15 Pengusaha Tolak Tawaran Minarak

RADAR SIDOARJO      Jumat, 18 Mei 2007
SIDOARJO – Pemberian ganti rugi kepada sembilan pengusaha membuat waswas puluhan pengusaha lain. Sebab, sebagian besar pengusaha menolak harga yang ditawarkan Minarak Lapindo Jaya.

Ketua Gabungan Pengusaha Korban Lumpur Lapindo (GPKLL) GPKLL Sugiarto Henry Ritonga mengatakan tak bisa mencegah kesembilan rekannya menerima uang muka ganti rugi. Namun, dia menegaskan, hingga kemarin, GPKLL belum bersepakat dengan Minarak. Para pengusaha juga akan menolak negosiasi B to B (business to business) seperti yang dilakukan Minarak kepada sembilan pengusaha itu jika tawaran tak rasional.

“Ganti rugi yang diberikan Lapindo lewat Minarak kepada sembilan rekan kami itu tidak rasional. Nilainya hanya sekitar 40 persen dari klaim semula,” jelas Ritonga, salah seorang manajer PT Catur Putra Surya.

“Sebagai contoh, pabrik sabun PT De Brima. Minarak cuma bersedia memberikan Rp 14 miliar buat ganti rugi. Padahal, pabrik itu baru saja mem-PHK masal karyawannya dan butuh dana sekitar Rp 4 miliar untuk uang pesangon,” beber Ritonga.

Karena itu, kata dia, 15 pengusaha/perusahaan anggota GPKLL yang tersisa masih bertahan untuk tidak menerima pembayaran uang muka ganti rugi tersebut. Kendati demikian, bukan berarti mereka akan tetap bertahan pada klaim yang diajukan semula.

Ritonga menuturkan, semula 24 pengusaha, termasuk yang sudah menerima pembayaran uang muka ganti rugi, mengajukan klaim yang total nilainya sekitar Rp 527,58 miliar. Masing-masing pengusaha mengajukan klaim Rp 1,7 miliar-Rp 103 miliar.

Klaim yang diajukan tersebut sudah meliputi ganti rugi tanah, bangunan, peralatan, material, dan tanggungan perbankan. Klaim ganti rugi tanah yang diajukan Rp 450 ribu-Rp 600 ribu per meter presegi. Untuk bangunan, mereka mengajukan klaim Rp 800 ribu-Rp 1 juta per per meter persegi.

Jika dibandingkan dengan klaim ganti rugi yang diajukan warga, nilai itu memang jauh lebih rendah. Warga mengajukan nilai ganti rugi Rp 1 juta/m2 untuk tanah pekarangan, Rp 1,5 juta/m2 untuk bangunan, dan Rp 120 ribu per meter persegi untuk tanah pertanian. Nilai yang diajukan warga itu sudah mendapatkan penetapan dari pemerintah.

“Itu artinya, klaim kami sebenarnya lebih rendah dibandingkan warga. Kalau Minarak mau menawar dengan nilai yang manusiawi, kami bisa menurunkan harga. Yang rasional, turunnya ya nggak lebih dari 30 persen lah,” ujar Ritonga.

Negosiasi dengan pihak Lapindo atau Minarak, kata Ritonga, sudah berkali-kali dilakukan. Terakhir, Komisi B DPRD Jatim memediasi negosiasi tersebut. Namun, bekali-kali pula upaya itu menemui jalan buntu. “Komisi B (DPRD Jatim) sudah angkat tangan dan menyerahkan ke BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo),” tutur Ritonga.

BPLS, imbuh dia, akan mengupayakan perundingan lebih lanjut minggu depan. “Kami berharap, Selasa atau Rabu minggu depan sudah ada hasil kesepakatan. Yang jelas, jangan sampai melebihi minggu depan. Sebab, minggu depan sudah tepat setahun musibah ini terjadi,” ujarnya.

Vice President Minarak Andi Darussalam Tabusalla menganggap wajar penolakan yang dilontarkan Ritonga itu. Menurut Andi, adalah hak dari masing-masing pengusaha korban lumpur Lapindo untuk menolak ganti rugi yang diberikan atau bernegosiasi secara B to B.

“Tapi, perlu dicatat, kami (Minarak, Red) sudah berhasil mencapai kesepakatan dengan sembilan pengusaha yang menjadi anggota GPKLL. Kalau itu tidak rasional, jelas tidak akan kami bayar,” kata Andi.

Lalu, kalau 15 pengusaha tetap bersikukuh dengan pendapat mereka? “Ya, silakan saja. Yang jelas, kami tidak akan membayar di luar kemampuan kami. Kalau mereka mau menempuh jalur hukum, juga boleh, silakan,” tegas Andi. (sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: