Jam Malam di Pasar Porong Baru

RADAR SIDOARJO      Sabtu, 21 Apr 2007
SIDOARJO – Pengungsi dari Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, yang tetap menolak uang kontrak mulai menerapkan jam malam di lokasi Penampungan Pasar Porong Baru (PPB). Selain mengantisipasi secara dini upaya pengusiran, mereka khawatir upaya penggembosan oleh pihak-pihak luar.

Menurut Ketua Tim Perwakilan warga Renokenongo Sunarto, kewaspadaan warga beberapa hari terakhir memang ditingkatkan. Sebab, kata dia, waktu deadline untuk meninggalkan PPB makin dekat. “Kami siap mempertahankan Pasar Porong siang dan malam,” tegasnya.

Menurut dia, saat ini sekitar 857 KK atau 3.357 jiwa warga Renokenongo yang bertahan di pengungsian tetap solid. Mereka ngotot bertahan di pengungsian karena tak mau dikontrakkan. Warga masih menganggap, upaya memberi uang kontrak hanyalah strategi Lapindo untuk mengulur-ulur waktu.

Karena itu, Sunarto menyebutkan, mulai tadi malam, warga menerapkan jam malam di lokasi penampungan PPB. Jam malam yang dimulai pukul 22.00-pukul 04.00 tersebut membatasi orang luar, selain pengungsi dan petugas, untuk masuk lokasi pengungsian. “Itu antisipasi kalau aparat nekat mengusir kami secara paksa saat malam,” ujarnya.

Salah seorang warga yang lain, Wintoko, menambahkan, jam malam itu juga terpaksa diterapkan karena tak ingin ada pihak-pihak yang mengeruhkan suasana di pengungsian yang sudah panas beberapa hari terakhir. “Upaya-upaya penggembosan itu biasanya datang malam,” katanya.

Menurut Wintoko, kedatangan sejumlah pihak itu berusaha memengaruhi warga agar menerima uang kontrak. “Sasarannya biasanya ibuibu yang tua,” lanjutnya.

Dia mengatakan, warga pengungsi penolak uang kontrak berusaha ditakut-takuti akan digusur secara paksa oleh petugas. “Daripada begitu, lebih baik terima saja uang kontraknya, nanti saya uruskan,” kata Wintoko, menirukan upaya-upaya memengaruhi warga. “Kami hanya minta segera dibayar saja secara tunai, selesai masalah,” tegasnya.

Warga Renokenongo yang saat ini tinggal di pengungsian diperkirakan masih cukup lama. Sebab, mereka termasuk gelombang korban lumpur kedua pasca ledakan pipa Pertamina sesuai peta 22 Maret 2007. Hingga saat ini, pembayaran ganti rugi warga korban lumpur gelombang pertama sesuai peta 4 Desember 2006 berjalan sangat lambat. Masih sangat banyak yang belum menerima ganti rugi.

“Sudah sewajarnya warga empat desa yang lebih dulu tenggelam dibayar terlebih dulu,” kata Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Dia menyebut, warga korban lumpur selanjutnya tentu harus bersabar menunggu giliran.

Selain itu, Wabup menegaskan, proses mendapat uang ganti rugi adalah menerima uang kontrak terlebih dulu. “Warga Renokenongo seharusnya juga melalui tahap-tahap itu,” jelasnya. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: