Tanggul Lumpur Lapindo di Desa Jatirejo Jebol

Senin, 28 Mei 2007 | 11:30 WIB TEMPO Interaktif, Sidoarjo:Tanggul lumpur Lapindo di Desa Jatirejo, Porong, dini hari tadi jebol. Jebolnya tanggul di kanal sebelah barat Desa Jatirejo cukup besar.

Warga khawatir, tidak segera ditutup lumpur akan mengenangi rel kereta api dan menutup jalan raya Porong. “Kami berupaya sore ini penutupan sudah rampung,” ujar juru bicara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Ahmad Zulkarnain, Senin (28/5).

Beberapa alat berat diterjunkan untuk menutup kembali tanggul dengan pasir dan batu. Pasokan pasir dan batu agak tersendat karena akses jalan menuju lokasi tanggul yang terlalu sempit. Petugas harus memperlebar jalan dan membersihkan sisi-sisi tanggul lama.


Tanggung jebol ini bukan yang pertama kali. Sudah belasan kali tanggul penahan luberan lumpur jebol. Selain menggenangi rumah penduduk, luberan lumpur juga merendam akses lalu lintas.

Rohman Taufiq

Iklan

5 Responses to Tanggul Lumpur Lapindo di Desa Jatirejo Jebol

  1. RIrawan berkata:

    Aduh pak Hendro. Di sini saya cuma nato plus mikir, bukan cari proyek atau kontrak. Tapi donatur setuju.
    Apalagi hadiah buat rakyat Sidoarjo.
    SETUJU !!!!!!

  2. Hendro Nugroho W. berkata:

    Kan cuma 100 juta. Ayo rame2 cari donatur, paling2 = 20 donatur @ 5 juta sudah cukup. Nanti diorganisir sama pak RIrawan. Jadi bukan lagi “no cure no pay” tapi “free of charge”. Sebagai hadiah blog ini utk Rakyat Sidoarjo.
    Bagaimana, SETUJU???????

  3. RIrawan berkata:

    Menurutku pak dhe, BPLS harus punya blueprint. Sasaran atau targetnya apa saja. Cara mencapainya atau metodenya bagaimana? Perhitungannya, angka-angkanya dan konsepnya perlu rinci dan jelas. Lalu semua dituangkan dalam planning dan jadwal. Jadi dapat diukur gitu.
    Ini kog tidak jelas. Dana dikeluarkan untuk pekerjaan yang itu-itu lagi dan sudah berulang-ulang gagal, tetapi diulang-ulang terus. Kalau di Jepang, sudah pada bunuh diri kali. Whuuups … sori, aku kog jadi cuap-cuap kayak orang-orang interaktif di radio gini? Gak etis dan gak cocok sama budaya kita ya?
    Aku pernah menuliskan perhitungannya di sini. LuLa yang bergerak lambat, padatannya yang lebih besar 2 mm akan turun mengendap 1 m dalam 17 detik, lalu yang lebih kecil hingga 0,6 mm dalam 295 detik. Dengan gerakan mengalir yang cuma 0,1 s/d 0,4 m/det; LuLa itu menempuh jarak 200 m dalam waktu lebih dari 500 detik, maka tentu saja padatannya mengendap semua, atau tampak mengental, sebab hanya air dan butiran halusnya (silt, clay) yang mengalir sampai jauh. Mengental, liat dan padat itu juga disebabkan oleh tingginya kohesi molekular LuLa, yang juga menyebabkan sifat dilatant LuLa, yakni viskositasnya naik bila terjadi kenaikan tegangan geser.
    Yang 20% itu sudut apa pak dhe? Kalau elevasi spillway, artinya LuLa meluncur turun dari ketinggian 10 m sejauh 50 m, ya tidak bakal terjadi endapan atau pengentalan LuLa. Cuma salah besarnya, itu disain spillway terlalu lebar dan lantainya kelewat kasar, sehingga makan energi besar yang menghambat aliran. Padahal LuLa segar yang masih panas harus mengalir diatas 3 m/det agar tidak terjadi endapan.

    Paling penting sekarang pak dhe, ya dilakukan percobaan dulu dengan KANAL-V. Pendek-pendek ala kadarnya dulu juga boleh. Biaya nya juga sangat murah kog. Dari hasilnya bisa diketahui, apakah konsepnya benar.

    Pak dhe benar. Paling sulit itu awalnya (guide-entry-channel). Aku perlu menghitungnya dengan cermat untuk menentukan konturnya. Kalau serius, akan aku kerjakan.

    KANAL-V kan dibuat dari beton pracetak. Jadi tergantung sistim penyanggahnya. Bisa permanen, tetapi bisa juga berupa konstruksi yang mudah dibongkar pasang (kayak menaruh paving).

  4. Rovicky berkata:

    Setahuku meninggikan tanggul ini karena ambles, bukan sekedar untuk menambah volume. Wlaupun volumenya terus bertambah.
    Kmarin wektu diskusi dengan Tim HDCB di pameran IPA, di JHCC menurut critanya lumpur ini hanya mengalir sejauh 200 meteran dan langsung mengental, ntah saya ndak tahu seperti apa. Tapi info ini sepertinya ada di spill way yang kalau ngeliat fotonya sudutnya sudah cukup besar lebih dari 20%. Dankerna lokasinya jauh dselatan dari semburan (dekat kali Porong) lihat petanya.

    Kanalnya Pak RIrawan untuk awalnya berapa sudut/slope yang dibentuk ?
    Kalau di beton itu permanen atau bisa dibongkar pasang juga ?
    Setahuku masih ada pemikiran sesuatu yg dapat dibongkar pasang.

  5. RIrawan berkata:

    Terus meninggikan tanggul adalah tidak masuk akal, sebab pasti jebol lagi. Ini sudah nyata dan terjadi berulang-ulang. Kenapa tetap diteruskan?

    Upaya mengalirkan lewat spillway? Metodenya salah! Tidak mungkin spillway dengan bentuk seperti sekarang bisa mengalirkan lumpur. Dibantu eskavator adalah boros, tidak efisien dan tidak mungkin dilakukan terus menerus. Mengencerkan lumpur, menunggu dingin lalu memompanya ke Kali Porong, juga jelas boros biaya, merepotkan dan tidak sebanding dengan debit semburan.

    Tanggul pond saat ini sudah cukup tinggi.
    Kenapa tidak segera dicoba memasangkan KANAL-V (talang beton, lebar 1 m)?
    Beayanya sangat kecil. Rp 150 ribu per m lari.
    Katakanlah tinggi tanggul 10 m, itu sudah cukup untuk meluncurkan lumpur sejauh 500 m.
    Beayanya talang beton (pre-cast): 500 x Rp 150 ribu = Rp 75 juta.
    Biaya pemasangan mungkin cukup Rp 25 juta.
    Jumlah Rp 100 juta saja.

    COBALAH!
    Gampang dikerjakannya dan murah.
    Kalau serius, saya akan berikan disain format guide-entry-channel nya di blog ini. Agak rumit dan makan waktu perhitungannya. Dari situ kita akan segera dapat melihat, apakah angka-angka perhitungan dan hipotesanya benar.

    Selanjutnya, akan bisa dibuatkan rencana besar untuk penanganan atau metode mangalirkan lumpur secara benar dan rasionil, yang pasti berhasil dan tanpa perlu menghamburkan biaya sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: