Mabuk, Bulus di Kali Porong

Kamis, 09 Nov 2006 JawaPos, Radar Sidoarjo —SIDOARJO – Tanda-tanda luapan lumpur mencemari Kali Porong makin menunjukkan bukti. Masyarakat sekitar Kali Porong menemukan seekor kura-kura raksasa (bulus) mengapung di permukaan sungai.

Melihat seekor bulus mengapung, puluhan warga Desa Pejarakan, Kecamatan Jabon, berebut menangkap. Mereka menggunakan berbagai alat untuk menjeratnya. Orang yang beruntung itu ternyata Jumadi, 35, warga Desa Pejarakan.

Jumadi yang sedang berenang di sungai bermaksud mengejar bulus tersebut. Namun, karena tidak mungkin menangkap binatang seberat sekitar 100 kg itu dengan tangan kosong, dia menggunakan jaring penangkap ikan. “Kedawang (istilah warga sekitar) itu akhirnya saya tangkap meski jaring ikan harus rusak berat,” kata Jumadi.

Lega berhasil menangkap buruannya, Jumadi pun mengikat binatang yang bernama Latin Amyda cartilaginea itu. Hingga kemarin, bulus berukuran besar ini masih terikat. Kepalanya tersembunyi di balik tempurung. Anak-anak menggunakannya sebagai mainan. Mereka tampak senang memegangi, bahkan menunggangi, bulus berdiameter sekitar satu meter itu.

“Kami memang beberapa kali melihat bulus. Tapi belum ada yang sebesar ini mengapung,” kata Jumadi. Seharian kemarin, ratusan orang menonton temuan bulus milik Jumadi ini.

Sekretaris Dewan Lingkungan Sidoarjo (DLS) Nurul Ahdi mengatakan, binatang itu keluar dari sarangnya karena terganggu oleh lumpur yang menggenangi Kali Porong. Lokasi penemuan bulus itu hanya sekitar 100 meter dari lokasi pembuangan lumpur. “Jelas habitatnya terganggu oleh lumpur,” kata Nurul.

Indikasi terganggunya biota laut itu, kata dia, sebenarnya sudah lama terlihat. Sebelum dibuangi lumpur, ikan-ikan masih banyak ditemukan di Kali Porong. Namun, saat ini jarang sekali tampak ikan di sekitar lokasi itu. Penduduk yang biasanya mengail di sungai pun tidak tampak lagi.

Pendapat senada datang dari drh Djoko Putranto, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unair. Munculnya bulus tersebut diduga disebabkan perubahan lingkungan sungai tempat tinggalnya. “Perubahan itu bisa berupa perubahan kekeruhan, Ph (keasaman), atau temperatur,” jelasnya tadi malam.

Djoko menerangkan, bahwa bulus tidak akan naik ke darat jika memang tidak terpaksa. Jika ia sampai naik berarti manandakan, bahwa kondisi lingkungan tempat ia tinggal sudah sangat berubah. Hal ini tentunya patut diwaspadai.

Sebab, jika kondisi lingkungan tidak diperhatikan lama-kelamaan akan berpengaruh ke organisme lain. “Bukan hanya ikan dan hewan di sekitar sungai saja. Namun, manusia juga akan terpengaruh,” ungkapnya.

Djoko menambahkan, dari penelitian terakhirnya, didapatkan hasil bahwa kandungan Fe (mineral besi) di air sawah yang tercemar lumpur jauh lebih tinggi dibanding muara sungai yang kala itu belum dialiri lumpur. Jadi kemungkinan setelah pengaliran lumpur itu Ph sungai jadi naik. “Namun masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal itu,” katanya.(roz/cie)

Iklan

2 Responses to Mabuk, Bulus di Kali Porong

  1. mytokoaquatic berkata:

    Thanks for info, jangan lupa kunjungi website kami https://bit.ly/2ChpWlH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: