Warga Perum TAS Berbeda Sikap

RADAR SIDOARJO      Senin, 23 Apr 2007
Soal Tuntutan Ganti Rugi Seratus Persen
SIDOARJO – Korban lumpur panas dari Perum TAS 1 berbeda sikap terhadap Perpres No 14 Tahun 2007 yang memasukkan kawasan tersebut dalam peta kawasan terdampak. Sebagian bersyukur bakal diganti rugi, sebagian lain menuntut cash and carry seratus persen dengan demo di Jakarta.

Warga yang bersyukur itu kemarin mengadakan istighotsah (doa bersama) di Masjid Agung Sidoarjo. Sejak pukul 10.00, sekitar 500 warga korban lumpur dari Perumahan TAS 1 berkumpul di masjid. Acara tersebut diprakarsai Tim 16 yang dimotori sejumlah ketua RW dan RT di perumahan yang sudah tenggelam itu.

“Istighotsah ini ungkapan syukur kami,” jelas ketua panitia istighotsah Amin Muhamad. Warga bersyukur karena perjuangan mereka selama ini sudah menunjukkan titik terang. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No 14 Tahun 2007 pada 8 April lalu.

Selain soal pembentukan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), perpres tersebut memasukkan Perum TAS 1 sebagai kawasan terdampak lumpur panas. Lebih dari 6 ribu rumah di sana dinyatakan harus diganti rugi secara tunai oleh PT Lapindo Brantas.

Kata Amin, warga menilai hal itu sudah merupakan capaian yang signifikan. “Perjuangan panjang kami memang belum berhenti. Tapi, ini setidaknya sudah membuahkan hasil karena ada payung hukumnya,” ujarnya.

Dia berharap hasil perjuangan itu tidak lepas lagi karena tuntutan yang berlebihan. Misalnya, menuntut ganti rugi cash and carry langsung seratus persen, tanpa uang muka. Namun, jangan sampai hal itu malah menjadi sebuah langkah mundur. Meski demikian, Amin menyatakan sangat menghargai aksi warga ke sejumlah pihak di Jakarta karena itu juga perjuangan. “Kami tetap menghargai kawan-kawan,” ujarnya.

Senada dengan Amin, Sekretaris Tim 16 Sahuri menambahkan, saat ini sebenarnya bank sudah memberikan jaminan kepada warga bahwa tidak akan memotong seketika jika ada pembayaran uang muka 20 persen. “Jadi, tak perlu lagi khawatir uang muka yang didapat langsung habis,” tuturnya. Sebelumnya, sebagian warga memang khawatir uang muka yang mereka dapat akan habis kalau dipotong.

Mereka cemas kalau uang muka dipotong bank untuk sisa tunggakan kredit rumah, ganti rugi dari Lapindo tidak akan cukup untuk beli rumah lagi. Sebagian besar rumah warga di Perum TAS didapat dengan cara kredit. Rata-rata tunggakan kredit yang tersisa masih sekitar Rp 20 juta.

Sahuri menambahkan, Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai bank yang paling banyak menangani kredit di Perum TAS juga menyatakan tak akan menarik denda atas keterlambatan pembayaran selama ini. “Berbagai keringanan diberikan dengan pertimbangan kondisi warga TAS memang khusus,” jelasnya.

Selain warga korban lumpur, istighotsah yang dipimpin Ustad Nurhadi dari Ponpes Darul Alawi Wonokromo itu dihadiri sejumlah tokoh politik. Tampak hadir Ketua DPP PDIP Sutjipto, anggota DPR dari PDIP L. Soepomo, dan anggota Pansus Lumpur DPRD Jatim dari PAN Kuswiyanto.

Sementara itu, salah seorang Koordinator Tim Perwakilan Warga Perumahan TAS Sumitro mengatakan, dia dan ratusan warga yang lain akan tetap berjuang di Jakarta hingga tuntutan mereka di sana dipenuhi. “Kami akan tetap bertahan sampai ada keputusan yang pasti,” tegas dia, saat dihubungi melalui ponsel.

Menanggapi sikap sejumlah warga Perum TAS yang tak menuntut ganti rugi diberikan secara tunai 100 persen, dia menyatakan, tak akan terlalu risau. “Itu hak mereka, sah-sah saja mereka mengambil sikap seperti itu,” ujarnya.

Meski telah bertemu dengan beberapa kalangan. Hingga kemarin, ratusan warga itu masih berusaha agar bisa menemui Presiden SBY. “Kami hanya ingin menyampaikan kondisi sebenarnya yang ada di sini,” sebutnya.(dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: