Tinggal 40 Warga Bertahan Mogok Makan

Minggu, 13 Mei 2007 Lumpur Panas
Tinggal 40 Warga Bertahan Mogok Makan
Sidoarjo, Kompas – Peserta mogok makan di pengungsian Pasar Baru Porong, sebagai protes terhadap proses penanganan korban lumpur panas di Sidoarjo, hari Sabtu (12/5) menyusut dari 200 orang menjadi tinggal 40 orang. Mereka adalah warga Desa Renokenongo.

Anak-anak dan ibu menyusui tak lagi ikut mogok makan menyusul adanya imbauan agar mereka mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi kesehatan anak.

“Saya menyuruh istri berhenti mogok makan karena khawatir terjadi apa-apa. Biar perjuangan ini dilakukan para suami saja,” kata Sakri (53), salah seorang warga yang mogok makan. Meski demikian, masih ada sejumlah perempuan tua yang mogok makan. Mereka tampak lemas dan hanya berbaring di pengungsian.

Peserta mogok makan yang tampak mulai kepayahan memasuki hari ketiga, kemarin, mendapat kejutan yang melegakan ketika dikunjungi tiga dokter dari Surabaya untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka dan memberi obat.

“Obat ini akan saya minum ketika badan sudah tak kuat lagi. Namun, saya tak akan menyerah begitu saja,” tutur Mondro (65). Ayah lima anak ini menyatakan tetap mogok makan hingga tuntutan uang untuk mengelola makanan sendiri dipenuhi Lapindo Brantas Inc. “Sebenarnya kami berharap perhatian dari bupati atau lurah, tetapi mereka tak kunjung datang,” ujar Mondro.

Pengelola Diana Catering, yang selama ini mengurusi makanan para pengungsi, tetap menyiapkan makanan di dapur umum.

“Saya akan tetap memenuhi kebutuhan warga yang tidak mogok makan. Apalagi kami terikat kontrak dengan Lapindo,” tutur koordinator dapur umum di Pasar Baru Porong, Iman Karsono.

Dia membantah tuduhan warga bahwa bahan makanan yang disediakan tidak higienis. “Warga bisa lihat sendiri persediaan bahan makanan kami di dapur umum baru semua,” tutur Iman.

Bendungan baja mustahil

Sementara itu, Ketua Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Prof Indrasurya B Mochtar menilai teknologi penghambat dan pengendali semburan lumpur panas dengan bendungan baja sebagai sesuatu yang mustahil. Pasalnya, volume semburan lumpur mencapai sekitar 150.000 meter kubik per hari dan lebih dari separuhnya berupa kerikil.

Menurut Indrasurya, kalau radius bendungan baja itu 100 meter atau luas bendungan sekitar 30.000 meter persegi, maka setiap hari lumpur akan memenuhi lima meter dari bendungan itu. Itu artinya, bendungan yang direncanakan setinggi 40 meter itu akan penuh dalam delapan hari.

Menurut Indrasurya, langkah yang mendesak adalah pemerintah harus menetapkan sejumlah wilayah sebagai daerah bencana, membebaskan lahan, dan membuat tanggul. (INA/RIZ)

Iklan

5 Responses to Tinggal 40 Warga Bertahan Mogok Makan

  1. usil berkata:

    Betul sekali omPapang! Yang dihadapi ini kan swasta yang bisa jadi
    dimensi bisnisnya lebih kencang, ketimbang hati nurani. Kalo sudah
    begitu, maka pendemo harus “smart”. Masih jauh lebih efektip jika
    mereka demo ke Jakarta dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan cara
    ini, suka tidak suka, pemerintah “dipaksa” ikut campur.

  2. Dedi Ganedi berkata:

    Usil, Ompapang, jika pemogok makan meninggal satu persatu, masyarakat akan menilai sendiri seperti apa hati nurani para pejabat terkait.

    Seperti kata Ompapang, berpotensi membangkitkan simpati dan perjuangan massa yang lebih besar yang merendahkan dan menekan pejabat yang berhubungan.

    Namun, dalam kasus lumpur Lapindo ini kita bersyukur ada beberapa pejabat yang peduli terhadap penderitaan para pemogok makan.

  3. ompapang berkata:

    Pak Usil, belajar dari sejarah, untuk mencapai sesuatu yang diperjuangkan harus diDRAMATISIR sedemikian hingga kelihatan ada korban yang harus dibela atau untuk menciptakan musuh bersama, contoh misal untuk membangkitkan nasionalisme jaman revolusi, kita buat berita pembunuhan keji oleh Raymond Westerling terhadap rakyat Sulawesi Selatan sampai jumlah 40.000 orang, terus untuk menurunkan Presiden Sukarno, harus ada korban Arif Rahman Hakim di Jakarta dan Aris Munandar & Margono di Jogja,kemudian untuk menurunkan Presiden Suharto harus ada korban mahasiswa Universitas Tri Sakti agar timbul kemarahan rakyat Indonesia terhadap regim yang berkuasa. Saya menilai bahwa MOGOK MAKAN yang dilakukan adalah bentuk DRAMATISASI perjuangan (oleh PENGGERAKNYA) agar mendapat simpati dari banyak pihak, namun sebenarnya tidak mengarah kesasaran justru akan melemahkan perjuangan itu sendiri seperti pendapat pak Dedi dan pak Usil . Semacam bumerang gitu, iya to Pak ?

  4. usil berkata:

    Tepat sekali pak Dedi. Bagaimana mau berjuang menuntut
    keadilan, kalau phisik tidak menunjang (sakit, lapar, lemah dll).
    Ini justru hanya mengenakkan pihak Lapindo saja, tanpa
    ngapa2in demonstran udah “mati” sendiri.

  5. Dedi Ganedi berkata:

    Mogok makan tidak selalu tepat untuk dijadikan cara menuntut sesuatu atau berdemonstrasi. Mogok makan hanya akan efektif jika para pejabat yang menjadi sasaran tuntutan bukan merupakan lawan, melainkan kelompok yang dianggap sebagai sahabat atau memiliki rasa keluargaan dan memiliki nurani rasa kasih sayang.

    Jika seorang anak mogok makan menuntut dibelikan sepeda motor kepada orang tuanya, tuntutannya akan sangat diperhatikan walaupun belum tentu diberi karena menyangkut kemampuan orang tua, misalnya.

    Namun, jika tentara sekutu mogok makan agar Hitler tidak menyerang, tuntutan ini malah menggembirakan Hitler karena tidak perlu menghabiskan energi dan peluru untuk membunuh musuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: