Surabaya-Malang Tutup Lagi

RADAR SIDOARJO      Rabu, 09 Mei 2007
Air Lumpur Genangi Jalan Raya Porong
SIDOARJO – Kondisi kritis di pusat semburan sejak beberapa minggu terakhir mulai berimbas ke Jalan Raya Porong. Kemarin satu jalur arah Surabaya-Malang kembali ditutup. Hal itu disebabkan, badan jalan terendam lumpur.

Air lumpur mulai masuk ke ruas jalan yang baru saja dibuka lima hari lalu itu sekitar pukul 06.00. Air mengalir cukup deras hingga membuat genangan setinggi 10-20 sentimeter.

Menurut Kasat Lantas Polres Sidoarjo AKP Andi Yudianto, jalan ditutup karena kondisi jalur sudah tidak mungkin dilewati kendaraan. “Kami tidak mau mengambil risiko dengan membiarkan kendaraan tetap lewat,” ujarnya.

Meski sebagian sudah diperbaiki, hingga kemarin beberapa titik di Jalan Raya Porong terdapat beberapa lubang menganga yang cukup lebar. Beberapa kendaraan bermotor yang memaksa lewat sempat terjebak. Bahkan, ada beberapa pengendara yang terjerembap.

“Kami belum tahu sampai kapan Raya Porong dibuka kembali secara total,” kata Andi. Dia menyatakan, cepat atau lambatnya pembukaan kembali jalan arteri Surabaya-Malang itu bergantung pada kinerja Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Jika tanggul yang jebol bisa segera ditutup dan genangan air di jalan surut, jalan otomatis dibuka kembali.

BPLS masih berupaya memperbaiki tanggul cincin di sebelah barat dan utara pusat semburan yang jebol. Namun, sore kemarin, air lumpur masih mengalir cukup deras ke Jalan Raya Porong. BPLS sendiri belum bisa memastikan kapan pihaknya bisa menutup tanggul jebol di beberapa titik itu. “Terus terang, kami masih terkendala akses jalan,” kata Humas BPLS Ahmad Zulkarnain.

Namun, untuk mengurangi aliran air yang masuk ke jalan, pihaknya akan segera menutup tanggul jebol yang bisa dijangkau. “Kami akan tetap berusaha,” tegasnya.

Di lapangan, sejumlah pekerja dan truk pengangkut sirtu dikerahkan untuk memperbaiki tanggul ring 2 di Kelurahan Siring. Tanggul tersebut jebol setelah tak mampu menahan aliran lumpur dari tanggul jebol di sekitar pusat semburan.

Selain itu, seperti biasanya, bersamaan dengan tergenangnya Jalan Raya Porong, rel kereta api pun terendam. Jalur rel yang tenggelam berada di KM 32+40 hingga 32+70. Jalur rel sepanjang sekitar 300 meter terendam hingga 10 sentimeter.

Kepala Resor Jalan PT KAI Daop 8 Sudarsono mengatakan, rel KA kawasan Siring-Ketapang sejauh ini masih aman. Jadwal keberangkatan KA tak banyak mengalami gangguan.

Meski demikian, lanjut Sudarsono, pihaknya sudah mengantisipasi bila sewaktu-waktu air lumpur yang menggenangi rel KA semakin meninggi. Salah satunya, menyiapkan lokomotif jenis BB. “Kalau makin parah, baru kami ganti,” imbuhnya.

Sementara itu, warga Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, tetap menolak kawasan mereka untuk ditanggul. Sebelum rumah dan tanah mereka yang sudah tenggelam dibayar, mereka akan terus menghalangi upaya penanggulan yang akan dilakukan.

“Tak ada kompromi, hak kami harus dipenuhi dulu,” kata M Rois, salah seorang warga. Sejak awal, warga terus melarang upaya penanggulan di sebelah Timur jalur rel KA. Namun, mereka tetap mengijinkan upaya penanggulan di sebelah Baratnya. Itu pun harus berhenti di sekitar kawasan Tugu Kuning, tepanya di depan Pabrik Benang Siring.(dyn)

Iklan

27 Responses to Surabaya-Malang Tutup Lagi

  1. usil berkata:

    Hayo!!! omPapang! Pesanannya udah dipenuhi.
    Mau traktir apa? he…he…

  2. RIrawan berkata:

    Maaf pak Usil, pak dhe, ompapang, lambat reply-nya, kerjaan numpuk.

    Iya pak Usil & ompapang, ibaratnya sudah kebanyakan bagasi, jadi pesenan PLTN seken ketinggalan. Cerita boneka diatas sudah panjang, nanti yang baca mumet.

    Repot mencari barang seken (bekas pakai) di India. Di sana rongsokan apapun masih banyak yang mau. Tahun 2005 masih 22% orang India melarat, kendati ini sudah sukses besar sebab 1995 lebih 50% di bawah garis hidup paling papa. Dan India menargetkan penghapusan seluruh kemiskinan di tahun 2020. (Bandingkan di kita, yang bunuh diri tak tahan derita tekanan ekonomi malah nambah terus).

    Tapi barusan lagi sempat. Ini saya kirimin lagi oleh2 cerita tentang PLTN India, yang saya gabungkan ke topik “Energi di India.”
    Silahkan klik ini: https://hotmudflow.wordpress.com/diskusi/diskusi-sosial-ekonomi-politik/#comment-13252

    Monggo pak dhe, silahkan tulisan itu dimuat di dongeng geologi, sekiranya dinilai cukup baik. Sebelumnya matur nuwun.

  3. ompapang berkata:

    Usiiiil……..usil, bolabalio Usil, jan ..gak kasi orang istirahat!
    Kalau Usil teruss, INI BARU NAMANYA PEMERINTAH…..eh …USIL.
    Selamat Datang & terima kasih Pak R Irawan oleh-olehnya dari India, INI BARU NAMANYA OLEH_OLEH.
    Aku sebetulnya mau titip salam buat temanku di India , namanya seperti nama Jawa :Shithole, ia pernah menjadi Ketua Perhimpunan Alumni Nederland India, pengagum berat Bung Karno, ia bilang Bung Karno sangat populer dinegaranya.(Seperti kita mengenal Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi), besok kalau kesana lagi ya Pak ?

  4. usil berkata:

    Ompapang! bangun hei! udah siang nih….koq mimpi teruus?

  5. usil berkata:

    Whooo….dukung banget pak dhe. Thanks

  6. Rovicky berkata:

    Pak RIrawan
    Silahkan bikin tulisan menarik tentang energi di India
    Nanti aku muat di dongeng geologi
    Suwun

    😀

  7. usil berkata:

    Akhirnya….pesanan aku dan ompapang datang juga!
    Makasih ya…Pak RIrawan. Wah…kapan Indonesia bisa
    seperti India. Bisa2 India yang disekitar Pasar Baru, pada
    pulang kampung semua.

    Tapi, Pak RIrawan kayaknya masih ada utang satu sama omPapang.
    Itu…lho! PLTN yang diobral dari India…he…he
    Kutunggu ulasannya di Dongeng Giologi/Infoenergy…ya pak?
    Apa omPapang setuju?

  8. RIrawan berkata:

    Pak usil, ompapang, ini oleh-oleh boneka (cerita B-om pes-ON-a EK-onomi A-kbar) India, satu dari 2 negara dengan pertumbuhan paling spektakuler di dunia di awal abad 21 ini, yakni 8-10% PDB. India sekaligus juga negara demokrasi terbesar di dunia dengan 1,1 milyar jiwa; dengan keruwetan masalah yang tidak kalah daripada Indonesia, sehingga sangat relevan diperhatikan dan diperbandingkan.

    Mendarat di kota Mumbai, saat ini 18 juta penghuninya, saya teringat 14 tahun lalu, ketika itu kota ini sangat kotor. Slam (gubuk kumuh) yang menimbulkan perasaan seram menyambut tak putus-putusnya di sepanjang tepi jalan-jalan Bombai (nama lama Mumbai). Namun saya tercengang, kota ini sekarang berubah. Jalan-jalan menjadi lebar dan kualitasnya bagus kokoh, kelihatannya semua jalan dialasi beton tebal 30-40 cm. Di mana-mana tampak kesibukan pelebaran jalan. Di kiri kanan jalan ada ribuan apartemen sekelas atau sedikit lebih bagus daripada rumah susun perumnas. Ketika saya tanya mana slam-slam nya, apa digusur habis? Teman India saya tertawa: “… masih ada, tapi di bagian sana kota. Akibat urbanisasi, harga rumah di Mumbai sangat tinggi, sehingga dulu orang miskin terpaksa tinggal di slam. Tetapi pemerintah tidak bisa main gusur, bisa langsung dijatuhkan. Ini negara demokrasi. Soalnya kenapa dulu dibiarkan sehingga terlanjur menjadi tempat hidup ribuan orang? Maka pemerintah barulah bisa membuldoser slam dan ketat melarang munculnya slam baru, setelah membangun rusun-rusun, lalu membagikan gratis kepada para penghuni slam itu.”
    Ha … gratis?
    Ya … 100% gratis, asalkan mereka terdata sah orang miskin, tinggal di slam dan punya kerjaan!
    WAH, INI BARU NAMANYA PEMERINTAH.

    Melihat-lihat pabrik di India, saya harus berpikir keras untuk memahami, sama seperti upaya menikmati masakan India yang exotis dengan bumbu-bumbu tajam bersaos kental, tetapi diramu dengan bahan dan gaya dari unsur tradisionil hingga modern, seperti makan di atas daun pisang dan sendok-biologis bersama serviet dan gelas anggur. Industri India mempertontonkan paduan unsur manual berteknologi paling sederhana yang banyak mengandalkan otot para buruh, hingga yang paling modern dan dikendalikan oleh piranti lunak yang canggih. Namun mereka bekerja dengan kapasitas penuh 3 shifts. Pabrik-pabrik itu sibuk expansi, memperluas bangunan pabrik, menambah mesin dan menambah karyawan. Lalu, apakah India kekurangan tenaga terdidik dan ahli? Ternyata tidak. Sejak lebih 2 dekade lalu India mewajibkan anak-anak sekolah dan pemerintah tak cuma bikin peraturan, melainkan semua anak bebas biaya sekolah dan buku, ditambah tunjangan gizi dan pakaian hingga setingkat SMU.
    WAH, INI BARU NAMANYA PEMERINTAH.

    Maka sekarang, India kecukupan tenaga terdidik dan trampil. Universitas-universitas menghasilkan 2 juta sarjana per tahun, 50% nya jurusan teknik. Situasi ini sangat mendorong kemajuan di segala sektor. Lembaga-lembaga riset dan pengembangan sangat banyak bermunculan dan tumbuh. Tidak hanya industri-industri di India saja yang menikmati banyaknya tenaga unggulan India, tetapi banyak perusahaan Eropa dan Amerika yang merekrut karyawan-karyawan India. Bahkan banyak pula yang membuka kantor di India dan mempekerjakan sarjana-sarjana India, tetapi dengan operasi seolah-olah mereka berada di Amerika atau Eropa. Ini dimungkinkan berkat kecanggihan perangkat IT, sehingga perintah dan penyajian hasil kerja bisa diselenggarakan melalui jaringan IT lintas benua dengan tidak kalah cepatnya dibandingkan dengan mereka yang berada di satu gedung. Maka banyak perusahaan dunia dapat ikut memanfaatkan SDM India yang berpendidikan dan berkualitas tinggi, namun dengan gaji hanya 10-30% orang bule. Hampir seluruh perusahaan IT dunia sudah membuka usahanya di India, terutama di Bangalore. Pendapatan India dari IT diperkirakan 40 milyar dollar US per tahun, yang memberikan peran penting India sebagai rantai inovasi dan rekayasa teknologi global.

    Ada 2 hal utama yang menentukan awal kemajuan India.

    Pertama: adalah penyingkiran hantu-perijinan (License Raj), semacam pola ekonomi terpimpin semu yang 4½ dekade lebih mencengkeram India, yang mengharuskan seluruh aktivitas usaha terlebih dahulu memiliki ijin dari pejabat pemerintah. Tetapi birokrasi korup dengan slogan nasionalis pro proletar justru berkolusi dengan pengusaha besar yang menguasai hampir seluruh kegiatan usaha secara monopoli, anti persaingan dan jeli membunuh setiap potensi anak negeri dan semangat inovasi. Saat itu India sungguh-sungguh terjerembab ke situasi ultra feodal dengan lapisan elite yang yang mengontrol semua kegiatan ekonomi, mengambil sangat banyak dan menyisakan sangat sedikit bagi ratusan juta rakyat. Pola ini lama dikritik oleh negarawan India Chakravarthi Rajagopalachari. Tetapi baru di tahun 1990 pada pemerintahan perdana menteri
    PV Narasimha Rao, License Raj dihapus total berkat kerja keras menteri keuangan Mammohan Singh, yang menerapkan liberalisasi atas ekonomi India dan menghapus monopoli elit, yang menghasilkan pertumbuhan luar biasa pesat sampai sekarang.

    Kedua: adalah penghayatan hidup sekuler meritokratis. Didera sejak lama sekali oleh keyakinan primordial yang menonjolkan perbedaan kelas, gemar mengeksploitasi kebencian, monopoli kebenaran dan cenderung anarkis, kini masyarakat terdidik India sudah tidak lagi peduli dengan segala paham primitif, yang hanya menghasilkan keterpurukan. Mereka tidak sudi lagi menghambur-hamburkan waktu dan energi untuk kegiatan nihilis dan fatalis. Mereka kini hanya menghargai kualitas intelektuel dan berlomba menggairahkan kinerja. Mereka makin tegar menghormati meritokrasi, menghargai prestasi dan kerja keras, berdasarkan kesetaraan, persamaan kesempatan dan demokrasi sebagai moral manusia modern. Maka di India kini, orang dapat berjuang meraih sukses, menghasilkan yang terbaik, tanpa kuatir didiskriminasi, apapun asal-usulnya, etnisnya, rasnya, kelasnya, agamanya dsb.

    Ekonomi India diramalkan menjadi terkuat nomor 3 dunia sebelum tahun 2050, setelah China dan Amerika Serikat, mengalahkan Uni Eropa dan Jepang. Dan GNP India bakal menyamai Amerika Serikat tidak lama setelah itu.

  9. usil berkata:

    Aduh! omPapang ini…perut aku sampe kram……maar asyik!
    Benar kata pak RIrawan: paling jago MEMPERTAUTKAN segala macem…

  10. ompapang berkata:

    juga bawa boneka dari India, omong-omong di India katanya PLTN seken murah, pesen satu ya pak!

  11. usil berkata:

    Ya..wis om! ngebaso ya..ngebaso….siapa takut?
    Tapi katanya akhir pekan pak RIrawan ke India selama 1 minggu, jangan lupa
    bawa pulang martabak dari India ya pak?

  12. ompapang berkata:

    Pak Usil , karena mohon saran,maka saya sarankan Pak Usil menepati janji ajak ngebaso sama pak RIrawan cs . Hayo, sudah janji lho, kalau gak iklas nanti tak halal !( ora kolu)

  13. usil berkata:

    Pak Yanatan, rejeki kalau didapat dari hasil kerja yang halal,
    sah2 saja pak. Masak orang kerja tidak ada imbalan?
    Yang haram, kalo dapat imbalan tapi hasil kerjanya “0”
    Namun hasil kerja yang SUKSES, walaupun tidak dapat
    imbalan materi, bisa jadi dapat dapat imbalan “pahala” di sorga.
    Gitu kan ……Ompapang? Mohon saran!

  14. RIrawan berkata:

    Pak Yanatan,
    ide kincirnya hebat juga, saya komentari di rubrik “Semburan Lumpur Meningkat, Tanggul Cincin Jebol lagi”.

  15. Yanatan berkata:

    Saya bisa memaklumi kekecewaan Pak Rirawan dan juga teman-teman yang lain yg udah capek2 menyumbangkan usulan/ide2 di milis ini, tapi ya begitulah pola kerja birokrat pak, mereka tidak mencari solusi yang terbaik dan tidak tanggap, yang dicari adalah solusi yang bisa menguntungkan pihak-pihak tertentu (istilahnya bagi-bagi rejekilah) biarpun nantinya gagal tidak masalah yang penting udah kelihatan ada upaya.

  16. Alief berkata:

    tok tok tok…. buka dong pintunya? kok ditutup terus sih 😀

  17. RIrawan berkata:

    Hi teman-teman, saya selama ini terhambat oleh banyak tugas dan akhir minggu ini harus ke India. Semoga ide-ide kita terus berkembang dan bisa berguna dalam menangani bencana lumpur ini. Tetapi memang aneh birokrat di masalah ini. Kalau mampu membereskan secara teknis, ya kita-kita ini tidak perlu ikut campur. Namun kalau lumpurnya makin liar begini, mengapa tidak tanggap atas usulan-usulan di sini atau tukar pikiran?

  18. usil berkata:

    Pak Yanatan! saya sih ndak yakin kalo mereka sudah pesimis.
    Pasti mereka lagi sibuk dengan tugas utamanya masing2.
    Iya dong! kalau tidak, kebutuhan keluaraga kan bisa terlantar.
    Saya yakin, beliau2 itu pasti balik.
    Seperti omPaqpang bilang: Yang penting sharing ILMU.
    Walaupun aku bisanya nrimo doang.
    Ilmuku gak nyampe..loh! Maklum Sos-bud.
    Sabar aja Pak Yanatan, pasti mereka balik koq.

    Pak Yanatan! saya kurang setuju anda bilang “cuma berwacana”
    Menurut saya, itu konkrit! Hasil hitungan seperti itu hanya bisa dari
    kombinasi para praktisi dan penguasaan teori/textbook.

  19. syaifudin berkata:

    Ayo rek infrastrukturnya segera dipindah, dulu jl tol juga berkali-kali ditanggul dan dipertahankan. kali ini jl porong sedang dicoba dipertahankan. apa lumpur sedang mengincar ke arah barat?. sebelumnya dah ke arah utara, mungkin nantinya ke selatan dan terakhir ke timur alias ke sungai porong.

  20. Yanatan berkata:

    Pak Usil, betul kan spt yang saya bilang, teman2 yang biasanya rajin kasi usul & comment dan udah capek2 buatkan rumus itung2an, tapi karena tidak ada tanggapan / follow-up dari pihak terkait (BPLS/TIMNAS), mungkin sekarang mereka jadi malas.

  21. usil berkata:

    Mana Pak Syahraz? Pak Herman? Pak Dedi? Pak RIrawan?
    Beliau2 ini lagi bertapa dimana ya?
    Koq jadi miskin tulisan/komentar dari mereka.

    Pak Syahraz! apa masih menyepi dipedalaman Kalimantan?

  22. Yanatan berkata:

    Setuju Pak Usil, Ompapang, tapi kalau kita pikir lagi di Blog mas Rovicky ini kita kan cuma berwacana dan seakan-akan ide2 kita bisa dilaksanankan seperti yang di Republik mimpi itu lho, padahal saya tidak yakin para birokrat yang di BPLS itu mau baca dan ada waktu untuk melihat blog ini, menyitir sinyalemen pak/ibu a_otnaidah bahwa sampai sekarang ngak ada sesuatu yang baru dalam penanggulangan lumpur, masih terjebak dalam pola kerja lama yang sudah terbukti gagal, jadi bisa disimpulkan para birokrat ini kurang berpikir dinamis, miskin innovasi dan kreativitas, mau apa lagi ya nrimo nasib, ya ngak ?

  23. usil berkata:

    Kalau begitu sekalian yang komplit saja, Pak Yanatan! COST & LOST….
    he..he..sebelum diMISTIK sama omPapang

  24. ompapang berkata:

    Pak Usil , bukan lagi COST tetapi LOST (kerugian/kehilangan ) yang luar biasa. Kalau COST kan ada BENEFITnya, lalu apa BENEFITnya ?

  25. usil berkata:

    Setuju pak Yanatan, mungkin kalau segera dikerjakan non-stop
    tidak akan memakan waktu yang lama, tentu jika kontur tanah dan
    infra-struktur yang lainnya mendukung.

    Cost yang timbul akibat LULA ini, baik langsung maupun tidak langsung
    sudah luar-biasa besar. Belum lagi efek dominonya pada perekonomian
    Jatim secara keseluruhan.

    BPLS yang sekarang, cara kerjanya gak beda dengan TimNas dulu.
    Terkesan banyak kendala internal dan terjebak birokrasi, padahal
    situasi lapangan perlu penangan cepat dan cermat.

  26. Yanatan berkata:

    Untuk jangka panjang sebaiknya dibuatkan jalan berupa terowongan lebar / diameter 6M, sepanjang 2-3KM dengan sistim knock-down diatas jalan yang sudah ada, jadi tidak perlu pembebasan lahan dan tidak akan tergenang lagi.

  27. ompapang berkata:

    tokek…….buka……..tokek ……..tutup……tokek ……buka……tokek …..tutuuuup…….kek…kek…….kekkk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: