Pemogok Makan Belenggu Kaki

RADAR SIDOARJO      Senin, 14 Mei 2007
Aksi Warga Reno untuk Mendapat Uang Makan
SIDOARJO – Mogok makan warga korban lumpur yang tinggal di pengungsian Pasar Porong Baru (PPB) berlanjut hingga kemarin. Bahkan, warga nekat merantai kaki sebagai bentuk protes atas hakhak mereka yang terbelenggu. Jika hingga hari ini belum ada respons positif dari Pemkab Sidoarjo dan Lapindo, mereka akan terus mogok.

Aksi kemarin diikuti 44 warga. Enam orang di antaranya ibu-ibu yang telah berusia lanjut. Jumlah itu memang menurun karena Jumat lalu peserta mogok makan mencapai 200 orang.

Mereka yang sudah mogok makan tiga hari tampak lemas. Tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan warga. Sebagian besar hanya tidurtiduran dan mengobrol dengan rekannya. Seorang warga bahkan sempat pingsan kemarin. Sehari sebelumnya (Sabtu), dua warga yang mogok makan juga pingsan.

Menurut Pitanto, wakil ketua Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak), mogok makan tersebut akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka disetujui.

Warga yang tergabung dalam Pagar Rekontrak menuntut uang makan Rp 15 ribu per hari diberikan tunai, bukan berupa nasi bungkus. Tetapi, nominal tersebut dapat dibicarakan lagi. Yang penting respons Pemkab dan Lapindo.

“Kalaupun nggak diberi Rp 15 ribu, ya nggak apa-apa, asalkan tuntutan kami diperhatikan,” tutur Fatkur, salah seorang warga yang mogok makan. Warga Renokenongo yang bertahan di pengungsian tidak mau lagi menerima nasi bungkus dari dapur umum Dinsos sejak Sabtu pekan lalu. Mereka mengeluhkan nasi yang basi dan lauk-pauk yang tidak layak.

Warga lalu mendirikan dapur umum sendiri. Tetapi, sejak Jumat dapur umum itu tidak difungsikan. “Pokoknya, tuntutan uang makan jadi opsi kami,” terang Fatkur.

Pertimbangan lain, warga Renokenongo menuntut uang makan tersebut untuk membeli susu bayi dan anak-anak. Menurut Pitanto, jika uang makan diberikan, selain warga bisa mengolah makanan menurut selera, uangnya dapat disisihkan untuk membeli susu bagi anaknya. “Selama ini, susu bagi anak-anak tidak ada jatah. Harapannya mereka bisa membeli susu dari uang makan yang disisihkan,” terang Pitanto. Warga juga tidak menggubris seruan Bupati Win Hendrarso agar menghentikan mogok makan. Menurut warga, bupati belum memahami maksud tuntutan mereka. “Kami minta uang makan, tidak minta dikontrakkan. Tapi, mengapa setiap kali ketemu, bupati selalu menyarankan agar kami menerima kontrak,” jelasnya.

Warga khawatir nasib mereka makin terkatung-katung seandainya mengontrak rumah. “Banyak warga yang mengontrak, tapi kemudian tidak bisa makan karena uang jadup habis. Mereka ada yang sampai jadi pengemis,” terang mantan Lurah Renokenongo itu.

Selain uang makan, warga Renokenongo yang menolak kontrak menuntut pembayaran tunai 100 persen. Menurut mereka, uang muka 20 persen tak cukup untuk membeli rumah dan tanah untuk tinggal. Terlebih lagi, mereka membutuhkan uang tersebut untuk modal usaha. “Seandainya kami mengontrak dan dapat 20 persen saja, uang itu segera habis. Ujung-ujungnya kami harus bersabar menunggu 80 persen sisanya. Itu pun turunnya kapan tidak bisa dipastikan,” terang Pitanto. (nun)

Iklan

2 Responses to Pemogok Makan Belenggu Kaki

  1. ITMan berkata:

    Utamakan balita dan anak-anak dooonk… merekakan calon penerus bangsa ini

  2. syaifudin berkata:

    Kepada Pihak Depsos kiranya dapat menjelaskan kepada warga, untuk total belanja makan kira-kira habis berapa? dan jika dibagi dengan jumlah warga ketemu nda nilai Rp. 15.000, tapi depsos harus transparan. Kalau benar saya kira warga bisa memahami kemudian pelaksanaan teknis mungkin perlu dirubah dibagi dalam beberapa kelompok masak sehingga nasi tidak terlalu lama dalam bungkusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: