Efektivitas Bola Beton Belum Bisa Diukur

KOMPAS  Rabu, 14 Maret 2007
Efektivitas Bola Beton Belum Bisa Diukur
DPRD Jawa Timur Bentuk Pansus Lumpur Panas

SIDOARJO, KOMPAS – Meskipun bola beton yang masuk ke pusat semburan lumpur panas sudah mencapai 295 dari rencana 374 rangkaian, Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Panas di Sidoarjo belum dapat mengukur efektivitas bola beton itu dalam mengurangi volume semburan lumpur panas.

Saat ini volume lumpur panas yang keluar dari pusat semburan di Porong rata-rata sekitar 140.000 meter kubik per hari.

Selasa (13/3), 34 rangkaian bola beton dimasukkan lagi ke pusat semburan. Setiap rangkaian terdiri atas dua bola beton berdiameter 40 sentimeter (cm) dan dua bola beton berdiameter 20 cm. Berarti, hingga saat ini telah dimasukkan 295 rangkaian atau 590 bola beton berdiameter 40 cm dan 590 bola beton berdiameter 20 cm.

Anggota Tim Supervisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Satriya Bijaksana, yang memimpin upaya itu mengatakan, idealnya, hampir 300 rangkaian bola beton yang masuk sudah terlihat ada pengurangan volume semburan. “Namun, pengukuran volume itu terserah kepada timnas. Merekalah yang mengukur dan menentukan apakah ada perubahan volume lumpur yang keluar setelah bola beton dimasukkan,” ujar Satriya.

Perubahan yang terlihat setelah bola beton dimasukkan adalah peningkatan volume gas H2S yang keluar dari pusat semburan (berupa asap putih tebal). “Kami menduga hal ini diakibatkan tekanan lumpur di dalam berkurang,” ujarnya.

Anggota Tim Nasional PSLS, Arie Setiadi Murwanto, mengatakan timnas kesulitan dalam mengukur volume semburan lumpur panas. Selama ini timnas mengukur volume lumpur panas yang keluar dengan menghitung ketinggian lumpur di kolam penampungan di Desa Jatirejo. Pengukuran bisa dilakukan jika lumpur mengalir ke satu tempat, yakni jalur pembuangan lumpur ke Sungai Porong.

Namun, sepekan terakhir tanggul di sekitar pusat semburan beberapa kali jebol sehingga aliran lumpur tak mengarah ke satu tempat. “Kalau meluber ke mana- mana, tentunya volume lumpur tak bisa dihitung,” katanya.

Meskipun belum diukur, dia melihat ada perubahan positif setelah bola-bola beton dimasukkan. “Berdasarkan pengamatan, kami melihat volume semburan lebih kecil. Ini terlihat saat lumpur meluber dari tanggul di sekitar pusat semburan,” ujarnya.

Akan ke Jakarta

Sementara itu, warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) 1 merencanakan berunjuk rasa di depan Istana Presiden di Jakarta. Hal ini dilakukan setelah pada Senin (12/3) malam Bupati Sidoarjo Win Hendrarso mengatakan bahwa ganti rugi yang diputuskan pemerintah pusat bagi Perumtas 1 berupa relokasi plus, bukan ganti rugi tunai.

Juru bicara warga Perumtas 1, Rizal, mengatakan, warga Perumtas 1 tidak mau dibeda-bedakan dengan warga Desa Siring, Kedungbendo, Renokenongo, dan Jatirejo. Empat desa ini diberi ganti rugi tunai.

Menurut rencana, lebih dari 1.000 warga akan ke Jakarta minggu depan. “Ada kemungkinan kami akan konvoi ke Jakarta naik sepeda motor,” ujar Rizal.

Bentuk pansus

Sementara itu, DPRD Jawa Timur akhirnya memutuskan membentuk panitia khusus (pansus) untuk menangani dampak semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo. Pansus antara lain bertugas mendesak pemerintah agar segera memberikan ganti rugi bagi korban semburan lumpur panas serta pembangunan infrastruktur baru setelah infrastruktur lama hilang terendam lumpur panas.

“Pansus juga harus memantau dampak sosial, ekonomi, dan politik semburan lumpur panas serta mencari solusinya,” kata Sekretaris DPRD Jatim Akmal Boedianto. (APA/INA)

Iklan

21 Responses to Efektivitas Bola Beton Belum Bisa Diukur

  1. John berkata:

    Makasih atas infonya , Adria

  2. ompapang berkata:

    Kata Ebiet G Ade : BARANGKALI disana ada jawabnya,mengapa terjadi bencana …..BARANGKALI itu apa? BARANGKALI itu ujudnya batu,kerikil dan pasir. Coba saja keKALI Porong,kan ada barang-barang itu. BARANGKALI itu kemudian dibuat bola beton oleh TIM HDCB untuk mengurangi semburan lumpur, sekarang mau tanya apa lagi hayo….tanyalah pada rumput yang bergoyang ….

  3. sasha berkata:

    waduuh pembicaraannya menarik,tapi sayangnya saya adalah orang awam yang nggak ngerti dengan segala macam rumus dan unsur kimia yang lagi panjenegan2 bicarakan…buat saya,terserahlah tuh lumpur mengandung apa (sukur2 mengandung duit,hihi…)..kalo ledakannya keluar duit pasti podo rebutan ngringkesi to…jadi mending dipikirin aja gimana nasib warga sekitarnya,kasihan wis kesuwen masuk angin mereka…makan nggak ke urus,kalopun keurus nggak bisa milih menunya…hehe…kog saya melihat disini semuanya mandul (maap…)…ya DPRD nya,bupatinya,ampe presidennya…bukan orang sidoarjo aja yang menderita tapi semua wilayah yang mesti lewat sidoarjo aksesnya juga menderita…yang kerja dihotel kayak taman dayu banyak yang di PHK,karena nggak ada yang datang lagi tamunya,yang jadi sopir mesti keluarin tenaga extra buat tukang pijit khusus kaki…..kayaknya kalo semua udah nggak ada yang bisa menyelesaikan,MARILAH KITA TANYA PADA TUHAN AJA PIYE SING BENER SEHARUSNYA

  4. ompapang berkata:

    kalau di gunung api ( volcano sungguhan ) katanya gas yang keluar ada CO2,CO,SO2,SO3 yang potensial jadi hujan asam, kalau di LUSI kok hanya H2S yang disebut-sebut ya,apa gas-gas yang saya sebut tadi nggak ada? Pengalaman , kalau saya pas nge-charge accu mobil suka membaui (jw :sok mambu ) gas “semegrak” seperti belerang.

  5. Herman berkata:

    Data untuk gas H2S

    Koefisien Absorpsi gas dalam air ( ks atau kH ) yaitu
    ( m3 gas H2S direduksi ke 0 derajat C dan 1013 mbar, diabsorpsi per m3 air pada temperatur tertentu, bila tekanan parsial gas adalah 1013 mbar)

    Untu gas H2S
    Berat Molekul = 34,080
    Kerapatan pada 0 derjat C dan 1013 mbar = 1,539 kg/m3
    pada 0 derjat C ks = 4,69
    pada 10 derjat C ks = 3,52
    pada 20 derjat C ks = 2,67
    pada titik didih ks = – 61,8

  6. RIrawan berkata:

    Satu lagi saya setuju pakde, suhu akan naik karena bentuk energinya diubah.

    Jika bola-bola berhasil mempersempit jalur aliran lumpur (ITB: 30 inci), dan ini sebenarnya inti sasaran konsep HDCB, maka banyak energi akan terkonversi menjadi panas akibat makin besarnya rugi-geser.
    Dan sudah banyak yang menyimpulkan, karena baru masuk, maka bola-bola saat ini sedang menggerus, merontokkan dinding-dinding lubang, yang tanahnya ikut naik, sehingga lumpur kelihatan makin kental. Tapi seperti om papang bilang, banyaknya tanah oplosan mungkin saja bisa sedikit mendinginkan suhu.

    Kalau kita asumsikan sumber energinya tetap 100 Mw, maka jangan heran debit lumpur (dV/dt) sementara bisa tampak sedikit berkurang. Sebenarnya massanya sih tetap, hanya volumenya seolah-olah makin kecil, sebab rapat-jenis lumpur oplosan lebih besar daripada sebelumnya. Tetapi fenomena ini cuma sebentar, setelah tanah rontokan habis kedorong naik, maka lubang menjadi makin besar, sehingga lumpur kembali encer. Hanya kemungkinan debitnya tambah besar.

  7. Herman berkata:

    Difusi gas dalam cairan

    \frac{ \partial M }{ \partial t } = - D \cdot A \cdot  \frac{ \partial  {c }_{L }  }{ \partial x }

    D = koefisien difusi molekuler ( m2/s)
    x = jarak dari area persinggungan gas dan cairan
    A = luas persinggungan

    \frac{ \partial cL }{ \partial x } = gradien konsentrasi

  8. Herman berkata:

    {c }_{s }=  { k}_{ d}  *   \frac{BM }{ R \cdot T} * p =  {k }_{H } * p

    BM = Berat Molekul
    R = Konstanta gas universal
    T = Temperatur Absolut
    kH = Konstanta Henry
    p = Tekanan Parsial

  9. Herman berkata:

    Rumus Gas Transfer
    Solubility = f ( sifat gas, konsentrasi gas, temperatur, kemurnian )

    {c }_{s }=  { k}_{ d}  *   { c}_{g }

    { k}_{ d}= koefisien \:distribusi \: \left[ -  \right ]
    {c }_{s }= konsentrasi  \: jenuh  \, gas  \, didalam  \, cairan\:  \left[ -  \right ]
    {c }_{g }= konsentrasi \:gas  \:didalam\:gas  \left [ M \cdot  { L}^{-3 }   \right ]

  10. RIrawan berkata:

    O iya pakde, angkanya ppm, jadi kerapatannya dalam udara.
    Jadi kalau misalnya uap air turun, tentu saja H2S dalam satuan volume udara malah naik. Tapi apa iya uap airnya turun? Kalau di TV malah ngepul-ngepul makin hebat. Dan sedikit hubungan sebab akibat yang rada logis kan perlu sebelum bikin pernyataan ke masyarakat toh?

    Tapi itulah, urusan begini besar kog cuma jadi rahasia elit, padahal haknya publik domain.

  11. Rovicky berkata:

    — Wupst sorry mestine njawab Mas RIrawan
    :p

  12. ompapang berkata:

    lho kok ompapang,tahu apa ompapang soal H2S pak dhe ?

  13. Rovicky berkata:

    –> Ompapang
    Setahuku H2S itu yang diukur bukan jumlah molar-nya tetapi konsentrasinya atau kerapatannya. Bisa saja rate dari total gas berkurang sehingga konsentrasi H2S meningkat … ini kalau asumsi bahwa sumber H2S berbeda dengan sumber gas-gas lainnya.
    Saya malah berpikir suhu akan naik karena tenaganya (energi mekanisnya) diubah.
    Kalau belum diketahui darimana sumber H2S menurut saya tidak dapat dipakai sebagai patokan adanya pengaruh dari bola-bola ajaib ini.
    Yang lebih tepat adalah melihat pola fluktuasi dari konsentrasi H2S ini. Apakah masuk dalam pola fluktuasi harian … mingguan atau bulanan …. atau sudah menunjukkan penurunan secara umum sejak awal.

    Sayangnya kita tidak memilki akses ke data-data ini. Aku pikir semestinya Media Center Lusi mengumumkan hasil pengukuran konsentrasi gas, penurunan, dan lain-lain sehingga menjadi public domain data.

  14. ompapang berkata:

    hara piye, kuwolak -kuwalik to?
    Kaya tembang Dandanggula ing ngisor iki :
    Sayektine wong tumitah urip
    Yen pinetang tan dangu laminya
    Bebasan mung mampir ngombe
    Nadyan piyayi luhur
    Apa maneh, kawula alit
    Yen ketaman bakal dadi kuwur
    BECIK DEN ARANI ALA
    wonten ugi ALA KANG NGAKUNE BECIK
    Mula pada elinga !

  15. RIrawan berkata:

    Pakde Rovicky, bisa tolong minta penjelasan (ilmiah atau apalah yang masuk akal) dari Tim Supervisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, yang berulang kali mengumumkan, bahwa naiknya gas H2S sebagai perubahan positip sebab diduga akibat tekanan lumpur di dalam berkurang???

    Bukankah logika sederhananya:
    1) Gas H2S yang ke permukaan seharusnya sama rate-nya dengan gas H2S hasil reaksi kimia di bawah.
    2) Naiknya gas H2S berarti peningkatan aktifitas reaksi kimia di bawah.
    3) Gas H2S naik, berarti supply bahan dasarnya juga naik, yakni H2O (air) dan senyawa belerang+mineral dalam magma aktif.
    4) Turun atau naiknya tekanan di bawah, tidak ada pengaruh langsungnya terhadap rate keluaran gas H2S diatas.
    5) Absorbsi gas dalam lumpur hanya dipengaruhi oleh tekanan atmosfir dan suhu lumpur yang keluar. Oleh karena tekanan atmosfir tetap sama, maka gas H2S yang lepas dari absorbsi lumpur bertambah hanya apabila suhu lumpur naik, padahal Tim Supervisi justru menyatakan bahwa suhu lumpur turun.

    Ada teman blog yang dapat mengerti logika pemikiran Tim Supervisi?

  16. Janatan berkata:

    Relief Well I & 2 tempo hari seperti uraian P. Rudi Rubiandini, belum tuntas misinya karena hanya ngebor sampai kedalaman tertentu saja, tapi tidak difinalisasi artinya Killing procedure nya belum sempat dikerjain karena tower nya keburu dibongkar dengan alasan ngak ada biaya untuk ngelanjutin, jadi belum bisa sepenuhnya dikatakan gagal, apalagi metode relief well ini sudah terbukti kehandalannya diberbagai tempat yang lain..

  17. ry berkata:

    sebenarnya nggak ada yg bisa yakin all-out pakai buntet-permukaan atau relief-well, nggak ada yg meyakinkan. dikasih bola2 pun nggak ada jaminan bakal buntet, relief-well juga nggak jaminan bisa beres. Lha wong pakar yg dari jepang aja bilang semburan lumpur kaya gini nggak bisa dihentikan :p daripada buang2 uang, mending bikin kanal buat ngalirin lumpurnya ke laut, ini solusi yg jelas dapat dipakai dan berfungsi. luberan lumpur di daerah permukiman bisa dihindari. Meskipun nanti bakal ada masalah lingkungan di laut, atau nelayan2 jadi kehilangan tempat, itu bisa dicari solusinya nanti.

  18. ompapang berkata:

    setuju pak Janatan, tapi yang bisa all out kan hanya relief well, sekarang belum berhasil.
    Sebenarnya kalau all out dengan cara di buntet tet dipermukaannya, malah nanti dapat ketahuan penyebabnya,oleh lapindo atau bencana alam. Sekarang katakan oleh lapindo,sesudah disumbat – bat, ada semburan lebih besar ditempat lain,padahal selama 9 bulan debitnya segitu-segitu saja akibat pengeboran,berarti ada lubang lain yang jauh lebih besar belum tertembus lumpur selama ini, baru tertembus sesudah lubang yang sekarang ada disumbat. Jadi bukan hanya Lapindo, tapi juga Pemerintah yang harus mengganti rugi kerusakan yang diderita oleh korban. Jadi betul saya mendukung ide ditutup atau tidak sama sekali,IT’S NOW OR NEVER.

  19. Janatan berkata:

    Kalau ingin menghentikan semburan lumpur ini harus secara all out 100% atau tidak sama sekali 0%, tidak boleh ada celah sedikitpun seperti dengan cara mengurangi 40%, 50% bahkan 90% yakinlah tidak akan berhasil buang-buang waktu berharga dan biaya saja

  20. ompapang berkata:

    besinya alat-alat berat dijual dulu kiloan ke Pak Haji juragan besi tua di Surabaya (namanya lupa, tapi beliau asli Madura), uangnya dibelikan batu kali ukuran 20 -30 cm, lalu dikantongi dengan jaring nelayan yang kuat untuk 3 m3 perkantong,kemudian dicemplungkan.plung…plung…plung !! nggak usah paku jibaku-jibakuan seperti jaman perang dunia II , (eh, jibaku sekarang juga masih ngetrend di Irak lho !)

  21. Bejo berkata:

    Kalau perlu jangan hanya bola beton yang dimasukan besi escavator yang sudah rusak, alat berat back hoe, tank panser yang tidak terpakai bisa ditanyakan ke TNI, tidak termasuk dengan bomnya nanti kalau meledak didalam bisa tambah besar deh tuh semburannya, mungkin cara ini lebih murah bangkai kendaraan yang sudah rusak dan sudah ngak bisa dipakai juga bisa dimasukin seperti berjibaku gitu hehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: