DPR Ringankan Beban PT Lapindo Brantas

Sabtu, 10 Feb 2007, JawaPOS
Setuju Negara Biayai Relokasi Infrastruktur
JAKARTA – Tak ada alasan lagi bagi PT Lapindo Brantas Inc untuk tidak mencairkan dananya sebagai kompensasi bagi para korban semburan lumpur di Sidoarjo. Sebab, biaya relokasi infrastruktur vital yang rusak menjadi tanggung jawab negara. Lapindo hanya wajib menangani dampak sosial.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui hal tersebut dalam rapat dengar pendapat antara komisi V dan Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur serta Departemen Pekerjaan Umum. “Relokasi infrastruktur itu yang meliputi jalan tol, jalan nasional, kanal lumpur, serta rel kereta api diambil alih negara,” ujar Ketua Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Basoeki Hadimoeljono di Jakarta kemarin.

DPR setuju negara mengambil alih karena dalam jangka panjang kerusakan infrastruktur vital akibat semburan lumpur berdampak buruk terhadap perekonomian Jawa Timur. Padahal, aspek pendanaan infrastruktur tidak termasuk dalam pertanggungjawaban Lapindo sesuai Perpres No 13/2006.

“Karena itu, kami (timnas) menyarankan negara mengambil alih, tapi tetap menjadi tanggung jawab Lapindo. Jadi, kalau secara hukum dinyatakan bersalah, negara bisa membebankan biayanya kepada Lapindo. Yang penting sekarang infrastruktur harus lebih dulu dibenahi,” tegas kepala Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum tersebut.

Untuk menindaklanjuti keputusan tersebut, Komisi V DPR dalam waktu dekat memanggil menko perekonomian, menteri keuangan, menteri PU, dan menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM) untuk membicarakan aspek pendanaan relokasi infrastruktur vital di Porong dan sekitarnya.

Basoeki menjelaskan, untuk membenahi infrastruktur yang rusak, diperkirakan dibutuhkan anggaran Rp 3 triliun-Rp 4 triliun. Rinciannya, Rp 770 miliar untuk pembinaan jalan tol Porong-Gempol, sekitar Rp 300 miliar untuk pembinaan jalan nasional arteri Sidoarjo-Gempol, dan Rp 450 miliar untuk relokasi rel kereta api Porong-Gempol.

Selain itu, dibutuhkan Rp 700 miliar untuk membuat kanal guna mengalirkan lumpur dari pusat semburan ke Selat Madura serta Rp 600 miliar untuk pemindahan satu koridor pipa PDAM selebar 120 meter dan sepanjang 12 kilometer.

“Anggaran pembuatan kanal belum termasuk biaya operasional untuk mengalirkan lumpur dari pusat semburan ke laut,” katanya.

Kanal yang dibangun bersisian dengan Kali Porong mulai ujung spillway hingga Selat Madura tersebut didesain mampu mengalirkan lumpur lima meter kubik per detik. “Itu sesuai aliran lumpur sebesar dua meter kubik per detik dengan formula campuran air satu setengah kali,” jelasnya.

Bila pemerintah menanggung biaya relokasi infrastruktur, Lapindo ditugasi menanggung biaya sosial Rp 3,8 triliun. Rinciannya, Rp 1,3 triliun untuk keadaan tanggap darurat dan Rp 2,5 triliun untuk ganti rugi. “Tugas sosial Lapindo itu kan jelas karena sudah diperintah presiden. Tapi, kalau infrastruktur, itu kan tidak ada dalam perintah presiden,” ungkap Basoeki.

Selain membahas aspek pengganggaran relokasi infrastruktur, Komisi V DPR akan membahas usul untuk membentuk badan khusus yang menangani semburan lumpur usai berakhirnya masa tugas timnas pada 8 Maret mendatang.

“Kerusakannya sangat besar dan akan berlangsung selamanya. Karena itu, tidak bisa ditangani secara ad hoc. Timnas kan sebenarnya hanya bertugas selama enam bulan untuk mempersiapkan apa yang harus dikerjakan dalam jangka panjang oleh organisasi yang permanen,” katanya.

Tanggul Jebol Lagi

Setidaknya dalam lima hari terakhir, selalu saja ada tanggul jebol di pusat semburan lumpur setiap harinya. Kemarin, giliran tanggul di kolam penampungan Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, jebol akibat lumpur menerobos keluar.

Lokasi titik tanggul yang jebol berada di dekat pabrik sabun De Brima Tanggulangin. Tanggul yang jebol tersebut jaraknya sekitar 500 meter di sebelah utara pusat semburan. “Kejadiannya sekitar pukul 15.00 WIB,” jelas pengawas tanggul Sukarno.

Akibat jebolnya tanggul tersebut, aliran lumpur dari kolam (pond) Desa Kedungbendo mengalir cukup deras ke arah utara. Kawasan pemukiman Desa Kedungbendo dan sebagian Desa Ketapang yang selama ini sudah tergenang lumpur semakin tenggelam. Hingga sore kemarin, aliran lumpur masih mengalir di dua kawasan tesebut.

Belum ada penanganan perbaikan tanggul yang dilakukan. Hal itu disebabkan, saat sore hari, hujan deras terus mengguyur kawasan Porong hampir selama tiga jam.

Akibatnya, kondisi tanggul jadi sulit dilewati karena licin. Truk dan alat berat pun tak bisa masuk ke lokasi karena memang cukup rawan. Menurut Sukarno, perbaikan tanggul yang jebolnjadi terhalang.

“Saya juga tak berani mengizinkan mereka (sopir truk, Red) masuk,” ujarnya. Dia mengatakan, jika tetap dipaksakan masuk, dirinya khawatir truk-truk tersebut malah akan terjebak di atas tanggul.

Hingga kemarin, aliran lumpur dari pusat semburan masih terus mengarah ke utara. Meski saluran lumpur dari box culvert sudah ditutup paksa oleh warga, namun, lumpur masih bisa mengalir di titik tanggul sekitar pusat semburan sebelah utara yang belum selesai diperbaiki. “Sebagian besar lumpur memang masih mengalir ke utara,” kata Jubir Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo Rudi Novrianto.

Sehari sebelumnya, tanggul di sebelah selatan pusat semburan juga jebol. Di tanggul yang berada sekitar 300 meter di sebelah selatan pusat semburan itu, panjang sisi tanggul yang jebol mencapai sekitar 50 meter. Itu terjadi, sesaat setelah lumpur diupayakan untuk dialirkan ke selatan dengan menggunakan beberapa ekskavator long arm.

Hingga kemarin, tanggul Kelurahan Jatirejo itu belum diperbaiki. Namun demikian, tak ada lagi aliran lumpur seperti sehari sebelumnya. Hal itu disebabkan, selama seharian kemari aliran lumpur dari pusat semburan memang tak lagi ke selatan.

Menurut Rudi, sebenarnya tanggul Kelurahan Jatirejo sudah akan diperbaiki. “Tapi keburu mendung,” ujarnya. Dia pun kembali menyebut, perbaikan tanggul selama ini tak bisa maksimal, sebagian juga karena terkendala cuaca.

Menurut dia, sebenarnya material sirtu untuk perbaikan tanggul sudah tersedia. “Namun, keselamatan para pekerja tetap menjadi pertimbangan utama kami,” katanya.

Di lapangan, puluhan truk-truk pengangkut sirtu, hingga sore kemarin, masih terlihat parkir dan antre di beberapa titik. Selain di Siring, akses satu-satunya menuju tanggul Desa Kedungbendo yang kemarin jebol, antrian truk juga dijumpai di beberapa ruas Jl Raya Porongndan Jl Raya Ketapangkeres. (noe/dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: