Aksi Siswa-Siswa Korban Lumpur yang Masa Depannya Terancam

Senin, 07 Mei 2007
Tuntut Pemerintah Berikan Pendidikan Gratis
Nasib siswa-siswa korban lumpur begitu mengenaskan. Banyak yang terpaksa drop out karena tak lagi punya biaya. Mereka berharap mendapatkan pendidikan gratis.

DIAN WAHYUDI, Jawa Pos

PELUH mengucur di dahi Lutfi Andri, 14, salah seorang siswa salah satu SMP swasta di Porong. Bersama beberapa kawan sesama korban lumpur, dia mengikuti aksi di Alun-Alun Sidoarjo. Dengan bersemangat, warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) itu turut bernyanyi dan meneriakkan yel-yel bernada sindiran kepada pemerintah.

“Indonesia tanah air siapa? Katanya tanah air beta,” begitu Lutfi, menyanyikan salah satu lagu nasional yang diubah syairnya.

Selain Lutfi yang duduk di kelas 2 SMP, banyak anak korban lumpur bernasib sama. Misalnya, 10 siswa MTs Khalid bin Walid Desa Renokenongo yang tidak bisa ikut ujian nasional. Mereka juga tidak diketahui kini di mana.

Kemarin sebagian siswa tidak beruntung itu melakukan aksi menuntut pendidikan gratis. Mereka menggalang tanda tangan dukungan dari masyarakat yang kebetulan sedang lewat. “Tolong, Pak, kami didukung. Jangan sampai korban seperti saya terus bertambah,” kata Lutfi, meminta agar bersedia membubuhkan tanda tangan.

Anak kedua dari lima bersaudaraitu memang kurang beruntung. Dia terpaksa berhenti sekolah karena orang tuanya yang hanya tukang kayu tidak mampu lagi membiayai sekolah. Namun, dia bertemu dengan beberapa donatur yang siap membiayai sekolahnya lagi. “Saya hanya sebagian. Teman-teman seperti saya masih banyak,” jelasnya.

Deni, siswa SMP Negeri 2 Porong, juga menyatakan prihatin atas nasib teman-teman yang kini tidak bisa lagi mendapatkan pendidikan secara memadai. Tragedi lumpur menyebabkan pendidikan mereka terancam. “Saya sendiri tidak berhenti. Tapi, saya prihatin nasib teman-teman,” tambah Deni.

Karena itu, saat diajak turut melakukan aksi kemarin, Lutfi dan Deni langsung mengiyakan. Selain menggalang dukungan dengan tanda tangan, mereka berorasi sambuil berkeliling Alun-Alun Sidoarjo.

Menurut koordinator aksi tersebut, Iva Hasanah, hingga kini perhatian pemerintah untuk pendidikan para korban lumpur sangat minim. “Padahal, sudah seharusnya pemerintah memberikan diskriminasi positif bagi siswa korban lumpur,” ujar aktivis yang juga direktur KPS2K, LSM yang bergerak dalam pendampingan perempuan pekerja seks, itu.

Anak korban lumpur pun tak lagi mudah menjangkau sekolah. Tempat tinggal sudah terpisah-pisah. Apalagi, kondisi jalan di kawasan Porong dan sekitarnya kerap macet. “Keselamatan mereka terus terancam karena beberapa sekolah berlokasi tak jauh dari tanggul,” ungkapnya.

Hasil pengumpulan tanda tangan akan dikirimkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tanda itu akan dikirim bersama dengan surat yang dibuat anak-anak korban lumpur. Surat-surat itu telah dipilih saat even yang diselenggarakan di Penampungan Pasar Porong Baru (PPB). “PT Lapindo Brantas juga akan kami kirimi,” kata Indah, koordinator aksi lain. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: