Warga Blokade Raya Porong dan Jalur Alternatif

Kamis, 03 Mei 2007, JawaPOS
SIDOARJO – Terus terkatung-katungnya proses pembayaran ganti rugi membuat para korban lumpur kemarin kembali melakukan aksi blokade jalan. Aksi yang dilakukan ribuan warga tak hanya membuat akses Jalan Raya Porong tertutup total, tapi juga membendung sejumlah jalan alternatif Surabaya-Malang.

Aksi blokade itu dengan keberangkatan sejumlah perwakilan warga ke Jakarta dua hari lalu. Mereka berasal dari perwakilan warga dari Kelurahan Jatirejo, Kelurahan Siring, dan Desa Renokenongo, Kecamatan Porong serta Desa Kedungbendo, Kecamatan Porong.

Perwakilan warga kemarin diagendakan bertemu dengan Mensos Bachtiar Chamsyah, yang duduk sebagai Wakil Kepala Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Agendanya, membahas persoalan ganti rugi warga korban lumpur yang sudah hampir setahun terkatung-katung.

Sebagai bentuk dukungan, sejak pagi kemarin warga yang tidak berangkat ke Jakarta melakukan blokade jalan. Saat itu mereka hanya menutup Jalan Raya Porong. Warga terkonsentrasi di sekitar bekas markas Koramil Porong.

Namun, pada pukul 16.00 warga mulai menutup sejumlah ruas jalan yang lain. Ini setelah salah seorang warga menyampaikan berita dari para wakil mereka di Jakarta melalui pengeras suara. Saat itu disampaikan, jika rencana pertemuan dengan menteri pukul 15.00 diundur hingga pukul 17.00 WIB.

Mendengar itu, sejumlah warga yang menunggu sejak pagi pun mulai berteriak-teriak. “Kita dibohongi lagi. Pemerintah dan Lapindo sama-sama tak bisa dipercaya. Lumpuhkan saja Sidoarjo,” teriak salah seorang warga.

Aksi blokade jalan itu makin menjadi-jadi pada sekitar pukul 17.00 WIB. Ini setelah mereka mendapat kabar pertemuan di Jakarta tak kunjung dilaksanakan. Saat itu warga mulai bergerak ke beberapa titik jalan yang lain.

Sebagian warga bergeser ke arah selatan, memenuhi seluruh ruas jalan di atas Jembatan Sungai Porong. Praktis jalan dua arah Surabaya-Malang di sana tertutup total. Tak puas, beberapa warga yang lain juga menutup dengan meletakkan motor mereka secara melintang di Jalan Jenggolo Porong, tepat di pertigaan sekitar Pusdik Gasum Porong.

Kendaraan menuju atau dari arah Gempol pun tak bisa lewat. Kemacetan yang sangat panjang pun tak terelakkan. “Kami sudah lelah diombang-ombingkan,” tegas Nasikhudin, salah seorang perwakilan dari Kelurahan Jatirejo.

Sebagian warga yang sebelumnya terkonsentrasi di sekitar Jalan Raya Porong, kemudian bergeser lagi ke utara. Mereka juga melakukan penutupan di sekitar jembatan tol Porong. Bahkan, di pertigaan Ngaban-Kludan, Tanggulangin, tanpa kompromi warga juga melakukan penutupan jalan di sana.

“Kami sudah cukup lama bersabar,” kata Naskhudin. Hingga tadi malam warga bertekad tetap menduduki sejumlah ruas jalan sampai ada keputusan tentang pembayaran uang muka 20 persen. “Kalau perlu, kami akan masak dan tidur di sini,” tambahnya.

Sebelum aksi blokade, pada pagi harinya, ribuan warga isempat mengadakan istighotsah di Jalan Raya Porong. Kegiatan itu dilakukan untuk memanjatkan doa agar tuntutan pembayaran uang muka 20 persen ganti rugi bagi korban lumpur segera dibayar. “Selain itu, juga sebagai support untuk perwakilan kami yang berangkat ke Jakarta,” jelas Suwito, perwakilan dari Desa Renokenongo.

Istighotsah itu dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Selain berdoa bersama, beberapa perwakilan warga juga diberi kesempatan berorasi di hadapan ribuan korban lumpur lainnya. Dalam orasi mereka, secara umum, warga minta agar Lapindo segera membayar uang muka 20 persen, tanpa terkecuali.

Sebagian besar status kepemilikan rumah dan tanah warga korban lumpur hanyalah pethok D dan leter C. Namun, hingga kini, Lapindo tetap bersikeras mensyaratkan bukti kepemilikan berupa sertifikat.

Setelah perwakilan warga dari empat desa itu bergantian berorasi. Sekitar pukul 10.00 WIB dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh KH Lutfi Aziz dan KH Hasyim Ahmad yang juga termasuk korban lumpur. Ketika Lutfi Aziz memimpin doa, ratusan korban lumpur terlihat tak kuasa menitikkan air mata.

Doa yang dipanjatkan berusaha menggiring kembali ingatan warga atas rentetan kejadian yang menimpa mereka. Ketenangan dan kedamaian warga yang telah terbangun sekian tahun telah diporak-porandakan oleh lumpur Lapindo.

“Kami sudah lama menderita. Bukalah hati Lapindo dan pemimpin kami agar segera memenuhi tuntutan korban lumpur,” ucap Lutfi Aziz dalam satu bagian doanya. Doa bersama itu baru berakhir sekitar pukul 11.30 WIB

Warga yang berkumpul di Jalan Raya Porong saat itu juga sempat mencegat KA Sri Tanjung jurusan Banyuwangi-Surabaya di perlintasan KA Siring. Sekitar 10 menit, KA berhenti karena dihadang warga. Setelah KA “dilepas” kembali, mereka balik ke tenda yang sudah disiapkan untuk kegiatan istighotsah.(dyn/sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: