Warga Perum TAS Korban Lumpur, Delapan Hari Bertahan di Tugu Proklamasi

Selasa, 24 Apr 2007,
Tantangan Paling Berat Pisah dengan Anak Balita
Sudah delapan hari sekitar 200 warga Perumahan Tanggul Angin Anggun Sejahtera (Perum TAS) memperjuangkan nasib di Jakarta. Bagaimana warga korban lumpur PT Lapindo bisa bertahan di ibu kota?

NAUFAL WIDI, Jakarta

Minggu (15/4) sore, kawasan di sekitar Tugu Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, tampak ramai. Mendung yang menggelayut di langit serta tetesan rintik hujan tidak membuat mereka bubar. Beberapa orang malah tampak sibuk mempersiapkan seperangkat alat musik.

Malam harinya, di monumen dua proklamator RI Soekarno – Hatta itu memang diadakan acara pentas seni menyambut warga Perum TAS I Sidoarjo yang nglurug ke Jakarta.

Para korban yang rumahnya terendam lumpur itu menuntut pembayaran ganti rugi uang kontan (cash and carry) dari PT Lapindo Brantas. Untuk menyambut mereka, Aliansi Warga Jawa Timur di Jakarta sengaja menyiapkan acara itu. Penyanyi balada Franky Sahilatua pun didaulat menjadi salah satu pengisi acara.

Hari itu menjadi hari pertama perjuangan mereka di tengah kerasnya kehidupan sehari-hari di ibu kota. Secara berangsur, mereka datang dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari stasiun Pasar Turi Surabaya. “Kami datang secara bergerilya. Ini untuk menyiasati kemungkinan penghadangan pihak kepolisian,” ujar koordinator aksi warga Sumitro.

“Kita tidak beli tiket secara massal. Tapi dibagi. Setiap korlap bertanggung jawab atas 10 orang. Berangkatnya pun berpencar,” sambungnya.

Tidak kurang dari 200 warga Perum TAS yang kemudian berkumpul di Tugu Proklamasi, tempat transit sebelum melakukan aksi demonstrasi ke Istana Negara (sampai saat ini belum diterima SBY) dan tempat-tempat lain di Jakarta.

Altus, salah satu warga Perumtas I, mengungkapkan dia dan warga lainnya memilih menginap secara menyebar selama berada di Jakarta.

“Yang punya saudara, ya nginap di rumah saudaranya. Yang tidak punya ya menginap di Tugu Proklamasi. Podho ae, nang Sidoarjo omahe yo klelep (Sama saja, di Sidoarjo rumahnya juga tenggelam),” kata Altus.

Seperti yang dilihat Jawa Pos, dua buah tenda dari terpal berdiri di dalam lingkungan Tugu Proklamasi. Satu buah untuk warga dan satu untuk pos kesehatan yang juga difasilitasi oleh Aliansi Warga Jatim di Jakarta.

Untuk keperluan MCK (Mandi Cuci Kakus), Pemda DKI Jakarta menyediakan satu unit mobil toilet umum. Sementara untuk logistik, mereka banyak mendapatkan bantuan dari warga maupun LSM-LSM yang bersimpati. Misalnya, dari Kaukus Pembela Hak-Hak Sipil dan Ekonomi Bela Korban Lapindo yang dimotori oleh Fajroel Rahman, Budiman Sudjatmiko, Ray Rangkuti, Yudi Latief, dan Sukardi Rinarkit.

“Kita banyak menerima bantuan juga dari masyarakat. Bentuknya macam-macam. Mulai dari nasi bungkus, roti, dan air mineral,” ujar Iwan dari Aliansi Warga Jatim.

Selain di Tugu Proklamasi, warga juga “berteduh” di kantor Kontras di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat. Sekitar 90-an korban lumpur Lapindo tinggal di kantor yang identik dengan pejuang HAM almarhum Munir itu. Mereka tersebar di tiga lokasi di dalam kantor Kontras, yaitu di pendapa depan, musala, dan gazebo belakang.

Selama tinggal di kantor Kontras, aktivitas sehari-hari mereka sebelum demo pun berjalan seperti biasa. Mulai dari mandi, mencuci, dan memasak. Puluhan kardus mi instan dan air mineral menumpuk di dalam kantor siap memenuhi kebutuhan mereka.

Yang tidak dihitung warga adalah cuaca. Hujan yang terus turun beberapa hari terakhir membuat pakaian yang mereka jemur bukannya kering tapi malah basah. Akibatnya, tak jarang mereka harus berbasah-basah saat pergi demo keesokan harinya.

Setiap pagi hingga siang, warga Perum TAS menggelar demonstrasi di depan Istana Negara. Mereka melakukan long march dari Tugu Proklamasi menuju Istana. Tak pelak, aksi itu pun membuat jalanan Jakarta yang sudah padat menjadi semakin padat. Pada setiap aksi, warga selalu membawa poster dan mengenakan seragam kaus warna kombinasi merah dan kuning.

Bukan sekadar soal tempat berteduh yang menjadi tantangan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) yang kini bertahan di Jakarta. Sumitro, salah seorang koordinator perwakilan warga, misalnya, mengaku berat berpisah dengan istri dan kedua anaknya.

Saat kali pertama memutuskan berangkat ke Jakarta bersama rombongan yang lain, Sumitro hanya sendirian. Istri dan kedua anaknya dititipkan di rumah mertua di Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo.

Setelah ditinggal selama beberapa hari, anaknya yang paling kecil, Sabrina, yang baru berumur 4 tahun jatuh sakit. Menurut sang istri, Sabrina terus menanyakan bapaknya. Maklum, selama ini Sumitro mengaku dekat dengan anak keduanya yang tahun ini akan masuk TK itu.

“Papa ke mana sih kok enggak pulang-pulang,” kata Sumitro menirukan suara Sabrina saat ditelepon.

Untuk memenuhi rasa kangen Sabrina kepada sang papa, hari ini ibunya akan membawa Sabrina menyusul ke Jakarta. Selama sang ayah meneruskan perjuangannya di ibu kota, ibu dan anak itu akan dititipkan di keluarga Sumitro di Tangerang.

“Kedua anak saya masih kecil, kasihan kalau harus ikut menginap di sini (tenda darurat di sekitar Tugu Proklamasi di Jakarta),” kata Sumitro yang memiliki usaha perdagangan toko kelontong di sekitar rumah mertua di Perum TAS itu.

Sudah delapan hari ini warga Perum TAS menginap di sekitar Tugu Proklamasi. Meski ada tenda, kebanyakan mereka tidur di tempat terbuka. “Jadi, tak kalah dengan hotel berbintang. Kami juga tidur di lahan berbintang,” katanya berseloroh.

Suami dari Hindayani, 39, itu termasuk salah seorang dari sekitar 50 warga (dari total sekitar 200 orang) korban lumpur Lapindo di Perum TAS yang tetap bertahan sejak hari pertama. Para demonstran yang datang dan pergi secara bergantian.

Rata-rata yang datang dan pergi itu karena terbentur oleh pekerjaan. Sebelum berangkat melakukan aksi di Jakarta, mereka mengajukan cuti ke tempat mereka bekerja selama beberapa hari. “Untung bos saya pengertian,” kata Sumardi, 35, salah seorang warga Perum TAS yang harus pulang ke Sidoarjo, Minggu (22/4) lalu.

Buruh PT Gudang Garam itu termasuk salah seorang yang harus pulang karena izin cuti sudah habis. Namun, dia berencana segera mengajukan cuti agar bisa berkumpul bersama rekan-rekannya di Jakarta. “Saya masih punya tanggung jawab di Jakarta, semoga perusahaan memberikan izin lagi,” ujarnya.

Sumardi termasuk salah seorang tim perunding warga Perumahan TAS selama ada di Ibu kota. Tim ini memiliki tugas untuk negosiasi dengan sejumlah pihak terkait dengan tuntutan mereka selama ini.

Meski datang dan pergi, jumlah warga yang bertahan meneruskan “perjuangan” di Jakarta diusahakan tak banyak mengalami perubahan yang mencolok. Jumlah mereka hingga saat ini diperkirakan sekitar 200 orang. “Kami akan tetap bertahan sampai ada keputusan yang pasti menyangkut nasib kami,” tegasnya.(Dian Wahyudi ikut melengkapi laporan ini)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: