Tanggul Ditutup, Porong Masih Rawan

RADAR SIDOARJO      Kamis, 10 Mei 2007
MESKI tanggul utama di pusat semburan yang jebol sudah berhasil ditutup, itu bukan berarti Jalan Raya Porong dan sekitarnya telah aman. Apalagi, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) masih belum memiliki solusi nyata untuk menangani lumpur.

Tanggul cincin yang sempat jebol di dua titik itu kemarin telah berhasil ditutup dengan menggunakan tumpukan-sand bag. Untuk yang kesekian, tanggul di sana harus terus ditinggikan. Hal itu dilakukan agar lumpur tak makin meluas ke mana-mana, terutama ke Jalan Raya Porong dan sekitarnya.

Hingga kemarin, jalan arteri Surabaya-Malang yang masih digenangi air lumpur sejak Selasa (8/5) lalu tetap ditutup satu arah. Genangan air sudah mulai surut karena aliran air lumpur yang masuk ruas jalan melalui kawasan sekitar Tugu Kuning Kelurahan Siring juga sudah makin berkurang.

“Namun, kami masih waspada. Sebab, genangan lumpur memang sudah berpindah tempat,” kata Humas BPLS A. Zulkarnaen.

Kolam penampungan (pond) selepas ring 2 di Kelurahan Siring yang sebelumnya lebih banyak berisi air, kini memang telah berganti lumpur. Itu sangat mengkhawatirkan karena tanggul utama di pusat semburan masih rawan jebol.

Seandainya tanggul cincin jebol dan aliran lumpur mengalir ke barat, genangan lumpur di pond tersebut akan terdorong menuju tanggul lapis terakhir di ring 3. Praktis, tak hanya air yang akan masuk, tapi juga lumpur.

“Kami sadar akan hal itu, karena itu kami juga sedang memperkuat tanggul utama dengan counter weight,” jelas Zulkarnaen. Upaya memperkuat bagian bawah tanggul itu diharapkan bisa memperkecil kemungkinan tanggul ambrol karena terus ditinggikan.

Namun, upaya tersebut tak bisa berjalan lancar. Sebab, menurut dia, pasokan sirtu di sekitar pusat semburan masih seret. Padahal, untuk melakukan counter weight butuh pasokan sirtu jauh lebih banyak. “Para kontraktor lebih senang menggarap tanggul-tanggul yang ada di luar,” ungkapnya.

Itu disebabkan pembayaran kepada mereka juga tak lancar. Selama ini, pembiayaan penanggulan di pusat semburan dan kanalisasi masih menjadi tanggung jawab PT Lapindo. “Kalau sudah seperti ini, kami jadi bingung harus bagaimana,” ujar Zulkarnaen.

Di lapangan, ketinggian lumpur di tanggul utama dan sekitarnya masih mengkhawatirkan. Di sebagian besar sisi tanggul, ketinggian lumpur telah hampir menyentuh bibir tanggul. Dengan kondisi itu, satu-satunya solusi adalah membuang lumpur ke Sungai Porong atau ke laut.

“Pembuangan melalui spill way masih belum lancar,” ujarnya. Bahkan, saat ini, kanal ke Sungai Porong di sebelah timur yang sebelumnya sudah hampir tersambung, malah terendam lumpur lagi. Jarak yang belum terbangun makin menjauh, sekitar 800 meter dari pusat semburan. (dyn)

Iklan

10 Responses to Tanggul Ditutup, Porong Masih Rawan

  1. usil berkata:

    Wadooow!! kalo begini usil yang salah dong! Harap maklum, bahasa Jowonya
    baru belajar dari blog ini. Itupun setelah bolak-balik membaca postingannya
    si Om dan pak Dhe, lalu minta tolong kary. dikantor translate. Apa translatenya
    betul ato malahan usil ‘dikerjain’, gak ada yang tahu eh.
    Lha…Om juga curang nih, dulu itu kalo usil salah, langsung dikoreksi.
    Sekarang koq malah dibiarin….piye to Om?

    Iki banteng yang mana dulu Om!…Marhaen ato yg biasa bajak sawah???

  2. ompapang berkata:

    Pak Usil, kalau orang mau bikin proyek bangunanyang besar, biasanya nanam endas kebo, maksudnya sebagai lambang bahwa kerbau itu binatang yang paling bodoh, hanya mengandalkan okolnya bukan akalnya.Padahal akal untuk berpikir yang logis ada dibagian kepala. Karena dikepala kerbau tidak ada akal untuk berpikir, maka sebagai lambang bahwa pelaksanaan proyek besar itu dipikirkan dengan akal yangsungguh-sungguh,maka mereka tidak mau mengunakan akal kerbau dan kepala kerbau itu dibuang(dilarung) atau dipendam sebagai lambang tidak digunakan akal kerbau.
    Lha, yang menerjemahkan menjadi endas kebo kan pak Usil, kalau aku bilang bullhead = endas banteng. Kebo dan banteng beda lho pak Usil. Gagah Banteng ka?hara piye ?

  3. usil berkata:

    Pak Hernowo! istilah ENDAS KEBO sama sekali bukan untuk menyepelekan
    siapapun. Hanya memang para komentator disini sering bergurau tanpa ada
    pretensi apapun. Maksudnya mau melucu diselah-selah pembahasan, jadi
    mohon maafkan, sekiranya terrasa berlebihan.

    Kalo sudah ditranslate endas kebonya, mestinya antrean yang mau komen.
    Biasanya yang paling pertama nyerocos…ya itu…si Thio Sam Hong!!!

  4. hernowo berkata:

    Urusan fulus, saya yaqin bpls banyak. Ojok dikiro bpls gak duwe dhuwik…uuaakeh rrekkkk……
    Memang istilah lapangannya penyemenan desak (squeze cementing) langsung yang tidak melalui sirkulasi disebut “bullhead” yang tidak pernah diterjemahkan menjadi “endas kebo”. Saya juga gak ngerti kenapa istilahnya demikian. Tapi para tukang nyemen casing sumur minyak rata2 tahu istilah itu. Saya bukan ilmuwan, tapi dari awal saya bilang seorang insan pasca stroke yang kebetulan pernah mendesign sumur minyak dan mengatasi blow out di berbagai daerah (dalam dan luar) yang ingin brbagi dan merasa prihatin dengan kondisi blow out Sidoarjo dan terpanggil sharing disini. Siapa tahu bisa membantu saudara kita di Sidoarjo sana. Hayoo kita sumbangkan apa yang bisa membantu saudara2 kita yang sudah kehilangan rumah dan pekerjaan di Sidoarjo, terlepas diterima or tidak gak ada masalah. Yang penting niat nyumbangnya itu. Lho lak ngaten tah dik

  5. usil berkata:

    Pak Windu! Saya sih bukannya mau promosi tentang blog yang
    diasuh oleh Pak dhe Rovicky ini. Tapi kenyataannya memang mereka
    yang berpartisipasi, sangat berbobot.
    Nama-nama berikut ini sudah merupakan “jaminan”: Pak Herman, Pak Dedi,
    Pak Yanatan, Pak Syahraz, Pak RIrawan, omPapang dll.
    Ciri-ciri mereka, Pak Windu sbb: Sangat kritis, saklek, tapi sangat gentle
    dan sportif (tidak sungkan mengakui kesalahan).
    Nah! Pak Windu, mau cari dimana lagi ilmuan2 seperti ini?
    Asal Pak Windu tahu saja, ilmu mereka terbilang “mengerikan”
    Agar bapak menjadi yakin, coba bapak intip topik DISKUSI tentang:
    1. Duskusi HDCB
    2. Mengalirkan Lumpur Secara Optimal.
    Paling tidak bapak baca mundur sejak diskusi bulan Febuari lalu.
    Tunggu apa lagi pak! Hayo!

  6. Rovicky berkata:

    Atau dikirim saja ke saya di rovicky@gemail.com nanti aku muat seperti tulisan Pak RIrawan tentang mengalirkan lumpur

  7. ompapang berkata:

    walaupun terlambat, sebaiknya pak Windu Hernowo membeberkan diblog ini pada DISKUSI BAWAH PERMUKAAN atau DISKUSI HDCB dan DISKUSI PENANGANAN PERMUKAAN yang dapat dipilih dikotak kanan atas. Nanti akan kita bahas bersama sebagai uji publik dengan pembahas Bapak R Irawan Cs yang dipandu oleh Pak Usil.
    Monggo !

  8. Windu Hernowo berkata:

    Saya seorang IPS (INSAN PASCA STROKE) rabu yl kirim proposal untuk menghentikan lumpur lapindo dan membersihkan genangan lumpur yang ada kepada presiden SBY dan Menteri ESDM (cq Tim Penanggulangan Lumpur Sidoarjo)dengan tembusan ke 1. Menteri Lingkungan hidup dan 2. ketua MPR/DPR. Namun sampai sekarang belum ada respon. Adakah kiranya kawan yang bisa menjembatani untuk bisa mempresentasikan proposal saya ini ke Presiden SBY untuk segera memutus penderitaan para korban di Sidoarjo ?.

    Bila ada, kami siap melakukan presentasi ini…….

  9. Adrianto berkata:

    Sabar-sabar Pak, walaupun tidak pakai bola-bola besi secara bertahap pasti tanggulnya juga jebol, karena daerah sekitar semburan akan ambleg dan amblegannya berbentuk ring, jadi makin lama makin lebar dan pasti akan jebol juga tanggulnya.

  10. a_otnaidah berkata:

    penanganan musibah lumpur ini banyak skandal dan yang ga tau malu. sebelum masukin bola2 beton sudah ada yang ngetungin dan meringatin kalo itu bahaya bisa malah makin besar semburan lumpurnya dan makin besar gas beracunnya, tapi dicuekin. nyatanya la memang lobangnya rusak jadi makin gede dan keadaan makin gawat. mana tanggung jawab timnas dan tim itb, yang ngotot masukin bola2 beton padahal teorinya ngawur ga pake itungan, sudah ngabisin duit, sekarang cuma bungkam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: