Buat Dapur Umum Tandingan

RADAR SIDOARJO      Senin, 07 Mei 2007
Pengungsi Minta Jatah Makan Diganti Uang
SIDOARJO – Ketidakpuasan pengungsi korban lumpur di Pasar Porong Baru (PPB) mencapai puncaknya. Mereka membuat dapur tandingan dan menolak jatah nasi bungkus dari dapur umum Satlak Penanggulangan Bencana Lumpur (PBL).

Sikap pengungsi yang sebagian besar warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, itu merupakan buntut nasi bungkus basi yang mereka terima Minggu (6/5) siang. Nasi jatah pengungsi ternyata basi dan sebagian masih mentah. Mereka memutuskan tidak mengambil jatah dari dapur umum PPB. “Mulai hari ini (kemarin, Red) warga memasak nasi sendiri,” ujar Sunarto, koordinator pengungsi Renokenongo.

Untuk makan sehari-hari, PT Lapindo Brantas menganggarkan Rp 5.000 untuk satu bungkus nasi atau Rp 15 ribu untuk tiga kali makan. “Kalau dibandingkan dengan makan di warung dengan uang Rp 5.000 itu, beda jauh,” kata seorang pengungsi. Kejadian nasi basi itu bukan kali pertama. Sejak terjadi banjir lumpur, beberapa kali pengungsi menerima jatah nasi yang tidak layak dikonsumsi. Bahkan, yang ekstrem, beberapa waktu lalu pengungsi menemukan sebagian nasi sudah berbelatung dan sarden kedaluwarsa. Waktu itu muncul kecurigaan ada sabotase orangorang tertentu yang ingin mengeruhkan suasana pengungsian. Polisi pun turun tangan. Namun, hingga kini penyelidikan tidak juga menunjukkan hasil. Kasus nasi tidak layak makan pun terulang lagi.

Akibat kejadian tersebut, pengungsi mengaku trauma. Kemarin mereka memilih memasak sendiri untuk makan tiga kali sehari. Pengungsi juga menuntut jatah makan lebih baik diberikan dalam bentuk uang. “Biar kami masak sendiri saja,” kata salah seorang pengungsi.

Untuk itu, warga sudah menyediakan 200 kompor di los-los pasar. Ratusan kompor itu digunakan sejak pagi kemarin untuk menyiapkan sarapan. Warga juga mendapat bantuan dari orang yang peduli Rp 4.500 per jiwa untuk tiga kali makan sehari. “Kami minta bupati melihat sendiri kondisi dapur umum,” ujar Pitanto, warga Renokenongo.

Meski warga sudah masak sendiri, aktivitas dapur umum juga tidak surut. Pagi kemarin petugas dapur umum tetap memasak seperti biasa. Hanya sebagian kecil pengungsi asal Perum TAS yang masih mengambil jatah makan. Akibatnya, ribuan bungkus nasi menumpuk di dekat dapur umum.

“Kami masak seperti biasa. Tapi, karena tidak diambil, nasi bungkus menumpuk di dapur umum,” ujar salah seorang petugas dapur umum. Tokoh masyarakat Renokenongo Sunarto menyatakan siap menyampaikan keluhan dan tuntutan warga dalam pertemuan di Kantor Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) hari ini. Pertemuan dilakukan antara wakil pengungsi dan Kadinkesos Hisjam Rosyidi.

Saat ini jumlah pengungsi asal Desa Renokenongo di PBP sebanyak 3.357 jiwa atau 857 KK. Mereka bertahan di PBP karena menuntut rumah dan lahan yang tenggelam lumpur dibeli tunai oleh PT Lapindo Brantas.

Kepala Divisi Humas PT Lapindo Brantas Yuniwati Teryana mengatakan prihatin atas terulangnya kejadian nasi basi. Dia menyatakan akan membicarakan masalah itu dengan Satlak PBL. Termasuk, tuntutan pengungsi Renokenongo yang minta jatah makanan mereka dalam bentuk uang.

“Selama ini kami tidak ikut campur dalam penunjukan katering. Itu kewenangan Dinkesos. Keuangan memang kami yang menyediakan,” jelas Yuniwati. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: