Evolusi gunung lumpur

Evolusi gunung lumpur

Tiga model evolusi gunung lumpur akan dijabarkan disini. Model-model evolusi gunung lumpur ini semua menduga patahan sebagai jalan keluar dari bawah permukaan. Sama seperti yang diduga terjadi di Sidoarjo ini. Ketiga model evolusi gunung lumpur ini dikembangkan oleh Kopf et al. [1998], Van Rensbergen et al. [1999] dan Slack et al. [1998].

Gambar 1. Model MV dari Kopf [1998]

Menurut Kopf et al. [1998] dan Slack [1998] ada tiga stadia utama dalam evolusi gunung lumpur ini. Model-model evolusi gunung lumpur ini kesemuanya model yg terjadi di laut, terutama yang sering dijumpai di laut dalam. Sebelumnya perhatikan skala 1 Km pada gambar 1 ini, ukuran ini dapat dipakai nantinya dalam memperkirakan besarnya ukuran gunung lumpur yang bakal terjadi dan perkiraan amblesan.

Gambar 2. Model MV dari Slack et al [1998]

1. Fase eruptif

Pada fase awal ini terjadi pelepasan tenaga yg cukup kuat. Sifat erupsi yang terlihat pada fase ini adalah fase pelepasan tekanan yg sangat dominan. Fase awal ini akan sangat banyak mengeluarkan material terutama cairan (air). Air serta gas merupakan material yg paling mudah berpindah tempat. Kedua jenis fluida ini akan keluar bersama-sama dengan gerusan dinding lubang tempat keluarnya lumpur.

Pada fase ini material yg terbentuk sering disebut sebagai “mud breccia” (breksi lumpur).

Fase awal ini di Sidoarjo terjadi ketika sumber lumpur mulai menembus permukaan, yg diperkirakan karena usikan pengeboran yg melewati zona rekahan.

2. Fase longsoran lumpur dan semburan uap panas (hotspring)

Model yg dipergunakan kedua peneliti gunung lumpur diatas adalah gunung lumpur dibawah air (di dasar laut). Sehingga hanya gundukan material lumpur saja yang tersisa dan teramati sebagai catatan geologi. Menurut modelnya Kopf, fase kedua merupakan fase setelah pembentukan gundukan. dimana pada fase ini gundukan ini sering berasosiasi dengan endapan laut (hemipelagic).

Menurut Kopf fase kedua ini diikuti keluarnya fluida air yg sering berasosiasi dengan semburan uap panas. Hal ini terjadi karena proses liquefaksi serta hilangnya daya dukung butiran penyusun batuan. Seolah-olah tanah diremas dan mengeluarkan cairan yg ada dalam pori-porinya (air).

3. Fase amblesan (subsidence)

Menurut model yg dikembangkan Kopf dan Slack fase akhir yang menyebabkan amblesan ini terjadi setelah hilangnya material ke permukaan. Besarnya amblesan diperkirakan berdiameter sekitar 5-7 Km dengan kedalaman hingga 100-200 meter.

Fase-fase ini sangat mungkin tidak hanya terjadi sekali saja, namun merupakan proses yg berkesinambungan dan berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena proses kesetimbangan alam akan saling melakukan ‘adjustment‘. Proses erupsi, semburan dan amblesan terjadi secara episodik berulang-ulang. Gambar 3 dibawah menunjukkan bagaimana proses ini akan berkesinambungan membentuk lapisan-lapisan Gunung Lumpur.

Model ketiga dibawah ini juga menggambarkan bagaimana hubungan antara konfigurasi bawah permukaan dengan patahan (rekahan) yang ada. model Slack dan model dibawah ini menunjukkan bahwa lokasi penurunan (subsidence) tidak selalutepat dibawah lokasi keluarnya lumpur ini dipermukaan.

Gambar 3. Model evolusi Gunung Lumpur dari Van Rensbergen et al. [1999]

Model

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: