Teknik “Counter Weight” Dicoba Untuk Hentikan Lumpur Lapind

11/05/07 15:15 Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah akan mencoba teknik counter weight dengan menimbun endapan lumpur di sekitar lubang semburan lumpur di Porong kabupaten Sidoardjo yang diharapkan dapat menekan dan menutup secara bertahap semburan tersebut.

“Inti teknik itu, lumpur yang keluar dicounter weight jadi desakan di sumur akan dicover dengan double dam,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto usai menjelaskan teknik tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden Jakarta, Jumat.

Menurut Djoko, teknik penutupan lubang lumpur tersebut sudah pernah dilakukan di Philipina dan berhasil dengan baik.

“Presiden tadi menyambut baik presentasinya. Dan meminta teknologi sipil ini dibicarakan dulu dengan ahli-ahli di bidang geologi,” katanya.

Djoko dalam kesempatan itu, membawa ahli dari Jepang, Okumura yang merupakan presdir Katahira Engineering, dan pernah menerapkan teknik ini dalam menutup semburan lumpur di Philipina.

Ahli teknik sipil dari Departemen Pekerjaan Umum (DPU) Junius Hutabarat mengatakan, teknik counter weight itu secara bertahap akan menciptakan keseimbangan di atas lubang semburan lumpur sehingga akan menekan dan menghentikan semburan.

“Berapa lama semburan bisa dihentikan, kita tidak bisa memastikan. Harus dilihat kondisi luapannya,” katanya.

Sementara Okumura memperkirakan biaya penerapan teknik itu paling besar sekitar Rp600 miliar, tergantung dari besarnya diameter dam yang akan dibuat.

“Itu estimasi awal. Kita masih harus berkonsultasi dengan tim ahli geologi,” katanya.

Djoko Kirmanto menambahkan, pihaknya akan merumuskan penerapan teknik ini lebih lanjut dalam waktu satu minggu.

Hadir dalam kesempatan itu, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Mensos Bachtiar Chamzah.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Iklan

6 Responses to Teknik “Counter Weight” Dicoba Untuk Hentikan Lumpur Lapind

  1. Janatan berkata:

    sorry, 4) mengurangi jumlah pipa berati mengurangi beban konstruksi terhadap area sekitar semburan.

  2. Janatan berkata:

    Kalaupun teknik counter weight dari Okumura ini mau dicoba yaitu dengan memasang cerobong/pipa2 baja setinggi 40 meter yang melingkari lubang semburan dengan diameter 120 meter dan perkiraan blaya 600Milyard, bagaimana kalau tidak full pipa baja semua, tapi setiap 1/2 meter terdapat pipa baja 6″+kisi2 baja 20cm + pipa baja 6″ (kalau full pipa baja dalam 1m berisi 7 X pipa baja 6″) tujuannya.
    1. menghemat biaya dari 7 bh pipa 6″ per M dikurangi menjadi 4 bh pipa 6″ per M
    2. Lumpur akan disaring sehingga yang keluar dari kisi2 baja hanya airnya sedangkan padatannya akan tertahan didalam pagar baja.
    3. kalau sumur baja hanya berisi padatan saja maka akan lebih berat dan lebih efektip untuk menekan semburan sesuai dengan maksud teknik counter weight tsb.

  3. Tony berkata:

    Yang perlu diingat disini, bahwa lumpur di Sisoarjo menciptakan amblegan seperti ring dan makin lama makin melebar. Jadi kalau diameter lubang ditutup dan semburan berhenyi secara perlahan tapi pasti akan mencari jalan keluar mengikuti amblegan yang seperti ring tersebut. Ini perlu juga diperhitungkan. Malah jangan-jangan lumpur yang menutup akan menimbulkan gaya gravitasi sehingga amblegannya semakin cepat.

  4. Rovicky berkata:

    ini pernah kutulis disini :

  5. ompapang berkata:

    yang perlu mendapat perhatian adalah hasil penyelidikan tanah di Porong apakah sama dengan atau mirip dengan di Filipina, kalau dari hasil penyelidikan mekanika tanah dan geo tekniknya mendukung tentu akan menghasilkan seperti apa yang diharapkan, soalnya berapa ton berat konstruksi double double dam nanti yang akan dibuat akan yang menentukan berhasil tidaknya proyek ini mencapai sasaran, mengingat bumi Porong berupa delta dibentuk dari endapan dari muara sungai Brantas.
    Btw, menurut bayangan saya konstruksi double dam kira -kira mirip Pon susun Syahraz tingkat dua, hanya beda bahan. Kalau ternyata benar, saya angkat topi yang setinggi-tingginya kepada pak Syahraz, alumni UNDIP Semarang yang ternyata hasil pemikirannya secara prinsip tidak kalah dengan orang Jepang. Dan saya yang sudah tua merasa bangga mempunyai kenalan Pak Syahraz yang masih muda belia dalam blog ini.

  6. aek berkata:

    wah … ini udah bagus. ahli dari jepang udah ada pengalaman di philipina. mereka yang telah berjaya melakukannya … ini harus di cari, porong bukan tempat uji coba. satu peribahasa melayu. RINGAN MATA MEMANDANG, BERAT LAGI BAHU MEMIKUL. moga sukses. aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: