Lapindo Sudah Habiskan Rp1,4 Triliun Atasi Semburan Lumpur

10/05/07 12:09Semarang (ANTARA News) – Lapindo Brantas Inc. (LBI) mengaku sudah menghabiskan 154 dollar AS atau sekitar Rp1,4 triliun untuk menanggulangi semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, baik untuk membiayai masalah teknis maupun dampak sosial ekonominya.

“Meski sudah melibatkan berbagai ahli geologi dari dalam dan luar negeri, sampai sekarang belum bisa dipastikan kapan semburan yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu berhenti,” kata Kepala Divisi Humas Lapindo Brantas Inc, Yuniwati Teryana di Semarang Kamis.

Seusai pembukaan diskusi dan pemutaran film “Mencari Solusi Penyelesaian Dampak Sosial Tragedi Lumpur Porong Sidoarjo” di Gedung Prof. Sunardi, Undip, Yuniwati menegaskan, berbagai upaya penyumbatan juga sudah dilakukan termasuk memasukkan bola beton, namun upaya ini juga belum mampu menghentikan semburan.

“Meski kami menanggung sesuatu yang belum jelas, Lapindo tetap bertanggung jawab termasuk pemberian ganti rugi kepada warga yang terkena dampak semburan lumpur,” katanya.

Ia juga menegaskan, sampai sekarang juga belum ada putusan yang pasti siapa pihak yang bersalah dalam semburan yang mengeluarkan lumpur dengan volume 100.000 meter kubik per hari itu. Semburan lumpur terletak sekitar 150 meter arah barat daya dari sumur eksplorasi Banjarpanji-1.

Menurut dia, asas praduga tak bersalah sudah semestinya dijunjung tinggi, karena para ahli masih bersilang pendapat dan memang belum ada putusan hukum.

“Ada ahli yang menyatakan, semburan itu akibat aktivitas Lapindo, sebagian menilai keluarnya lumpur merupakan fenomena alam yang sering disebut dengan `mud volcano`,” kata Yuniwati

Ia mengatakan, karena Lapindo beroperasi di kawasan Porong, Lapindo melakukan berbagai upaya dan langkah responsif, meliputi upaya penutupan semburan, penanganan lumpur di permukiman, penanganan dampak sosial dalam bentuk pemberian bantuan pada masyarakat korban.

Ia menyebutkan, untuk biaya pengungsian, dapur umum dan bantuan sosial kemanusiaan lainnya, Lapindo mengeluarkan dana Rp237 miliar.

Biaya tersebut belum termasuk gantu rugi yang kini sedang dalam proses realisasi tahap pertama sebesar 20 persen dari total aset masing-masing warga. Lapindo melalui PT Minarak Lapindo Jaya yang menangani ganti rugi, telah membayar ganti rugi 20 persen sebesar Rp6,43 miliar kepada 62 warga pemilik sawah seluas 250.168 m2.

Dana yang dikeluarkan untuk membiayai serangkaian panjang upaya-upaya penghentian semburan hampir mencapai 69 juta dollar AS belum termasuk biaya penanganan lumpur di permukaan yang mencapai 59 juta dolar AS.

“Ini sebagai bentuk tanggung jawab Lapindo seperti ditetapkan dalam Keputusan Presiden No.13/2006 serta Peraturan Presiden No.14/2007 yang mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas sosial, budaya saling menolong yang selaras dengan semangat Lapindo sebagai korporasi,” katanya.

Lapindo Brantas Inc. beroperasi dengan sistem bagi hasil, 30 persen untuk Lapindo dan 70 persen untuk pemerintah. 21 sumur gas yang beroperasi menghasilkan 25 juta kaki kubik gas per hari, jauh lebih banyak dibanding pada awal operasi pada 1999 yang hanya mencapai empat juta meter kaki kubik/hari.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Iklan

11 Responses to Lapindo Sudah Habiskan Rp1,4 Triliun Atasi Semburan Lumpur

  1. Tony berkata:

    Betul Ompapang, semburan itu karena kecelakaan, sumber itu dari lapisan yang mempunyai tekanan abnormal, kalau tidak salah nama Formasinya Kalibeng. Apabila pada saat mereka ngebor sampai kedalaman 9000 feet atau pada Kujung Formation terjadilah kick, akan tetapi mereka tidak tuntas untuk mengatasinya, lalu di plug and abandone, pada saat ditutup saya rasa gas kick tersebut masih belum teratasi sehingga berkumpul di zone abnormal pressure tersebut, karena pada saat sumur ditutup tidak lama kemudian keluarlah lumpur tersebut melalui rekahan baru mereka abandone… .mungkin lho. Kalau pressure yang sedemikian besar bisa saja gas tersebut naik keatas, kemudian naik ke zone yang abnormal tersebut tapi karena tidak bisa keluar (karena sudah di plug) maka terjadilah semacam dapur magma di abnormal zone, lalu mereka mencari jalan keluar dan lewatlah mbak lusi melalui rekahan dan memang daerah tersebut ternyata dilewati oleh zone patahan.

    Ompapang yang terhormat bukannya saya tidak mau bergabung dengtan kawan-kawan dalam suatu diskusi, tapi saya malu karena walaupun umur sudah 1/2 abad tapi masih pengangguran dan saat ini saya masih sibuk mencari pekerjaan dulu..he..he..he

  2. ompapang berkata:

    Pak Tony, komen saya tersebut saya maksudkan untuk menunjukkan bahwa bencana LUSI adalah karena kecelakaan yang diakibatkan oleh pemberian tekanan pompa SECARA BERLEBIHAN ( kira-kira konstan 400 bar) terhadap lumpur berat yang dimasukkan kedalam sumur untuk menghentikan semburan dari bawah . Menurut saya harusnya membiarkan semburan keluar melalui casing sumur atau kalau mau menghentikan dengan lumpur berat, maka pemompaan dilakukan dengan tekanan yang tidak konstan, tetapi diturunkan secara gradual seiring terbentuknya tinggi kolom lumpur yang ikut memberi tekanan kebawah. Bila dipakai tekanan pompa 400 bar, maka jumlah tekanan kebawah = 400 bar + 3000 m kolom lumpur X BD lumpur, yang setara dengan tinggi kolom lumpur 6000 meter.(bila BD lumpur=1,3).
    Harusnya sesudah lubang semburan terisi lumpur sampai kedalaman 3000 meter, pemompaan lumpur berat tidak perlu dengan tekanan 400 bar, cukup dengan 5 – 10 bar saja. Tekanan ini sudah setara dengan tinggi kolom lumpur 38 – 76 meter, artinya ia dapat melawan energi potensial berupa tekanan dari bawah yang dapat menimbulkan semburan keatas sampai 38 – 76 meter secara teori atau praktisnya 30 – 60 meter yang merupakan sisa tekanan lubang sembur( residual pore pressure)
    Btw, dengan melihat melihat kondisi geologi tanah di Porong yang terbentuk dari endapan / aluvial , maka bila kita mengebor sampai kedalaman 300 meter saja (tidak sampai 3000 meter, yang berarti belum muncul tekanan dari dalam bumi , apapun bentuknya), kemudian kita beri casing, dan kedalam casing kita pompakan lumpur berat dengan tekanan 400 bar, kita akan menjumpai semburan lumpur berat yang kita pompakan muncul ditempat yang tidak terlalu jauh dari lubang bor tempat kita memompakan lumpur berat tersebut. Bila kita hentika pemompaannya ,dengan sendirinya berhentilah semburan lumpur tersebut. Hal tersebut akan menjadi bukti bahwa PEMOMPAAN yang OVER PRESSURE akan dengan mudah membuat lubang tembus kepermukaan sebagai jalan keluar lumpur yang ditekan oleh pompa,
    Dalam konteks KECELAKAAN semburan lumpur Lapindo, PEMOMPAAN yang OVER PRESSURE tersebut berperan MEMBUATKAN JALAN KELUAR bagi air bertekanan tinggi yang membawa material padat menjadi semburan lumpur panas dipermukaan.

    Jadi kesimpulannya : tindakan/perbuatan Lapindo yang mengakibatkan kerugian masyarakat dan negara adalah :
    Pertama ,LALAI mempelajari daya tahan struktur geologi bumi Porong terhadap TEKANAN yang membebaninya.
    Kedua memberikan BEBAN yang berupa TEKANAN yang ternyata melampaui batas daya tahan structur geologi bumi Porong, sehingga terbentuk saluran tembus kepermukaan bumi yang memberi PELUANG tekanan yang sangat besar dari perut bumi dapat keluar TIDAK MELALUI saluran yang seharusnya dilalui yaitu lubang sumur yang dibuat oleh Lapindo.
    Jadi sudah selayaknya semua kerugian harus ditanggung oleh Lapindo tidak perlu dibuktikan dipengadilan. Bila perlu dibuktikan cukup dengan contoh pengeboran dan pemompaan lumpur pada kedalaman 300 meter tersebut diatas atau simulasinya.

    Dalam hal dari mana datangnya sumber tekanan dan oleh disebabkan oleh apal tekanan dikedalaman 9000ft atau 3000m, sudah banyak dibahas di DISKUSI HDCB. Mohon pak Tony gabung di DISKUSI HDCB.

  3. Tony berkata:

    Maksud saya ada zone abnormal pressure dilapisan lempung dikedalman 3000-4000 feet dan gas naik dari zone 9000 feet didalamnya lalu naik dan membentuk dapur di zone abnormal pressure tersebut dan besarnya gas tersebut tergantung jumlah cadangannya, berapa cadangannya tanya saja sama orang Lapindo…he…he…he. Semburan itu akan habis tergantung jumlah cadangan gasnya.

  4. Arsolim berkata:

    Pak Tony, ompapang selain gas mungkinkah ada gerakan tektonis dibawah /disamping lapisan lumpur tersebut yang menekan keatas dengan kekuatan dahsyat dan ketika diberi jalan oleh operator Lapindo segara lumpur menyembur sedahsyat seperti sekarang, kalau over pressure, hanya karena adanya gas saja menurut saya tidak akan selama dan sedahsyat ini.

  5. Tony berkata:

    Kalau menurut saya, seperti yang diceritakan oleh Ompapang itu. Jadi memang ada zone over pressure disitu terutama pada lapisan lempung yang tebal itu ditambah gas yang keluar dari Formasi Kujung dibawahnya. Kalau tidak ada accident tersebut mungkin Lapindo sudah makin kaya saja, soalnya mereka memang menemukan gas di sumur Banjar Panji-1 tersebut, hanya saja penanganan pada waktu terjadi kick yang pertama sehingga di plug tidak benar-benar baik, mungkin seperti kata Ompapang mereka panik…he…he…he

  6. Arsolim berkata:

    Oh ya, saya mau menambahi comment ompapang, bahwa kalau sudah terjadi kecelakaan pengeboran yang harus menangani adalah para ahli WELL CONTROL ENGINEERING karena ya memang ini bidang pekerjaan mereka, tetapi kalau yang menangani Drilling Engineer maka kemungkinan terjadinya error sangat besar, karena mereka bidangnya kan hanya ngebor mengeluarkan minyak dan hanya tahu menginjeksi lumpur berat bila terjadi semburan tanpa prosedur dan perhitungan matang.

  7. Arsolim berkata:

    Ompapang, andai kita bisa kembali kemasa 1 tahun yang lalu urusan bisa gampang ditangani sesuai yang om uraikan itu, tapi nyatanya dengan Timnas pun juga tak menghasilkan apapun malah makin dahsyat, sekarng kita harus menatap kedepan, andaikan lumpur yang keluar itu 150rb M3/hari berari akan menggenangi lahan seluas 15 HA setinggi 1 meter per harinya atau 5400HA/tahun dalam 10 tahun kedepan sudah menggenangi lahan selus 54000HA dengan ketinggian rata2 1M atau seluas 23.5 KM2 maka SIDOARJO & PORONG & GEMPOL bakalan hilang dari peta dalam waktu 10 tahun lagi, kalau cara penggulangannya masih seperti yang sekarang ini.

  8. ompapang berkata:

    Pak dicky, pertanyaan kenapa kok bisa nyembur di Porong Sidoarjo?
    Jawabnya : Dari BPJ-1 data sheet (buka di kotak kanan atas) dapat dibaca Lapindo mengebor sampai sekitar 3000 meter, yang 2000 meter tanpa casing, saat itu terjadi tendangan dan semburan dari bawah (blow up) sehingga batang bor nya bengkok. Untuk menahan semburan tersebut, kedalam sumur tersebut dipompakan lumpur berat agar secara hidrostatis dapat menahan tekanan dari bawah. SAAT ITULAH TERJADI KECELAKAAN.
    Tekanan pompa lumpur dari atas dan tekanan tinggi kolom lumpur berat yang dipompakan kedalam sumur ditambah tekanan dari bawah ternyata tidak dapat ditahan oleh dinding lubang sumur bor yang tidak bercasing, sehingga lumpur berat dari atas menjebol kesamping menemukan jalannya sendiri menyembur kepermukaan sejauh 150 meter dari sumur bor Banjar Panji 1, sebagai bentuk KECELAKAAN.

    Ada 2 pengandaian yang dapat mencegah KECELAKAAN ini ,yaitu:

    1. Andaikan semburan dibiarkan keluar melalui sumur BPJ-1 yang bagian atasnya bercasing sehingga menjadi SISTEM TERBUKA, maka semburan akan lebih mudah dijinakkan, karena lubang semburnya berupa pipa casing,sehingga tidak akan terjadi pembesaran diameter lubang yang berpotensi menjadi bencana yang besar.

    2. Andaikan saat memompa lumpur berat dalam suatu SISTEM TERTUTUP, TEKANAN POMPA TIDAK BERLEBIHAN, maka jumlah tekanan dari atas yang terdiri dari tekanan pompa dan tekanan tinggi kolom lumpur berat ditambah tekanan dari bawah kecil kemungkinannya dapat menjebol dinding lubang bor sumur BPJ-1.
    Tetapi,berhubung TEKANAN POMPA BERLEBIHAN, maka jumlah tekanan dari atas dan dari bawah mampu menembus dinding sumur tak bercasing. Hal ini dibuktikan dengan adanya semburan lumpur pada menit-menit pertama adalah lumpur berat yang yang dipompakan menyembur keluar lagi kepermukaan 150 meter dari lubang pemasukan. Setelah pemompaan dihentikan, barulah lumpur panas yang keluar.

    Kesimpulannya, KECELAKAAN ini disebabkan oleh petugas bor yang panik, kemudian tanpa ba- bi- bu memompakan lumpur berat dengan tekanan berlebihan. Jadi jelas ini kesalahan Lapindo. Andaikan petugas berkepala dingin, walaupun ada potensi mud volcano didalam bumi Porong, mungkin kerusakannya tidak SEDAHSYAT sekarang.

  9. dickyZee berkata:

    Ya memang betul dibawah sana ada kekuatan yang amat besar …. tetapi pertanyaannya kenapa ko bisa nyembur di Porong Sidoarjo

  10. Arsolim berkata:

    kepada pak Tony sebagai Geologist atau teman2 yang lain, kalau ini bukan mud volcano, tahukah anda secara teknis geologi kira2 kekuatan dahsyat macam apakah yang mampu menyemburkan lapisan lumpur yang konon setebal 5KM dari kedalaman lebih dari 3000M ke permukaan secara terus menerus tiada henti bahkan makin hari makin dahsyat saja.

  11. Tony berkata:

    Ya, boleh saja pihak Lapindo telah mengclaim melakukan segala upaya untuk menangani bencana lumpur tersebut dengan angka yang fantastis, tapi apakah kenyataan dilapangan seperti itu ?

    Sebagai geologist dengan pengalaman yang miskin saya cuma melihat logika semburan itu karena pengeboran atau karena mud vulcano. Menurut saya itu adalah akibat pengeboran, karena kalau mud vulcano, beri saya contohnya daerah mana di Indonesia yang ada mud vulcano sedemikian dahsyatnya ? Kedua sebelum Lapindo mengebor 150 meter dari pusat semburan, apakah sudah ada gejala mud vulcano disana ?

    Tapi kalau ahli-ahli dari Lapindo menyatakan hal itu mud vulcano, saya rasa supaya bisa dijadikan bencana alam saja. Jadi biayanya sebagian pemerintah yang menanggung yang notabene uangnya adalah uang rakyat. Sebetulnya kunci dari masalah ini tergantung dari hati nurani para pemilik Lapindo saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: