Desain Infrastruktur Porong Selesai, tetapi Mungkin Ada Perubahan

Kamis, 10 Mei 2007
Perbaiki Segera Infrastruktur
Sidoarjo, Kompas – Ketua Kamar Dagang dan Industri Surabaya Rudiansyah mendesak pemerintah segera merelokasi Jalan Raya Porong dan membuat jalan tol baru. Sebab, kondisi yang ada sekarang membuat industri di Jawa Timur semakin tidak kompetitif dengan barang dari luar Jawa Timur atau luar negeri.

Desakan itu disampaikan berkait dengan masih tertutupnya Jalan Raya Porong untuk arah Surabaya-Malang/Pasuruan akibat genangan lumpur sejak Senin lalu. Seringnya jalan ditutup ditambah kerusakan jalan akibat terendam lumpur telah menimbulkan kerugian besar bagi pengusaha di Jawa Timur.

Berdasarkan pantauan di lapangan, hingga Rabu (9/5), Jalan Raya Porong dari arah Surabaya ke Malang/Pasuruan masih ditutup. Tanggul di sekitar pusat semburan yang jebol pada Senin lalu sebenarnya sudah ditutup sehingga lumpur tidak lagi meluber ke kolam penampungan lumpur di Desa Siring. Hanya saja, kondisi kolam yang penuh dan tanggul kolam yang belum ditinggikan membuat lumpur bercampur air masih meluber ke arah Jalan Raya Porong dan jalur rel kereta api meski tidak lagi deras.

Ganti rugi pabrik

Sementara itu, pertemuan antara Gabungan Pengusaha Korban Lumpur Lapindo (GPKLL) dan Lapindo Brantas Inc (LBI) di Gedung DPRD Jawa Timur kembali tidak menghasilkan apa pun.

Dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Komisi B DPRD Jatim, pihak Lapindo hanya diwakili Koordinator Humas LBI Dias Roihan dan Vice President PT Minarak Lapindo Jaya Andi Darussalam Tabusalla.

Para pengusaha meminta nota kesepahaman penggantian pabrik yang terendam dibuat secara transparan dan bersama-sama. Selama ini, menurut Ketua GPKLL SH Ritonga, Lapindo membuat nota kesepahaman secara sepihak dan kerap mengingkarinya. Pengingkaran itu terkait dengan penggantian biaya relokasi pabrik dan pembayaran upah buruh dari pabrik yang terendam lumpur.

Dalam nota kesepahaman yang ditawarkan LBI, ganti rugi tidak mencakup bangunan dan mesin-mesin yang terendam lumpur panas. Karena itu, mereka minta kejelasan ganti rugi sesuai dengan yang telah diajukan kepada LBI atau ganti rugi dengan harga seperti yang diberikan kepada warga, yakni Rp 1 juta per meter persegi tanah dan Rp 1,5 juta per meter persegi bangunan.

Andi Darussalam Tabusalla hanya menjelaskan, saat ini sudah ada delapan perusahaan yang bersepakat dengan LBI mengenai penggantian. Untuk kedelapan perusahaan itu, pencairan ganti rugi dilakukan pada Juni 2007. Untuk pengusaha lain, lanjutnya, pihak Lapindo akan menemui mereka dari perusahaan ke perusahaan.

Sudah selesai

Di Jakarta, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, pembuatan detail engineering design infrastruktur di kawasan Porong telah selesai. Akan tetapi, desain tersebut kemungkinan direvisi karena ada pendapat ahli geologi bahwa relokasi harus digeser ke kawasan yang lebih jauh.

“Ini bisa merepotkan karena pembuatan desain harus dimulai dari nol lagi,” kata Djoko seusai pencanangan revitalisasi situ (danau) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. (apa/ina/ryo)

Iklan

6 Responses to Desain Infrastruktur Porong Selesai, tetapi Mungkin Ada Perubahan

  1. RIrawan berkata:

    … “jalan baru” …
    bukan “jalan batu”
    salah ketik melulu, ampun …

  2. RIrawan berkata:

    Lha, semburan kan diramalkan oleh para spesialisnya masih 30 tahun lagi. Oke, kita ambil dulu ini. Kalau dibiarkan sehari selapangan bola setinggi 15 m untuk “menenggelamkan daerah ini”, maka Juanda dan Waru hilang. Kalau dibuat pond Syahraz atau silent piling, tetap saja Porong dan Sidoarjo hilang.
    Saya kira, konsep ini tidak cocok. “Duwik” nya untuk rehabilitasi sosial tidak ada. Belum lagi resiko anarki. Benar kata pak Arsolim, kenapa membunuh kota-kota itu manakala ada pilihan lain?

    Maka konsep “MENGALIRKAN TUNTAS SECARA BENAR DAN MENGERINGKAN SELURUH DAERAH ITU DALAM 6 BULAN” menurut saya adalah satu-satunya yang paling rasional sampai sekarang!

    Ambles?
    Pasti, tetapi rasanya terjadinya gradual, bukan mendadak blek … ambles!
    Tetapi prosesnya perlahan, penduduk punya waktu untuk menyesuaikan secara psikis dan fisik.
    Kayak itu jalan tol bandara cakar-ayam yang terus-terusan ambles dan terus-terusan ditinggikan, ya semacam itulah yang nanti akan terjadi. Tapi pembuatan jalan-jalan batu juga tetap bisa dilakukan.

    Mengalirkan ke Kali Porong memang konyol. Tapi presidenpun sudah memutuskannya ½ tahun lalu. Dan sekarang apapun sudah terlambat. Ke Selat Madura, itu pasti, tetapi proyeknya butuh waktu lama. Jadi sekarang harus cepat ke Kali Porong dulu, sekalian uji coba konsep KANAL-V dll. Lalu membangun kanal permanen ke Selat Madura.

    Protes masyarakat pantai?
    Ini perlu pencerahan yang logis.
    Saya yakin ini pasti bisa diatasi.

  3. Arsolim berkata:

    Setuju sekali pak RIrawan, dengan memindahkan seluruh infrastruktur dari Porong selain membutuhkan dana yang sangat besar, juga akan membunuh kota ini secara perlahan-lahan menjadi kota mati.

  4. Rovicky berkata:

    Kalau dalam waktu enambulan kering dan lumpur sudah mengalir ketempat lain (selat madura (?) kemudian infrastruktur setelah diperbaiki dimanfaatkan lagi …… nantinya semburan berenti nggak, kalau ngga berenti, yang dibawah kosong akan jadi ambles ndak ?

    Apakah fungsi rel dan jalan raya masih masih berfunsgi atau harus diperbaiki lagi ketika ambles terjadi ?

    Kalau mengalirkan ke kali porong dan kali Porong mendangkal shg berkurang kemampuan pengalirannya, maka saya kira dimusim hujan air kali porong akan kembali menjadi problem banjir hingga Surabaya. Problem di lokal justru menjadi problem regional. Belum lagi kalau selat Madura mengundang protes sosial masyarakat pantai.

    Localised the problem … itu yang mendasari saya ketika saya menuliskan untuk menenggelamkan daerah ini 🙂

  5. RIrawan berkata:

    Jika seluruh debit semburan lumpur dapat ditangani dengan benar dan dialirkan keluar sampai ke tujuan (Kali Porong atau Selat Madura), maka seluruh genangan seluas 700 ha akan KERING DALAM WAKTU 6 BULAN.

    Sehingga Jalan Raya Porong, Rel KA dll akan dapat berfungsi kembali.

  6. RIrawan berkata:

    Mengapa buru-buru memindahkan Jalan Raya Porong, Rel KA dan infrastruktur lain?
    Beayanya sangat besar dan belum tentu selamat, jika luberan lumpur terus meluas.
    Apalagi dananya dari APBN. Dus artinya ditanggung oleh seluruh rakyat.

    Terus meninggikan tanggul adalah tidak masuk akal.

    Tindakan yang harus segera dikerjakan adalah:
    1. MENGALIRKAN LUMPUR KE KALI PORONG (sementara)
    2. MENGALIRKAN LUMPUR KE SELAT MADURA (permanen).

    Cara paling rasionil yang diramu dari ide-ide yang masuk ke blog Rovicky ini dipastikan (berdasarkan perhitungan hidrodinamika) akan bisa mengalirkan 100 s/d 200 ribu m³/hari lumpur secara terus menerus:

    A) KANAL-V dengan kemiringan 2%, yang berfungsi sepenuhnya dengan gravitasi.

    B) KANAL-V dengan kemiringan 1% + NOSEL-OMPAPANG-HERMAN + kompresor angin.

    C) KANAL-V dengan kemiringan kurang dari ½% + NOSEL-OMPAPANG-HERMAN + kompresor angin + KINCIR-YANATAN.

    Selain itu ada konsep-konsep tambahan yang dapat dikombinasikan:

    D) KASKADE, yakni stasiun KANAL-V naik-turun (sesuai A atau B di atas) secara estafet. Untuk jarak jauh hingga ke Selat Madura.

    E) POND-SUSUN-^-SYAHRAZ, yang menaikkan level lumpur hingga 39 m, sehingga dapat mengalirkan lumpur sejauh 2 Km lewat KANAL-V dengan gravitasi.

    F) MENARA-TZC, yakni cincin-cincin beton yang disusun membentuk menara kerucut (tumpeng), sehingga lumpur daripuncak menara dapat dialirkan turun lewat KANAL-V dengan gravitasi.

    Jika masih diragukan, dapat dilakukan percobaan KANAL-V itu dengan biaya sangat murah.

    Konsep gagasan di atas datang dari rakyat biasa, yang punya kepedulian, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali suksesnya upaya menangani bencana ini.

    Tetapi di sini diperlukan birokrat dan pemimpin dengan kualitas negarawan sejati, yang mampu memutuskan kebijakan langkah yang benar atau korban dan kerugian akan makin besar ditanggung oleh bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: