Nasib Balita Korban Lumpur yang Kurang Gizi di Pengungsian

RADAR SIDOARJO      Kamis, 17 Mei 2007
Susu Diganti Air Putih, Bubur Diganti Nasi Lele
Sebagian besar balita dari Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, yang mengungsi di Pasar Porong Baru (PPB) kekurangan gizi. Selama tinggal di penampungan, tak ada menu khusus untuk mereka. Harapan pun muncul saat konsumsi untuk para pengungsi ditangani sendiri.

Dian Wahyudi, Sidoarjo

ANDRI, balita berumur dua tahun, duduk bersila di samping Mujiati, ibunya. Di depan los PPB, tempat tinggalnya selama ini, tangan mungilnya itu terlihat beberapa kali memungut makanan dari bungkus makanan yang ada di depannya.

Meski tak terlalu lahap, menu nasi bungkus itu tetap dimakannya. Di wadah tersebut, hanya ada nasi putih dan potongan kecil ikan lele goreng. “Kami hampir setiap hari begini,” ungkap Mujiati, warga Renokenongo RT 13 RW 3. Anak keduanya yang seharusnya mendapatkan banyak asupan gizi dan nutrisi tersebut terpaksa harus ikut prihatin seperti yang dialami orang tuanya.

Untuk jatah makan selama ini, sebagian besar balita pengungsi menerima menu layaknya orang dewasa. Namun, kata Mujiati, anaknya masih sedikit beruntung dibandingkan beberapa balita lain. “Sesekali saya masih membelikan dia bubur atau susu,” ungkapnya.

Jika suaminya yang merupakan pekerja serabutan di Pasar Porong Lama mendapat rezeki lebih, uangnya digunakan membeli makanan dan minuman untuk Andri. “Tapi, tentu tak bisa setiap hari. Kan, harganya mahal,” ujar Mujiati, yang sudah tinggal di pengungsian selama empat bulan lebih.

Hal yang sama dialami, Satiti, 3, balita yang lain. Ibunya, Maslakhah, hampir tak pernah lagi memberinya susu. “Kalau dulu, dia saya beri susu botol. Sekarang saya ganti air putih saja. Mau bagaimana lagi, sudah tidak kuat beli susu,” ungkapnya.

Ibu tiga anak itu menyebut, dulu pernah ada makanan tambahan berupa bubur untuk balita. Tapi, kini tidak ada lagi. Ibu-ibu yang memiliki balita pun kesulitan memberikan makanan yang layak untuk anaknya. “Saya tak bisa beli. Bapaknya sudah tidak bekerja,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Deputi Bidang Sosial Sutjahjono Sutjipto berjanji lebih memperhatikan makanan tambahan untuk balita. Namun, hingga kemarin, makanan tambahan itu tak kunjung datang.

Harapan pun kini digantungkan pada model baru penanganan jatah makan pengungsi di PPB. Dengan ditangani sendiri, para pengungsi berharap dapat menentukan sendiri menu yang akan dimasak.

Menurut Bambang Muriantoyo, salah seorang perwakilan warga, pihaknya akan mengupayakan agar dapur umum bisa menyediakan makanan untuk balita. Tujuan awal demo seperti tempo hari adalah agar konsumsi pengungsi lebih layak. “Tentunya, para balita,” tambahnya.

Soal bagaimana cara agar kebutuhan makanan untuk balita dapat tercukupi, itu diserahkan sepenuhnya kepada ibu-ibu. Mereka akan dibebaskan memasak sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia.

Seperti diberitakan, warga pengungsi dari Renokenongo yang melakukan aksi mogok makan, akhirnya, menerima solusi jatah makan pengungsi yang dihasilkan dalam pertemuan antara BPLS dan Satkorlak beberapa waktu lalu. Hasilnya, warga akan terlibat langsung untuk memenuhi kebutuhan makan sekitar 3.000 pengungsi di sana. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: