Cairkan 4 Warga, Minarak Diprotes

RADAR SIDOARJO      Minggu, 20 Mei 2007
Wiwid: Banyak Yang Belum Penuhi Syarat Notarial
SIDOARJO – PT Minarak Lapindo Jaya kembali mencairkan uang muka ganti rugi warga korban lumpur. Namun, yang kemarin dibayar PT Minarak hanya sebidang tanah sawah dan tiga bidang tanah pekarangan yang semuanya bersertifikat.

Sebidang tanah sawah itu milik Sunaryo, warga Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Porong. Tiga bidang tanah pekarangan milik Ismail, Sugiarti, dan Sutoyo, warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin.

Karena yang dibayar Minarak hanya empat warga, pencairan uang muka itu diprotes warga lain. Mereka kecewa. Warga mengaku tanahnya sudah bersertifikat dan berkas-berkasnya lengkap. Mereka juga menyatakan sudah memenuhi persyaratan untuk dapat menerima uang muka ganti rugi.

“Berkas-berkas tanah kami sudah lengkap. Syarat untuk menerima uang muka juga sudah kami penuhi. Tapi, yang dipanggil kok cuma empat orang,” protes A. M. Arif, warga RT 2 RW 1, Desa Kedungbendo, Kec Tanggulangin.

Arif menambahkan, dia menyerahkan dokumen-dokumen kepemilikan tanah sejak 2,5 bulan lalu. Namun, dokumen-dokumen tersebut dikembalikan karena belum disertai syarat-syarat pendukung. Dia lalu berupaya melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan. Syarat-syarat tersebut diserahkan kembali bersamaan dengan penyerahan kelengkapan persyaratan oleh Ismail, Sugiarti, dan Sutoyo.

Kemarin dia sengaja datang ke gedung eks BTPN Jl Sultan Agung, Sidoarjo, tempat pembayaran uang muka ganti rugi. Dia mendengar kabar Minarak akan merealisasikan lagi pembayaran uang muka. Namun, Arif hanya dapat gigit jari.

Namanya tidak disebut dalam daftar warga korban lumpur yang berhak menerima pembayaran uang muka ganti rugi. “Aneh, nama saya kok nggak disebut. Saya curiga, Minarak sengaja mengulur pembayaran,” gerutunya.

Ketua RT 2 RW 3, Desa Kedungbendo, Sudio, mengaku kaget setelah tahu hanya tiga warga Kedungbendo yang dinyatakan berhak menerima pembayaran uang muka ganti rugi. Sebab, setahu dia, warga Kedungbendo yang sudah melengkapi persyaratan hampir 100 orang.

“Kami memproses kelengkapan berkas mulai RT 1 sampai RT 6. Di RT 2, ada 97 sertifikat. Semuanya sudah lengkap. Tapi, mengapa yang dibayar Minarak kok cuma tiga orang?,” ujarnya.

Di bagian lain, Sunaryo, warga Kedungbendo, yang kemarin menerima uang muka juga mengaku heran. Dia memiliki tiga bidang sawah yang sudah bersertifikat, tapi hanya satu bidang sawah yang cair uang muka ganti ruginya, yaitu senilai Rp 27 juta. “Saya tidak tahu, mengapa kok cuma satu bidang sawah. Padahal, dua bidang lain sudah bersertifikat,” katanya.

Direktur Operasional Minarak Bambang Prasetyo Widodo menampik tudingan warga itu. Dia menyatakan, Minarak tidak mengulur-ulur pembayaran uang muka. Minarak, lanjut dia, tetap berpegang teguh pada Perpres 14 Tahun 2007.

“Untuk pembayaran ganti rugi itu, skemanya adalah jual-beli. Jadi, yang kami proses hanya tanah atau rumah yang dokumen-dokumennya dinyatakan sah oleh negara dan memenuhi syarat notarial. Yang tidak memenuhi kami kembalikan untuk diverifikasi ulang,” tegasnya.

Laki-laki yang akrab dipanggil Wiwid itu mengungkapkan bahwa banyak warga korban lumpur yang sudah memiliki dokumen kepemilikan yang sah atas tanah atau rumah, tapi belum dapat memenuhi syarat-syarat kelengkapan notarial.

“Banyak yang belum bisa menunjukkan surat nikah, KTP, atau kelengkapan yang lain,” ujarnya.(sat)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: