Diberi Mentahan, Mogok Berakhir

RADAR SIDOARJO      Rabu, 16 Mei 2007
SIDOARJO – Setelah empat hari berlangsung, kemarin aksi mogok makan pengungsi Pasar Porong Baru (PPB) dari Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, berakhir. Mereka akan diberi bahan mentah untuk memasak sendiri selama tinggal di penampungan.

Meski menerima keputusan diberi bahan mentah, warga tampaknya masih kecewa. Sebab, mereka mengakhiri mogok makan dengan banyak sindiran. Sekitar 43 orang yang masih mogok makan mengakhirinya dengan menggelar syukuran satire. Acara tersebut dimulai sekitar pukul 8 pagi, dengan makan nasi kuning bersama-sama. “Kami bersyukur karena telah memiliki para pemimpin yang tak peduli lagi dengan kami,” sindir salah seorang perwakilan warga, Pitanto.

Menurut dia, aksi tersebut berlangsung berlarut-larut karena perhatian pemerintah sangat kurang. Tuntutan warga dalam aksi tersebut adalah agar jatah makan selama tinggal di pengungsian diganti uang. “Kami juga berdoa, semoga Allah mau membuka telinga mereka kembali,” tambahnya.

Selain sebagian warga mulai terlihat lemas, mereka bersedia mengakhiri aksi tersebut karena mendapat jaminan dari camat setempat bahwa nasib mereka sedang dibicarakan. Pembicaraan itu dilakukan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dan Satkorlak di Kantor BPLS, Gayungsari, Surabaya.

Menurut Kepala BPLS Sunarso, setelah melakukan pertemuan, BPLS dan Satkorlak sepakat memberikan jatah makan berupa bahan mentah kepada pengungsi. Bahan-bahan tersebut akan dimasak sendiri oleh pengungsi. Dia menyatakan hal itu merupakan pilihan jalan tengah antara tuntutan warga dan peraturan yang ada.

Sunarso menyebutkan, hingga saat ini aturan pemberian konsumsi untuk pengungsi tak boleh dalam bentuk uang, tapi makanan jadi. “Karena itu, semoga ini bisa diterima semua pihak, terutama para pengungsi,” katanya.

Warga Desa Renokenongo yang melakukan aksi mogok makan tersebut tetap bertahan di pengungsian karena tetap menolak dikontrakkan. Mereka menginginkan pembayaran ganti rugi rumah dan tanah mereka yang tenggelam dilakukan secara tunai 100 persen.

Saat disinggung soal itu, Sunarso hanya menyebut hal itu di luar kewenangannya sebagai kepala BPLS. Tapi, menurut dia, hal itu sulit terealisasi karena sudah tertuang dalam Perpres. “Sepertinya sulit. Saya juga belum tahu nanti penyelesaiannya seperti apa,” tambahnya.

Bagaimana tanggapan warga?
“Kami juga menerima pemberian bahan mentah itu karena warga dilibatkan dalam hal pemenuhan makanan. Karena itu, tak ada lagi menu nasi basi,” papar Sunarto, koordinator warga. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: