Tanggul Jebol Lagi, BPLS Kebingungan

RADAR SIDOARJO      Selasa, 24 Apr 2007
SIDOARJO – Tanggul di pusat semburan makin kritis. Kemarin tanggul di sana lagi-lagi jebol. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) pun dibuat kebingungan mengatasinya.

Tanggul yang jebol saat itu berada di tanggul cincin sebelah barat pusat semburan. Tanggul yang terus mengalami overtopping sejak Minggu malam itu, memanjang hingga sekitar 10 meter.

Aliran lumpur yang masih panas meluber ke berbagai arah. Meski tak sampai meluas ke sejumlah kawasan baru, namun, jebolnya tanggul utama itu tetap mengkhawatirkan. Sebab, jika tak segera ditangani, tanggul akan terus tergerus hingga titik tanggul yang jebol bisa jadi semakin lebar.

“Perbaikan tanggul langsung kami lakukan sesegera mungkin,” kata Kepala Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sunarso. Perbaikan tanggul dengan menumpuk sejumlah sand bag itu kemarin dilakukan sejak pagi hari. Baru sekitar pukul 12.00, aliran lumpur sudah berhasil dibendung.

Sebelum benar-benar jebol, sisi tanggul yang selama ini merupakan lokasi salah satu crane untuk memasukkan bola beton tersebut terus dibasahi luberan lumpur sejak Minggu (22/4) lalu. Karena terus basah, permukaan tanggul akhirnya menjadi lembek.

Kondisi tanggul yang seperti itu membuat tanggul utama yang terdiri dari tiga lapis tersebut, tak lagi mampu menahan desakan lumpur. “Ini semua adalah kemauan alam, kami hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya,” ujar Sunarso.

Sejak dua hari berturut-turut, tanggul di sekitar pusat semburan memang terus jebol. Sebelumnya, tanggul yang jebol berada di sebelah selatan sekitar 300 meter dari pusat semburan. Menanggapi hal ini, Sunarso menyatakan, sementara upaya mengalirkan lumpur ke selatan memang akan terus dilakukan.

“Sebenarnya, kami ini juga bingung menghadapi situasi seperti ini,” katanya. Namun, Sunarso buru-buru menambahkan, kalau kebingungan yang dialaminya adalah karena hingga saat ini arah aliran lumpur masih sangat sulit diprediksi.

Di lapangan, aktivitas di sekitar pusat semburan masih didominasi oleh perbaikan tanggul-tanggul yang ada. Beberapa truk pengangkut sirtu dan ekskavator terus bekerja di sekitar lokasi yang sebenarnya masih cukup rawan. Bendera kuning sebagai tanda waspada dipasang di pintu masuk menuju lokasi pusat semburan.

Deputi Bidang Operasional BPLS Sofyan Hadi mengakui, jika volume semburan beberapa hari terakhir memang sedikit meningkat. “Besar kemungkinan pengaruh gravitasi bulan setiap memasuki bulan purnama,” sebutnya.

Sementara itu, insersi bola beton yang sebelumnya dilakukan Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo masih belum jelas akan dilanjutkan lagi atau tidak. Metode yang diharapkan dapat mengurangi volume semburan itu masih menunggu untuk dikaji ulang oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).

“Ada kemungkinan insersi bola beton kami stop,” ujar Deputi Bidang Operasional BPLS Sofyan Hadi. Dia menginginkan, sebelum metode yang dicetuskan pakar geologi ITB itu diputuskan akan dilanjutkan atau tidak, terlebih dulu akan dilakukan kajian mendalam soal dimensi pusat semburan.(dyn)

Iklan

One Response to Tanggul Jebol Lagi, BPLS Kebingungan

  1. RIrawan berkata:

    Keadaan makin buruk, tetapi BPLS masih berkutat pada konsep-konsep lama yang sudah jelas salah dan tidak mungkin dapat mengatasi masalah. Misalnya saluran pelimpah (spillway), sangat absurd, sudah ada contoh spillway-1 yang gagal, tetapi sekarang diulang dengan spillway-2 dengan biaya Rp 23 milyar. Lebih tidak masuk akal, sekarang ditambah dengan alat-alat berat (15 excavators) untuk mendorong lumpur sepanjang spillway. Kendalanya:
    – Debit lumpur setara 1 dumptruk @ 20 m³ tiap 7,68 detik, 15 excavator tidak cukup.
    – Di malam hari, ketika alat-alat berat berhenti, lumpur akan meluap.
    – Biaya investasi, perawatan dan operasi 15 excavator sangat tinggi.
    – 15 excavator tidak mungkin bisa bekerja non-stop, padahal lumpur tak henti menyembur.
    – Jenis pompa yang dipakai salah dan tidak mungkin bertahan lama.

    Diberitakan bahwa lumpur bisa mengalir deras ke spillway-2. Ini menyesatkan! Pada tahap awal, lumpur yang ditanggul jatuh dari ketinggian 6-9 m ke spillway, maka tentu saja deras. Tetapi ini hanya berlangsung beberapa hari saja, sebab spillway-2 akan segera penuh dengan endapan dan lumpur akan meluap liar ke kiri-kanan.

    Sayang, andaikan lumpur panas dari ketinggian 8 m itu diluncurkan dengan KANAL-V, maka pasti akan bisa mengalir bebas dan gratis sejauh 400 m. Dan bila ditambah dengan NOH, akan bisa mengalir sejauh 800 m. Biaya membuat KANAL-V dari beton precast katanya cuma Rp 150 rb/m, sehingga 800 m biayanya Rp 120 juta. Dengan pemasangannya, NOH dan 1 kompresor 30 Kw mungkin cukup Rp 1 milyar atau tidak sampai Rp 2 milyar.
    Ini sudah 50% panjang spillway-2.
    Kenapa tidak dicoba?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: