DINAMIKA ARUS PESISIR PANTAI PASURUAN MENDORONG ALIRAN LUMPUR SIDOARJO

Oleh : Delyuzar Ilahude

Pendahuluan
Wilayah pesisir merupakan lingkungan yang dinamis, unik dan rentan terhadap perubahan lingkungan.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pesisir antara lain adalah aktifitas di daratan, pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, peningkatan permintaan akan ruang dan sumberdaya serta dinamika lingkungan pantai. Disamping itu perairan pesisir dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara masukan air dari lautan (ocean waters) dan air tawar (freshwater). Aliran air tawar ke laut merupakan fungsi dari karakteristik daerah aliran sungai, aliran air permukaan dan aliran air tanah. Selanjutnya neraca air atau keseimbangan air tawar dan laut dipengaruhi oleh laju presipitasi dan evapotranspirasi. Berbagai macam aktivitas manusia yang dilakukan baik di daratan maupun di lautan mendorong terjadinya perubahan lingkungan di wilayah pesisir. Pengaruh eksternal yang bersifat alamiah terhadap dinamika pantai yaitu energi samudera, sedangkan masukan material berupa sedimen, partikel dan pollutant umumnya melalui aliran sungai.

Demikian pula upaya pembuangan semburan lumpur PT. Lapindo ke laut melalui Kali Porong di Selat Madura. Jika hal itu terjadi maka kondisi inipun menjadi bagian dari pengaruh eksternal terhadap dinamika lingkungan pantai, namun sejauh mana pengaruhnya terhadap kawasan pesisir, tergantung dari pemanfaatan lahan baik di sekitar muara Kali Porong maupun di pesisir pantai Sidoarjo dan sekitarnya. Adanya input material pada suatu lingkungan perairan dengan kondisi pantai stabil maupun labil, tidak selamanya membawa dampak negatif terhadap perkembangan lingkungan pantai.

Perubahan lingkungan wilayah pesisir lebih disebabkan karena adanya proses-proses alami yang secara kontinu atau periodik mempengaruhi wilayah pesisir seperti fluktuasi parameter oseanografi dan dinamika iklim setempat. Erosi pantai yang menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai, lebih dominan disebabkan oleh karena adanya pengaruh alami tersebut seperti gelombang, arus, pasang-surut dan pasokan sedimen. Faktor alami yang menjadikan kawasan pesisir begitu dinamis yaitu tidak lain karena adanya faktor di atas tadi.

Demikian juga aliran lumpur yang bergerak ke arah laut sangat dipengaruhi oleh dinamika arus dan gelombang di pesisir pantai baik dari bagian timur Kali Porong (Pasuruan) maupun daerah pesisir pantai Sidoarjo itu sendiri. Lahan pesisir terbentuk dan berubah dari waktu ke waktu mengikuti aktifitas energi gelombang dan material ke dalam lingkungan wilayah pesisir.

Kondisi Geografis Dan Data Dua Dekade Penelitian di Selat Madura

Secara geografis perairan Selat Madura termasuk kedalam tipe perairan semi tertutup dari aktifitas gelombang laut pada musim barat. Namun demikian pada musim timur pengaruh gelombang ini cukup berdampak di pesisir pantai bagian selatan Pulau Madura (PPPGL 1989). Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa perubahan lingkungan wilayah pesisir lebih disebabkan karena adanya proses-proses alami yang secara kontinu atau periodik mempengaruhi wilayah pesisir seperti fluktuasi parameter oseanografi dan dinamika iklim setempat. Faktor alami yang menjadikan kawasan pesisir begitu dinamis antara lain yaitu karena adanya gelombang, arus, fluktuasi muka air laut dan pasokan material sedimen.

Dari data dua dekade hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan yaitu tahun 1989 dan tahun 1999 antara lain data dinamika arus pesisir pantai dan data batimetri daerah Jawa timur khususnya di daerah bagian timur Kali Porong (Pasuruan), mempunyai arti penting sebagai masukan untuk bahan pertimbangan dalam upaya memecahkan pembuangan semburan lumpur PT. Lapindo melalui Kali Porong.
Jika dilihat dari peta kontur batimetri perairan bagian timur Kali Porong dan sekitarnya (Pasuruan) menunjukkan bahwa kedalaman perairan berkisar mulai dari 2 hingga 25 meter (Gambar 1).

Kedalaman laut bertambah ke arah bagian timurlaut dan mendangkal ke arah bagian barat dan baratdaya (Gambar 2). Pola garis kontur batimetri cenderung berarah baratlaut-tenggara mengikuti progradasi lengkungan daratan Pasuruan dan sekitarnya (PPGL, 1999). Sebaran sedimen permukaan terdiri dari lumpur, lanau dan lanau pasiran (Setyadi, PPPGL 1999). Kondisi perairan relatif keruh mendekati muara Kali Porong dengan adanya pasokan lumpur dari muara sungai tersebut.

Gambar 1. Peta kedalaman dasar laut pergerakan arus sejajar pantai perairan Pasuruan dan sekitarnya (PPPGL 1999)

Daerah ini mempunyai daratan pasang surut yang cukup luas yaitu jarak antara garis pantai (pasang maksimum) hingga surut terendah kurang lebih 1.5 kilometer. Semakin ke utara (tidak terpetakan) yaitu ke arah pesisir pantai Sidoarjo hingga mendekati pesisir pantai timur Surabaya saat ini telah banyak berubah dengan pengembangan wilayah melalui reklamasi pantai. Kebutuhan lahan yang semakin meningkat terutama untuk daerah pantai bagian timur kota Surabaya, sebagian kawasan pesisir telah direklamasi ke arah laut dengan cara pengurugan yang digunakan untuk kawasan pemukiman, pariwisata dan kegiatan bisnis. Reklamasi ini dari segi bisnis cukup menguntungkan terutama untuk memperluas kawasan pemukiman, kegiatan usaha dan mengalihkan pusat-pusat keramaian yang selama ini terpusat di tengah-tengah kota Surabaya.

Gambar 2. Morfologi dasar laut perairan Pasuruan dan sekitarnya

Begitu pesatnya kegiatan pembangunan di kawasan pantai bagian timur Surabaya dan Sidoarjo sehingga memaksa pola kesetimbangan hidrostatis mengalami perubahan pada titik-titik yang direklamasi, dan secara otomatis faktor alami (gelombang, arus dan pasang surut) cenderung menyesuaikan dengan kondisi yang telah terbentuk disamping perubahan-perubahan lainnya yang berkaitan dengan ekosistem kawasan pantai di daerah itu. Dengan adanya kegiatan itu maka sebagian wilayah pesisir bagian timur Surabaya dan Sidoarjo lambat laun tidak mempunyai zona pecah gelombang (breaker zone) yang biasanya diwakili oleh tumbuhan bakau atau terumbu karang dan gosong pasir (sand bar) yang berfungsi sebagai peredam energi gelombang dari lepas pantai menuju ke darat.

Batas antara garis gelombang pecah dan garis pantai (coast line) ini disebut sebagai daerah selancar (surf zone). Daerah selancar inilah yang merupakan bagian utama dari kawasan pesisir yang sering dilakukan reklamasi atau di urug.

Faktor Dominan Pendorong Lumpur Porong

Faktor dominan pendorong material lumpur adalah arus sejajar pantai yang dipicu oleh energi gelombang musiman. Input energi gelombang di daerah perairan utara Jawa Timur (Pasuruan) terbentuk karena adanya gaya dorong (stress) angin musim yang bergerak di atas permukaan laut pada musim barat dengan kecepatan mencapai 35 knot dengan frekuensi 28.57 % (Gambar 3). Akan tetapi pengaruh angin pada musim barat ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pesisir pantai Selat Madura khususnya pantai Sidoarjo dan Surabaya (PPPGL 1989). Sedangkan pada musim timur kecepatan angin mencapai 27 knot dengan frekuensi kejadian 32.55 % yang terjadi antara bulan Juni hingga bulan September (Stasion Meteorologi Tanjung Perak Surabaya 1981-1985). Pengaruh angin pada musim timur ini sangat berdampak terhadap dinamika arus di pesisir pantai Pasuruan hingga ke pesisir pantai Surabaya.

Pada musim timur energi gelombang menerpa tepian pantai Pasuruan dan sekitarnya, pesisir pantai Sidoarjo hingga ke pesisir pantai Surabaya. Perjalanan gelombang menuju ke pantai tersebut mengalami dissipasi dan transformasi akibat adanya perubahan kedalaman, sehingga pada daerah dengan kedalaman yang dangkal terjadi energi gelombang yang tinggi dan memicu arus yang bergerak sejajar pantai. Tingginya frekuensi angin pada awal musim timur membangkitkan hempasan anergi gelombang di tepian pantai Pasuruan hingga ke pantai Sidoarjo dan Kenjeran Surabaya yang disertai dengan pergerakan arus sejajar pantai (longshore current) ke arah barat.

Dengan menggunakan metode (SMB) maka tinggi gelombang maksimum dari arah timur dapat di prediksi sebesar 1.5 meter dengan periode 5 detik. Namun karena bentuk geografis daerah Selat Madura termasuk dalam perairan semi tertutup maka kondisi gelombang maksimum seperti di atas, jarang sekali terjadi. Dari hasil pengamatan secara visual di daerah pesisir pantai Sukolilo Surabaya Jawa Timur, tinggi gelombang yang terjadi di kawasan ini pada musim timur rata-rata kurang lebih sebesar 0.5 meter (PPPGL, 1989).

Keterangan : 20 – Prosentase arah dan kecepatan angin dalam knot
Gambar 3. Diagram windrose hasil analisis dari Data Stasion Meteorologi Tanjung Perak Surabaya (1981-1985).

Frekuensi energi gelombang ini berpengaruh terhadap pantai Pasuruan dan sekitarnya yang disertai pergerakan arus di sepanjang pantai yang cenderung menggerakkan sedimen cenderung ke arah barat (Gambar 1).

Proses fluvial dan limpahan sedimen saling mempengaruhi serta proses perombakan oleh aktifitas marin berupa arus sejajar pantai, dapat terlihat dari pantai yang tererosi di beberapa lokasi di sepanjang pantai Pasuruan (PPPGL 1999).

Oleh sebab itu jika upaya pengalihan aliran semburan lumpur PT. Lapindo melalui Kali Porong merupakan keputusan akhir maka diperkirakan sebagian aliran sedimen lumpur tersebut bergerak menyusuri pesisir pantai Sidoarjo setelah terjadi percampuran (mixing) di muara sungai (estuari) akibat adanya turbulen oleh aktifitas gelombang dan arus di muara Kali Porong. Diketahui bahwa energi turbulen ini mempunyai daya campur yang tinggi dan dapat menetralisir terhadap kotoran rumah tangga maupun lumpur yang dialirkan ke laut. Kondisi inilah yang dapat menetralisir kepekatan lumpur secara alami dari muara. Pergerakan lumpur ini cenderung diendapkan ke arah utara oleh dinamika arus dari arah tenggara Kali Porong (Pasuruan) pada musim timur. Sedangkan pada musim barat perairan ini relatif tenang (P3GL 1999) sehingga diperkirakan sebagian sedimen lumpur tersebut cenderung diendapkan di daerah estuari dan sekitarnya. Faktor ini yang menjadi kendala bila terjadi pendangkalan di mulut muara Kali Porong yang akan memperlambat laju aliran semburan lumpur ke arah laut, sehingga pada musim hujan tiba dikhawatirkan akan memicu meluapnya air di bagian hilir Kali Porong. Dilain pihak jika aliran lumpur dari PT. Lapindo tersebut secara terus menerus terakumulasi di muara Kali Porong maka lambat laun endapan lumpur ini membentuk delta dan menjadi zona pecahnya gelombang secara alamiah.

Dengan adanya hutan mangrove yang berfungsi sebagai perangkap sedimen di pesisir pantai Sidoarjo maka akumulasi sedimen lumpur ini bukan saja menjadi bahan baku industri batu bata saja akan tetapi endapan sedimen lumpur yang tertahan oleh tumbuhan mangrove di sekitar muara Kali Porong dan pesisir pantai Sidoarjo tersebut akan menjadi barier dari energi gelombang yang mengerosi lahan tambak di sepanjang pesisir pantai.

Nelayan Di Sekitar Perairan Selat Madura

Pada musim timur perairan utara Jawa Timur merupakan gerbang masuknya komponen arus pada lapisan permukaan (0 – 50 m) yang disebut sebagai Arus Monsun Indonesia (Armondo) yang bergerak dari Laut Banda menuju Laut Jawa menerus ke barat (Wyrtki 1961). Percampuran (mixing) antara massa air laut dari timur-laut (Laut Banda) dan dari selatan (Samudera Hindia) yang masuk melalui Selat Lombok dan Selat Bali pada musim timur, mempunyai dampak positif terhadap perubahan temperatur dan salinitas air laut di perairan utara Jawa Timur. Pergerakan massa air laut pada musim timur ini menggiring plankton atau zat hara sebagai makanan bagi kehidupan hayati di perairan bagian utara Jawa Timur.

Periode pergerakan arus monsun di perairan Jawa Timur tersebut umumnya mengikuti pergerakan angin musim yang berdampak positif terhadap para nelayan di perairan bagian utara Jawa Timur khususnya di perairan bagian utara Madura dan sekitarnya. Sehingga dampak pembuangan lumpur kehabitatnya (dasar laut) yang mengimbas ke pendapatan nelayan, sepertinya tidak beralasan. Bagaimana dengan kasus di muara Delta Mahakam dengan kondisi lumpur yang lebih luas dari lumpur PT. Lapindo Brantas. Wallahu a’lam

Iklan

13 Balasan ke DINAMIKA ARUS PESISIR PANTAI PASURUAN MENDORONG ALIRAN LUMPUR SIDOARJO

  1. ambarwati berkata:

    Pak, apakah saya bisa mendapatkan naskah asli tulisan ini? yang lengkap beserta gambarnya? Pada tulisan di atas Bapak menyebutkan bahwa daerah pasang surut di pantai porong kurang lebih 1,5 km. semakin ke pesisir sidoarjo dan pantai timur surabaya sulit diprediksi, apakah maksudnya ada kecenderungan menyempit?
    terima kasih

  2. R. Dain berkata:

    Hallo pal Del..
    ternyata pak del aktif menulis ya….
    saya dulu kan pernah ketemu pak del, waktu ada kerjaan pertamina di tuban, waktu itu mau presentasi ada p. yuniar, mbak rosi, p mustafa, p wayan, sama sapa lagi saya lupa..tp kalo g salah waktu itu p saiful lagi berangkat ke makkah ya..
    pak saya lagi bingung ni…saya ingin tahu caranya wave prediction yang out put nya nanti berupa tinggi, periode dan arah datang gelombang dalam tiap interfal waktu tertentu misalnya tiap jam.
    saya cari2 di google kok dapetnya cuma cara nentukan gelombang signifikan yang hasilnya ya hanya itu ga bisa dalam bentuk time series.
    makasih ya pak sebelumnya…
    salam buat bapak-bapak di MGI yang pernah terlibat di tuban…..
    DAIN

  3. sadri berkata:

    saya mahasiswa S2 kelautan ITS. jika ingin mengetahui laju sedimentasi di daerah muara sungai, data apa saja yang saya perlukan dimana laju sedimen tersebut dipenagruhi oleh 2 faktor sekaligus, yaitu pasang surut dan gelombang

  4. rifai azis berkata:

    Bapak Delyuzar, saya mahasiswa ITB sedang mengerjakan thesis tentang delta Mahakam. Saya pernah membaca laporan bapak mengenai studi fisik lingkungan di delta Mahakam. Apakah boleh saya mengakses data parameter fisik delta Mahakam langsung ke Bapak? terima kasih.

  5. ? berkata:

    coba ini:
    http://www.bmg.go.id
    http://www.noaa.gov
    http://www.earthscan.co.uk

    tentu juga uncle gugle ama uncle yahu 🙂

  6. Martha berkata:

    Selamat Sore,
    Saya mahasiswi FH Universitas Padjadjaran yang sedang mengerjakan skripsi tentang pembuangan lumpur panas ke laut. saya memerlukan gambar dinamika oseanografi sehubungan dengan musim di Indonesia, kira2 saya musti mencari kemana ya? terimakasih mas

  7. maswien berkata:

    ma’af cupliklan diatas saya ralat : bukan dari Mas Rovick tapi dari mas Delyuzar Ilahude.

    Saking terobsesinya saya dengan Mas Rovick jadinya lupa yang laen.sorry…

  8. maswien berkata:

    “Periode pergerakan arus monsun di perairan Jawa Timur tersebut umumnya mengikuti pergerakan angin musim yang berdampak positif terhadap para nelayan di perairan bagian utara Jawa Timur khususnya di perairan bagian utara Madura dan sekitarnya. Sehingga dampak pembuangan lumpur kehabitatnya (dasar laut) yang mengimbas ke pendapatan nelayan, sepertinya tidak beralasan. Bagaimana dengan kasus di muara Delta Mahakam dengan kondisi lumpur yang lebih luas dari lumpur PT. Lapindo Brantas” “. Wallahu a’lam”.

    Cuplikan paragraf terakhir dari Mas Rovic ini merupakan hal yang saya tunggu-tunggu dan saya maksud dari komentar-komentar saya sebelumnya yang intinya,biarkan lumpur mencari tempat secara alami entah itu lewat kali porong ,ditanggul letter U ke arah laut terserah dan warga nelayan sidoarjo maupun madura nggak perlu khawatir akan mata pencahariannya terganggu.Konsentrasikan tuh warga sidoarjo yang hampir tenggelam tempat tinggalnya.Terimakasih…

  9. nayla berkata:

    saya mahasiswi S1 ilmu kelautan,saya ingin mengetahui metode pengukuran laju sedimentasi di daerah muara sungai?data apa saja yang diperlukan?dan bagaimana dengan penetuan MPT (Muatan Padatan Tersuspensi).

  10. Rovicky berkata:

    Mas Dwipananto bisa datang ke websitenya geologi kelautan disini http://www.mgi.esdm.go.id/

  11. dwipananto berkata:

    saya sangat tertarik dengan tulisan tentang lumpur ini, kebetulan saya adalah mahasiswa S1 Unibraw malang ingin mengetahui lebih lanjut pengaruh dari lumpur maupun sedimen terhadap ekosistem mangrove di muara sungai porong, bagaimana metode perkiraan yang harus saya gunakan?data penunjang apa saja yang dibutuhkan serta dimana saya bisa mendapatkan data2 tersebut?makasih atas perhatiannya

  12. Delyuzar berkata:

    Yang perlukan antara lain :
    1. Data angin lokasi yang disurvey
    2. Data gelombang
    3. Peta garis pantai
    4. Data pasang surut
    5. Peta Batimetri

    Caba cari literatur tentang coastal engineering, disitu banyak membahas metode peramalan gelombang, demikian walaupun singkat mudah2an bermanfaat.

  13. shafransyah berkata:

    saya mahasiswa S1 T.sipil Unsri semester 9, boleh saya belajar ttg metode peramalan gelombang dari data angin. yang ingin saya tanyakan: data apa saja yang diperlukan?rumus? langkah2 pengolahan data?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: