Nasib Tragis Rochmad, Korban Lumpur Panas yang Terbaring di RSUD Sidoarjo

RADAR SIDOARJO      Selasa, 24 Apr 2007
Dua Rumah Tenggelam, Usaha Pertukangan Emas Kolaps
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nasib Rochmad, 43, korban luapan lumpur panas. Belum lepas dari penderitaan akibat rumah dan harta yang tenggelam, Rochmad mengalami kecelakaan hingga terbaring lemah di rumah sakit.

RINI KUSTIASIH, Sidoarjo

Dalam ruang Mawar Jingga RSUD Sidoarjo, Rochmad terbaring di atas ranjang. Gips membungus kaki kanannya yang masih bengkak akibat benturan dengan reruntuhan bekas jalan tol di kawasan Siring Sabtu pagi (21/4) lalu. “Saya tidak ingat bagaimana bisa tiba-tiba jatuh,” kata pria kelahiran Desa Renokenongo itu.

Meski tidak mengancam jiwanya, Rochmad mengaku kecelakaan itu seperti melengkapi penderitaannya selama ini. Sejak lumpur panas meluap, dua rumahnya di Desa Kedungbendo dan Renokenongo tenggelam. Tidak hanya itu. Usaha yang dia rintis bertahun-tahun di Perum TAS juga hancur-lebur.

Ditemani beberapa keluarganya, Rochmad mengisahkan hidupnya yang relatif mapan sebelum tragedi lumpur. “Dulu penghasilan saya sekitar Rp 5 juta sebulan. Sekarang nggak punya apa-apa lagi,” ungkap ayah tiga anak itu.

Sebelum banjir lumpur, Rochmad terbilang hidup cukup. Usahanya sebagai juragan pertukangan emas relatif maju. Usaha itu dirintis dari sebuah rumah kontrakan di Perum TAS sekitar setahun lalu. Ada tujuh pekerja yang setiap hari membantunya membuat aneka perhiasan.

Setiap 15 hari sekali, Rochmad memperoleh pesanan perhiasan dari Bali. Hampir semua jenis perhiasan, seperti cincin, anting-anting, gelang, kalung, maupun aksesori lain dari emas dia layani. Sedikit demi sedikit modal dikumpulkan. Setelah itu dia mencoba usaha sendiri.

Meski belum lama, untungnya sudah lumayan. Dalam sebulan dia mengantongi sedikitnya Rp 5 juta. Rochmad juga bangga bisa membantu warga lain dari Desa Renokenongo dan Kedungbendo untuk bekerja. “Eh… baru untung, sudah buyar lagi,” terangnya.

Usaha pertukangan emas sekaligus dua rumahnya di Kedungbendo dan Renokenongo amblas diterjang lumpur. Sebagian hartanya, seperti motor, TV, dan perabotan lain memang selamat. Barang-barang itu sudah diungsikan sebelum lumpur datang. “Tapi yang paling berat, sumber nafkah saya sudah hilang. Sekarang nganggur,” keluh Rochmad. Sehari-hari dia mondar-mandir tanpa pekerjaan. Begitu pula halnya dengan tujuh bekas pekerjanya.

Kini, Rochmad dan keluarganya mengontrak rumah di Kelurahan Kejapanan, Kecamatan Gempol, Pasuruan, sekitar 5 kilometer dari kawasan lumpur. Setelah kehilangan nafkah, Rochmad, istri, dan tiga anaknya hanya mengandalkan uang jatah hidup dari PT Lapindo Brantas.

Jumlahnya Rp 300 ribu per kepala atau total Rp 1,5 juta per bulan. Uang itu hanya cukup untuk makan. “Untuk bayar sekolah anak-anak saya masih utang ke sana kemari,” tambah dia. Jatah hidup itu pun hanya 6 bulan dan sudah diterima tiga bulan. Kalau sudah tidak dapat jatah itu lagi, Rochmad mengaku tidak tahu dari mana cari nafkah lagi. “Mudah-mudahan uang muka 20 persen cepat turun supaya saya bisa beli rumah lagi,” harap dia.

Meski begitu tragis, Rochmad mengaku masih mengucap syukur. “Saya masih diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan ini,” kata dia pelan. Rochmad menyebut dua tetangganya saat tinggal di pengungsian Pasar Porong Baru (PPB). Mereka stres berat. Tiap hari mereka melihat rumah yang tenggelam sambil membawa kalkulator.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: