Mengeluh Gatal, Ngotot Bertahan

RADAR SIDOARJO Rabu, 23 Mei 2007
SIDOARJO – Akibat fasilitas air bersih yang minim, pengungsi Pasar Porong Baru (PPB) beberapa minggu terakhir ini terus mengeluh gatal-gatal. Meski demikian, sebagian besar di antara mereka tetap bertahan di penampungan sampai ganti rugi dibayarkan.

Sebagian besar pengungsi dari Desa Renokenongo yang mengeluh gatal-gatal itu menghuni kompleks los Q dan P. Hampir semua warga di sana pernah menderita penyakit kulit sejenis. Gejalanya hampir sama, yaitu kulit terasa sangat gatal dan perih.

Dalam beberapa hari, kulit yang awalnya hanya memerah itu terkelupas. Luka pun muncul disertai rasa gatal yang semakin hebat. “Hampir tiap malam saya tak bisa tidur,” kata Rukiyati, 55, warga Desa Renokenongo RT 3 RW 1.

Pengungsi di los Q2 itu merupakan salah seorang yang menderita penyakit kulit tersebut. Beberapa bagian tubuhnya memerah. Bahkan, leher bagian belakangnya terluka cukup lebar. “Akibat luka ini, saya jadi tak bisa menoleh,” katanya.

Menurut Rukiyati, keluhan yang dia rasakan seperti saat ini sebenarnya bukan yang pertama. Pada awal mengungsi, dia juga mengeluhkan hal yang sama. “Tapi sekarang lebih parah,” tandasnya.

Selain hampir di seluruh tubuh, luka yang ditimbulkan juga cukup besar. Panjangnya rata-rata sekitar 4 sentimeter. “Hampir semua pengungsi di sini mengalami hal serupa,” ungkapnya.

Hingga saat ini, warga pengungsi di dua los tersebut menggunakan fasilitas MCK dari sumber air sama, yaitu sumur bor di sisi paling selatan PPB. Sumur tersebut dialirkan ke sejumlah kamar mandi darurat yang ada di sana. Di situlah, ribuan pengungsi bergantian mandi.

Keluhan yang sama dialami Mustofa, warga Renokenongo RT 8 RW 2. Menurut dia, penyebabnya adalah air mandi yang mereka gunakan tak bersih. “Sebab, semua orang di sekitar sini mengeluhkan hal yang sama,” ujarnya.

Meski demikian, dia belum punya keinginan untuk pindah. “Terpaksa masih di sini, teman-teman yang lain juga masih bertahan,” sebutnya.

Dia mengatakan baru mau pindah jika ganti rugi atas tanah dan rumah mereka dibayar pihak Lapindo. “Semoga bisa lebih cepat. Sebab, kami sudah benar-benar tak tahan tinggal di sini,” ujarnya.

Secara terpisah, Koordinator Lapangan Satlak Pengungsian PPB Surya Nirwansyah mengatakan, pihaknya sudah berusaha memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pengungsi. “Tapi, ini mengurusi orang banyak. Hal-hal seperti itu sulit dihindari,” jelasnya.

Dr Hinu Tri Sulistijorini, salah seorang dokter dari Puskesmas Porong yang menangani RS Lapangan, membenarkan bahwa potensi penyebaran penyakit kulit di penampungan sangat besar.(dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: