Terimbas Kasus Lumpur, Penghargaan Achmad Bakrie di Tengah Ketidakpastian

Senin, 13 Agt 2007,
Romo Magnis Menolak, Putu Wijaya Pikir-Pikir
Acara penyerahan Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini terganggu. Franz Magnis Suseno, salah seorang penerima, menyatakan menolak. Alasannya, PT Lapindo, perusahaan Grup Bakrie, belum mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan bencana lumpur Lapindo.

PRIYO HANDOKO, Jakarta

PRIA yang dipanggil Romo Magnis itu mengaku tidak pernah datang ke lokasi luapan lumpur panas di Porong, Sidoarjo. Dia hanya melihat lokasi tersebut dari atas pesawat serta mengikuti perkembangan beritanya di media.

Namun, romo Katolik yang juga mantan ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, tersebut sudah mantap pada keputusannya.

Menurut Magnis, begitu mendapat surat pemberitahuan dari Freedom Institute (penyelenggara acara) pada Juni lalu, dirinya langsung menulis surat balasan. “Saya sangat menghargai penghargaan yang diberikan. Tapi, saya merasa tidak sanggup menerima dan mereka sudah memahami,” jelas Magnis kepada wartawan Jawa Pos, Sabtu (11/8), di kediamannya, Jalan Johar Baru, Jakarta.

Penghargaan dari keluarga Bakrie yang diterima Magnis (bidang pemikiran sosial-budaya) tergolong salah satu yang bergengsi di antara lima Penghargaan Achmad Bakrie (PAB). Sebab, awalnya, PAB memang hanya memiliki dua kategori. Yaitu, kesusastraan dan pemikiran sosial-budaya. Namun, sejak 2005, PAB diperluas dengan memasukkan kategori kedokteran serta dua kategori lagi, yakni sains dan teknologi, pada 2007 ini.

Jajaran penerima penghargaan bidang sosial-budaya sejak PAB diserahkan (2003) adalah Ignas Kleden, Nurcholis Madjid, Sartono Kartodirdjo, dan Arief Budiman. Selain penghargaan, setiap penerima award mendapatkan hadiah Rp 100 juta.

Magnis punya argumentasi sendiri di balik sikap menolak itu. Menurut dia, saat ribuan korban luapan lumpur panas Lapindo belum mendapatkan ganti rugi dan masih menderita, dirinya tidak bisa mengambil sebuah hadiah yang masih berkaitan dengan keluarga Bakrie. Dia menyebut bencana itu sebagai malapetaka raksasa buat Jawa Timur.

“Tidak berarti saya langsung menuduh Pak Bakrie atau Lapindo bersalah. Saya tidak menuduh kiri-kanan dan tidak mau berpolitik. Tapi, yang jelas, Bakrie terlibat dalam tragedi tersebut dan menjadi simbol dari sebuah penanganan yang sangat lamban serta tidak memuaskan. Karena itu saya tolak,” ungkapnya.

Dia tidak ragu-ragu pada pilihan sikapnya. “Tragedi di Sidoarjo itu masalah yang sangat serius,” tegas pria kelahiran Jerman yang menjadi WNI sejak 1977 tersebut.

Di lain sisi, Magnis menilai pemerintah tidak bergerak lincah. Padahal, negara seharusnya langsung bertindak dengan membawa Lapindo ke pengadilan agar ada ketetapan status hukum atas Lapindo. “Dalam situasi begini, saya benar-benar merasa tidak enak menerima penghargaan tersebut. Apalagi, dengar-dengar, ada uang Rp 100 juta untuk saya,” katanya berseloroh.

Dia menegaskan, dirinya tidak mempunyai masalah dengan Freedom Institute. Dia pun tetap mendukung pemenang kategori lain yang mungkin berbeda sikap. “Kebetulan, dalam undangan yang saya terima beberapa hari lalu, nama saya ternyata masih ada. Tapi, saya tetap tidak akan datang,” jelas pemilik rambut putih yang lumayan gondrong tersebut.

Direktur Program Freedom Institute Hamid Basaib menyatakan bisa memaklumi pilihan Romo Magnis itu. Bahkan, kata dia, anugerah selevel Nobel dan Oscar pun sempat beberapa kali mengalami kejadian serupa.

“Tapi, kami tetap tidak mengalihkan pemenang kategori pemikiran sosial yang seharusnya diterima Romo Magnis ke orang lain. Makanya, nama beliau tetap masuk di undangan yang kami sebar,” katanya.

Hamid menyampaikan, total anggota dewan juri PAB adalah tujuh orang. Saat ditanya tentang nama-nama mereka, dia menolak membukanya. “Memang, sejak awal dilaksanakan, kami nggak pernah mengumumkannya ke publik. Yang jelas, mereka semua kapabel,” tegasnya.

Manajer Program Freedom Institute Nong Darol Mahmada menyatakan, Freedom Institute memang dibentuk oleh pengusaha Aburizal Bakrie atas amanat sang ayah, pengusaha Achmad Bakrie.

Karena itu, meski Freedom Institute juga menerima dana dari sejumlah lembaga lain seperti Komite Eropa dan Kedutaan Denmark, sumber dana utama tetap berasal dari kantong Aburizal Bakrie. “Penghargaan Achmad Bakrie ini termasuk salah satu program reguler yang di-support Yayasan Bakrie,” jelasnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyerahan penghargaan tersebut dilakukan menjelang ulang tahun kemerdekaan RI. Untuk tahun ini, acara itu dilaksanakan besok malam di Hotel Nikko, Jakarta.

Selain Magnis yang menolak, ada empat pemenang PAB lainnya. Yakni, Putu Wijaya (kesusastraan), Jorga Ibrahim (sains), dan Sangkot Marzuki (kedokteran). Untuk kategori teknologi, pemenangnya bukan individu, melainkan lembaga, yaitu Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, Jawa Barat.

Bila Magnis dinilai sebagai perintis studi etika di Indonesia, dramawan sekaligus novelis Putu Wijaya dipilih karena dipandang menjadi “pembawa” gaya surealisme -gabungan fantasi dan realisme- ke khazanah sastra dalam negeri. Hal itu terutama tecermin pada berbagai karya novel dan cerpennya.

Lantas, apa kata Putu Wijaya menanggapi sikap Magnis tersebut? “Saya juga menerima banyak SMS dari teman-teman yang isinya menyindir dan mendesak saya untuk menolak. Mereka juga menghubung-hubungkannya dengan luapan lumpur panas di Sidoarjo dan Lapindo,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Seperti Magnis, pemilik nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya itu mengaku belum pernah melihat langsung lokasi luapan lumpur panas. Namun, dari berbagai video yang ditonton, dia sudah memiliki gambaran mengenai derita masyarakat Porong yang menjadi korban.

Putu yang lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 63 tahun lalu, tersebut bahkan sudah mempersiapkan skenario film yang terinspirasi tragedi itu. “Saya belum mengambil keputusan (menolak atau tidak, Red). Apalagi, akhir-akhir ini, saya memang sangat sibuk,” ujarnya.

Dia kemarin menjadi juri lomba menulis puisi dan melukis tingkat SD yang diselenggarakan di Istana Bogor. Ratusan anak dari seluruh Indonesia berpartisipasi dalam lomba yang diprakarsai Presiden SBY sejak tahun lalu itu. “Saya sudah niat memutuskannya besok (hari ini). Yang jelas, saya akan selalu berpihak kepada rakyat,” tegasnya.

Hasil Sembiring, kepala Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi, yang akan mewakili lembaganya menerima PAB juga menyatakan sudah mendengar kabar penolakan Romo Magnis tersebut. “Kami sepenuhnya menghormati keputusan beliau,” katanya.

Menurut dia, lembaganya tetap menerima penghargaan itu. Sikap tersebut, kata dia, bukan berarti tidak solider terhadap masyarakat Sidoarjo. Tapi, dia menganggap momen itu penting untuk membangkitkan minat dan apresiasi masyarakat terhadap riset, khususnya di dunia pertanian.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi terpilih sebagai pemenang kategori teknologi. Sebab, di situlah bibit varietas padi unggul IR 64 ditemukan dan dikembangkan pada era 70-an. Temuan tersebut mengantarkan Indonesia mencapai swasembada pangan pada 1980-an.

Selama ini, kata Hasil, riset cenderung dianggap tidak penting dan belum menjadi budaya. Padahal, kalau mau maju, negara ini harus didukung riset yang kuat. “Berlarut-larutnya penanganan lumpur panas Lapindo itu juga menjadi bukti lemahnya riset kita dalam memecahkan persoalan,” jelasnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: