Kantor Lapindo Didemo Lagi

Jumat, 25 Mei 2007 Republika
SIDOARJO — Letupan kekecewaan terus bermunculan. Kamis (26/5) siang, giliran sekitar 100 orang, datang ramai-ramai ke kantor PT Lapindo Brantas di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur.

Mereka adalah korban semburan lumpur panas berstatus mengontrak di Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I Kedungbendi, yang menuntut keadilan, yakni meminta jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 300 ribu per jiwa selama enam bulan.

Salah seorang pendemo, A Ramli, mengatakan, aksi ngeluruk itu dilakukan karena penanganan penghuni Perum TAS I, diskriminatif. Selama ini, mereka hanya menerima bantuan kontrak rumah sebesar Rp 5 juta untuk dua tahun. Sedangkan jadup nihil, tidak seperti yang diterima korban berstatus pemilik rumah.

”Yang namanya jadi korban, semestinya harus mendapat penanganan sama. Untuk itu, kami demo ke sini menuntut jadup, seperti yang diberikan kepada korban lainnya,” kata Ramli.

Perwakilan aksi massa itu, sempat diajak berunding dengan manajemen Lapindo. Namun, tetap saja tuntutan mereka tidak dikabulkan. ”Itu engga mungkin bisa dipenuhi. Karena kebijakan dari awal, untuk korban berstatus kontrak rumah hanya menerina bantuan kontrak rumah, tidak jadup,” kata Dyas Roychan, Humas PT Lapindo Brantas.

Proses verifikasi
Sementara itu, keabsahan hasil verifikasi lahan pethok D dan leter C untuk pembayaran ganti rugi akhirnya cukup diketahui atau ditandatangani oleh Bupati Sidoarjo. Ini merupakan penegasan kembali Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).

BPLS akan berupaya menekan PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) — sebagau juru bayar PT Lapindo Brantas Inc — agar bisa menerima model keabsahan seperti itu sesuai Perpres 14/2007. ”Hasil pembahasan BPLS akhirnya memutuskan keabsahan lanah pethok D dan leter C, cukup ditandatangani bupati, yang bersifat mengetahui saja. Dan blangko baru untuk verifikasi lahan pethok D maupun leter C itu kini sudah siap,” kata Pengarah Tim Verifikasi BPLS, Vino Rudy Muntiawan, kemarin.

Dengan putusan BPLS, dia berharap tidak akan terjadi lagi tarik ulur terkait keabsahan pethok D dan leter C. Dia berharap dalam minggu ini sudah banyak berita acara hasil verifikasi yang terselesaikan, selanjutnya diajukan ke PT Minarak Lapindo Jaya untuk dilakukan pembayaran ganti rugi.

Bagaimana jika PT MLJ tetap ingin ada syarat tanda tangan bupati yang bersifat mengesahkan atau tidak sekadar mengetahui, Vinno mengatakan, persoalan itu nantinya diurus pemerintah pusat. ”BPLS sendiri optimistis tidak akan ada kendala lagi. MLJ pasti menyetujui dengan model pengesahan seperti itu,” ujarnya.

Model verifikasi atas lahan pethok D dan leter C itu, sehari sebelumnya, Rabu (25/5) siang, disosialisasikan ke tim perwakilan warga empat desa. Joko Prastowo, perwakilan warga Kelurahan Siring, mengaku pesimististis kebijakan itu dapat disetuji MLJ.

”Namun kalau sampai minggu depan tidak ada perkembangan, kami tidak akan bisa mencegah lagi para korban lumpur melakukan aksi massa yang mungkin bisa lebih merugikan banyak pihak,” timpal Isdyanto, perwakilan warga Kedungbendo.

(tok )

Iklan

3 Responses to Kantor Lapindo Didemo Lagi

  1. ompapang berkata:

    lho pak Dedi baru tahu sekarang to? Saya pertama kali baca sudah ada kotak dipojok atas itu,”usaha mulia untuk menambah pasokan energi gas..dst” .Jadi menambah pasokan energi itu usaha mulia, soal kemudian karena keteledoran kemudian berakibat timbul bencana yang merugikan banyak pihak itu lain masalahnya.
    Dibawah kotak tersebut ada juga kotak-kotak lain, diantaranya adalah kotak IAGI net.Tetapi sekarang justru IAGI netnya tidak bisa kita “ikut” buka,selalu dijawab “MAIL ARCHIVE document not found” padahal aku suka ngintip pembicaraan para ahli geologi lewat milis itu, terutama dongengnya mang Okim(Miko) tentang batu mulia. Gimana pak Dhe kok “Re”: [iagi-net-I] nya jadi “Fa”r (jauh).

  2. Rovicky berkata:

    Dedi
    Yg dipojok itu sudah sejak awal sakjane. Mungkin ngga perhatian saja. Setahuku dan pikiran positipku menyatakan manusia awalnya berusaha dengan baik. tetapi karena keteledoran akhirnya menjadi bencana. Dan akhirnya bisa saja mangkir telah melakukan keteledoran.
    Menghemat pun usaha mulia, tetapi ketika kebangetan menjadi tidak mulia lagi kan ? Nah disini aku bilang teledor. Dan teledor harus menanggung akibatnya looh, bukan trus mengelak, kan ?
    hehehe … itu bukan kupluk je, itu cuman bayangan dari sinar lampu
    jadi kayak topi yahudi ya …. 🙂
    Coba tengok asliya di sini

  3. Dedi Andriansyah berkata:

    yang baru dari blogspot pak rovicky ini skrg ada kotak kecil dipojok kanan atas, yg menyatakan usaha mulia berubah jadi bencana. Klo usahany mulia pak, harusnya caranya mulia juga. masa pake acara hemat menghemat sampe ga pasang 65% casing, trus ga mau buang lumpur bor saat narik rangkaian mata bor gara2 lost…?
    sebenernya saya keberatan klo dibilang usaha mulia. tapi kan terserah pak rovicky, yg punya statement, apa ada tendensi tertentu. seingat saya dulu kotak itu ga ada. cuma saya mengingatkan, sebagai ahli bapak menjadi imam orang lain yang awam dibidang bapak. namanya imam amanah, menyampaikan kebenaran. kalo engga, semoga bapak selamat di dunia dan akhirat pak, apalagi tampang foto bapak pake kupluk begitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: