BENARKAH GEOMORFOLOGI DASAR LAUT SELAT MADURA CENDERUNG TERUS MENURUN ?


Enigma Lumpur Porong :
Oleh : DAS. Ranawijaya, M. Salahudin dan E.Usman

Latar Belakang

Pemerintah sudah menetapkan peningkatan status semburan lumpur Porong Sidoarjo menjadi Kawasan Rawan Bencana, dan tidak ada pilihan lain Tempat Penempatan Akhir (TPA) lumpur adalah ke laut Selat Madura.

Rencana penempatan lumpur Porong ke laut perairan Selat Madura merupakan pilihan yang dianggap paling aman, dan penempatan lumpur diupayakan berada pada kondisi dasar laut yang stabil dimana fenomena alam lebih kecil pengaruhnya. Idealnya penempatan lumpur porong di dasar laut ini harus memenuhi kriteria kondisi geomorfologi dan oseanografi disekitar perairan Selat Madura, hal ini bertujuan untuk menekan dampak sekecil mungkin dari akibat penempatan lumpur ke laut Selat Madura.

Pada kajian ini dibahas tentang adanya perubahan geomorfologi dasar laut Madura sebagai ”Cekungan Moderen” dan cenderung terus menurun dari hasil penelitian-penelitian terdahulu. Kajian dilakukan secara terintegrasi yang bersumber dari laporan hasil penelitian di Selat Madura oleh Puslitbang Geologi Kelautan (1995) dan peta publikasi Indonesia Hydrographic Chart 1951 US Army Maps yang menyangkut aspek perubahan geomorfologi dasar laut.

Cekungan Selat Madura

Cekungan laut Selat Madura bagian selatan secara administratif terletak di Provinsi Jawa Timur dan secara geografis cekungan ini terletak pada posisi 114010’25”BT -114013’58”BT , 801’8”LS – 803’28”LS (gambar 1). Di sebelah barat cekungan ini berbatasan dengan daratan Jawa Timur (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan) yang dibatasi oleh garis pantai Surabaya di utara, pantai Sidoarjo sampai kawasan pantai Pasuruan di selatan. Pada kawasan pantai-pantai ini bermuara Kali Surabaya, Kali Porong, dan Sungai Brantas. Di sebelah Selatan, cekungan ini berbatasan juga dengan daratan Jawa Timur (Kabupaten Probolinggo), dibatasi oleh kawasan garis pantai Pasuruan di barat, pantai Probolinggo, sampai pantai Besuki di timur, dimana pada kawasan pantai ini dicirikan oleh kehadiran tinggian Gunung Argopuro di Kecamatan Besuki. Di sebelah Timur cekungan ini berbatasan dengan Laut Bali yang dicirikan oleh perubahan kontras kedalaman yaitu mulai dari -150 m. Adapun batas bagian utara cekungan ini adalah kawasan pantai selatan pulau Madura yang termasuk ke dalam Kebupaten Sampang dan Pamekasan.


Informasi tentang kedalaman laut (batimetri) yang merupakan rekonstruksi data batimetri hasil survey geologi kelautan yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan – ESDM tahun 1995 yang diterbitkan sebagai Peta Dinamika Wilayah Pesisir Jawa Timur, Indonesia (gambar 2),
,
menunjukkan kedalaman laut dari barat ke timur yang dimulai dari delta muara Kali Porong (0 m) sampai mencapai sekitar -150 m yaitu pada batas barat Laut Bali, dengan poros kedalaman memanjang barat-timur dan agak meliak-liuk. Sehingga secara keseluruhan teramati bentuk geometris cekungan laut Selat Madura bagian selatan ini adalah “setengah cawan lonjong” yang membuka ke arah timur yaitu ke cekungan Laut Bali (gambar 3).

Pada cekungan ini terisi berbagai material batuan lepas (sedimen) yang umumnya berasal dari daratan Jawa Timur dan Madura. Berdasarkan peta sebaran sedimen permukaan dasar laut di cekungan ini, memperlihatkan bahwa sedimen lempung dan lumpur menempati sebagian besar laut ini, dan lanau sampai lanau pasiran umumnya menempati sebagian kecil dan hanya pada wilayah pesisir. Kecuali lanau dan lanau pasiran di perairan Gresik sampai Surabaya yang membentuk pola sebaran yang menunjukkan sumber sedimen berasal dari selat Gresik-Madura dan Laut Jawa.
Pada sudut pandang lainnya terdapat informasi batimetri yang berasal dari sumber data peta Indonesia Hydrographic Chart tahun 1951 (Edition 1 – AMS, First Printing, 9-59, Prepared by the Army Map Service (NSVLB), Corps of Eng. U.S. Army Washington DC). Pola kontur batimetri pada peta tahun 1951 juga membentuk cekungan setengah cawan lonjong, namun terdapat perbedaan garis kontur batimetri yang lebih dangkal pada posisi yang sama dengan kontur batimetri tahun 1995 dan lebih meliak-liuk khususnya mulai kedalaman -20 m (gambar 4).

Analisa Perbandingan Batimetri (Tahun 1951 dan 1995)

Perbandingan dua batimetri cekungan laut selat Madura bagian selatan (1951 dan 1995) dilakukan dengan menumpang-tindihkan (computerized overlying) pola sebaran garis kontur batimetri pada posisi geografis yang sama, sehingga didapatkan perpotongan-perpotongan ortogonal garis-garis kontur dengan nilai kedalaman yang berbeda atau hasil akhirnya dapat disebut sebagai “Peta Komposit” (gambar 5). Dari peta komposit ini terlihat adanya perpotongan antara garis kontur tahun 1995 dengan kedalaman yang lebih dalam daripada yang tahun 1951 maka dapat diartikan bahwa pada titik potong tersebut terjadi “pendalaman”, dan sebaliknya dapat diartikan telah terjadi “pendangkalan”. Adapun tujuan analisa perbandingan ini adalah untuk mendapatkan pengertian yang lebih komprehensif mengenai pola sebaran sedimentasi melalui parameter vertikal kecepatan sedimentasi atau kecepatan pendangkalan. Berdasarkan pola sebaran kecepatan sedimentasi maka dapat dengan mudah secara kwalitatif memprediksi arah-arah sedimentasi dan lokasi-lokasi yang lebih dahulu mendangkal atau sebaliknya.

Pada gambar 5 menunjukkan sebaran titik-titik perpotongan garis kontur batimetri yang kesemuanya ternyata teramati sebagai proses pendalaman, kecuali pada satu titik yaitu di delta muara Kali Porong dengan pendangkalan mencapai 5 m untuk periode waktu dari tahun 1951 sampai 1995 atau berkecepatan pendangkalan 11,4 cm pertahun. Proses pendalaman pada periode waktu tersebut teramati semakin cepat ke arah poros cekungan. Di sepanjang keliling perairan pantai berkecepatan pendalaman = 5 m sampai 10 m dalam periode 44 tahun atau = 11,4cm/tahun sampai = 22,8cm/tahun. Kemudian agak menjauh dari pantai kecepatan pendalamannya meningkat menjadi 20m/44tahun atau = 45,6 cm/tahun bahkan di perairan lepas pantai Sampang Madura ada yang mencapai 30m/44tahun atau = 68,4cm/tahun.
Pola sebaran kecepatan pendalaman tersebut di atas ternyata telah memberikan gambaran atau interpretasi lain yaitu sangat mungkin terjadinya penurunan tektonik lokal (local subsidence) dengan pusat penurunan terletak di poros cekungan selat. Penurunan ini secara jelas menunjukkan kecepatan yang lebih tinggi daripada kecepatan sedimentasinya. Oleh karena itu nilai-nilai kecepatan pendalaman di atas dapat dikatakan sebagai ”kecepatan minimal” penurunan dasar cekungan. Hal ini dikarenakan masih terdapatnya komponen kecepatan sedimentasi (yang dapat dihitung dari interpretasi rekaman seismik refleksi beresolusi tinggi). Adapun penyebab terjadinya local subsidence ini sangat dimungkinkan berhubungan dengan pola struktur tektonik selat dan pulau Madura, yaitu dicirikan oleh pola antiklinorium yang berarah sumbu barat-timur. Sehingga dapat diinterpretasikan sebagai daerah kompresi utara-selatan. Gaya utama dari selatan dikarenakan desakan tegak lurus ke utara oleh lempeng Samudera Hindia yang menumbuk Pulau Jawa, tetapi kesemuanya itu tidaklah besar perannya dibandingkan dengan kontrol tektonik lokal.
Sementara faktor-faktor oseanografis tersebut mempunyai variasi perubahan intensitasnya dalam periode waktu yang kontrol utamanya adalah eustatic sea level change yang mempunyai periode variasi tinggi muka laut berskala ribuan tahun. Sebagai ilustrasi dari banyak peneliti terdahulu telah sangat diketahui secara umum dalam dunia paleoklimatologi bahwa tahapan Glasial Maksimum Terakhir (Last Glacial Maximum) dimana muka air laut adalah –120 m di seluruh dunia terjadi pada sekitar 18.000 tahun yang lalu. Maka dapat dihitung kecepatan naiknya muka air laut (= kecepatan pendalaman) sebagai 120m/18.000 tahun atau 0,67cm/tahun; jadi sangatlah lambat bila dibandingkan dengan periode yang hanya 44 tahun untuk mencapai pendalaman 20m atau bahkan 30m.
Perubahan tinggi muka laut dapat disebabkan oleh dua hal yaitu yang disebabkan oleh perubahan volume es di kedua kutub bumi (eustatic sea level change: berperiode waktu ribuan tahun) dan yang disebabkan oleh aktifitas tektonik (tectonic sea level change: berperiode waktu ribuan sampai ratusan juta tahun); atau dapat pula disebabkan oleh keduanya sekaligus, dan ini yang sering dijumpai di seluruh muka bumi. Pengangkatan atau penurunan tektonik suatu kawasan juga akan mengontrol perubahan tinggi muka laut. Aktifitas tektonik yang lebih luas (regional) umumnya lebih lambat kecepatannya daripada yang lokal. Cekungan laut selat Madura bagian selatan ini secara dimensi areal tektonik dapat digolongkan sebagai lokal.
Apabila dikaitkan dengan kemungkinan dijadikannya cekungan laut selat Madura bagian selatan sebagai tempat ”penempatan” akhir luapan lumpur Porong, maka informasi di atas jelas menunjukkan dukungan yang lebih kondusif bagi kriteria laut selat Madura sebagai cekungan penempatan akhir lumpur Porong.

Pustaka Terpilih

Anonimous; 1998; Pedoman Perencanaan dan Pengelolaan Zona Pesisir Terpadu; Ditjen Bangda & BCEOM, Jakarta, Indonesia.
Indonesia Hydrographic Chart ,1951 ;Edition 1 – AMS, First Printing, 9-59, Prepared by the Army Map Service (NSVLB), Corps of Engineers. U.S. Army Washington DC.
Salahuddin, M., Lubis, S. dan Astjario, P., 2002, Pangkalan Data Geologi Dan Geofisika Kelautan Wilayah Pesisir Jawa Timur, Puslitbang Geologi Kelautan, Bandung.
Salahuddin, M.,A. Makmur dan Astjario, P., 2003, Peta Dinamika Wilayah Pesisir Jawa Timur sekala 1 : 500000, Puslitbang Geologi Kelautan, Bandung.
Usman, E.; 1995; Krisis Pantai Utara Jawa Timur, Publikasi Khusus No. 2, PPGL Bandung.
Usman, E., Salahuddin, M., 2006; Alternatif Tempat Penempatan Akhir Lumpur Sidoarjo berdasarkan Aspek Geologi Kelautan, PPPGL Bandung.

sumber PPPGL

Iklan

8 Responses to BENARKAH GEOMORFOLOGI DASAR LAUT SELAT MADURA CENDERUNG TERUS MENURUN ?

  1. day berkata:

    hati2 jngan ber main2 dengn laut madura,,aikbatnya bisa fatal,,,jadi harus di analisis terlebih dahului secara matng,,,,,,,

  2. AvF berkata:

    PA` ROVICKY,nanati orang geologi besar tanggung jawabnya di akhirat loh.. mereka kn yg nemuin kekayaan bumi kita, tapi yang manfaatin lebih byk org2 bule. sedangkan pemilik aslinya di daerah tersebut idup aja susah…. g logis bang!

  3. Rovicky berkata:

    Faiz,
    Aku bukan yang menulis jadi ngga tahu persisnya. Tetapi setahuku ErMapper maupun Surfer hanya dipakai sebagai software untuk display. Atau paling tidak digunakan untuk grid operation saja. Map baru dikurangi map lama.
    Aku sendiri lebih sering menggunakan ArcGIS 😛

    Data debit sungai diperlukan untuk menghitung jumlah material terangkut ke laut. Tentunya harus dilakukan survey berapa banyak suspensi yang diangkut oleh air sungainya. Dg demikian kita tahu seberapa banyak volume material yg terendapkan.

  4. faiz berkata:

    Mas ngolah data DEM-nya pake surfer atau Er-mapper, kalau masalah pengendapan sedimentasinya, bisa pake data debit sungainya ga??

  5. Rovicky berkata:

    Lah iya jouw, ini mau mengalirkan saja ngga bisa-bisa kok. Susah banget sampai dipompapun kaga bisa2, namun dah brasil sejuta mtr kubik looh. Tapi di sungai porong, moga2 mengendapnya di laut. Perlu diamati tentunya.

  6. Jouw berkata:

    Kalau cekungan laut selat madura akan bertambah kedalamannya setiap saat kenapa tidak secepatnya lumpur lapindo disalurkan kelaut ,sehingga musibah ini dengan segera teratasi dan jangan terlalu banyak teori .

  7. hana tsania berkata:

    jadinya yang menulis tulisan diatas dukung untuk membuang lumpur kelaut (selat madura)ya, tapi kan pendalaman lautnya sangat lambat sedangkan lumpur yang akan dibuang sangat buuuaaanyak, tentunya hal ini akan membuat selat madura menjadi dangkal dalam waktu yang cepat atau merubah tinggi air laut ( ini bisa di jadikan salah satu penyebab peruban tinggi air laut ga’ selain kedua sebab yang sudah disebutkan diatas).
    oya mau tanya, penuruna selat madura ini disebabkan oleh apa?

  8. hana tsania berkata:

    jadinya yang menulis tulisan diatas mendukung untuk membuang lumpur kelaut (selat madura) ya, tapi kan pendalaman lautnya sangat lambat sedangkan lumpur yang akan dibuang sangat buuuaaanyak, tentunya hal ini akan membuat selat madura menjadi dangkal dalam waktu yang cepat atau merubah tinggi air laut ( ini bisa di jadikan salah satu penyebab peruban tinggi air laut ga’ selain kedua sebab yang sudah disebutkan diatas).
    oya mau tanya, penuruna selat madura ini disebabkan oleh apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: