Kakek Sukaji, Peserta Mogok Makan yang Kolaps karena Stres

RADAR SIDOARJO      Senin, 14 Mei 2007
Saat Mengigau pun, Minta Rumah Segera Dibayar
Gara-gara mogok makan dan stres karena rumah tidak kunjung dibayar, pengungsi asal Desa Renokenongo, Sukaji, 75, kolaps. Keluarganya histeris, takut orang tua itu bakal meninggal.

FATHUR ROZI, Sidoarjo

AKSI mogok makan warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, diwarnai peristiwa tragis sekitar pukul 13.15 kemarin. Tidak hanya 44 peserta mogok makan yang tersentak. Ratusan di antara 2.800 jiwa pengungsi di penampungan Pasar Porong pun geger. Seorang demonstran pemogok makan bernama Sukaji tiba-tiba kolaps. Kakek yang telah dikaruniai lima anak dan sebelas cucu itu pingsan.

Beberapa pemogok makan lain berusaha menyadarkan tetangga mereka. Namun, Sukaji tidak juga siuman. Ribut-ribut itu disusul teriakan minta tolong. Beberapa warga menggotong tubuh kurus Sukaji ke salah satu los pasar. Hanya mengenakan sarung dan baju takwa, kakek yang nyaris seluruh rambutnya memutih itu terbaring lemas.

“Pak, sadar. Ayo bangun,” kata Rawat, 70, istri Sukaji. Namun, mata kakek warga RT 02, RW 01, Desa Renokenongo, itu belum juga terbuka. Wajahnya pucat. Kedua tangan dan kaki yang dibalut kulit keriput itu pun lemas. Rawat panik. Dia segera memanggil anak-anak, cucu, dan famili lain ke los. Tak lama kemudian, mereka mengitari orang tua tersebut.

Sekitar 15 menit, mereka mengguncang-guncang tubuh Sukaji agar segera siuman. Ada yang mengoleskan minyak kayu putih ke kening dan leher. Ada pula yang menempelkan botol berisi air hangat di perut. “Mbah, bangun. Mbah, nyebut ya Mbah,” ujar anak-anak Sukaji dan Rawat sambil menangis.

Sayang, Sukaji belum siuman juga. Keluarganya pun kian histeris. Mereka mulai mendekatkan bibir ke telinga si kakek. “Laa ilaaha il- Allah, Muhammad Rasulullah.” Kalimat tayyibah itu berkali-kali terdengar dengan iringan isak tangis. Tampak sekali keluarga Sukaji sangat takut kehilangan.

Selama sekitar 30 menit, mereka bingung. Di tengah suasana panik, ada pengungsi yang menyodorkan segelas susu putih. Susu itu lantas dipaksa disuapkan ke dalam mulut si kakek dengan sendok. Hingga beberapa sendok tertelan, bibir Sukaji mulai bergerak. Kemudian tiba-tiba dia berteriak beberapa kali dengan nada marah, “Haaaaaah.”

Menurut Rawat, akhir-akhir ini Sukaji memang sering marah. Dia selalu memikirkan rumah mereka yang telah terkubur lumpur. Setelah salat subuh kemarin, Rawat mengeluh. Dia mengaku tidak tahu seharian kemarin suaminya makan atau tidak. Beberapa peserta mogok makan mengatakan ada yang tidak kuat, lalu makan sedikit, kemudian mogok makan lagi. Begitu tersadar, Sukaji pun terus disuapi susu campur roti yang dilumatkan.

Yang paling dicemaskan keluarga Sukaji ialah kondisi psikisnya yang sangat tertekan. Beberapa kali Sukaji tiba-tiba terbangun dari tidur malam sambil mengucapkan masalah pembayaran ganti rugi ini. Selain jatah makan diganti uang, keluarga Sukaji juga menuntut ganti rugi rumah dan tanah segera dibayar. “Tirose badhe mogok makan ngantos mati, nek mboten dibayar (kata Bapak, mau mogok makan sampai mati kalau rumah yang tenggelam tidak dibayar,” tutur Rawat. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: