Gunakan Relief Well Untuk membuat Model Geologi Bawah Permukaan

Ada wacana baru dari diskusi Migas Indonesia untuk menutup lubang dengan concrete-slab. Usaha yg mungkin saja dilakukan tetapi mungkin bukan saat ini.

 

Diskusi mailist ini ada disini : Re: (geologi) Technology Block Well untuk Lusi

Saya rasa komentar-komentar di mailist sebelum ini sudah tepat, yaitu mengomentari adanya faktor bawah permukaan yg tidak (belum) diketahui.
– Dimana saja lokasi semburan ini
– Darimana jalan keluarnya
– Dimana sumbernya

concreteslab.jpg

Surface attack”, kalao boleh saya sebut sebagai sebuah langkah menangani dari permukaan ini, boleh dibilang “nonsense” untuk saat ini. Problem utama bersumber dari bawah. Sebelum kita melakukan tindakan usaha menutupnya, tentunya perlu diketahui ada apa dengan semburan ini. Paling tidak 3 diatas harus diketahui dahulu, paling tidak harus bisa dimodelkan.

“Underground attack” salah satunya relief well ini, memilki kemungkinan hanya 10%. Karena banyaknya hal-hal yg tidak diketahui, sehingga muncul angka 10% (ntah darimana besaran 10 ini :). Tapi menunjukkan bahwa kita tidak tahu apa yg terjadi dibawah sana.

Nah, ide menutup dengan “concrete block” ini hampir sama dengan ide menge”bom” lokasi ini dengan harapan tertutup dengan sendiri. namun keduanya merupakan tindakan “uncontrolled” yang berbahaya. Apalagi belum diketahuinya model bawah permukaan.

“Surface management” menurut saya adalah langkah “teraman saat ini“, Yaitu dengen mengelola lumpur yg volumenya suangat besar ini (>50ribu m3/hari).

Gunakan relief well utk mencari data bawah permukaan !

Akan lebih baik ketiga relief well ini dikerjakan dengan seksama (tidak tergesa-gesa untuk menutup), mumpung lokasinya masih bisa “dikendalikan“. Dengan penurunan hingga lebih dari 25 centi perbulan ini (terdekat dengan pusat semburan) ini maka kita saat ini sedang kejar2an antara mencari data bwah permukaan dengan amblesan. Data-data yang perlu diketahui dengan menggunakan 3 sumur ini semestinya dipakai untuk menjawab “underground” model. Misalnya dengan akuisisi data : X-well tomography, dan X-well seismic. Yaitu seperti melakukan uji tomografi pada manusia dalam ilmu kedokteran. Cara dan metodenya mirip juga dengan USG (Ultra SonoGrafi) pemerikasaan ibu hamil.
Paling tidak kita memiliki data-data untuk menjawab pertanyaan2 selama ini termasuk “forensic drilling”, hal ini tentunya penting juga untuk mitigasi bencana ini selanjutnya.

Apabila kita sudah mengerti semua data bawah permukaannya maka cara-cara penanganan permukaan (“surface attack“) bisa dikerjakan dengan tepat sasaran, mungkin saja salah satunya dengan menutup selubung ataupun dengan “concrete block”. Saya kira Pak Basuki (ketua Timnas) mengetahui hal ini. Beliau yang memilki dasar pengetahuan geologi dan memilki visi civil engineer akan mampu mengolah kedua sisi
underground” dan “surface“.

Yang jelas saat ini kondisi kritis ada di permukaan dengan jumlah volume yg sangat berlimpah. Ini mestinya menjadi prioritas saat ini.

Iklan

4 Responses to Gunakan Relief Well Untuk membuat Model Geologi Bawah Permukaan

  1. Alton berkata:

    I am truly grateful to the owner of this web site who has shared
    this great paragraph at at this time.

  2. firman yuswandi berkata:

    kalo menurut saya sih pak, mengenai pemboran baik minyak,gas, coal, mineral, sangat relatif jika lubang harus lurus..tetapi setiap kegiatan pemboran berlangsung media yang menjadi objek pengemboran yaitu tanah, batuan, dan batu, sangat mempengaruhi dilihat dari aspek geologinya. tapi mengenai lumpur lapindo kejadian besar itu telah dikutif oleh ilmuan luar dan dalam negri sendiri mengatakan bukan lumpur biasa yang keluar kepermukaan tetapi.. itu suatu kejadian geologi yang berkaitan tentang tatanan perubahan bentuk atau siklus geologi nama dari jenis kejadian tersebut saya kutif dari keterangan para ahli geologi indonesia adalah Mudvulcano..

  3. Rovicky berkata:

    Pak Lubis,
    Thanks, Wah… kumplit banget komentnya.
    Ini memang masalah geologi, tapi geologinya sudah “mutung”, hampir semua menyatakan “tidak mungkin” dihentikan, makanya ditangani secara engineering.
    Relief well memang chance-nya hanya 10%, tetapi karena pembiayaan ditanggung asuransi masak ngga dipakai sih, padahal kemarin katanya sudah akan dibayarkan. Total kalau ga salah hingga 25 jut dollar. Dana ini khusus utk penanganan pekerjaan yg berhubungan dengan “drilling activities” sesuai klausul asuransinya.
    Apa ya dana segitu dianggurin doank ?

    Membiarkan alamiah itu tentunya masih menyisakan problem, apakah kebanjiran didiamkan saja ? Tanggul tetep saja perlu, penanganan manusia sekelilingnya juga perlu. Relokasi sejumlah ribuah keluarga ini tidak mudah tentunya ada “waktu yg diperlukan”. Nah kejar-kejaran antara pembuatan lokasi baru dengan bedol desa ini kan masalah engineering practise.

    Saya stuju bahwa dampak lingkungan kalau dibuang ke laut mungkin tidak semengerikan yg dibayangkan. Animasinya Pak Hamzah menarik looh 😉

  4. S. Lubis berkata:

    Memang agak lucu jadinya kalau relief well digunakan untuk seismik tomografi, rasa-rasanya terlalu mahal! Bor tegak saja sudah cukup untuk seismik tomografi dan lubang bor pun tidak harus sebesar pemboran eksplorasi.
    Saya heran juga ya, sudah jelas bahwa berdasarkan ciri-ciri semburan lumpur ini sudah patut dikategorikan “mud eruption” yang lazim terjadi di muka bumi ini. Belum ada negara manapun yang berupaya untuk “mematikan” aliran lumpur semacam ini, karena ini kan gejala geologi biasa seperti lelehan magma di puncak gunung api, semburan air panas (hot spring), aliran asam sulfida kawah-kawah gunung api, yang biasanya dihindari saja jangan coba-coba dilawan. Upaya melawan gejala geologi hanya akan memindahkan bencana saja ketempat lainnya.
    Banyak dirilis bahwa kita sepakat menyebut musibah/kesialan/bencana atau apapun namanya adalah mud volcano, jadi jelas seharusnya menjadi domain geologi dong. Teman-teman migas perlu legowo untuk sementara mempercayakan penanganan ini pada para ahli geologi, bukan memunculkan berbagai teknologi spektakuler yang justru membuat semakin besarnya ketidak-pastian untuk mengambil keputusan yang efektif dan tuntas. Sebaiknya tidak memberikan harapan imajiner bagi masyarakat (korban dan calon korban?) seolah-olah masalah ini dapat dituntaskan hanya dengan “mematikan ” sumbernya saja. Sekarang ini dampak yang ditimbulkan sudah multi dimensi dan berkembang jauh keluar dari kompetensi keilmuan.
    Satu hal penting yang perlu diklarifikasikan kembali adalah skenario terakhir yaitu membuang lumpur ke laut, belum menjamin masalah ini akan tuntas. Saya rasa alternatif yang terakhir tapi bukan terburuk adalah membiarkan saja gejala geologi ini berlangsung alamiah, hanya alirannya perlu dipantau dan dikendalikan sehingga tidak menimbulkan bencana baru. Oleh sebab itu, semua infrastruktur (jalan raya, tol, rel KA, jaringan listrik, dsb.) serta pemukiman segera dire-lokasi ke tempat yang aman.
    Selain itu, tidak mungkin menahan lumpur ini di daratan karena “habitat lingkungannya” bukan di darat, tetapi di dasar laut dimana lumpur ini akan tertidur pulas bersama-sama dengan saudara-saudara mudanya……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: