Upaya Warga Reno setelah Nasi Bungkus Tetap Jadi Menu

Sabtu, 26 Mei 2007
Nasi Jatah Dijemur, Dijual Rp 1.400 Per Kaleng
Warga Renokenongo yang bertahan di pengungsian pasar baru Porong, belum sepenuhnya bersedia mengonsumsi nasi bungkus yang disediakan dapur umum. Banyak di antara warga yang menjemur nasi bungkus di teras los yang mereka tempati. Berikut laporannya.

Rini Kustiasih, Sidoarjo

Aropah tampak sibuk menyalakan kompor di teras los blok K, pasar baru Porong, yang ditempatinya. Perempuan baya asli Renokenongo itu, hendak memasak oseng-oseng sayur untuk anak bungsunya. “Anak saya nggak mau makan nasi jatah, minta saya masak sendiri,” ungkapnya.

Aropah adalah satu dari beberapa warga pengungsi yang memilih memasak sendiri daripada mengonsumsi nasi bungkus. Menurut Aropah, nasi jatah dari dapur umum terlalu keras untuk orang seusianya.

“Mungkin memasaknya kurang matang,” terang Aropah. Bila dipaksakan makan nasi jatah, dia khawatir perutnya sakit. “Pikiran sudah susah, rumah tenggelam, saya nggak mau sakit,” terangnya.

Sebelum lumpur menenggelamkan rumahnya, Aropah berjualan mi bungkusan. Janda empat anak itu menitipkan mi yang dimasaknya kepada penjual di sebuah SMP di Renokenongo. Hasilnya memang tidak besar, tapi bisa mengisi waktu luangnya.

Aropah tidak terlalu khawatir dengan keadaan ekonominya waktu itu. Sebab, ketiga anaknya telah berumah tangga dan memiliki rumah. Aropah tinggal dengan anak bungsunya.

Bencana lumpur mengubur ketenangan Aropah dan keluarganya. Sekarang, dia hidup terpisah dengan anak-anaknya. Ketiga anaknya tidak betah tinggal di pengungsian. Mereka mengontrak dengan uang sendiri di Sidoarjo, Mojokerto, dan Pasuruan. Sementara itu, si bungsu menemaninya di pengungsian.

“Gara-gara lumpur saya jadi jauh sama anak-anak,” ungkap Aropah sambil terisak. Perlahan dia mengusap air mata dengan rok hijau yang dikenakannya. “Kenapa kami tidak segera dibayar saja, kok mereka tega ya,” gumamnya.

Aropah dan keluarganya termasuk warga korban lumpur yang menolak uang kontrak dari Lapindo. Banyak dari mereka yang bertahan di pengungsian pasar baru Porong. Tapi ada juga yang mengontrak dengan uang sendiri.

Warga yang tergabung dalam Paguyuban Rakyat Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak) menghendaki pembayaran pertama sebesar 50 persen. Selama menunggu waktu pembayaran, mereka memilih bertahan di pengungsian. Namun, warga juga menuntut diberi uang makan.

Tuntutan warga tersebut tak diperhatikan Pemkab maupun Lapindo. Sehingga mereka menjalankan aksi mogok makan selama lima hari (11-16 Mei). Aksi mogok makan tersebut membuahkan janji, bahwa warga diberi bahan mentah untuk diolah sendiri.

Tapi, sejak pekan lalu, warga kembali menerima nasi bungkus. Namun, seperti halnya Aropah, beberapa warga belum sepenuhnya bersedia mengonsumsi nasi bungkus yang disediakan dapur umum. Mereka memilih memasak sendiri.

Ana, misalnya, ibu rumah tangga yang tinggal di blok L, memasak sendiri karena menu masakan dari dapur umum tak sesuai dengan seleranya. Dia memilih menjemur nasi dari dapur umum, dan menjual hasil keringnya. Nasi yang sudah dijemur tersebut kemudian dijual seharga Rp 1.400 per kaleng.

Tetapi, ada juga warga yang bersedia mengonsumsi nasi bungkus dari dapur umum. Daumi, misalnya, mengaku sejak mogok makan berhenti, kualitas nasi bungkus yang diterimanya jauh lebih baik. Lauk yang diterima warga, menurutnya lebih layak dan bervariasi. “Sekarang, lauk ikan asin jarang muncul,” terangnya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: