharapkan akan terisi semen & lalu tersumbat. Begitu aliran lumpur ke permukaan sudah terhenti atau minimal, maka open-hole bermasalah tadi (kalau masih ada & belum runtuh open-holenya) bisa dgn lebih mudah diplug & abandon.

“Masih untung” lumpur yg keluar adalah air, kalau hidrokarbon akan lebih gaswat akibatnya.

Salam,

Doddy

Slambeje

Note : Tanggapan Doddy diatas merupakan tanggapan atas tulisan di Migas Indonesia Mailist dari seseorang bernama Wisnu 05 yg tidak diketahui. Info dibawa bisa benar bisa pula tidak. Karena ketikdak jelasan siapa pengirimnya.  Namun tanggapan Doddy diatas cukup jelas sumber (referensinya)

At 03:16 PM 6/12/2006, Migas_Indonesia@yahoogroups.com wrote:
>Diambil dari <http://www.media-indonesia.com/>http://www.media-indonesia.com/
>Bagian Komentar Editorial
>TRUE STORY-1
>Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
>Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set
>cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi
>sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping)
>tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di “kill”
>(kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor sampai
>formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya jika terjadi
>semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu formasi gas yg
>lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo diingatkan lagi untuk
>set casing karena semua orang di lokasi sudah ketar-ketir apabila terjadi
>semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo menolaknya.Akhirnya di +/-
>9200, terjadi loss total(indikasi telah masuk formasi gas) dan mulai
>terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan masih bisa dikendalikan,
>harusnya langsung dipompakan cement untuk plug
>sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah di
>bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan
>lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk
>proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah
>peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan
>lagi,tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak,
>dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya
>adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya.Mudah2an tulisan ini bisa
>memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg
>ditutup-tutupi.
>Pengirim:
>wisnu05