Pemerintah Ragu-Ragu Pilih Metode Sumbat Lumpur

Minggu, 27 Mei 2007,
JAKARTA – Sampai setahun bencana lumpur, pemerintah ternyata belum menemukan solusi konkret untuk menghentikan semburan. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, sampai saat ini belum ada metode yang dipilih pemerintah, termasuk metode cerobong baja yang diusulkan kontraktor Jepang.

“Belum ada persetujuan apa pun. Sekarang kami masih mengamati pergerakan tanah. Mungkin ada yang mengganggu,” ujar Purnomo usai menghadiri sidang promosi doktor ilmu lingkungan di kampus UI Salemba kemarin. Solusi untuk menghentikan aliran lumpur, ujar Purnomo, tak bisa dilakukan serta merta, tapi harus memperhatikan faktor risiko.

Menteri kelahiran Semarang tersebut menambahkan, pemerintah belum memutuskan apakah menerima tawaran teknologi meredam semburan lumpur panas yang diajukan Jepang. Meski dipertimbangkan sebagai alternatif solusi, metode counter weight itu secara detil masih dibahas di tataran Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BP2LS).

Dia menjelaskan, teknik itu bertujuan menghentikan lumpur di bawah permukaan tanah. Tepatnya di kedalaman 9.000 kaki. Di atas pusat semburan itu, permukaan dibuat bendungan berlapis dengan harapan lumpur keluar dan memberi tekanan balik ke bawah permukaan.

Selain soal geologis, yang harus diperhatikan adalah persiapan pendanaan yang diperkirakan menelan biaya Rp 600 miliar. “Setelah teknik selesai, baru ke persoalan ekonomi,” tambahnya.

Selain semburan lumpur, persoalan yang belum selesai adalah ganti rugi kepada warga yang tempat tinggalnya terendam lumpur. Menurut Purnomo, ganti rugi sepenuhnya tanggung jawab Lapindo Brantas. Pemerintah melalui BP2LS, tambahnya, sudah menekan pihak Lapindo agar proses ganti rugi infrastruktur segera diselesaikan.

Dia menambahkan, konsep ganti rugi adalah pemberian sewa rumah selama dua tahun. Jika ada dokumentasi kepemilikan lahan, akan diberikan ganti rugi 20 persen. Pelunasan 80 persen diberikan sebulan sebelum kontrak habis. “Sekarang lebih fleksibel, tak harus memakai sertifikat,” ujar pria kelahiran 1951 itu.

Namun, meski syarat dilonggarkan, masih banyak kesulitan yang dihadapi karena lokasi tempat tinggal tenggelam. “Verifikasi memerlukan waktu banyak,” tambahnya.

Sementara itu, memperingati satu tahun semburan lumpur Sidoarjo, warga yang menjadi korban berencana menggelar acara renungan di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, warga Perumahan Tanggulangin Sejahtera I (Perum TAS I) juga menggunakan tempat tersebut sebagai tempat tinggal sementara di Jakarta ketika nglurug menuntut ganti rugi secara cash and carry. (ein/fal)

Iklan

9 Responses to Pemerintah Ragu-Ragu Pilih Metode Sumbat Lumpur

  1. Veiniorrice berkata:

    buy cialis functioning

  2. jo wme berkata:

    menanggapi penyumbatan metode blok baja / kerucut -terbalik maka saya bermaksud melengkapinya : -.metode block baja / kerucut (conical) dilengkapi dengan valve dan pipa aliran lumpur , sehingga sewaktu kerucut di apungkan di atas sumber lumpur di harapkan tekanan gas dan lumpur bisa masuk melalu pipa, nah apa bila aliran lumpur suda 100% melewati pipa maka penutupan valve di lakukan setelah area sekitar kering dan diperkirakan tekanan tidak mampu menerobos.

  3. Here, Check This Out, Pretty GoodHave you seen my site? AMAZING

  4. Dedi Ganedi berkata:

    Mungkin masih menunggu ramalan Mama laurenze.

  5. edwin berkata:

    Saya juga tidak setuju dengan usul dari pakar Jepang tersebut. Saya mengusulkan agar penghentian semburan dilakukan dengan menginjeksikan suatu bahan yang dapat bereaksi dengan kandungan utama dari zat yang disemburkan, misalnya kapur atau CaCO3.

  6. usil berkata:

    Nah….ini dia, sudah ada pakar lokal yang “berani” memastikan (disertai
    hitungan) bahwa tingkat keberhasilan dari si-okumura-san hanya “O”….
    jika tekanan HIDROTERMAL.
    Kita tunggu saja komentar dari ITB, ITS, UI, GAMA dll. Biar rame gitu!

  7. RIrawan berkata:

    Sudah lama saya tidak sempat komentar tentang upaya menutup semburan. Metode kontraktor Jepang yang dinamakan cerobong Counter Weight pada hakekatnya memakai teori yang 100% sama dengan cerobong Bernoulli dari pakar ITS, Pond-susun Syahraz dan Menara-Hanoi-tzc, yakni:
    a) mengkonversi energi semburan menjadi energi potensial (kenaikan tinggi lumpur)
    b) menghasilkan tekanan balik ke lubang semburan.

    Bedanya:
    – Kontraktor Jepang dan pakar-ITS ingin menghentikan semburan.
    – Syahraz ingin memperpanjang daya tampung pond/lahan.
    – tzc ingin memudahkan lumpur mengalir dan turun meluncur.

    Cerobong dari kontraktor Jepang berdiameter 100-120 m dan tinggi 40 m. Adakah peluangnya menstop semburan?
    Besarnya tekanan di kedalaman 3000 m (atau bahkan 6000 m) adalah: ρ.g.H + ½.λ.ρ.u².L/d, ditambah dengan sisa energi panas dan formasi gas yang nyembur ke permukaan, akan menghasilkan angka tidak kurang dari 500 bar.
    Sedangkan lumpur yang dinaikkan 40 m, akan memberikan tekanan: 1300 Kg/m³ x 9,80665 m/det² x 40 m = 509945.8 N/m² ≈ 5,1 bar. Ini samadengan 1% dari tekanan di kedalaman 3000 m, atau ½% jika sumbernya dari kedalaman 6000 m.
    Bilamana sumber itu adalah hidrostatis (tekanan tetap), ya kemungkinan semburan berhenti itu masih ada, kendati sangat sangat kecil (½ – 1%). Namun jika sumber itu hidrotermal (tanda-tanda hidrotermal ini sangat jelas, cocok angka-angkanya dengan hitungan induktif), berarti sumber itu menyemburkan energi sebesar 120 Mw, maka peluangnya nol.

    Yang mengganggu perasaan, kenapa sampai presiden RI sendiri berkenan menemui, terpukau dan seolah langsung menyetujui? Baiklah, sekiranya metode kontraktor Jepang itu orisinil dan cemerlang konsep teorinya, ya sudah, kita memang harus terbuka dan rendah hati, demi mengakhiri penderitaan banyak orang. Tetapi dalam hal ini, menurut saya sama sekali tidak orisinil dan tidak cemerlang sedikitpun. Orang Indonesia sudah banyak yang mengutarakan gagasan yang mirip tetapi dasarnya sama. Teori yang dipakai juga teori paling dasar dan sederhana.

    Selain itu, membuat cerobong raksasa dari jejeran pipa-pipa besar setinggi 40 m dengan biaya Rp 600 milyar itu, rasanya konyol! Sebab, jika kita buat cerobongnya berbentuk tumpeng atau Menara-tzc atau kerucut-terbalik dari cincin-cincin yang disusun setinggi 40 m, maka tekanan balik terhadap lubang semburan juga persis sebesar 5,1 bar. Begitu pula, pernah ompapang melempar ide, kita tutup lubangnya dengan semacam topi-bulat atau payung besar yang kuat, lalu saya tambahkan dengan 1 pipa di tengahnya setinggi 40 m, maka dijamin tekanan balik terhadap lubang semburan juga besarnya 5,1 bar.

    Tetapi saya tidak berharap banyak tentang pemahaman alam dari seorang presiden, ini tidak adil. Tugas presiden sangat luas dan ia dibantu oleh para menteri dan staf-staf ahli. Nah, yang mengherankan, kenapa bisa lolos sampai ke presiden dengan gaung pemberitaan yang luas dan memakan banyak energi? Mungkin si kontraktor Jepang menawarkan pendanaan dari kantongnya sendiri terlebih dahulu. Tetapi kalau ini, seperti pernah diceritakan oleh pak Janatan, bukankah cukup dilayani oleh BPLS: “… silahkan sampeyan trial & error, tapi no cure no pay …”

  8. usil berkata:

    Kalau diakui bahwa menghentikan memang sulit, kenapa tidak
    kosentrasi saja pada Pengendalian Lumpur. Paling tidak di-blog
    ini saja, sudah banyak proposal yang bisa dicoba. Gratis lagi!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: