Setahun Bertahan di Pengungsian

Rabu, 02 Mei 2007 Radar Sidoarjo
SIDOARJO – Imbauan Satlak Penanggulangan Lumpur agar para pengungsi di Pasar Porong Baru (PPB) sudah meninggalkan lokasi hingga akhir April tak mempan. Korban lumpur dari Desa Renokenongo tetap ngotot bertahan di sana, hingga ganti rugi tuntas dibayarkan.

Hingga kemarin, ratusan pengungsi masih menempati sejumlah kios di lokasi penampungan PPB. Situasinya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Padahal, sejak awal bulan lalu, Satlak PBL mengimbau pengungsi yang tinggal di PPB segera meninggalkan lokasi penampungan. Asumsi satlak saat itu, jadwal pembayaran terakhir uang kontrak diperkirakan selesai akhir bulan kemarin.

Namun, pengungsi dari Desa Renokenongo tetap menolak pindah. Sebab, hingga kini, mereka menolak menerima uang kontrak dan sejumlah dana lain dari Lapindo. Warga hanya menuntut ganti rugi rumah dan tanah mereka yang sudah tenggelam segera dibayar tunai 100 persen.

Hingga kini, warga Desa Renokenongo yang tetap menolak dikontrakkan di PPB sebanyak 857 KK atau sekitar 3.357 jiwa. Mereka berasal dari 14 RT di antara 15 RT yang ada di sana. Warga satu RT yang lain, yaitu RT 9, telah menerima uang kontrak karena termasuk korban lumpur gelombang pertama.

Dari catatan terakhir Satlak Pengungsi PPB, warga Renokenongo yang masih tinggal di pengungsian sekitar 937 KK yang terdiri atas 3.250 jiwa. “Memang, ada sebagian yang telah menerima uang kontrak, tapi tetap tinggal di pengungsian,” jelas Koordinator Satlak Pengungsian PPB Surya Nirwansyah.

Menurut salah seorang anggota Tim Perwakilan Warga Renokenongo Bambang Wuryantoro, keengganan warga berpindah dari PPB karena Lapindo juga tak kunjung membayarkan ganti rugi kepada warga. “Seandainya mereka membayar sekarang, detik ini pun kami langsung pindah,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Satlak PBL Hisyam Rosidi menyatakan tak mampu berbuat banyak. Dia hanya mengimbau warga segera bersedia menerima uang kontrak demi kelayakan hidup mereka nanti. “Bagaimanapun hidup di penampungan tak layak,” katanya.

Imbauan senada juga disampaikan pihak Lapindo. Kepala Divisi Humas Lapindo Yuniwati Teryana mengatakan, warga Renokenongo hendaknya mau menerima bantuan uang kontrak, boyongan rumah, dan jaminan hidup dari Lapindo. “Semua demi kebaikan kita bersama,” ujarnya.

Apa langkah selanjutnya dari Lapindo? Dia hanya mengatakan, beberapa hari ke depan Lapindo akan berkoordinasi dengan Satlak PBL untuk mencari solusi terbaik. “Sementara kami masih membiayai mereka,” katanya.

Selama ini biaya makan minum para pengungsi yang dikeluarkan Lapindo Rp 15 ribu per jiwa per hari. Menurut Yuniwati, di luar biaya tersebut, Lapindo juga memberikan bantuan lain kepada pengungsi. Total sekitar Rp 170 juta tiap bulan. Biaya itu meliputi biaya antar jemput anak sekolah di pengungsian, biaya kebersihan, biaya kesehatan, penyediaan air bersih, dan biaya-biaya lain. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: