Masyarakat di Wilayah Amblesan Harus Waspada

Senin, 14 Mei 2007Lumpur Panas
Masyarakat di Wilayah Amblesan Harus Waspada
Sidoarjo, Kompas – Masyarakat yang berada di wilayah penurunan tanah akibat semburan lumpur panas Lapindo harus waspada karena tanggul sungai dapat runtuh.

Penurunan tanah terdeteksi di titik terjauh, di sekitar pintu Jalan Tol Gempol atau 3,7 kilometer sebelah selatan pusat semburan, 4-5 sentimeter per bulan. Mendekati pusat semburan, laju penurunan membesar, 1,8-3,8 sentimeter per hari. Sebagai perbandingan, penurunan tanah di Jakarta 3 sentimeter per tahun.

“Masyarakat yang tinggal di radius amblesan harus waspada dan memerhatikan perubahan di lingkungannya karena penurunan tanah bisa bergerak cepat seperti peristiwa meledaknya pipa gas Pertamina, 22 November 2006,” kata Kepala Unit Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Amien Widodo, Minggu (13/5).

Wilayah yang tanahnya turun berada dalam radius lebih dari 3 kilometer ke utara dan selatan dari pusat semburan dan dalam radius 2,5 kilometer sampai 3 kilometer ke barat dan timur dari pusat semburan.

Penurunan tanah terlihat dari retakan di permukaan tanah memanjang yang dapat membuat lantai dan dinding rumah retak, saluran air berbalik arah, terjadi genangan air di tempat yang biasanya tidak pernah tergenang, dan muncul rawa baru sebagai dampak keluarnya air tanah.

Jika sudah menemukan tanda-tanda ini, warga harus melaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo atau Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPPLS). Pasalnya, penurunan tanah dapat membuat bangunan runtuh dan retakan yang ada di permukaan tanah dapat mengeluarkan gas.

Dalam konteks unjuk protes atas luapan lumpur Lapindo, sejumlah warga korban lumpur tetap mogok makan. Bahkan, mereka merantai kaki sebagai bentuk keterbelengguan mereka karena aspirasi dan keinginan mereka tidak dipenuhi.

Satu dari 40 orang yang mogok makan pingsan pada Minggu siang sehingga yang mogok makan sampai kemarin 39 orang. Belum ada pejabat dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan BPPLS yang menemui mereka. Salah seorang warga yang mogok makan, Purwanto, mengatakan akan tetap mogok makan sampai tuntutan warga mengenai jatah makan diganti uang dipenuhi.

Di tempat terpisah, Ketua Tim Supervisi Monitoring dan Evaluasi Bagus Endar Bachtiar Nurhandoko menyatakan, pemasukan bola-bola beton lumpur Lapindo belum selesai karena masih banyak hal yang harus dilakukan. Namun, mereka mengklaim, sejak menggunakan metode bola beton, ada beberapa perubahan positif yang signifikan di sekitar semburan lumpur.

Menurut Bagus, hingga kini dari rencana awal 2.000 bola beton, baru 398 bola beton yang sudah dimasukkan ke pusat semburan. Hasil itu sulit terlihat karena baru 30-40 persen. Hasilnya akan dilihat jika bola beton yang sudah dimasukkan sebanyak 1.000 buah. “Titik aman ditargetkan sebanyak 2.000 bola beton. Bila hal itu kurang berhasil, kami akan memasang jaring laba-laba di kedalaman sekitar 1.200 meter untuk mencegah bola beton lepas,” ujarnya. (CHE/APA)

Iklan

14 Responses to Masyarakat di Wilayah Amblesan Harus Waspada

  1. mang Ipin berkata:

    Met pagi OmPapang,tul and setuju kata Om,paling2 kembali kepada lirik nyanyian
    dari Ebiet lagi ya Om . . . .banyak sekali usulan/saran/
    tulisan2 yang bersifat ilmiah n non ilmiah apa team BPLS ada yang ngebaca nggak ya Om????????abdi ada usulan bagaimana kalo dibuat dompet solidaritas baik melalui surat kabar/even/PMI/Angkasa Pura/terminal/stasiun
    KA, etc etc, secara nasional dan hasilnya nanti disumbangkan kepada saudara2 kita
    yang menjadi korban LuSI,karena logikanya dimanapun ada daerah yang mengalami
    bencana alam maka pemerintah ya turun
    tangan ya Om. ojo meneng ae seperti yang dialami masyarakat Porong,memang sich
    tanggung jawab penuh untuk seluruh kompensasi ada ditangan LBI,namun apakah nge-
    bantu untuk penderitaan saudara2 kita tsb gak ada yang terketuk hatinya??????????
    yo embuh!!!!!!!!!!!

  2. PapaTITA berkata:

    Dikutip dari berita diatas:

    Penurunan tanah terdeteksi di titik terjauh, di sekitar pintu Jalan Tol Gempol atau 3,7 kilometer sebelah selatan pusat semburan, 4-5 sentimeter per bulan. Mendekati pusat semburan, laju penurunan membesar, 1,8-3,8 sentimeter per hari. Sebagai perbandingan, penurunan tanah di Jakarta 3 sentimeter per tahun.

    Saya lihat dg Google Earth jarak terjauh antara pintu tol gempol dengan pusat semburan tidak lebih dari 1.5km, berita-berita yang simpang siur, dibesar-besarkan tanpa data akurat menjadi cukup meresahkan masyarakat.

    Salam

  3. ompapang berkata:

    Mang Ipin, kalau umat yang sedang dalam azab disuruh introspeksi, paling-paling hanya mengulang lirik lagunya Ebiet G Ade, dan mereka bertanya kepada RUMPUT YANG BERGOYANG !”Mungkin Tuhan mulai bosan . . ., mengapa ditanahku terjadi bencana…….

  4. mang Ipin berkata:

    Suanget menarik diskusi dari Ompapang n Mas.Arsolim,seringkali sebagai manusia
    yang sangat terbatas kecuali keserakahan yang tak terbatas ,maka mencari kambing hitam untuk terjadinya suatu musibah/ben
    cana alam/kecelakaan/dsbnya adalah suatu hal yang sangat umum sekali,namun jangan lupa akan hal terjadinya hukuman dari YMK seperti yang ada di Bible or Al Qur’an seperti kisah penghukuman pada waktu zaman Nabi Nuh, or Nabi Lut semuanya jelas dikisahkan karena ulah perbuatan dan dosa2 manusia sehingga diturunkan penghukuman tsb ,namun juga ada keampunan
    bagi manusia bila mau bertobat seperti kisah Nabi Yunus ,terpulang kembali pernyata-
    an Ompapang yang memvonis bahwa semua itu akibat keserakahan wong Londo mohon maaf ya Ompapang saya pribadi kurang sependapat,moso orang lain yang
    serakah n menikmati hasilnya lantas bangsaku Indonesia yang menjadi tumbalnya untuk menerima hukum akibat dan perbuatan!!! dimana letak Maha Adil dan Pengampun dari YME, saya setuju sekali yang Ompapang katakan bahwa kalo Raja
    masih bisa MURKA karena tetap dia itu manungsa juga
    Jadi sebaiknya yang perlu intropeksi adalah umat yang sedang dalam azab tsb,sekali
    lagi mohon dihampura ya Ompapang atas sedikit masukan abdi.

  5. Arsolim berkata:

    Ok ompapang saya sangat menghargai pendapat om, bagimanapun kita harus introspeksi, mengapa musibah2 sedahsyat dan beruntun spt ini termasuk krisis ekonomi cuma terjadi di negara kita tercinta dan tidak dinegara2 lain? kita kan tidak bisa menyalahkan orang / bangsa lain apalagi pencipta kita, yang paling masuk akal ya menyalahkan diri sendiri dulu, itu maksud saya.

  6. ompapang berkata:

    Pak Arsolim, kita boleh membuat pertanyaan tentang bencana yang beruntun dinegara kita.Tetapi pertanyaan itu jangan dikaitkan oleh dosa para korban bencana ybs. Pertanyaannya sebaiknya adalah mencari tahu siapa yang berbuat untuk menentukan siapa yang harus bertanggung jawab. Dalam kasus Lapindo jelas kalau Lapindo tidak ngebor, walau ada gempa diPorong sebesar gempa di Yogya, kemungkinan kecil terjadi semburan lumpur. Jadi Lusi lebih diakibatkan oleh pengeboran. Dan bencana yang menimpa para korban adalah akibat perbuatan Lapindo, bukan karena para korban lupa kepada Tuhannya sehingga Tuhan murka kepada mereka. Jadi kalau mau cari siapa penyebabnya dan siapa yang harus bertanggung jawab :itulah Lapindo,bukan TUHAN (yang dianggap murka). TUHAN MAHA BAIK, jadi Dia akan menghukum yang berbuat salah, bukan menghukum yang tidak berbuat kesalahan (para korban Lusi). Dalam kasus bencana LUSI, tidak ada campur tangan Tuhan. Jadi menganggap Tuhan murka dapat diartikan mengKAMBING HITAMkan Tuhan.
    Demikian pula untuk kasus-kasus bencana alam yang lain, para korban adalah tidak pantas kalau dikatakan menerima kutukan Tuhan atau kena murka Tuhan. Tuhan maha baik tidak pernah mengutuk umat ciptaannya, juga tidak pernah murka, karena murka adalah sinonim dari marah, dan marah termasuk kategori nafsu yang menurut perintahNYA harus dihindari oleh manusia. Justru yang meninggal dalam bencana alam adalah mereka yang dicintai Tuhan dan dipanggil lebih dulu untuk menghadapNya,sedang mereka yang masih hidup atau tak terkena bencana alam adalah yang masih diberi kesempatan memperbaiki nilai untuk masuk surga.
    Jadi tidak logis kalau TUHAN sedang MARAH atau MURKA dalam kasus bencana LUSI atau bencana lainnya di Indonesia.
    Btw,kalau RAJA memang bisa MURKA, sebab RAJA juga MANUSIA.

  7. Arsolim berkata:

    Ya om, tapi mungkin perlu dibedakan, ada yang oleh karena sebab-akibat kita menderita misalnya penebangan hutan (illegal lodging) menyebabkan longsor, banjir, terus pembangunan tidak terkendali di Puncak, buang sampah seenaknya menyebabkan banjir besar di Jakarta, Kesalahan prosedur dlm pengeboranan Lapindo ini semua krn ulah manusia yang ceroboh, tapi ada pula yang disebabkan oleh bencana alam murni contoh Tsunami Aceh, Nias, Pengandaran, Gempa bumi di Yogyakarta.

    Pertanyaan kebanyakan orang adalah mengapa semua ini terjadi dinegara kita ? apakah ada yang salah dengan bangsa ini, masakan kita mau menyalahkan bangsa lain atas semua musibah ini ? akhirnya kepada siapa kita mau protes bahwa mereka yang kita anggap tidak berdosa tsb, tidak pantas menerima semua ini.

  8. ompapang berkata:

    maksud saya Pak Arsolim,Bangsa kita menderita bukan karena perbuatan bangsa kita melainkan perbuatan bangsa lain.Bangsa lain yang serakah, bukan bangsa Indonesia.Bangsa Indonesia hanya sebagai obyek penderita,bukan subyek (pelaku) yang harus menanggung akibat perbuatannya.
    Pernyataan pak Simmon dan Pak Arsolim tidak tepat untuk para korban LUSI.Adapun korban lumpur Sidoarjo atau korban gempa yogya serta korban banjir Jakarta dan korban-korban bencana atau kecelakaan yang lain TIDAKLAH PANTAS mereka menderita,karena mereka (para korban) umumnya kaum yang tidak berDOSA, dan mungkin mereka selama hidup banyak yang belum pernah melakukan perbuatan sebagai MANUSIA SERAKAH. Mengapa mereka yang harus menanggung akibatnya? Ada sesuatu yang tidak adil , bila mereka harus menanggung sengsara karena perbuatan serakah atau perbuatan buruk yang tidak pernah mereka lakukan seperti statemen Bapak2 tersebut.

  9. Arsolim berkata:

    Om, Kalau yang serakah bangsa lain terus yang dihukum negara & bangsa kita, ini tidak adil om, menurut saya kalaupun kita dihukum ini karena ulah kita sendiri, saran saya agar kita tidak ditimpakan tulah/malapetaka yang terus bertubi-tubi.
    Jangan sampe ada lagi pembakaran rumah-rumah ibadah dari agama manapun dan apapun alasannya, sebab ditempat itu yang kita sembah adalah Allah YME, dari kejadian2 masa lalu sekarang ini baru dirasakan akibatnya oleh bangsa ini.

  10. ompapang berkata:

    Tapi manusia yang serakah itu bukan orang Jawa atau orang Indonesia lho pak Simmon, mereka yang serakah adalah orang-orang Amerika teman-teman pak Garfungkel. Akibat ulah mereka, yang hilang tidak hanya pulau Jawa, tapi seluruh dunia, dimulai Vietnam,Afganistan,Irak,sebentar lagi Iran kemudian Korea. Indonesia belakangan.

  11. Simmon berkata:

    kita lihat nanti someday JAKARTA akan amblas di telan bumi…and pulau jawa tidak akan ada lagi di peta…lihat saja nanti…itu semua semata-mata karena ulah manusia yang serakah akan harta…yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar….Allh akan murka terhadap kita semua….

  12. agorsiloku berkata:

    Ambles radius 3-4 km di sekitar pusat semburan. Kalau benar masih lama semburan akan terjadi dengan volume sebesar 100-150 ribu meter kubik per hari. Pertanyaannya, setelah 3 atau 31 tahun (seperti dugaan), seberapa besar dan seberapa luas yang akan amblas?

  13. hontoh berkata:

    Udah bukti bola beton teori ngawur, bodoh dan malah lumpur tambah deras, masih keukeuh ada perubahan positip dengan 398 yang sudah masuk. Kalau 2000 yang keluar bisa mirip air mancur danambles semua.

  14. cokrojiyo berkata:

    Krisis politik yang berkepanjangan, oleh pujangga Ronggowarsito dengan sebutan zaman Edan, hal ini menurut beliau ditandai dengan kali ilang kedunge, pasar ilang kumandhangane hingga terjadi gara-gara kang magiri-giri suasana yang kacau balau.
    Juga disebutkan dengan tanda-tanda bumi gonjang-ganjing, gunung meletus, banjir bandang dan aneka musibah yang silih berganti.
    Tapi beliau memberikan suatu wejangan Begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspodo dan becik ketitik ala ketoro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: