Tim BPLS Mandul, Tanggul Jebol Lagi

RADAR SIDOARJO      Selasa, 29 Mei 2007
SIDOARJO – Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum menjanjikan harapan baru untuk mengendalikan semburan lumpur panas. Bekerja sejak 8 April 2007, BPLS masih berkutat pada persoalan klasik, yaitu tanggul jebol. Metode baru penanggulangan lumpur belum juga dilaksanakan.

Kejadian itu terulang kemarin. Tanggul kanal di pusat semburan jebol sekitar pukul 01.00 Senin dini hari. Lebar jebolan tanggul sekitar 2 meter dengan dan kedalaman 2,5 meter. Bahkan, akibat gerusan lumpur panas terus-menerus, jebolan di bagian atas tanggul melebar hingga 5 meter.

Humas BPLS Ahmad Zulkarnaen mengatakan, lokasi persis tanggul jebol itu berada di titik 25. Kapasitas kanal tidak mampu menampung aliran lumpur yang terus membeludak. Kanal cepat penuh karena endapan juga makin tinggi.

“Kondisi sepanjang tanggul memang kritis,” kata Zulkarnaen. Dia memetakan, area sekitar 10 meter dari titik tanggul kanal yang jebol juga masih rawan. Kontur tanah di sekitar lokasi masih labil. Di sejumlah titik, lumpur sudah meluber.

Jebolnya tanggul kanal itu sempat mengancam lokasi sekitarnya, seperti rel KA, Jalan Raya Porong, maupun permukiman warga di Siring Barat. Lumpur tidak mengalir ke selatan ke arah spillway dan tidak terkendali. Apalagi, volume lumpur di tanggul cincin juga terus meningkat. Di sisi lain, BPLS masih mengalami keterbatasan suplai material dan urukan.

Meski demikian, kata Zulkarnaen, BPLS berusaha cepat memperbaiki tanggul kanal yang jebol. Puluhan karung pasir (sand bag) khusus diletakkan di titik jebol lalu diuruk sirtu. Hingga sore kemarin, perbaikan itu tampak membawa hasil. “Kami berusaha secepatnya,” tambahnya.

Selain perbaikan tanggul, tambah dia, BPLS terus berupaya mengalirkan lumpur menuju spillway, lalu ke Kali Porong. Hanya itu prioritas BPLS. Namun, upaya tersebut juga belum maksimal karena aliran lumpur ke Kali Porong tidak juga lancar.

Disinggung soal rencana penggunaan metode baru berupa cerobong baja untuk mengendalikan lumpur, Zulkarnaen menyatakan, hingga saat ini belum ada kejelasan. Metode yang diusung pakar geologi dari Jepang itu masih dibahas di Jakarta. Pelaksana lapangan BPLS belum mendapat instruksi apa pun. “Masih di Jakarta. Kami belum menerima instruksi apa-apa,” tambahnya.

Seperti diberitakan, upaya mengendalikan semburan lumpur ini terus gagal. Sejak kinerja Tim Nasional Penanggulangan Lumpur bekerja, tiga metode sudah dicoba, yaitu snubbing unit, side tracking, maupun relief well. Namun, ketiga-tiganya tidak membawa hasil meski menghabiskan anggaran hingga ratusan miliar rupiah. Sementara, metode baru yang diharapkan bisa mengendalikan lumpur belum juga jelas. (dyn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: