LUMPUR SULIT DIALIRKAN KE SPILL WAY

Upaya mengalirkan lumpur ke spill way masih terhambat.Metrotvnews.com, Sidoarjo: Upaya mengalirkan lumpur ke spill way masih terhambat. Pasalnya, tingkat kepekatan lumpur yang masih sangat tinggi. Hingga Selasa (24/4), upaya pembuatan kanal lumpur dari pusat semburan lumpur ke spill way masih terus dikerjakan. Kondisi kanal sendiri sudah dimasuki lumpur pekat, sehingga sulit untuk dialirkan ke spillway. Sementara jumlah mesin long arm eskavator yang dioperasikan sangat minim. Hanya lima lima unit saja.

Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) berencana menambah 15 unit mesin long arm eskavator untuk mengaduk dan mengalirkan lumpur di kanal menuju ke spillway. Padahal, untuk bisa mengaduk dan mengalirkan lumpur ke spill way diperlukan hampir 40 mesin long arm eskavator. Mesin tambahan tersebut rencananya ditempatkan di setiap 100 meter sepanjang kanal yang panjangnya mencapai 1,2 kilometer.

Sementara itu, jalan alternatif dari Porong menuju Malang rusak akibat meningkatnya frekwensi kendaraan yang melewati jalur tersebut. Peningkatan ini terjadi sejak Jalan Raya Porong dari arah Surabaya menuju Malang ditutup. Dinas Perhubungan Pemprov Jatim pun mengalihkan kendaraan ke jalan aternatif. Hal inilah menyebabkan intensitas kendaraan yang melewati jalan tersebut melalui Krembung dan Tanggulangin meningkat tajam.

Karena beban jalan dan kendaraan tidak seimbang, jalan alternatif menjadi rusak. Kerusakan terjadi di Krembung dan Tanggulangin. Jalan banyak berlubang dan bergelombang. Warga terpaksa menutupnya dengan pasir. Meski mengalami kerusakan, pengguna jalan tetap memanfaatkan jalur alternatif, karena tidak ada jalan lain menuju ke Malang.(BEY)

Iklan

43 Responses to LUMPUR SULIT DIALIRKAN KE SPILL WAY

  1. joe berkata:

    AKU TERTARIK MENYUSUN SKRIPSI TENTANG STABILITAS TANGGUL PENAHAN LUMPUR SIDOARJO, AKU DARI DISIPLIN ILMU GEOLOGI. KIRA-KIRA TEMA APA YANG BISA SAYA ANGKAT. MOHON BANTUANYA.TERIMAKASIH

  2. RIrawan berkata:

    Makasih mas Arek Sidoarjo.
    Teguran bijak agar kami selalu ‘eling’. Orang kalau sudah kaya, kuasa, merasa pintar, gak sadar suka bablas dan menimbulkan lebih banyak hal negatif daripada membantu meringankan beban bencana.
    Tetapi komunikasi yang efektif itu, niat tulus untuk menyampaikan kritik dan usul itu, ternyata sangat tidak gampang. Mirip parodi “Republik BBM”, kendati digandrungi banyak orang, tetapi tidak sedikit yang murka dan tetap tak jelas dampak kritik dan usulnya.
    Betapapun, kami tetap mau ikut dalam hal bersuara dan menyampaikan gagasan, seandainya itu bermanfaat bagi daerah mas dan orang-orang disana.

  3. RIrawan berkata:

    Selamat kembali ke tanah ibu, pak dhe.
    Bisa tolong desak BPLS bersama institusi2 akademis agak serius mengevaluasi konsep KANAL-V, NOH dan MENARA-TZC(hanoi). Asal usul angka cukup lengkap. Kalau ragu, hendaknya mereka aktif mengkritik atau minta penjelasan lebih rinci. Kasihan itu spillway, sangat mahal, tapi dibolak-balik hitungannya tetap tidak bakal bisa berfungsi lancar mengalirkan lumpur ke kali Porong. Sementara rakyatnya sudah makin panas dan demo terus.

  4. tzc berkata:

    Berarti semua ikut “Bertapa” :)) biar urutan-urutan diskusinya fokus dan mudah di-trace back. Stick pada Elaborasi Solusi guys (gayanya. padahal bisanya saya cuma tanya-tanya doang, jadi malu 😉
    Untuk semuanya, Enjoy Happy Nice WeekEnd.

  5. Rovicky berkata:

    Friends
    Aku terbang dr KL ke Jak sore ini sampai rabo besok
    Jadi HMF mungkin agak terkendala penyebaran berita dan info2-nya. Aku masih online hanya lewat Blackberry saja.
    Atau ada yang tertarik untuk menjadi pengisi blog HMF disini ?
    let me know. nanti aku jadikan coauthor disini.

    RDP

  6. usil berkata:

    Wua…ha….ha….ha…… Ngomong angka dengan seniorPapang? Jangan coba2
    semuanya bisa DIMISTIK sama dia.

    Kagak ada matinye!….kate orang Betawi

    Karas rupa metsel….kata orang Manado (keras seperti tembok)

    Pingin banget ngundang ngeBASO sama Ompapang, mas Herman, mas Dedi
    mas Syahraz, mas RIrawan dan mas2 lainnya. Kapan ya bisa terwujud?
    semoga….

  7. Dedi Ganedi berkata:

    Murid-murid kelas 1 SD diberi soal-soal ujian tentang teori relativitas Einstein oleh gurunya. Mereka belum pernah mengenal teori itu. Mereka begitu serius menjawab soal-soal ujian itu. Mereka berusaha menjawabnya dengan apa yang pernah diajarkan oleh gurunya. Mereka menduga bahwa soal ujian ini adalah masalah yang sederhana yang dapat dijawab oleh murid-murid SD. Mereka sudah menjawabnya semudah 1+1.

    Soal tentang alam semesta, kehidupannya, dan ketuhanan mereka juga akan menjawabnya semudah 1+1. Tentu saja tidak tepat, walaupun mereka anggap tepat.

    Saya khawatir masalah semburan lumpur Sidoarjo yang sedang kita coba untuk menanggulanginya adalah bukan masalah yang mudah. Bahkan diduga untuk memecahkan masalah lumpur ini belum pernah ada mata pelajarannya di sekolah atau perguruan tinggi. Boleh jadi, masalah ini hanya menjadi lingkup penelitian ilmuwan sekelas Albert Einstein yang orang jarang memahaminya.

    Kita bahkan telah mencoba dengan berbagai gagasan yang pernah diajarkan disekolah. Seperti Mas Rirawan dengan rumusan penampang saluran, pasti pernah belajar matematika sin a= Y/R, tan a= Y/X, cos a = X/R. Ada juga yang telah menjadikannya perhitungan instan berupa software yang dapat menganalisa berbagai bentuk penampang saluran dengan cepat dan mudah. Namun, semuanya berasal dari apa yang pernah kita pelajari dan diajarkan di sekolah/perguruan tinggi.

    Kita membutuhkan seorang peneliti jenius untuk mengungkap ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru dalam bidang semburan lumpur ini, yang terjun langsung ke lokasi, yang pada gilirannya nanti akan diajarkan kepada umat manusia.

  8. Arek Sidoarjo berkata:

    Mas-mas yang pinter pinter disini,

    Salut banget atas jerih payah serta kepandaian anda dalam menghitung segala aspek yang ada. Namun jangan seperti penyebab semburan ini ya.
    Mereka yang tamak, sok pinter dan suka merendahkan orang rendahan seperti saya ini yang akhirnya terjungkel dan terpeleset.
    Moga-moga mas-mas yang pinter2 ini tetep lembah-manah, adap-asor dan tidak seperti penyebab semburan yang mentang2 paling punya duwik, mentang-mentang pinter dewe dll.
    mohon maaf bila tidak berkenan

  9. RIrawan berkata:

    oh … pakai teorinya ibu begawan fisika mahajenius itu?
    Aku jadi penasaran nanya sama temanku lagi: “… dimas siapa sih penasihat spiritualnya timnas yang hebat itu?”
    “Lo, sopo sing ngomong timnas, wong tim pgr kok …”
    “Apaan tim pgr itu?”
    “… tim pemugaran gapura rt … relax wae kangmas … rambute wis akeh putihne lo …”

  10. ompapang berkata:

    itu mah teori simetris Emmy Noether, 7 menjadi 3 dan 4 kayak susunan member MLM(multi level marketing) kalau diMISTIK menjadi DJI SAM SU fatsal 5. Penasihat spiritual tim tersebut memang ORANG PINTAR, betapa tidak! Untuk dapat dise-7-i oleh TIMNAS, maka harus pakai rumusan berasal dari bilangan keramat Pancasila. Kenyataan memang TIMNAS se-7 kan ? Soal keberhasilannya ………embuh !!1

  11. RIrawan berkata:

    Ooo … gitu ya om,
    teman saya tadi katanya dikasih tahu sama temannya penasihat spiritual tim, bahwa ilhamnya datang dari kesaktian pancasila, yang sudah berhasil mempersatukan republik ini. Maka angka 5 keramat itu diurai secara matematis. Pertama, 5 adalah 1 dan 4, digandeng dgn struktur puluhan menjadi 14(empatbelas). 14 adalah 7 dan 7., lalu 7 yang pertama diurai menjadi3 dan 4. Maka terjadilah tiga angka: 3 7 4.

  12. ompapang berkata:

    Gini lho pak RIrawan, sebelum untaian bakso dimasukkan, debit semburan kuah diukur.Katakan tertampung dipanci 100 liter dalam waktu 1 jam. Untaian bakso yang disediakan sebenarnya ada 400 untaian untuk eksperimen yang pengukuran hasilnya direncanakan dilakukan sekaligus setelah semuanya untaian masuk, jadi tidak tiap 100 untai diukur. Berhubung sampai jam 16.00 proses percobaan belum selesai, padahal pelaksananya sudah pada gemetaran karena belum makan siang, maka diputuskan sebagian bakso untuk makan siang tim yang terdiri atas lima orang. Sehabis makan , percobaan dilanjutkan lagi dengan lebih dahulu menghitung sisanya.Ternyata kalau dijumlah dengan yang sudah masuk terdapat total 374 untai. Jadilah percobaan hari itu menggunakan 374 untai. setelah diukur ternyata terjadi penurunan debit 30%(tinggal 70 liter/jam). Berhubung simulasi komputer yang sudah dibuat membutuhkan 800 untai, maka perkiraan selanjutnya dihitung dengan cara extrapolasi, sebab untuk memesan 2000 butir bakso lagi membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Jadi sedikit rekayasa dengan extra polasi tidak apalah,asal hemat biaya. Hasilnya adalah berupa perkiraan sebesar 50%( kalau 374X2=748 untai tinggal 60 %). Jadi 50% itu bukan suatu “expexted” value dari experiment tetapi hasil rekayasa dengan extrapolasi dari 374 ke 800 untai.. Gampangnya gitu lho pak RIrawan, ha…ha…ha…lucu nggak pak Usil atau jangan-jangan sarkastis ?

  13. RIrawan berkata:

    ha … ha … ha, ini ndagel yang sungguh cerdas. Asyik meriah, selesai experimen, baksonya dibagi-bagi. Happy semuanya dan tambah semangat! Tapi sekaligus membuktikan suatu karya ilmiah. Beneran saya harus minta maaf. Dasar cerewet, suka buru-buru ngritik.

    Tapi masih ada yang bikin saya penasaran. 374 dari mana sih om? Kalau experimennya menunjukkan penurunan debit, mestinya kan bertahap. Bukan konstan sampai untai ke 373, lalu setelah yang ke 374 masuk, mendadak … blek … debitnya turun jadi 70%.

  14. ompapang berkata:

    Lho, pak RIrawan itu gimana, kan bisa dengan percobaan dilaboratorium. Mau tahu caranya ? Mereka pakai model bakso isi telur puyuh sebagai miniatur bolton 40 Cm dan pakai bakso biasa yang diameternya setengah dari bakso telur puyuh untuk yang 20 cm. Sedang kuah bakso yang mendidih mewakili lumpur panas. Prosedurnya, kuah bakso mendidih dipompakan kedalam pipa tegak diameter 10 cm dari pangkal pipa sebelah bawah, setelah meluap dibagian atas lalu ditampung dipanci dan kemudian diisap oleh pompa untuk disirkulasikan kedalam pipa lagi. Untuk mengetahui debit awal dipakai panci tersendiri yang akan diukur volume tampungannya selama 1 jam. Pada saat terjadi luapan kuah panas tadi, 2 butir bakso besar dan 2 butir bakso kecil yang diuntai pakai tali kecil, dimasukkan kedalam pipa untai demi untai.
    Lha ndilalah pada pemasukan untaian yang ke 374, debit aliran kuah ditampung pada panci yang terpisah kok menunjukkan volume dalam 1 jam sebesar 0,7 atau 70 % debit sebelum dimasukki untaian bakso yang sudah diukur sebelumnya. Jadi bukan berkurang 70 % tetapi berkurang 30 % sehingga menjadi 70%. Andaikan total 800 untai dimasukkan, secara extra polasi dapat diperkirakan penurunan debit bisa mencapai 50 % nya.BEGITULAH KIRA_KIRA PAK RIrawan, …….he…….he…….he,,,,,,he…….ndagel.

  15. RIrawan berkata:

    hehe … terima kasih om Papang, terus 374 untai alasannya apa? Lalu bagaimana menghitungnya sampai berani meramal debit turun dengan 50% atau malah 70%?

  16. ompapang berkata:

    Pak RIrawan, kenapa ukuran diameter HDCB 40 cm dan 20 cm, saya coba mencari jawabnya, yaitu perencana mengambil asumsi lubang semburan berdiameter 30 ” atau 76 cm, terus diameter bola besar diambil dari BPJ1 data sheet ( lihat box kanan atas, BPJ1 data sheet) dengan harga menengah lubang sebesar 16 “=40,6 cm, sedang bola kecil mengambil harga mendekati lubang bor yang paling dalam (3000 m) yaitu 9,297 ” atau 23,6 cm.
    Saya perkirakan, tim HDCB berharap bola berdiameter 20 cm dapat masuk kelubang bor yang sebesar 23,6 cm itu sehingga dapat menahan semburan dipusat semburannya. Namun mungkin lubang tersebut sudah bertambah besar sehingga bola beton lolos kebawah atau malah hancur karena tekanan dan suhu tinggi.
    Itu hanya rabaan saya lho !

  17. RIrawan berkata:

    Hidup manusia, mahluk berakal ini selalu bergumul dengan angka. Hanya dengan angka yang benar, manusia bakal mampu menguasai alam atau berdamai dengan alam, agar alam tidak menumpahkan bencana pada manusia. Tetapi angka yang benar itu, tidak selalu dapat dilihat atau gampang dihitung. Nah, disinilah akal menurunkan ilmu, agar manusia dapat menghitung lebih jauh, melahirkan angka-angka yang benar.

    Kembali soal bolton/HDCB.
    Kenapa jumlahnya harus 374 untai? Dari mana angka itu? Sasaran apa? Hitungannya bagaimana? Kenapa ukurannya 40 cm dan 20 cm? Darimana diperoleh target penurunan debit 50% dan 70% itu? Rumusnya apa?
    Saya berusaha mencari jawab dan belum pernah berhasil sampai sekarang. Dan heran, belum ada yang bertanya kritis hingga sekarang. Ini saya bukan sekedar mengulang-ulang kritik. Tetapi saya harap, kedepannya bergulir langkah-langkah rasionil yang sukses dalam menanggulani soal lumpur lapindo ini, sebab semua angka-angka yang dipakai dapat ditelusuri atau mampu telusur!

    Misalnya, disain KANAL-V, kenapa lebar dasarnya 1 m, sudut dindingnya 60º, segment lingkar dasarnya 120º, sudut elevasinya sinα = 0,0195, dst. Seluruh asal-usul dan perhitungannya harus ditunjukkan dan ditelusuri kebenarannya. Sehingga tidak dapat dituduh, itu dari inspirasi spiritual, penerawangan gaib atau aal-asalan atau kira-kira belaka.

  18. RIrawan berkata:

    pak tzc, menurut saya ide anda terbaik adalah MENARA HANOI (modifikasi dari cerobong silo yang silinder lurus), sebab:
    – Dapat dikerjakan bertahap dengan cincin-cincin yang disusun, meskipun bangunannya raksasa. Apakah langsung per cincin, atau komponen-komponen yang dirakit menjadi 1 cincin, itu bisa dibahas kemudian.
    – Tidak sensitive terhadap landasan yang miring, sebab bangunannya seperti tumpeng.
    – Memanfaatkan kondisi lumpur segar yang masih panas dan encer, sehingga bisa mengalir turun tanpa endapan.
    – Bila ambles, bisa ditumpukkan tumpeng baru diatasnya.
    – 100% memanfaatkan energi dari semburan itu sendiri.
    – Tidak pakai mesin apapun.
    – Tidak perlu energi dari luar.
    – Tidak perlu perawatan.
    – Andal untuk dioperasikan sampai 30 tahun ke depan.

  19. RIrawan berkata:

    benar om Papang,
    dalam naskah di: https://hotmudflow.wordpress.com/2006/10/03/lokasi-pengelolaan-lumpur-porong/ (Ediar Usman, M. Salahuddin, DAS. Ranawijaya dan Juniar P. Hutagaol), data GeoMarine Bandung 27 Sept.2006 dibantah oleh percobaan empiris dengan botol cola, yang hasilnya: “pengendapan paling cepat pada air sungai, lalu air muara dan paling lambat pada air laut”. Sehingga cocok dengan rumus!

    Angka dalam dialektika iptek memiliki bobot validasi, bila nama yang dipakai jelas dan langsung bisa dimengerti, atau disebutkan semua batasan parameternya dan rentang interval/dimensi yang membatasinya. Namun seperti pak dhe pernah katakan, geologi itu bukan ilmu pasti. Banyak naskah hebat di blog ini yang besar gunanya untuk meluaskan wawasan. Tetapi yang membingungkan, kalau suatu naskah ilmiah atau proposal teknis, yang sudah dijelaskan dengan narasi akademis yang bagus dan canggih, namun angka-angkanya cuma disebutkan begitu saja, misalnya: 374 untai bolton, 30 m/detik kecepatan tenggelamnya bolton, 50% dan 70% pengurangan debit semburan oleh bolton, kecepatan pengendapan lumpur pada air tawar 20 cm/jam dan pada air laut 90 cm/jam, dll. Semua angka-angka itu darimana asalnya, bagaimana cara menghitungnya, persamaan dan rumusnya pakai apa, kalau empiris bagaimana cara mengukurnya dan lingkungannya apa, lalu perhitungan extrapolasinya bagaimana? Semua angka itu harus mampu telusur. Apalagi kalau konsep teknis, yang beneran mau dilaksanakan.

  20. tzc berkata:

    yen ta’ pikir-pikir lagi, kalau sudah bisa dibawa naik oleh mesin keruk berjalan itu, mengapa tidak lansung dicurahkan ke kanal V itu, buat apa lagi Cerobong Silonya, cukup konstruksi kisi-kisi / kerangka Menara (seperti SUTET atau Air?, tergantung kebutuhan).
    Semoga membantu.

  21. tzc berkata:

    Koreksi: tangki adalah alternatif, kalau konstruksi permanen dan tidak mahal maka Menara / Cerobong Silo kita penuhi lumpur sampai bisa dimanfaatkan energi potensial dari luberannya itu.

  22. tzc berkata:

    Ini yang saya bilang “Lebih Mumpuni”, shett…shett…
    Sukses Bapak-Bapak sekalian. Ayo yang lain gabung! Mana nih Srikandi…Srikandi-nya Mas RDP?

    Untuk Cerobong Silonya (kalau konsepnya masih valid):
    Bagaimana jika meniru Menara Air yang dipakai di rumah-rumah itu.

    Jadi kita pilih tempat di sekitar (dekat) semburan, yang (relatif) aman dari amblesan dan pelebaran mulut semburan.

    Lumpur kita keruk dengan conveyor berjalan (seperti yang dipakai kapal keruk itu lho) dengan arah naik memenuhi Tangki di atas menara.

    Dari atas Menara, lumpur yang meluap diarahkan ke Kanal V.

    Terpaksa harus ada energi yang dihabiskan untuk menjalankan mesin keruk itu terus menerus.

    Kelebihannya (kalau ada) hanya: Banyaknya Menara dapat dibuat sesuai kebutuhan atau ketersediaan lahan dan mesin keruk itu. Luapan Menara dapat dialirkan ke satu atau beberapa Kanal V. Semoga membantu.

  23. ompapang berkata:

    dalam meteorologi, dikenal intensitas hujan dengan satuan mm/jam, yaitu tinggi kolom air hujan selama 1 jam yang terukur pada alat penakar hujan. Mungkin yang dimaksud dengan “kecepatan pengendapan” lumpur dalam air laut 90 cm/jam dan dalam air tawar 20 cm/jam adalah semacam INTENSITAS pada air hujan tersebut, yaitu tinggi kolom endapan lumpur yang sudah tidak bergerak (sudah mapan) pada dasar air laut maupun dasar air tawar sebagai hasil proses pengendapan selama 1 jam. Kalau yang dimaksud demikian, maka konsentrasi butiran lumpur dalam satuan PPM harus diketahui, sebab lain besaran PPM, lain pula hasil pengendapan dalam satu jam. Juga kedalaman dasar terhadap permukaan cairan sebagai JARAK TEMPUH GERAKAN harus pula diketahui.Jadi pengendapan di PPM besar tentu menghasilkan bilangan INTENSITAS dalam cm/jam yang besar dengan syarat kedalaman dasar terhadap permukaan diketahui tetap besarnya.
    Berbeda dengan hitungannya Pak RIrawan, dimana baik dalam air laut maupun air tawar ,makin besar butiran material lumpur makin besar pula massanya, sehingga makin cepat gerak turunnya kebawah karena pengaruh gravitasi, tanpa terpengaruh berapapun besarnya konsentrasi dalam satuan PPM dan berapa tinggi permukaan cairan dari dasarnya ( kedalaman cairan dari permukaan ke dasarnya).
    Apa kira-kira gitu pak RIrawan ?

  24. RIrawan berkata:

    Pertanyaan pak dhe:
    “seberapa jauh anda mampu mengalirkannya dengan gravitasi saja?”
    Saya ganti kata “anda” dengan “KANAL-V”, jawabannya:
    – KANAL-V dengan elevasi ∆H = 15 m , jauhnya L = 750 m,
    – KANAL-V + NOH dgn ∆H = 15 m , jauhnya L = 1500 m,
    – KASKADE 45 tingkat, jauhnya L = 18 Km,
    – KASKADE + NOH 25 tingkat, jauhnya L = 18 Km.

  25. RIrawan berkata:

    Pak dhe, pernyataan GeoMarine Bandung 27 Sept.2006 itu membingungkan! Tidak ada teori maupun empiris yang membenarkan, bahwa kecepatan pengendapan lumpur pada air laut (90 cm/jam) adalah 4½ kali lebih cepat daripada air tawar (20 cm/jam). Karena rapat-jenis air-laut (1,025 Kg/m³) lebih besar daripada air-tawar (1 Kg/m³), maka kecepatan pengendapan di air-laut seharusnya lebih lambat daripada air tawar.

    Dalam keadaan diam, kecepatan pengendapan (us) dirumuskan:
    // us = {4.d.g/(3.cs)(ρs/ρf – 1)}^½
    // koefisien geser: cs = fungsi(Re)
    // makin besar butiran padat (d), makin cepat pengendapannya,
    // makin besar rapat jenis fluida (ρf), makin lambat pengendapannya.
    Bila ρf = 1,3 Kg/m³ dan rapat-jenis padatan 20% lebih besar, maka perhitungan teori menghasilkan:
    d = 0,6 mm  us = 21257 cm/jam
    d = 0,001 mm  us = 867 cm/jam
    d = 0,0001 mm  us = 274 cm/jam
    Di sini definisi “kecepatan pengendapan” yang dimaksudkan adalah “kecepatan gerak turun dari butir padatan”.

    Ada kemungkinan definisi “kecepatan pengendapan” yang dipergunakan GeoMarine berbeda, sebab terjemahannya dipakai kata “settling velocity”. Mungkin yang dimaksudkannya adalah:
    1) Air-tawarnya bergerak cepat mengalir seperti Kali Porong, sedangkan air-laut hanya bergoyang karena ombak, atau
    2) Angka dengan satuan cm/jam adalah “tebal endapan di dasar dalam 1 jam”.
    Namun cara mendefinisikan seperti itu sangat sulit diartikan, sebab banyak perubahan variable yang harus diabaikan.
    Pak dhe bisa clarify?

  26. Dedi Ganedi berkata:

    Insya ALLAH, kami mampu mendesain semua gagasan masuk akal yang berkaitan dengan penanganan Semburan Lumpur Sidoarjo. Asalkan ada data-data yang lengkap antara lain

    1. Peta topografi dan situasi sekitar Porong sebelum dan sesudah banjir lumpur dalam bentuk file komputer.
    2. Debit semburan material cair dan gas
    3. Persentase air dan material lumpur dari semburan
    4. Lokasi semburan lainnya
    5. Suhu lumpur
    6. Bentuk, ukuran, dan kedalamam lubang semburan
    7. Sifat fisik dan kimia material butiran lumpur
    8. Data bor sekitar semburan
    9. Peta geologi
    10. Data sondir sekitar semburan
    11. Data kecepatan penurunan tanah pada tiap titik grid 50 m

    Modifikasi akan kami lakukan untuk efisiensi dan pertimbangan teknis untuk masing-masing gagasan. Misalnya, bahan kanal V RIrawan dapat menggunakan selain beton (fiber glass, karet conveyor,dll.)

  27. RIrawan berkata:

    terima kasih, saya pelajari sebentar …

  28. Rovicky berkata:

    Info tambahan saja dari studinya Geologi Kelautan (GeoMarine) Bandung :
    “… settling velocity (kecepatan pengendapan) lumpur pada air tawar sekitar 20 cm/jam., sedangkan pada air laut 90 cm/jam….
    Menurut anda seberapa jauh anda mampu mengalirkannya dengan gravitasi saja .

    silahkan dibaca penelitian tsb disini. Barangkali ada angka2 yang berguna untuk di-utik2 🙂 :
    https://hotmudflow.wordpress.com/?s=kecepatan+pengendapan

  29. RIrawan berkata:

    pak dhe, saya pernah dengar spillway akan dibuat dengan terowongan, langsung meluncur masuk ke Kali Porong. Bila formatnya trapesium atau empat-persegi begitu, ya pasti sebentar juga terowongannya bumpet.

    KANAL-V bisa menjadi solusi ideal dan murah, dibuat terowongan menembus tanggul Kali Porong. Syaratnya:
    – Dasar KANAL-V harus selicin mungkin (dicor halus permukaannya).
    – Sudut elevasi minimum 2%.
    – Dengan NOH (nosel Ompapang-Herman) dan injeksi angin, sudut elevasi bisa cuma 1%.

  30. RIrawan berkata:

    Pak dhe, kita pikirin ramai-ramai deh. Banyak ide bagus justru keluar dari teman-teman disini. saya sih hanya bisa sedikit hitung-hitungan.

    Spillway yang dulu dan sekarang (yang saya lihat di TV) disainnya jelas salah dan akan cepat bumpet dengan endapan. Dus pasti sia-sia.

    Lama waktu membangun KANAL-V (lebar dasar 1m) sepanjang 1200 m, pasti lebih cepat daripada spillway yang lebar. Bisa precast yang disambung-sambung atau dicor insitu (saran ompapang). Kontraktor seperti Wijaya Karya dll yang biasa kerja di sana tentu bisa memberikan pernyataan yang lebih riel.

    Luber2 selama belum jadi. Ini memang pelik. BPLS-TIMNAS sudah pengalaman soal ini.

    Endapan di dasar KANAL-V.
    Gampang! Pakai pemadam kebakaran. Saya hitung, tenaga semprotnya cukup untuk merontokkan endapan lumpur keras dan pekat. Turunnya juga gampang, sebab kanalnya miring.

  31. usil berkata:

    Seniorpapang! ini semua gara-gara you….he..he…
    Pak RIrawan jadi ikutan MEMISTIK deh….(….SLPB = BPLS….)

  32. Rovicky berkata:

    Pak RIrawan, tanya neeh.

    Kalau memang Spill-way is stupid way, aku pingin tahu untuk membangun saluran design ini kira-kita memerlukan berapa lama ? dan selama belum jadi bagaimana proses pengaliran yang sudah luber2 hingga hari ini?.

    Kalau saja terjadi pendngkalan atau pengendapan, bagaimana mekanisme pembersihannya mengingat profile dasar dari saluran ini tidaklah datar, sehingga bekho mungkin terbalik dengan kemiringan 60degree ?

  33. usil berkata:

    Wah….ini baru benar! Seharusnya dari dulu kedua belah pihak
    harus kerja sama seperti ini. Tapi tak apalah, lebih baik terlambat..
    dari pada tidak sama sekali. Ini menandakan bahwa TIM sekarang,
    berbeda dengan yang lalu. Terkesan TIM sekarang punya positif
    thinking, ini modal yang baik sekali.

    Secara moril, kami sangat mendukung “kerja-sama” seperti ini. Agar
    tujuan akhir bisa tercapai, yaitu: MENGENTASKAN KEMIS….EH..SALAH
    LUMPUR LAPINDO.

    Seniorpapang! anda ternayata benar……salut!

  34. RIrawan berkata:

    Pak Dedi benar juga.
    Phase percepatan dari kecepatan nol dan jatuh bebas, memang cukup h = 0,55 m saja, sebab dengan ketinggian itu air atau lumpur sudah mencapai kecepatan u = √(2gh) = 3,2844 m/detik, yang cukup untuk mengalirkan debit lumpur segar-panas 150000 s/d 201312 m³/hari, dengan (tan alpha) = 0,0195; asalkan disain kanalnya optimal.

  35. RIrawan berkata:

    Terima kasih pak Dedi,
    semoga membantu pemahaman kita bersama, terutama bagi BPLS-TIMNAS, yang bertanggungjawab sukses melaksanakannya.
    h = 0,55 m perlu dinaikkan, sebab untuk phase percepatan dengan kanal vertikal tegak lurus, diperlukan h = ½.u²/g = 1,0695 m untuk mencapai kecepatan 4,58 m/detik. Dan pak Dedi benar, perhitungan diatas berlaku universal, termasuk air tanpa lumpur. Selanjutnya jika kecepatan itu ingin dipertahankan sebagai keadaan equilibrium, agar aliran (sekarang pakai lumpur) bebas endapan, maka kanalnya harus mempunyai cukup sudut kemiringan, agar energi potensial yang dikandung oleh massa lumpur berkecukupan untuk melawan geseran pada dasar kanal. Disinilah diperlukan disain format/bentuk kanal yang benar guna menghasilkan aliran optimal. Dan jelas bentuk spillway yang sekarang salah!

  36. Dedi Ganedi berkata:

    Ini sekedar pembanding untuk membantu memahami gagasannya Mas RIrawan.
    Berdasarkan perhitungan software yang saya gunakan untuk menghitung flowrate air (tanpa lumpur):
    Pada:
    h=0.55 m
    kemiringan (tan alpha)=0.0195
    Diperoleh:
    flowrate= 2.33 m3/detik = 201.312 m3/hari
    kecepatan = 4.58 m/det

  37. RIrawan berkata:

    Bapak-bapak “SANMIT SLPB” atau dibaca terbalik: “BPLS TIMNAS”,
    data apa pak yang tidak mudah diperoleh? Kalau angka-angka (result) perhitungannya untuk membuat disain kanal, tolong tanyakan di sini, data apa yang diperlukan? Saya akan coba menghitungkan. Gratis.
    Kalau data fisik lapangan yang fluktuatif, itu tidak masalah. Kita ambil maximum dan minimumnya, lalu dihitungkan disain untuk rentang daerah kerja yang ditentukan.

    Angka-angka itu dapat disimulasikan di komputer guna memastikan keberhasilannya. Tetapi untuk lebih meyakinkan sukses di lapangan, dapat dilakukan uji coba miniatur dengan cepat dan biaya kecil. Data untuk uji coba juga bisa saya hitungkan.

    Maaf yang sebesar-besarnya, sebenarnya saya tidak ingin ikut campur dan sama sekali tidak ingin menggurui, namun kita semua mengharapkan agar bencana lumpur ini bisa diatasi secepatnya, setidaknya urusan penanganan permukaannya.

  38. SANMIT SLPB berkata:

    Ompang
    Kan sudah ada penelitian itu dan ada ditulisan pakdhe tentang kecepatan settlement ini. Dalam beberapa seminar Lusi sering diungkapkan juga, kok. Hanya datanya saja yg tidak mudah diperoleh. 😦

  39. ompapang berkata:

    Departemen PU kan punya BALITBANG AIR yang punya fasilitas untuk menguji coba konsep Pak RIrawan, mbok dilakukan toh BPLS tak perlu buka buku lagi wong sudah dijlentrehkan Pak RIrawan. Bagaimana Pak Adi Sasongko yang sekretaris BPLS dan Staf Ahli Menteri PU ? Setuju?

  40. RIrawan berkata:

    Gaji pejabat dan dana penanggulangan diperoleh dari keringat rakyat, yang berhak menuntut hasil dan tidak bisa terus mentolerir kegagalan. Oleh sebab itu, BPLS perlu serius dan bekerja rasionil dengan langkah-langkah yang benar.

    Disain spillway salah dan tidak mempunyai peluang berhasil!

    Musuh terbesar spillway adalah endapan.
    Ada syarat-syarat dasar hidrodinamika yang mutlak harus dipenuhi, agar spillway dapat berfungsi mengalirkan lumpur, yakni:

    Re = u . D / ט [harus lebih besar] ψ . 2320

    ψ = (ρs/ρm) . (us/u)² / sin²α

    D = 4 . A / C

    Dari ketentuan diatas, dapat dihitung bahwa kecepatan (u) aliran harus setidaknya antara 3 – 4 m/detik, tergantung suhu lumpur yang mempengaruhi viskositas (υ), agar aliran bebas endapan, lancar dan dapat berfungsi terus menerus secara non-stop.

    Mengaduk dengan eskavator atau mengencerkan lumpur dengan menambahkan air adalah tidak rasionil, hambur energi, mahal biayanya dan tidak bisa berlangsung secara non-stop.

    Semoga BPLS dapat mengambil langkah yang tepat dan berhasil!

  41. Edward Perdana berkata:

    Beberapa hari yang lalu saya sempat melihat lokasi lumpur lapindo.Saya rasa apa yang sudah dilakukan memang terlihat sia-sia, Saya rasa butuh dana yang sangat besaruntuk di gunakan untuk membuang lumpur dan air ke sungai porong yang jaraknya memang tidak terlalu jauh, dan tentunya sampai kapan hal tersebut benar-benar bisa terealisasi. Menurut saya apa yang dikorbankan oleh penduduk di kecamatan Porong dan Tanggulangin begitu besar dan tidak sebanding dengan dana yang akan di realisasikan oleh pihak Lapindo.Walaupun dari kejadian ini banyak pihak yang diuntungkan, mulai dari tukang ojek, para penunjuk jalan tembus, para penjual VCD lumpur lapindo serta para pemandu wisata dadakan di lokasi lumpur. Harapan saya apa yang terjadi saat ini bisa teratasi dan tidak meluas kedaerah yang belum terkena sehingga lebih banyak yang di rugikan, Bukan Hanya para korban Lumpur tetapi juga masyarakat di kabupaten lainnya seperti Malang, Pasuruan Probolinggo,Jember,Lumajang,Banyuwangi,Blitar karena di sebabakan transportasi yang sangat susah dan sulit untuk menuju surabaya dan daerah lainnya.

  42. ompapang berkata:

    umumnya kelemahan excavator pada sistem hidroliknya, banyak problem bocor pada seal-seal nya, baik pada silinder hidrolik boom,stick maupun bucketnya,apalagi bekerja pada medan lumpur yang mengandung material halus, serta pecahnya hose karena penyetelan tekanan pada relief valve dan regulator nya tak sesuai manual sehingga melebihi ketahanan hosenya.

  43. RIrawan berkata:

    Hal yang mustahil, bila berharap mengalirkan lumpur lewat spillway. Juga mustahil berhasil untuk jangka panjang, meskipun dikerahkan banyak long-arm-eskavator untuk mengaduk dan mengalirkan lumpur. Kenapa?
    – Tidak cukup energi (potensial), karena sudut elevasi kecil, sehingga sifat aliran laminar dengan kecepatan rendah.
    – Bentuk (format) spillway yang trapesium dengan dasar datar lebar, menimbulkan geseran besar pada aliran lumpur.
    – Jarak 100 m antara eskavator ditempuh aliran lumpur dalam waktu 100 m : 0,3 m/detik = 333 detik, tetapi padatan lumpur hampir seluruhnya mengendap dalam waktu jauh lebih pendek, misalnya butiran lebih 2 mm hanya perlu kurang dari 17 detik untuk mengendap turun 1 m.
    – Eskavator harganya mahal, umur operasinya terbatas, biaya perawatannya tinggi, biaya operasinya sangat besar, manajemen suku-cadang serta supply bahan bakar, dan tergantung pada orang sebagai operator yang tidak mungkin kerja non-stop.
    – Jika ditambah menjadi 40 eskavator sekalipun, spillway hanya bisa memaksakan aliran sebesar 0,63 m³/detik atau hanya ⅓ debit semburan. Itupun bila mampu bekerja non-stop 24 jam sehari.
    – Malam hari, ketika eskavator dan operatornya beristirahat, luberan lumpur mengancam mengubur spillway berikut lingkungannya.
    Sayang, dana besar dan waktu yang sia-sia, padahal sudah banyak langkah-langkah semasa Tim Nas yang dapat dijadikan pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: